
Setelah selesai mereka semua berkumpul di ruang tamu, Sedang Indra Ia sedang istirahat di kamarnya setelah minum obat. Kia duduk berdampingan dengan Cindy berhadapan dengan Mama dan Papa Anton, Sedangkan Rey duduk di sofa single.
" Kia... Mama minta maaf atas apa yang terjadi padamu Nak, Dan Mama mengucapkan terima kasih karna kamu mau memaafkan Indra dan menerimanya kembali." Ucap Mama.
" Iya Ma mau bagaimana lagi? Mas Indra adalah suami pilihanku sendiri jadi aku harus menerima segala kekurangannya termasuk memaafkan kesalahannya, Ya walaupun dalam hati ini masih kecewa kepadanya, Aku akan mencoba mengikhlaskan semuanya." Kia menghela nafasnya.
" Tidak masalah sayang suatu saat nanti rasa itu akan hilang dengan sendirinya, Mama yakin kamu akan kembali mencintainya." Ujar Mama.
" Oh ya Rey.... Tak lama lagi Kinanti pulang dari tugasnya." Ucap Mama menatap Rey.
" Oh ya?" Tanya Rey.
" Iya... Dan rencananya kedua orang tuamu mau menjodohkannya denganmu." Sahut Mama Meri.
" Heh....Iya kah?" Rey melirik ke arah Cindy.
" Kamu setuju kan?" Tanya Mama Meri.
" Gimana ya Tan? Lihat nanti aja deh." Jawab Rey.
Deg.... Jantung Cindy bagai di sayat sembilu karna Rey tidak langsung menolaknya dan mengatakan yang sebenarnya. Baru tadi Rey bilang mau memperbaiki hubungan mereka tapi apa ini?
Kia melirik ke arah Cindy melihat perubahan wajah Cindy. Kia mengenggam tangan Cindy membuatnya menoleh ke arahnya.
" Tenang saja aku akan mengatasinya." Bisik Kia ke telinga Cindy.
" Apa maksudmu?" Tanya Cindy balik berbisik.
" Aku tahu kamu punya hubungan dengan Bang Rey." Cindy membulatkan matanya. Kia kembali menatap depan.
" Mendengar tentang perjodohan aku jadi inget sepupuku yang di kampung Cin." Ucap Kia.
" Sepupu?" Tanya Mama menatap Kia.
" Iya Ma aku berencana menjodohkan Cindy dengannya, Supaya Cindy menjadi keluargaku, Ya kan Cin?" Tanya Kia.
" Eh... iya... Siapa namanya? Dan gimana orangnya?" Cindy balik bertanya.
" Namanya Juna, Orangnya ganteng nggak beda jauh sama Mas Indra Cin.. Usianya juga masih muda seumuran lah denganmu." Ujar Kia melirik Rey yang sedang blingsatan kaya' cacing kepanasan.
" Boleh tuh Ki, Kenalin donk sama aku, Share nomernya ya siapa tahu aku tertarik padanya, Lumayanlah dapat cogan." Sahut Cindi mengimbangi permainan Kia.
" OK siap nanti langsung aku share ke nomermu.. Dia seorang dosen lhoh di Universitas ternama di Jogja." Ujar Kia.
" Wah mau banget Ki... Bisa memperbaiki keturunan tuh biar anaku ketularan pintar kaya' bapaknya nanti" Sahut Cindy.
" Kebetulan saat ini dia sedang ada di Jakarta lho, Aku akan ajak dia untuk ketemuan nanti malam gimana?" Tanya Kia.
" Nggak boleh." Sahut Rey tiba tiba. Semua orang yang ada di sana menatap ke arah Rey.
" Kenapa nggak boleh? Apa urusannya denganmu Bang?" Tanya Kia.
" Ya...ya nggak boleh aja, Cindy kan kesini sama aku nanti kalau ada apa apa sama dia aku yang tanggung jawab." Jawab Rey ngelantur.
__ADS_1
" Lalu apa hubungannya Bang? Setelah ini Bang Rey antar Cindy pulang, Terus ntar Cindy biar aku yang jemput untuk ketemu sama Juna, Beres kan?" Ujar Kia.
" Eh..." Rey menggaruk kepalanya.
" Kena Lo Bang." Batin Kia sambil tersenyum.
" Kenapa Rey? Kenapa sepertinya kamu keberatan Cindy bertemu dengan sepupu Kia? Apa kamu suka sama Cindy?" Tanya Mama Meri.
" Mama jangan tanya gitu ke Bang Rey, Jelas dia tidak suka sama Cindy lah Ma, Orang Bang Rey sukanya sama aku." Pancing Kia.
" Eh siapa bilang, Aku udah move on ya sama kamu." Ceplos Rey tanpa sadar.
" Move on sama siapa Bang?" Tanya Kia.
" E....siapa...ya... " Rey jadi salah tingkah.
" Sama siapa Bang? Jangan bohong ah." Seru Kia.
" Enggak aku nggak bohong kok, Tapi sama siapa biar itu menjadi rahasia." Sahut Rey menatap ke arah Cindi. Kia menyadari semua itu.
" Lha terus perjodohan itu gimana Rey? Apa kamu mau menolaknya?" Tanya Papa Anton yang sedari tadi hanya diam saja.
" Tunggu aku memastikan perasaanku dengannya dulu Om, Barang kali dia nggak mau sama aku baru aku bisa memutuskan." Ujar Rey.
" Udah lah yang penting nanti kita ketemuan sama Juna Cin, Aku jamin saat lihat wajahnya kamu bakal klepek klepek." Ujar Kia.
" Emang dia mau sama aku?" Tanya Cindy.
" Tentu lah diakan emang lagi cari calon istri." Sahut Kia.
