
Bryan masih menikmati bibir manis milik Vanka. Keduanya saling bertukar saliva di siang hari sampai tiba tiba....
" Ah maaf maaf Bro.... Gue nggak tahu kalau kalian lagi bermesraan." Ucap Brayen membalikkan badannya.
" Ckk ganggu aja tuh makhluk." Decak Bryan turun dari tubuh Vanka.
" Ngapain lo ke sini? Ganggu orang aja tahu nggak, siang siang juga waktunya orang istirahat malah ke sini." Cebik Bryan.
Sedangkan Vanka menyembunyikan wajahnya pada ketiak Bryan karna malu telah kepergok sedang berciuman oleh Brayen.
" Ya sorry Bro... Gue kan nggak tahu kalau lo udah sadar, lagian lo juga nggak ngabarin kami, kami kan tahunya lo masih setia berbaring di atas ranjang sambil memejamkan mata, nggak tahunya malah udah berbuat brutal, nih lo kalau gue nggak ke sini bisa keblabasan." Ujar Brayen.
" Ya biarin aja orang sama bini gue ini, kalau sama wanita lain baru di larang." Sahut Beyan.
" Mas udah ah." Ucap Vanka menyembulkan wajahnya.
" Nggak perlu malu gitu Van, gue juga sering melakukannya sama Rea." Ujar Brayen.
" Hmm." Gumam Vanka.
" Ya udah katakan lo ke sini mau ngapain?" Bryan mengulang pertanyaannya.
" Gue di suruh Mama ke sini buat nganterin makanan kesukaan Vanka, karna Mama khawatir Vanka tidak suka masakan rumah sakit." Ujar Brayen meletekkan rantang makanan di atas meja.
Ternyata tanpa Vanka dan Bryan sadari jika di tangan Brayen menenteng rantang.
" Makasih Kak udah repot repot nganterin makanan buat aku." ucap Vanka.
" Sama sama Van, aku akan di sini buat nemenin kalian." Ucap Brayen.
Vanka menatap ke arah Bryan yang di balas dengan anggukan kepala.
" Bagaimana dengan Rea Kak?" Tanya Vanka.
" Saat ini Rea sedang pulang ke rumahnya, ayahnya sakit jadi dia harus merawat ayahnya untuk beberapa hari ke depan." Sahut Brayen.
" Apa tidak masalah Kakak di sini? Aku tidak mau membuat Rea berpikiran macam macam tentangku." Ujar Vanka.
" Jangan khawatir soal itu Van, Rea mengijinkannya kok, Rea juga memahami masa lalu kita, Rea menerimaku apa adanya termasuk semua kekuranganku, jadi kamu tidak perlu sekhawatir itu, hubungan kami baik baik saja." Sahut Brayen.
" Terima kasih Kak." Ucap Vanka.
" Sudah jangan mengucapkan terima kasih terlalu banyak, entar Bray menganggapnya hutang budi kita kepadanya lagi." Ujar Bryan.
" Iya Mas." Sahut Vanka.
" Lo beruntung Bry punya istri seperti Vanka." Ucap Brayen.
" Lo juga beruntung kan punya istri seperti Rea?" Bryan balik bertanya.
" Iya... Dan semua itu berkat Vanka." Sahut Brayen.
" Vanka memang membawa keberuntungan untuk orang orang di sekitarnya." Ucap Bryan.
" Ya udah Van di makan dulu makanannya." Ucap Brayen. Brayen berjalan menuju sofa. Ia duduk bersandar sambil memainkan ponselnya.
__ADS_1
" Iya Kak." Sahut Vanka.
Vanka turun dari ranjang pelan pelan. Ia berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangannya. Setelah itu Ia membuka rantang makanan yang di bawakan oleh Brayen.
" Kak Brayen nggak ikut makan?" Tanya Vanka. Brayen mengalihkan pandangannya dari ponselnya menatap Vanka.
" Aku sudah makan tadi sebelum ke sini, kamu makanlah yang banyak biar kamu dan debaynya sehat." Sahut Brayen.
" Owh ok." Gumam Vanka.
" Mas Bry aku suapi ya." Ujar Vanka menatap Bryan.
" Apa Bryan sudah di periksa Dokter?" Tanya Brayen.
" Belum Kak." Sahut Vanka.
" Jangan kasih dia makanan rumahan dulu, takutnya ada penyakit dalam yang tidak bisa mencerna makanan kasar, entar kita kesalahan lagi." Ujar Brayen.
" Ah iya kamu benar juga Kak." Ucap Vanka.
" Mas nunggu jatah dari rumah sakit aja ya makannya, mungkin sebentar lagi udah di antar." Ujar Vanka menatap Bryan.
" Baiklah sayang tapi nanti di suapi ya." Ucap Bryan.
" Iya deh Mas." Sahut Vanka.
Ceklek.....
