
Saat ini Bryan, Brayen, Vanka, Rea dan Pak Ruli sedang berkumpul di ruang tamu. Pak Ruli sudah tahu tentang apa yang terjadi pada Dirga dari cerita Rea saat tadi meneleponnya dan menyuruhnya untuk pulang. Rea duduk di samping Pak Ruli, Vanka dan Bryan duduk berdampingan di sofa sebrang sedangkan Brayen duduk di soda single dekat Pak Ruli.
" Pak Ruli, sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas bantuan dan pertolongan yang Pak Ruli berikan kepada saya, terima kasih karna Pak Ruli mau menampung dan mengobati saya selama ini sehingga saya dapat berkumpul dengan keluarga saya lagi, saya berjanji akan mengganti semua materi yang Pak Ruli keluarkan untuk saya, sekali lagi terima kasih, terima kasih yang sebanyak banyaknya dan maaf karena saya sudah banyak merepotkan Bapak." Ucap Brayen menatap Pak Ruli.
" Tidak masalah Nak Dirga, saya senang bisa membantu sesama, saya ikhlas tanpa mengharap imbalan apapun kepada Nak Dirga ataupun keluarga, saya ucapkan selamat untuk Nak Dirga karena sudah bertemu dengan keluarga lagi, saya turut bahagia atas itu Nak Dirga." Sahut Pak Ruli.
" Terima kasih Pak Ruli." Ucap Bryan.
" Sama sama Nak Bryan." Sahut Pak Ruli.
" Sebelum saya pamit, saya mau mengatakan sesuatu kepada Pak Ruli, lebih teparnya meminta izin." Ucap Dirga.
" Apa itu Nak Dirga? Katakan saja." Ujar Pak Ruli.
" Saya ingin meminta restu untuk meminang Rea Pak, saya berencana membawa Rea bersama saya untuk saya perkenalkan dengan kedua orang tua saya, saya menginginkan Rea untuk menjadi pendamping hidup saya selamanya." Ucap Brayen.
Pak Ruli menatap ke arah Rea yang sedang menatap ke arah Brayen.
" Sebelumya saya ingin bertanya, apakah Nak Dirga mencintai Rea sehingga ingin menjadikannya istri Nak Dirga?" Tanya Pak Ruli.
Brayen menatap Rea begitupun sebaliknya. Tak lama Brayen kembali menatap Pak Ruli.
" Maafkan saya Pak, jujur untuk saat ini saya belum mempunyai perasaan itu kepada Rea Pak, saya tidak yakin apa yang hati saya rasakan saat ini, tapi saya janji akan memberikan cinta saya hanya untuk Rea jika anda merestui hubungan kami Pak Ruli." Sahut Brayen jujur.
" Syukurlah kalau Nak Dirga tidak memiliki perasaan apa apa kepada Rea." Ujar Pak Ruli menghela nafas lega.
" Apa maksud Pak Ruli?" Tanya Brayen mengerutkan keningnya.
" Dengan berat hati saya katakan Nak Dirga, sebenarnya Rea sudah di pinang oleh Revan sejak lama, saya dan ayahnya Revan menjodohkan mereka sejak kecik Nak Dirga." Terang Pak Ruli.
" Apa Yah? Di pinang Revan? A... Aku di jodohkan dengan Revan? Sejak kapan Ayah? Sejak kapan perjodohan itu terjadi?" Pekik Rea menatap Pak Ruli.
" Iya Rea, perjodohan itu terjadi sejak mendiang ibumu masih hidup, ini permintaan terakhirnya sebelum dia meninggal." Sahut Pak Ruli.
" Tapi kenapa Ayah tidak bilang padaku? Kenapa Ayah merahasiakan semua ini dariku selama ini Yah? Bahkan Ayah tidak meminta ijinku untuk melanjutkan perjodohan ini." Ujar Rea kesal.
" Maafkan Ayah sayang, tapi beginilah kenyataannya." Ucap Pak Ruli.
__ADS_1
" Apa tidak ada kesempatan untuk saya merubah perjodohan itu Pak?" Tanya Brayen.
" Kalau Nak Dirga mencintai Rea, mungkin akan saya pertimbangkan namun Nak Dirga tidak memiliki perasaan apa apa kan? Lebih baik saya menikahkan Rea dengan Revan yang sudah jelas mencintai Rea sejak lama, dan saya percaya kalau Revan mampu membuat Rea bahagia." Sahut Pak Ruli.
" Tapi aku tidak mencintai Revan Yah." Ujar Rea.
" Cinta Revan cukup untuk kalian berdua Rea." Sahut Pak Ruli.
" Tapi Yah a...
" Tidak ada yang perlu di perdebatkan lagi, pernikahanmu akan di laksanakan satu bulan lagi." Ujar Pak Ruli memotong ucapan Rea.
