
Saat ini keluarga Permana berkumpul di ruang keluarga. Mama Kia duduk di samping Brayen. Vanka duduk di samping Bryan di sofa sebrang, sedangkan Papa Indra duduk di sofa single. Mereka semua menunggu kedatangan Oma Meri dan Opa Anton sambil berbincang bincang.
Brayen menceritakan tentang apa yang ia alami selama sebulan ini kepada semua orang yang ada di sana. Sampai saat Ia melihat Vanka di perkebunan itu, Brayen sangat yakin mengenal Vanka waktu itu namun lidahnya kelu untuk memanggil namanya. Hingga Ia terus berdoa supaya Vanka mencarinya, dan Ia bersyukur karena Tuhan mengabulkan semua doanya.
" Jadi waktu itu kamu memang mengenaliku Kak?" Tanya Vanka menatap Brayen.
" Ya... Hatiku selalu mengenalmu dimanapun kamu berada, itu sebabnya aku muncul di hadapanmu lagi waktu itu, aku hendak menghampirimu tapi sayang Rea menarikku untuk kembali ke rumah, aku selalu berdoa semoga kau bisa menemukanku dan akhirnya aku merasa bersyukur karena kau berhasil menemukanku." Terang Brayen menatap Vanka.
" Aku memang penasaran dengan sosok pria yang mirip sepertimu, bahkan aku harus bertengkar dengan Mas Bry karena dirimu Kak, Mas Bry tidak percaya kalau kamu masih hidup, itu sebabnya aku meminta Ronal untuk menyelidikimu tanpa sepengetahuan Mas Bry." Ujar Vanka.
" Mama tidak pernah menyangka kalau kamu mengalami hal sesulit itu sayang, Mama pernah punya keyakinan jika kamu masih hidup, tapi satu bulan pencarian tiada hasil membuat Mama ragu dengan keyakinan Mama sendiri kalau kamu masih hidup, bahkan Mama sudah mengikhlaskan kepergianmu dari dunia ini, maafkan Mama yang tidak peka dengan situasi dan keadaanmu sayang." Ucap Mama Kia menggenggam tangan Brayen.
" Tidak masalah Ma, sekarang aku bahagia berkat Vanka aku bisa berkumpul bersama kalian lagi, aku tidak tahu sampai kapan aku tidak bisa bicara bahkan untuk menulis alamat rumah ini pun aku tidak bisa Ma, tapi karna keajaiban yang Vanka bawa untukku, aku bisa normal seperti sebelumnya." Ucap Brayen.
" Terima kasih Vanka, kamu memang menantu Mama yang sangat baik." Ucap Mama Kia.
" Jangan berterima kasih Ma, aku malu mendapatkan kehormatan itu dari Mamaku sendiri." Ujar Vanka.
" Kamu bisa aja merendah, Mama bangga punya menantu sepertimu." Ucap Mama Kia.
" Tapi aku sedih karena kamu tidak bisa menjadi milikku, kamu lebih memilih Bry daripada aku." Sahut Brayen.
" Mulai...." Ujar Bryan.
" Gue jujur Bry dari dalam hatiku yang paling dalam." Sahut Brayen.
" Terus si Rea mau di kemanain? Lo nggak mau memperjuangkan dia gitu?" Tanya Bryan.
" Entahlah Bry, perasaanku masih abu abu kepadanya belum jelas." Sahut Brayen.
" Lo mau kehilangan wanita yang mencintai lo untuk kedua kalinya?" Ujar Bryan.
Brayen menatap ke arah Bryan.
" Dan lo mau menampung wanita gue lagi? Gue ikhlasin deh Rea buat lo, tapi lo balikin Vanka sama gue." Ucap Brayen.
" Ngaco' lo, Vanka milik gue bukan yang lainnya, dan hanya Vanka tidak akan ada yang lainnya." Sahut Bryan menarik pelan kepala Vanka untuk bersandar di pundaknya.
" Dih sok romantis." Cebik Brayen.
" Gue selalu romantis dan manis Bray, itu sebabnya Vanka lebih milih gue daripada lo." Cibir Bryan.
" Dia terpaksa milih lo." Ucap Brayen mulai membuat suasana sedikit memanas.
" Terpaksa kok dia mau dengan senang hati melayani gue, lo nggak lihat stempel yang ada di lehernya, itu tanda kalau Vanka juga sangat mencintai gue." Ucap Bryan tanpa sadar membuat ketiga orang lainnya menatap ke arah Vanka.
Pipi Vanka memerah karena menahan malu karena ucapan suaminya. Vanka menyembunyikan wajahnya ke dada bidang Bryan.
__ADS_1
" Astaga maaf Dek, Mas salah ngomong." Ucap Bryan merutuki kebodohannya.Vanka tidak bergeming. Ia mengutuk Bryan dalam hatinya.
