Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
Tiga kehidupan


__ADS_3

Hari ini Andre menunggu Lio yang akan melakukan oprasi. Setelah menerima telepon dari Kia kemarin hati Lio menjadi sedikit tenang. Tekanan darahnya sudah normal dan dirinya sudah siap menjalani oprasi ini. Ia memasrahkan semuanya pada yang Kuasa. Jika memang dirinya akan di beri kesembuhan semoga ini jalan terbaiknya, Jika memang ini jalan patinya Ia sudah siap menerimanya.


Saat ini Lio terbaring di brankar menunggu giliran.


" Semangatlah sayang aku yakin semua akan berjalan dengan lancar, Kita akan hidup bahagia bersama keluarga kecil kita setelah ini, Semangat dan berjuanglah untuk aku yang selalu menunggumu, Jangan pikirkan yang buruk pikirkanlah yang baik baik." Ujar Andre menggenggam tangan Lio memberi semangat.


" Iya Mas, Doakan yang terbaik untukku, Jika pun nanti hasilnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan ataupun terjadi sesuatu yang buruk padaku kau tetap harus melanjutkan hidupmu." Sahut Lio.


" Jangan katakan itu sayang kita berdoa untuk kesembuhanmu." Ucap Andre.


Mungkin bagi sebagian orang berpikiran seperti itu terlalu lebay, Tapi bagi orang yang takut itu bagai momok yang mengerikan.


" Mari Nona Liona kita ke ruang oprasi, Dokter sudah siap." Ujar Suster menghampiri Liona.


" Iya Sus." Sahut Lio.


" Hati hati sayang." Ucap Andre mencium kening Lio. Lio menganggukkan kepalanya.


Andre menatap kepergian Suster yang mendorong brankar Lio menuju ruang oprasi. Setelah Lio masuk ke dalam Andre menunggunya di depan ruangan sambil terus berdoa demi kelancaran dan keberhasilan oprasi Lio. Karena kanker Lio baru stadium awal jadi Dokter hanya melakukan oprasi pengambilan kanker, Jadi suatu saat jika lukanya sudah kering Lio bisa hamil.


Di tempat lain, Kia sedang berada di apartemen Cindy untuk menjenguk Babby Arsya. Sebenarnya Indra melarangnya tapi dengan alasan kesepian akhirnya Indra meminta sopir mengantar Kia ke apartemen Cindi dulu baru setelah itu baru Ia pergi ke kantor.


" Cin Babby Ar n*t*k mulu apa nggak lecet tuh te*t*knya?" Tanya Kia menatap Babby Ar yang sedang menyesap put*ng Cindi dengan kuat.


" Sedikit Ki, Tapi mau gimana lagi udah resiko jadi ibu ha ha." Kekeh Cindi.


" Iya juga sih." Sahut Kia.


" Besok babby twins mau di kasih asi atau formula?" Tanya Cindi.


" Yah tergantung si, Kalau asiku memenuhi aku kasih asi saja kalau tidak ya terpaksa harus aku sambung formula." Ujar Kia.


" Iya juga sih, Kebanyakan kalau anak kembar pada minum susu formula sih." Ujar Cindi.


" Iya karena stok asi sedikit jadi nggak cukup buat dua babby sekaligus." Sahut Kia.


Mereka melanjutkan ngobrol membahas seputar babby dan ibunya hingga tak terasa hari sudah siang.


" Aku telepon Mas Indra dulu ya Cin mau ajak makan siang." Ucap Kia.


" OK." Sahut Cindy.


Kia mengambil ponsel dari dalam tasnya. Lalu Ia menelepon Indra.


" Hallo sayang." Sapa Indra setelah mengangkat panggilannya.


" Mas dimana? Aku mau ajak Mas makan siang bareng bisa nggak?" Tanya Kia.


" A.....


Belum sempat Indra menjawab tiba tiba


" Ndra ini pesanannya, Ayam lada hitam sama jus alpukat." Ucap Mauli meletakkan pesanan Indra di meja.


Glek.... Indra menelan kasar salivanya karena Ia yakin Kia mendengar ucapan Mauli. Ia takut Kia akan salah paham padanya.


