Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
20. Meyakinkanmu


__ADS_3

" Katakan sebenarnya kamu siapa? Dimana suamiku?" Tanya Vanka.


" Apa maksudmu Vanka?" Brayen balik bertanya.


" Aku merasa kau begitu asing bagiku Mas, entah mengapa hatiku mengatakan jika dia bukan kamu, kalau memang semua ini benar, mu mohon katakan saja yang sebenarnya, jangan mengikuti apa yang aku ingat, aku takut aku justru melupakan tujuan hidupku." Ucap Vanka menatap Brayen.


" Aku suamimu, aku pria yang sangat mencintaimu dan sangat kau cintai, kita berdua sama sama saling mencintai sayang." Ujar Brayen menggenggam tangan Vanka.


" Gawat! Aku harus meyakinkan Vanka kalau aku memang suaminya, aku tidak mau dia mengingat Bryan, aku harus melakukan sesuatu sebelum dia mengingat semuanya." Gumam Brayen dalam hatinya.


" Aku mau istirahat Mas." Ucap Vanka.


" Istirahatlah sayang, aku akan memelukmu." Sahut Brayen naik ke atas ranjang.


Vanka tidur terlentang, sedangkan Brayen tidur miring sambil memeluk perut Vanka. Vanka mencoba memejamkan matanya.


Lagi lagi bayangan pria yang memeluknya dalam dekapan yang membuat tidurnya nyaman.


" Kenapa pelukannya juga terasa beda? Siapa pria yang ada dalam bayanganku itu?" Tanya Vanka dalam hatinya.


Hari memang sudah siang, waktunya tidur siang. Bryan masuk ke dalam hendak mengistirahatkan tubuhnya di sofa yang ada di dalam ruangan itu.


Deg....


Jantungnya terasa berhenti berdetak, dunianya seakan runtuh saat menatap ke atas ranjang dimana Brayen sedang tidur memeluk Vanka di sampingnya. Hatinya kembali terasa sakit seperti berdarah darah. Bryan menahan cairan bening yang hendak menetes di pipinya sekuat mungkin, tapi air mata sialan ini malah mengalir dengan derasnya tanpa persetujuan dari Bryan.


Bryan menutup kembali pintunya, Ia meninggalkan ruangan itu. Tanpa sengaja Ia menabrak seorang perawat yang melintas di depannya.


Brugh...


" Awh." Pekik perawat itu.


" Maaf maaf, saya tidak sengaja." Ucap Perawat itu.


" Tidak apa, aku yang salah." Sahut Bryan mendongak.


Keduanya saling tatap satu sama lain. Bryan mengerutkan keningnya.


" Kamu temannya Vanka yang pernah ketemu di Mall kan?" Tanya Bryan.


" Devanka maksud Kakak?" Tanya Maudy, sahabat Vanka sejak kecil. Umurnya jauh lebih tua dari Vanka.


" Iya, Devanka istriku." Sahut Bryan.


" Iya Kak, gimana kabarnya sekarang Kak?" Tanya Maudy.


" Vanka kecelakaan lalu dia hilang ingatan." Sahut Bryan.


" Astaga, aku turut prihatin untuk itu Kak." Ucap Maudy.


" Terima kasih." Sahut Bryan.


" Kamu perawat di sini?" Tanya Bryan.


" Iya Kak, tapi aku di tugaskan di bagian anak anak." Ujar Maudy.

__ADS_1


" Apa kau bisa membantuku?" Tanya Bryan lagi.


" Membantu apa ya Kak?" Maudy balik bertanya.


" Aku ingin kamu membantu Vanka mengembalikan ingatannya, saat ini yang dia ingat hanya Brayen, kembaranku yang menjadi suaminy." Ujar Bryan.


" Maksud Kakak, Vanka hanya mengingat Kak Brayen gitu?" Tanya Maudy memastikan.


" Iya, bisakah kau membantuku? Aku di beri waktu satu bulan untuk mengembalikan ingatan Vanka, jika aku gagal maka aku harus rela melepasnya." Sahut Bryan.


Maudy ikut prihatin atas apa yang menimpa rumah tangga sahabatnya. Sahabat yang selalu menyayanginya. Walaupun mereka terpisah dan jarang bertemu selama beberapa bulan ini.


" Baiklah Kak, saya akan membantu sebisa mungkin, dimana Vanka di rawat Kak?" Tanya Maudy.


" Di ruang mawar nomer satu, terima kasih atas bantuannya." Ucap Bryan.


" Terima kasihnya nanti aja Kak, belum berhasil juga." Sahut Maudy.


" Aku permisi dulu." Ujar Bryan berlalu meninggalkan Maudy.


" Malang sekali nasibku Van." Batin Maudy.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya Maudy menjenguk Vanka di ruangannya.


Ceklek....


Maudy membuka pintunya. Ia menatap Vanka yang sedang duduk bersandar.


" Ternyata kamu masih mengingatku." Ujar Maudy menghampiri Vanka.


" Iya lah, aku hanya amnesia separuh." Sahut Vanka.


" Kamu sendirian?" Tanya Maudy duduk di kursi samping ranjang.