Ketiga orang di dalam ruangan menoleh ke arah pintu. Seorang Dokter berjalan menghampiri ranjang pasien.
" Sudah Dok." Sahut Bryan.
" Kapan anda sadarnya? Kenapa tidak memanggil saya?" Tanya Dokter.
" Tadi Dok, saya merasa baik baik saja jadi saya tidak memanggil Dokter, takut mengganggu waktu Dokter juga." Sahut Bryan.
" Jangan berpikir seperti itu Tuan, itu sudah menjadi tugas saya." Ujar Dokter.
" Saya akan periksa dulu ya." Sambung Dokter.
" Silahkan Dok." Sahut Vanka.
Dokter memeriksa Bryan dengan teliti.
" Bagaimana keadaan suami saya Dok? Apa ada suatu hal yang fatal?" Tanya Vanka.
" Tidak ada Nona, ini suatu perkembangan yang bagus, organ vital semua normal, anda di perbolehkan pulang nanti sore." Ucap Dokter.
" Alhamdulillah, kalau saya juga boleh pulang kan Dok?" Tanya Vanka.
" Kalau anda menunggu Dokter kandungan visit ya Nona, karna saya tidak berkuasa atas kondisi anda." Ujar Dokter.
" Baiklah." Sahut Vanka.
" Istirahat yang cukup Tuan dan makan makanan bergizi, minum obat secara teratur, nanti akan ada suster yang membuka infus anda." Ucap Dokter.
__ADS_1
" Baik Dok terima kasih." Sahut Bryan.
" Dok apa suami saya boleh makan makanan rumahan seperti ini?" Tanya Vanka menunjukkan makanan yang ada di rantang.
" Boleh Nona tapi untuk makanan pedas jangan banyak banyak ya." Ujar Dokter.
" Iya Dok terima kasih." Sahut Vanka.
" Kalau begitu saya permisi Tuan." Ucap Dokter.
" Silahkan Dok terima kasih." Sahut Bryan.
Dokter keluar dari ruang rawat Bryan.
" Mas gimana kalau aku belum boleh pulang?" Tanya Vanka.
" Jangan khawatir sayang, kalau kamu belum boleh pulang maka Mas juga tidak akan pulang, Mas akan menemanimu di sini." Ucap Bryan.
" Makasih Mas." Ucap Vanka.
" Ya udah sekarang kamu makan dulu kasihan dedeknya entar kelaparan Dek." Ucap Bryan.
" Iya Mas, kamu juga harus makan." Sahut Vanka menyodorkan sesendok makanan ke mulut Bryan.
Bryan menerima suapan demi suapan dari Vanka. Keduanya makan dengan sendok yang sama membuat keduanya nampak begitu romantis di mata Brayen.
" Aku bahagia melihatmu tersenyum bahagia seperti ini Van, aku berharap tidak akan ada lagi masalah yang akan menimpa kalian berdua, cinta kalian sudah terbukti murni dan tulus dari dalam hati, aku salut dengan kalian berdua yang selalu bisa melengkapi kekosongan satu sama lain." Ujar Brayen dalam hati.
Di tempat lain tepatnya di rumah Rea, Rea sedang nampak kebingungan karna tiba tiba ayahnya kejang kejang. Ia mencoba menghubungi Brayen namun nomernya tidak aktif.
" Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan? Pada siapa aku harus meminta tolong? Mana tetangga sudah pada pergi bekerja lagi?." Ucap Rea mondarmandir di samping ranjang ayahnya.
" Yah bertahanlah Yah aku sedang mencoba mencari bantuan, jangan tinggalin aku Yah.... Aku akan menelepon Mas Dirga lagi." Ujar Rea kembali menghubungi nomer Brayen.
Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif
"Ya ampun Mas Dirga... Kenapa nomer kamu belum juga aktif sih? Ponselmu kenapa? Apa kamu tidak mau di ganggu karna saat ini kamu sedang bersama Vanka? Awas saja kalau sampai dugaanku benar, aku tidak akan memaafkanmu Mas, dan aku juga akan membuat perhitungan dengan Vanka." Geram Rea dalam hatinya.
Rea menggenggam tangan ayahnya yang hanya diam saja setelah kejang kejang. Ia tidak bisa berbuat apa apa karna Ia sendiri tidak bisa membawa mobil. Tadi Ia ke sini di antar oleh Brayen.
" Yah bangunlah Yah jangan membuat aku cemas, Yah bangun Yah.... Ayah...." Rea mengguncang pelan tubuh ayahnya yang tidak bergeming.
" Yah... Ayah... Ayah......" Teriak Rea.
Kira kira kenapa ya dengan Pak Ruli?
Jangan lupa like dan koment di setiap babnya ya...
Terima kasih untuk readers yang sudah mensuport author...
Semoga sehat selalu....
Miss U All....
TBC....
__ADS_1