Rey segera pergi dari sana membuat mereka semua jadi heran. Sesampainya di mobil Rey segera menelpon seseorang.
" Hallo... Segera resmikan pernikahanku, Saya tunggu surat nikahnya secepatnya." Ucap Rey mematikan panggilan teleponnya.
Rey menyandarkan penggungnya di kursi kemudi. Ia memikirkan bagaimana caranya memberitahu mereka semua tentang pernikahannya dengan Cindy.
" Aku harus segera memberitahu mereka, Entah mengapa aku tidak mau kehilangannya." Ujar Rey dalam hatinya.
Malam harinya setelah makan malam, Kia segera berjalan menuju kamarnya. Indra sedang duduk bersandar pada headboard. Kia mengambil baju ganti di almarinya.
" Sayang." Panggil Indra.
" Hmm." Gumam Kia tanpa menoleh.
Kia menuju kamar mandi untuk bersih bersih diri dan mengganti pakaiannya. Setelah selesai Ia segera naik ke atas ranjang, berbaring membelakangi Indra.
" Sayang..." Ucap Indra.
" Hmm." Gumam Kia.
" Kok cuma hmmm doank si?" Tanya Indra.
" Emang harus gimana?" Cuek Kia.
__ADS_1
" Kamu marah sama aku?" Tanya Indra.
" Enggak." Jawab Kia.
" Kok jutek gitu." Ucap Indra. Kia tidak bergeming. Indra merapatkan tubuhnya memeluk Kia dari belakang.
" Masih marah sama aku? Katanya udah maafin aku." Ucap Indra.
" Walaupun aku sudah memaafkanmu tapi rasa ini tak lagi sama seperti dulu." Sahut Kia.
" Apa maksudmu?" Tanya Indra membalikkan badan Kia agar menghadapnya.
" Kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" Selidik Indra.
" Entahlah Mas aku tidak bisa merasakan itu saat ini." Ucap Kia.
" Aku minta maaf atas apa yang aku lakukan padamu, Aku sungguh menyesalinya, Tidak masalah jika kamu membenciku saat ini aku akan mengembalikan rasa cintamu kepadaku seperti dulu lagi, Terima kasih sudah memberikan kesempatan kedua untukku." Ujar Indra mengelus pipi Kia.
" Bukan kedua tapi terakhir, Jika kamu menyianyiakan kesempatan itu lagi jangan harap aku akan memberikan kesempatan padamu lagi, Mulai sekarang gunakan hatimu dengan baik agar kamu tidak menyesalinya nanti Mas." Ujar Kia.
" Aku janji akan menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin." Sahut Indra, Indra memajukan wajahnya mencium pipi Kia. Indra merasa lega setidaknya Kia tidak menolaknya.
" Dan aku tidak mau lagi melihat dirimu hilang kendali seperti ini, Melihat dirimu yang cengeng dan rapuh, Setiap ada masalah selalu seperti ini, Hingga akhirnya membuat aku yang harus mengalah." Seru Kia.
" Aku berjanji padamu aku akan merubah sikapku dan mengendalikan diriku agar kamu tidak meninggalkan aku." Sahut Indra.
" Mulai besok aku menunggui Dimas di Rumah Sakit, Aku sudah berjanji dengan Candra akan membantu membuat Dimas sadar dari komanya, Aku harap kamu mengijinkannya Mas." Ucap Kia.
Deg.. Hati Indra berdetak kencang... Rasa takut kehilangan kembali menghantuinya, Tapi Ia harus bisa menahannya. Ia akan membuktikan pada Kia kalau Ia akan merubah sikapnya menjadi lebih baik dan lebih dewasa.
" Kenapa harus kamu?" Tanya Indra.
" Aku hanya merasa kasihan padanya, Dimas seperti ini secara tidak langsung karna diriku, Lagian Dimas tidak bersalah akan hal ini, Semua rencana itu murni rencana Candra sendiri bersama adik kesayanganmu itu. Bahkan selama ini Dimas tidak pernah menyakitiku, Dia selalu berbuat baik dan menuruti apapun perkataanku." Sindir Kia. Indra menghela nafasnya dalam dalam.
" Baiklah aku mengijinkannya, Tapi setelah Dimas sadar kau tidak perlu menemuinya." Ucap Indra.
" Aku tidak bisa menjanjikan hal itu padamu." Sahut Kia.
" Aku tidak mau berbagi perhatian dengan yang lainnya sayang.... Aku tidak rela kau membagi waktu untuk orang lain." Keluh Indra.
" Itu juga yang aku rasakan saat kau membagi waktumu dengan Gea." Sahut Kia.
" Maafkan aku... Maafkan atas keegoisanku, Aku tidak memikirkan perasaanmu waktu itu, Aku tidak mengindahkan semua ucapanmu, Aku mohon maafkan aku." Lirih Indra.
" Aku sudah memaafkanmu tapi maaf kesabaranku sudah tidak seperti dulu lagi karna terkikis oleh rasa kecewa dan sakit hati yang kamu berikan padaku, Aku ngantuk mau tidur dulu, Malam." Kia membalikkan badannya memunggungi Indra. Ia memejamkan matanya dengan perasaan sedih. Sebenarnya Kia tidak tega bersikap seperti itu pada suaminya tapi hatinya masih kesal mengingat perbuatan Indra yang menyebabkannya kehilangan calon anaknya. Sepertinya Kia belum benar benar mengikhlaskan semuanya.
TBC.....
Yang pernah ada pada posisi Kia pasti taulah ya rasanya... So jangan hujat Kia ya...
Makasih atas doa dan dukungan para readers semua... Tetap dukung karya author ya...
Miss U All... Baca juga karya author yang lainnya...
__ADS_1