" Iya, Mas Brayen ada pasien yang harus di tangani, sedangkan Kak Bryan ke kantor ada meeting penting, sebentar lagi kembali." Sahut Vanka.


" Oh suamimu sedang meeting." Pancing Maudy.


" Suamiku sedang menangani pasien Maudy, Dokter Brayen." Ujar Vanka.


" Kamu salah Van." Ucap Maudy.


" Salah? Apa yang salah pada diriku?" Tanya Vanka menatap Maudy.


" Em... Em... Dokter Brayen belum menikah Van." Sahut Maudy.


Ingin sekali Maudy mengatakan langsung kebenarannya, tapi Ia harus hati hati. Ia tidak mau membahayakan kondisi Vanka.


" Sebenarnya apa yang coba kamu katakan padaku Maudy, katakan saja langsung, aku tidak pa pa." Ujar Vanka.


" Tenanglah, lambat laut kau pasti akan mengingat semuanya, aku permisi dulu." Ucap Maudy keluar ruangan meninggalkan Vanka yang sedang kebingungan.


" Mas Brayen belum menikah? Apa maksudnya? Apa mungkin suamiku bukan Mas Brayen? Lalu siapa? Apa ada kemungkinan Kak Bryan suamiku? Kenapa aku sama sekali tidak bisa mengingatnya? Tapi tidak mungkin kan aku pacaran sama Mas Brayen terus nikahnya sama Kak Bryan? " Vanka bertanya tanya dalam hatinya.

__ADS_1


" Aku harus memastikan ini kepada Mas Brayen." Monolog Vanka.


Ceklek.....


Vanka menoleh ke arah pintu, Ia menatap Brayen yang berjalan ke arahnya.


" Kamu tidak istirahat sayang?" Tanya Brayen menghampiri Vanka.


" Ada sesuatu yang mengganjal pikiranku Mas." Sahut Vanka.


" Apa itu sayang? Katakanlah!" Ucap Brayen.


" Apa kau punya bukti pernikahan kita?" Tanya Vanka.


" Kenapa kamu menanyakan hal itu sayang? Kamu mulai meragukan aku?" Brayen balik bertanya.


" Aku hanya ingin memastikan saja Mas." Sahut Vanka.


Brayen mengeluarkan dua buku kecil dari saku jasnya.


" Ini." Ucap Brayen memberikannya kepada Vanka.


" Akta nikah." Ujar Vanka menerimanya dari Brayen.


Vanka membuka akta nikah dengan pelan, di sana terdapat fotonya dan Brayen, Ia membaca nama yang tertera di sana. Brayen Dirga Permana dan Devanka Rosalina.


" Aku tahu kau akan meminta ini dariku sayang, itulah sebabnya aku sengaja membiatnya, semoga setelah ini kamu benar benar melupakan Bryan, hiduplah bersamaku aku akan selalu membuatmu bahagia sayang seperti selama ini, aku akan menebus kesalahanku karna menolakmu waktu itu, dan merelakanmu bersama pria lain, tapi kali ini tidak lagi, aku tidak akan merelakanmu kembali kepada suamimu." Batin Brayen tersenyum smirk.


" Apa sekarang kamu percaya padaku?" Tanya Brayen menatap Vanka. Vanka menganggukkan kepalanya.


" Sekarang aku mohon padamu sayang, percayalah kepadaku, hanya kepadaku karena banyak orang yang menginginkan kita berpisah, kamu tidak mau kan berpisah dariku?" Tanya Brayen yang di jawab gelengan kepala oleh Vanka.


" Untuk itu jangan meragukanku lagi, ingatlah aku di dalam hati dan pikiranmu, kita akan hidup bahagia selamanya." Ucap Brayen menangkup wajah Vanka.


" Aku sedih sayang jika kamu memikirkan orang lain selain aku, aku suamimu, hanya aku, jadi jangan pernah memikirkan orang lain selain diriku, apa kamu mengerti?" Tanya Brayen.


" Iya Mas, maafkan aku." Ucap Vanka.


" Tidak masalah, aku mencintaimu." Sahut Brayen mencium kening Vanka. Vanka memejamkan matanya.


Bayangan pria mengungkapkan cinta berputar di dalam pikirannya.


Mas mencintaimu sayang, Mas tidak akan pernah melepaskanmu, kamu hanya milikku dan sampai kapanpun kamu hanya akan menjadi milikku, kau wanita terbaik pilihan hatiku


" Aku akan menikahimu setelah kepergian Bryan, aku yakin Bryan akan kalah dengan cintanya sendiri, akulah yang akan menjadi pemenangnya." Batin Brayen.


" Entah mengapa hatiku masih ragu walaupun kamu sudah menunjukkan bukti pernikahan kita Mas." Batin Vanka.


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya.... biar author semangat...


Tahu nggak sih kalau author lama banget ngetik per babnya.... Author kadang keliru kalau mau nulis Brayen sama Bryan hhhh.... Itu sih derita author ya...


Terima kasih untuk author yang sudah mensuport author.... Semoga sehat selalu....


Miss U All

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2