Rea menatap Brayen yang hanya diam saja.
" Apa ini jawaban atas pertanyaanku? Kau benar benar membuktikan jika kau sama sekali tidak ada perasaan apa apa kepadaku Mas Dirga." Batin Rea.
" Sekali lagi saya minta maaf Nak Dirga." Ucap Pak Ruli.
" Kalau begitu kami permisi Pak, saya berjanji sebelum pernikahan Rea saya akan datang kembali dengan membawa cinta saya untuk Rea." Ucap Brayen.
" Baiklah Pak, kami permisi sekali lagi kami ucapkan banyak banyak terima kasih kepada anda Pak." Ucap Bryan menyalami Pak Ruli.
" Silahkan Nak Bryan, hati hati di jalan." Sahut Pak Ruli.
" Saya pulang Pak, terima kasih." Ucap Brayen gantian menyalami Pak Ruli.
" Rea, aku pulang ya... Kapan kapan aku akan main ke sini, oh ya jangan lupa undangan pernikahannya." Ucap Vanka memeluk Rea.
" Iya, hati hati Vanka." Ujar Rea.
" Hmm..." Gumam Vanka.
Setelah kepergian Bryan, Brayen dan Vanka, Rea masuk ke dalam kamar yang biasa di huni Brayen. Ia membuka almari lalu mengambil baju yang biasa Brayen pakai. Ia memeluk baju itu sambil duduk di tepi ranjang.
" Hiks.... Kenapa semua terjadi begitu cepat Mas? Aku masih belum rela kehilangan dirimu, andai kamu tahu kalau aku begitu mencintaimu, hiks...." Isak Rea tak kuasa menahan air matanya.
Pak Ruli menepuk pundak Rea membuat Rea menghapus air matanya.
__ADS_1
" Tidak perlu menangisi pria yang tidak mencintaimu Nak, jangan sia siakan air matamu untuknya, sadarlah dia bukan jodohmu, lupakan dia dan terimalah Revan dalam hidupmu." Ujar Pak Ruli.
" Bagaimana aku bisa melupakannya Yah? Hatiku benar benar terjerumus dalam cintanya begitu dalam, dia yang pertama yang membuatku merasakan jatuh cinta Yah." Sahut Rea.
" Tapi dia juga yang membuatmu merasakan patah hati kan? Cintanya hanya untuk mantan kekasihnya yang sekarang menjadi adik iparnya saja Rea." Ujar Pak Ruli.
" Bagaimana Ayah bisa tahu?" Selidik Rea.
" Ayah bisa melihat dari sorot matanya, kamu sudah membuktikannya sendiri kan? Begitu Dirga bertemu dengan Vanka dia langsung bisa berbicara, apa kamu perlu bukti lain lagi selain itu?" Tanya Pak Ruli menatap Rea.
" Tidak Yah." Sahut Rea menggelengkan kepalanya.
" Aku sudah melihat bukti itu dengan mata kepalaku sendiri, kau benar Yah aku harus melupakan perasaanku padanya." Sambung Rea.
" Kamu akan merasakan sakit seperti ini setiap hari kalau kamu mau menerima pernikahan dengannya, kau putri Ayah satu satunya, Ayah tidak rela jika semua itu terjadi padamu Rea, itulah sebabnya Ayah menolak Dirga, kita akan sama sama lihat bagaimana perjuangan Dirga untuk mendapatkanmu dan menunjukkan cintanya padamu, jika dalam satu bulan dia tidak bisa membuktikan semua janjinya, maka kau harus menerima Revan dengan ikhlas sebagai takdirmu." Ucap Pak Ruli.
Rea menghirup nafasnya dalam dalam lalu Ia keluarkan dengan pelan.
" Baiklah Yah, aku terima apapun keputusan Ayah, aku yakin jika keputusan Ayah adalah yang terbaik untukku." Sahut Rea.
" Lupakan perasaanmu padanya agar jika dia melanggar janjinya, kau tidak akan terlalu kecewa kepadanya." Ucap Pak Ruli keluar meninggalkan Rea.
" Ayah benar... Ayahku memang yang terbaik untukku, aku akan menunggu kau menepati janjimu Mas, aku akan melihat apakah kau benar benar menginginkan aku untuk menjadi pendamping hidupmu atau tidak, jika tidak aku akan ikhlas melupakanmu." Monolog Rea.
Kira kira Dirga bakalan datang membawa cintanya tidak ya????
Apakah Dirga dan Rea akan bersatu???
Nantikan jawabannya di bab bab berikutnya ya....
Jangan lupa untuk selalu like koment vote dan beri hadiah untuk author biar author makin semangat dan lancar berhalunya hhhhh.
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author... Semoga sehat selalu...
Miss U All....
TBC.....
__ADS_1