
Semua tamu undangan berkumpul di meja akad untuk menyaksikan kedua mempelai saling mengucap janji suci untuk hubungan baru mereka. Rea duduk di depan pak penghulu dan Pak Ruli. Kedua saksi juga sudah duduk di kursinya. Tinggal menunggu sang mempelai pria yang sampai saat ini belum datang.
Brayen berdiri di samping Vanka dan Bryan menatap Rea dengan perasaan sedihnya.
" Pak Ruli dimana mempelai prianya? Kenapa belum datang sampai sekarang?" Tanya pak penghulu.
" Saya juga tidak tahu Pak penghulu, mungkin masih dalam perjalanan dan sebentar lagi sampai sini." Sahut Pak Ruli.
" Ini sudah jam sembilan lebih Pak, saya ada acara di lain tempat, mau tidak mau saya harus segera pergi Pak Ruli." Ujar pak penghulu.
" Bagaimana ini? Kalau pernikahan ini sampai batal saya akan menanggung malu Pak penghulu, saya tidak akan sanggup menghadapi masyarakat." Ucap Pak Ruli menyentuh dadanya.
Vanka melirik Brayen yang masih diam saja. Ia beralih menatap Rea yang menundukkan kepala.
" Batalkan saja Pak Ruli atau di undur lain waktu karena saya tidak bisa berlama lama di sini." Ujar pak penghulu.
" Tapi Pak bagaimana saya akan berbaur dengan masyarakat setelah ini? Bagaikan sebuah bencana jika anak perempuan saya sampai batal menikah Pak, saya mohon tunggulah sebentar lagi." Pinta Pak Ruli.
" Sudahlah Yah! Benar kata pak penghulu batalkan saja pernikahan ini, aku malah bersyukur Revan tidak datang Yah." Ucap Rea beranjak dari kursinya.
" Rea jangan bicara seperti itu Nak, ini akan menjadi aib yang sangat memalukan untuk keluarga kita sayang." Ujar Pak Ruli.
Rea hendak berjalan meninggalkan meja akad, tiba tiba Brayen mencekal tangannya.
" Jangan pergi kemanapun, kamu takdirku biarkan aku menjadikanmu pengantinku." Ucap Brayen.
Rea menatap ke arah Pak Ruli yang di balas anggukan kepala oleh Pak Ruli. Tanpa berkata apa apa, Rea kembali duduk di tempatnya. Ia bingung memikirkan apa yang terjadi dengan dirinya.
" Kenapa Revan memperlakukan aku seperti ini? Apa maksudnya sih? Semalam dia tidak datang ke acara pertunangan, malah hanya mengirimkan cincinnya saja, lalu kenapa sekarang dia juga tidak datang?" Tanya Rea dalam hatinya.
" Biarkan saya menjadi pengantin prianya Pak." Ucap Brayen kepada pak penghulu.
" Bagaimana Pak Ruli?" Tanya pak penghulu.
" Baiklah tidak masalah Pak, itu lebih baik daripada pernikahan ini batal." Sahut Pak Ruli.
Hati Brayen berbunga bunga, Ia merasa sangat bahagia walaupun hanya menjadi pengantin pengganti. Tapi bukankah dia tetap akan menjadi suami Rea selamanya?
" Baiklah siapa nama anda?" Tanya Pak penghulu.
" Brayen Dirga Permana Pak." Sahut Brayen.
" Baiklah Nak Brayen, saat ini kamu hendak menikahi wanita yang duduk di sampingmu, kamu tahu namanya?" Tanya Pak penghulu.
" Saya tahunya hanya Andrea Pak." Sahut Brayen.
" Namanya Andrea Tifany binti Pak Ruli Wijaya, tolong ingat nama itu ya." Ujar pak penghulu.
" Baik Pak." Sahut Brayen.
" Mas kawin apa yang akan Nak Brayen berikan kepada Nak Andrea?" Tanya Pak Penghulu.