" Sayang jangan marah ya, Mas tidak sengaja tadi ngomong gitu." Ujar Bryan merapikan rambut Vanka.
" Rasain lo! Nggak akan dapat jatah malam ini." Ejek Brayen.
" Diem lo, lo sengaja kan mancing mancing gue." Ujar Bryan.
" Mana ada ya, lo nya aja yang nggak bisa jaga rahasia ha ha." Ucap Brayen sambil tertawa.
Tak berapa lama akhirnya yang di tunggu datang juga.
" Assalamu'alaikum." Ucap Oma Meri masuk ke dalam rumah.
" Wa'alaikumsallam." Sahut semua orang yang berada di dalam ruang keluarga.
" Apa yang ingin kalian bicarakan Ndra?" Tanya Oma Meri menghampiri mereka.
Deg....
Langkah Oma Meri terhenti kala melihat Bryan dan Brayen bergantian. Vanka membenarkan posisi duduknya seperti semula.
" Ini Bryan." Ucap Oma Meri menunjuk Bryan.
" Halo Oma." Sapa Bryan.
Brayen nyengir sambil menatap Oma Meri. Oma Meri mendekati Brayen dengan tidak percaya.
" Kamu Bray?" Oma Meri mencubit kedua pipi Brayen.
" Sakit Oma." Ucap Brayen.
" Eh nyata?" Ucap Oma membuat yang ada di sana menahan tawa.
" Ya nyatalah Oma." Sahut Brayen.
" Kamu beneran Bray? Cucu Oma yang bandelnya minta ampun? Kamu masih hidup? Benarkah ini kamu?" Tanya Oma duduk di samping Brayen.
" Iya Omaku yang paling cerewet dan paling cantik, cucumu yang bandel ini masih hidup." Sahut Brayen.
" Alhamdulillah ya Tuhan, akhirnya Kau mengabulkan doaku, cucuku masih hidup." Ucap Oma Meri.
" Pa.... Papa.... Bray masih hidup Pa." Teriak Oma Meri.
Opa Anton segera mengampiri Oma Meri.
" Iya Ma." Sahut Opa Anton.
__ADS_1
" Lihat Pa, siapa dia?" Ujar Oma Meri.
Opa Anton menatap Brayeb dengan mata nanar.
" Cucuku yang paling bandel." Ucap Opa Anton memeluk Brayen.
" Iya Opa, tapi Bray mohon cucuku yang paling bandel di ganti dengan cucuku yang paling tampan." Ujar Brayen.
" Baiklah sekarang Opa ganti, cucu Opa yang paling ganteng bukan Bry lagi tapi kamu, tetaplah bahagia sayang." Ujar Opa Anton.
" Terima kasih Opa." Sahut Brayen melepas pelukannya.
" Ingat Bry, sekarang gue cucu kesayangan Opa sama Oma, bukan lo lagi." Ucap Brayen menatap Bryan.
" Terserah lo, percuma ganteng kalau belum laku." Ejek Bryan.
" Sialan lo, kalau lo nggak merebut Vanka dari gue, sekarang gue udah punya bini' bego." Ucap Brayen.
" Sudah sudah! Kalian ini kalau berkumpul pasti ribut melulu, Mama heran deh." Ucap Mama Kia.
" Mama juga heran sama kamu Bry, sejak kamu menikah kamu tidak lagi mau mengalah sama Bray seperti sebelumnya, padahal dulu kamu pendiam banget, kamu selalu mengalah sama Bray, bahkan kamu selalu menerima hukuman atas kesalahan Bray, tapi sekarang sudah tidak lagi, kamu sudah berubah ternyata." Sambung Mama Kia.
Entah mengapa ucapan Mama Kia membuat hati Vanka tertohok.
" Maafkan aku Ma, mungkin Mas Bry berubah karena aku." Ucap Vanka beranjak.
" Eh sayang bukan begitu maksud Mama." Ujar Mama Kia merasa tidak enak.
" Tidak apa Ma, maaf aku permisi." Ucap Vanka meninggalkan mereka semua.
" Sayang." Panggil Bryan.
Vanka tidak bergeming, Ia berjalan menuju kamarnya dengan perasaan sedih, entah mengapa perasaannya menjadi sensitif.
" Maafkan atas sikap Vanka Ma, aku akan menyusulnya." Ucap Bryan.
" Sampaikan maaf Mama kepadanya Bry." Ujar Mama Kia.
" Iya Ma, tenang saja." Sahut Bryan.
Bryan menuju kamarnya untuk berbicara sekaligus meminta maaf kepada Vanka.
TBC.....
Jangan lupa untuk like di setiap babnya...
Hari ini udah double up ya... Beri author mawar yang banyak donk biar authornya semangat...
__ADS_1
Miss U All....