" Sa...

__ADS_1


" Oh kamu udah makan ya, Ya udah aku makan sendiri aja Mas." Ucap Kia memutus sambungan teleponnya.


Lagi lagi ucapan Indra terpotong. Ia segera menelepon Kia balik, Sambungan telepon berdering tapi Kia tidak mengangkatnya. Indra tampak gusar Ia harus menjelaskannya kepada Kia.


" Hei kenapa?" Tanya Mauli melihat Indra yang gusar memikirkan sesuatu.


" Kia pasti salah paham padaku karna mendengar ucapanmu barusan." Ujar Indra.


" Maksudmu Kia tadi meneleponmu? Lalu Ia mendengar ucapanku barusan?" Tanya Mauli menirukan ucapan Indra untuk memastikan.


" Iya.. Kamu hanya mengulangi ucapanku." Sahut Indra.


" He he.... Ayo kita segera ke rumahmu aku yakin Kia pasti dalam perjalanan ke rumah." Ujar Mauli.


" Ok... Ayo." Sahut Indra.


Tanpa pikir panjang Indra segera meninggalkan resto itu. Mauli mengikutinya dari belakang dengan membawa satu kantong plastik besar berisi makanan pesanan Indra.


Mereka berdua menaiki mobil yang di kendarai oleh supir Indra menuju rumah Indra. Setelah menempuh waktu setengah jam lebih akhirnya Indra sampai di rumahnya. Ia segera turun dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya mencari Kia.


" Hei tunggu aku." Ucap Mauli mengejar Indra dari belakang.


" Sayang..." Panggil Indra berjalan menuju kamarnya.


Mauli menunggunya di ruang tamu.


Ceklek....


Indra mengedarkan pandangannya tapi kosong, Tidak ada Kia di sana. Indra menuju dapur melewati Mauli yang sedang duduk diruang tamu, Melihat Indra melintas Mauli kembali mengikuti Indra menuju dapur di sana terlihat Kia sedang duduk memangku wajahnya dengan air dispenser yang terus mengalir memenuhi gelasnya.


" Astaga sayang." Pekik Indra menutup kran dispenser.


" Jangan bergerak di sini banjir, Sebentar aku lap dulu, Aku nggak mau kamu sampai kepleset." Ujar Indra mencari kain lap untuk mengepel lantainya.


" Ada apa Ndra?" Tanya Kia yang baru sampai sambil menenteng kantong plastiknya.


" Ini Kia melamun sampai tidak sadar kalau gelasnya sudah penuh." Sahut Indra sambil mengelap lantai yang basah.


Kia menatap ke arah Mauli, Lalu Ia menatap kanting plastik di tangan Mauli.


" Seperti pesanan Mas Indra tadi." Batin Kia.


Setelah selesai Indra menghampiri istrinya yang masih saja diam.


" Sayang apa yang membuatmu melamun hm? Sampai kamu tidak menyadari kalau gelasnya sudah penuh." Ucap Indra duduk di samping Kia.


" Nggak ada." Sahut Kia menggelengkan kepalanya.


" Kau marah padaku?" Tanya Indra menyentuh dagu Kia agar menatap ke arahnya.


Kia menggelengkan kepalanya.


" Baiklah akan aku jelaskan agar kamu tidak salah paham Yank, Mauli tata makanannya ke piring lalu bawa kemari." Ujar Indra.


" OK." Sahut Mauli segera mengerjakan apa yang di perintahkan oleh Indra.


" Aku bertemu Mauli saat aku memesan makanan di resto xx, Rencananya aku mau menghampirimu di apartemen Rey untuk makan bersama, Tapi saat itu Mauli datang dan mengatakan mau ikut denganku karena dia ingin bertemu denganmu, Dia kesepian di sini tidak punya teman jadi aku menyetujuinya dengan mengajaknya ke sini." Jelas Indra.

__ADS_1


Kia menatap mata Indra mencari kebohongan di sana tapi Ia tidak menemukannya.


" Maaf ya Ki membuatmu salah paham, Ini makanlah Indra memesan makanan ini untukmu, Makanan kesukaanmu." Ucap Mauli meletakkan piring di depan Kia.