Brayen menoleh ke arah Vanka dan Bryan. Ia tidak membawa apa apa, bahkan dompet pun Ia lupa membawanya. Seakan tahu apa yang sedang Brayen pikirkan, Vanka maju ke depan meletakkan cek di depan meja Brayen. Brayen mengambil cek itu dan melihat angka yang tertera di sana.
" Dua ratus juta." Gumam Brayen.
" Berapa?" Tanya pak penghulu.
__ADS_1
" Dua ratus juta Pak." Sahut Brayen membuat tamu undangan melongo.
Di daerah mereka mas kawin dua ratus juta sangatlah banyak, bahkan baru kali ini mereka menghadiri pernikahan dengan mas kawin yang begitu fantastis.
" Tapi ini berupa cek Pak, bagaimana kalau saya cairkan dulu." Ujar Brayen.
" Tenang saja Nak Dirga, saya akan menukar cek itu dengan uang milik saya." Ucap Pak Ruli mengeluarkan koper berisi uang dua ratus juta.
Saat koper di buka mata para tamu undangan mendadak berbinar, bahkan banyak yang melongo melihat kertas warna merah yang tersusun rapi di dalam koper.
" Baiklah, kita bisa mulai acaranya sekarang ya." Ucap Pak Penghulu.
" Bisa Pak." Sahut para tamu undangan.
" Baiklah Bismillahirohmannirrohhim.....
Pak penghulu membaca doa sebelum akad nikah hingga prosesi ijab qobul yang akan di lakukan oleh Pak Ruli sendiri. Pak Ruli menjabat tangan Brayen.
" Saudara Brayen Dirga Permana." Ucap Pak Ruli.
" Saya." Sahut Brayen.
" Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak saya Andrea Tifany untuk dirimu sendiri dengan mas kawin sebesar dua ratus juta rupiah di bayar tunai." Ucap Pak Ruli.
" Saya terima nikah dan kawinnya Andrea Tifany binti Ruli Wijaya untuk diri saya sendiri dengan mas kawin tersebut tunai." Sahut Brayen lantang.
" Bagaimana saksi?" Tanya Pak penghulu.
" Sahhhhh." Seru kedua saksi beserta para tamu undangan.
" Alhamdulillah....
Brayen menyematkan cincin yang terukir namanya ke jari manis Rea begitupun selanjutnya. Rea mencium punggung tangan Brayen dengan takzim, sedangkan Brayen menyebul ubun ubun Rea dengan doa kebaikan suami dan istri.
Suara tepuk tangan mengiringi kebahagian kedua mempelai yang baru saja menyandang status suami dan istri. Sebelum menandatangani akta nikah Pak penghulu membacakan kewajiban dan hak suami istri, serta wejangan wejangan untuk bekal kedua mempelai.
" Saya ucapkan selamat untuk kalian berdua, ingatlah pernikahan bukan hanya menyatukan dua keluarga tapi juga menyatukan dua perbedaan untuk saling melengkapi, jadi jika ada perbedaan di antara suami dan istri maka selesaikanlah dengan hati yang tenang, biasakan jangan mengucap kata talak di saat sedang marah." Tutur Pak Ruli.
" Baik Yah."
" Iya Om." Sahut Rea dan Brayen bersamaan.
" Sekarang tinggal tanda tangani akta nikahnya." Ucap pak penghulu.
Brayen mengerutkan keningnya menatap pak penghulu.
" Bukankah di akta nikah itu tertulis nama Revan? Bahkan fotonya juga kan? Kenapa tidak di rubah dulu?" Tanya Brayen.
Pak penghulu dan Pak Ruli tersenyum menatap Brayen.
" Silahkan di tanda tangani saja Nak Brayen, dan di baca dengan teliti ya." Ujar pak penghulu.
Brayen segera membuka akta nikah dan mengecek foto serta nama yang tertera di sana.
" Bagaimana bisa ini......" Brayen menggantung ucapannya.
Brayen menoleh ke arah Vanka, Vanka tersenyum menatap Brayen sambil mengacungkan dua jarinya tanda peace. Brayen beranjak mendekati Vanka, tiba tiba Ia menarik tubuh Vanka ke dalam pelukannya membuat semua orang bingung.
__ADS_1
" Terima kasih Vanka... Terima kasih kamu telah memberikan kehidupan baru untuk pria yang pernah melukaimu.... Hiksss..." Isak Brayen. Ya Brayen yakin jika semua ini terjadi karena rencana Vanka.
Brayen melepas pelukannya, Ia menangkup wajah Vanka.
" Tidak ada orang lain yang bisa memahami perasaanku sebaik dirimu." Ucap Brayen dengan air mata yang terus menetes di pipinya.
" Kau yang mengambil cinta dan hatiku, dan kau juga yang telah mengembalikan cinta dan hati yang akan aku berikan untuk istriku, maafkan aku, maafkan aku yang pernah menyianyiakan wanita sebaik dirimu." Ucap Brayen kembali memeluk Vanka.
Author menangis haru huuuu
" Terima kasih Vanka." Sambung Brayen.
" Mau berjanji padaku?" Tanya Vanka membuat Brayen melepas pelukannya.
" Apa itu?" Brayen balik bertanya.
" Berjanjilah untuk tidak mengulangi kesalahanmu kepada Rea, berjanjilah untuk selalu membuat Rea bahagia, jangan sia siakan lagi wanita yang begitu mencintaimu." Ucap Vanka.
" Aku berjanji untukmu Vanka, aku akan membuat Rea bahagia, kami akan hidup bahagia bersama anak anak kami nanti." Ucap Brayen memeluk Vanka.
" Sudah lepasin istri gue, peluk noh istri lo sampai puas." Ucap Bryan menarik tubuh Vanka untuk menjauh dari Brayen.
" Maaf, aku terlalu bahagia sehingga terbawa suasana, apa kau tahu semua ini?" Tanya Brayen menatap Bryan.
" Aku tidak tahu apa apa, sepertinya aku sama sepertimu, tidak di anggap penting oleh mereka." Sahut Bryan.
" Maaf Mas." Ucap Vanka mengapit lengan Bryan.
" Buruan tanda tangani akta nikahnya Dirga, pak penghulu keburu ada acara." Ujar Pak Ruli.
" Ah iya maaf." Sahut Brayen.
Setelah acara penandatanganan akta nikah. Mama Kia dan Papa Indra menghampiri Brayen, namun mereka hanya berdiri di belakang Brayen.
" Baiklah berhubung acara sudah selesai, saya permisi Pak Ruli." Ucap pak penghulu.
" Silahkan Pak, terima kasih." Sahut Pak Ruli.
Setelah kepergian pak penghulu saatnya kedua mempelai meminta restu dari orang tua. Brayen membalikkan badannya, Ia terkejut melihat kedua orang tuanya yang sedang berdiri di depannya saat ini.
" Papa... Mama." Ucap Brayen tak percaya.
" Kenapa kaget? Mama sudah ada di sini sebelum kamu sampai ke sini." Ujar Mama Kia.
" Kalian juga ikut merencanakan semua ini?" Selidik Brayen.
" Kami hanya membantu Vanka saja." Sahut Mama Kia.
" Terima kasih Ma." Ucap Brayen memeluk Mama Kia.
Hari ini merupakan hari paling bahagia untuk Brayen. Ia mendapatkan wanita yang Ia cintai. Ia berjanji dalam hati tidak akan menyianyiakan wanita yang Ia cintai seperti apa yang Ia lakukan kepada Vanka.
TBC.....
*Gimana???? Seneng nggak nih?????
Jangan lupa tekan like, vote dan hadiahnya donk biar author semangat empat lima saat mengetik....
__ADS_1
Terima kasih atas suport yang para reader berikan semoga sehat selalu....
Miss U All*...