" Indra sweet banget lhoh Ki, Dia pesan makanan sepiring berdua, Apa kenyang kalau makan sepiring berdua sedangkan di dalam perut kamu ada dua nyawa?" Tanya Mauli.


" Kalau makannya dengan penuh cinta pasti kenyang Li." Ujar Indra.


Indra mencuci tangannya lalu kembali duduk di samping Kia.


" A' sayang." Ucap Indra menyodorkan tangannya yang berisi makanan ke mulut Kia.


" Ya ampun Ki.... Sweet banget bikin aku iri aja." Pekik Mauli tidak membuat Kia bergeming.


" Sayang jangan diem aja donk, Kalau mau marah lupain aja jangan di pendam di hati entar jadi penyakit, Kalau tidak marah ayo makan babby twins udah lapar." Ujar Indra dengan tangan masih menggantung.


" Aku udah makan Mas, Aku mau istirahat aja sekarang, Aku capek." Ucap Kia sambil berdiri.


" Bohong, Kamu pasti belum makan, Kamu nolak makan kerana marah sama aku, jangan ngambek donk Yank aku udah jelasin semuanya, Ayo sekarang makan dulu Mas suapi." Ujar Indra.


" Aku nggak pernah berbohong, Tuh lihat bungkusnya." Sahut Kia menunjuk bak sampah.


Benar saja di sana ada kardus kecil bertuliskan RC. Merek ayam goreng terkenal di kota itu. Indra mendesah kecewa, Padahal Ia sudah rela meninggalkan pekerjaannya yang menumpuk demi bisa menyuapi Kia tapi malah Kia sudah makan duluan.


" Maaf Mauli aku capek mau istirahat, Makanlah temani Mas Indra dari pada mubazir makanannya." Ucap Kia meninggalkan mereka.


" Cara marah Kia unik ya Ndra." Ujar Mauli duduk di hadapan Indra.


" Iya kalau udah diam dia sudah untuk di bujuk, Alamat puasa ngomong nih dia, Mana kalau diam bisa berhari hari lagi." Ujar Indra.


" Gimana cara ngebujuknya ya?" Gumam Indra yang masih di dengar oleh Mauli.


" Pikir aja sendiri aku mau makan, Jangan sampai makanan ini mubazir seperti kata Kia." Ucap Mauli mulai memakan makanannya.


" Sialan Lo jadi temen nggak ada rasa prihatinnya sedikit aja." Cebik Indra.


" Dari pada gue salah ngomong terus tambah runyam mending gue diam aja." Ujar Mauli.


Selesai makan Mauli pamit pulang, Ia tahu jika Indra butuh waktu untuk membujuk Kia.


" Aku pulang, Sorry ya udah bikin kacau hubungan kalian, Aku tidak tahu jika kejadiannya akan seperti ini." Ucap Mauli menepuk pundak Indra.


" Dont worry aku bisa mengatasinya, Yang penting kita tidak ada hubungan apa apa." Sahut Indra.


Setelah kepergian Mauli Indra masuk ke dalam kamarnya, Rencana mau balik ke kantor Ia urungkan karena ada hal yang lebih penting yaitu membujuk Kia.


Ceklek....


Indra membuka pintu kamarnya, Ia menghampiri Kia yang sedang berbaring miring di atas ranjang. Indra ikut merebahkan tubuhnya di samping Kia. Ia mengelus perut Kia dari belakang.


" Sayangnya Daddy jangan marah ya sama Daddy, Bujuk Mommy supaya tidak marah sama Daddy, Daddy nggak salah cuma Mommy aja yang salah paham sayang, Marahnya jangan lama ya." Lirih Indra.


Kia yang tidak tidur bisa mendengar ucapan Indra. Ia hanya pura pura memejamkan matanya. Tapi lama kelamaan akhirnya keduanya tidur beneran.


TBC....


*Jangan lupa like vote komen dan hadiahnya...

__ADS_1


Makasih atas suport yang kalian nerikan selama ini...


Miss U All*....


__ADS_2