Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
Suasana Pertemanan


__ADS_3

Candra menatap ke arah Kia dan Dimas yang sepertinya sedang bergurau, Lalu Ia menatap ke arah Indra.


" Maaf Tuan Indra jika itu yang anda mau saya tidak bisa melakukannya, Karna yang menjanjikan Nona Kia akan membantu merawat Dimas sampai dia pulih adalah Nona Kia sendiri." Ucap Candra.


Skak Mat... Indra tidak bisa apa apa karna memang itu semua kemauan Kia sendiri.


" Begini nasib punya bini berhati malaikat, Baiknya kebangetan.. Bahkan musuhpun masih di bantu... Kuatkan Hamba melihat semua Ya Allah." Gerutu Indra dalam hati.


" Dim aku balik dulu ya udah malem banget, Besok aku kesini lagi." Pamit Kia.


" Iya.. Makasih." Sahut Dimas yang masih lemah untuk berbicara.


" Cepet sembuh dan tetap semangat." Kia mengangkat tangannya. Dimas hanya menganggukkan kepala saja.


Kia beranjak dari kursinya menghampiri Indra.


" Ayo Mas kita pulang." Ajak Kia.


" Hmm." Gumam Indra. Ia beranjak lalu menghampiri Dimas.


" Cepet sembuh dan tetap semangat Broo." Ucap Indra memberi semangat.


" Makasih." Sahut Dimas.


" Bang aku pulang dulu." Pamit Kia.


" Makasih Ki." Ucap Candra.


" Sama sama." Sahut Kia.


Indra merangkul Kia keluar ruangan, Mereka berjalan menuju parkiran mobil. Sesampainya di sana keduanya masuk ke dalam mobil.


" Kamu nggak lelah Say mau nyetir?" Tanya Indra sambil memakai sealbeltnya.


" Enggak lah Mas." Jawab Kia.


Kia mulai melajukan mobilnya ke jalan raya, Kia melihat kondisi jalan yang sepi, Ia segera menambah kecepatan hingga maksimum. Indra kaget melihat Kia yang jago mengendarai mobilnya, Kia bahkan mampu menyalip mobil mobil lainnya tanpa hambatan. Jantung Indra deg degan, Dalam hatinya Ia berdoa untuk keselamatan mereka. Karna takut Indra hanya memejamkan matanya. Tiba tiba Indra merasa mobil sudah berhenti.


" Kamu takut Mas?" Tanya Kia membuka sealbeltnya. Indra membuka matanya menatap sekitar.


" Udah sampai? Cepet amat." Ujar Indra.


" Iya lah cepet orang akunya ngebut, Dah ngantuk soalnya." Kia membuka pintu mobil dan keluar dari sana.


" Lain kali jangan ngebut lagi bahaya Say" Ujar Indra.


" Iya." Sahut Kia.


Mereka berjalan memasuki rumah dan langsung menuju kamar. Kia membersihkan diri di kamar mandi sedang Indra duduk di sofa.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka, Indra menoleh ke arah Kia yang hanya memakai tanktop dan hotpant saja, Ia menelan kasar ludahnya. Indra beranjak menghampiri Kia yang sudah duduk di meja rias. Ia mengalungkan tangannya ke leher Kia.


" Mas.. lepas ih." Ucap Kia.


" Kenapa? Kamu tidak mau aku sentuh?" Tanua Indra menatap Kia dari pantulan cermin.


" Bukan gitu aku mau pake cream Mas, Aku udah ngantuk mau bobok." Ujar Kia.


" Hmm baiklah." Indra melenggang menuju kamar mandi.


Brakkk

__ADS_1


" Astaga." Kia terperanjat kaget.


"Ya Tuhan aku membuat suamiku marah, Kenapa hati ini sulit sekali untuk di ajak kompromi? Wahai hati berdamailah dengan keadaan, Kembalilah lembut seperti dulu aku tidak mau Mas Indra mengira aku sudah tidak mencintainya lagi, Aku tidak mau durhaka kepada suami, Tapi kenapa rasanya begitu sulit melupakan semua yang terjadi padaku? Nak... Maafkan Mama yang masih merasa kesal dengan Papamu padahal kau sudah tenang di sana." Ujar Kia dalam hati sambil mengelus perutnya.


Kia berbaring di atas ranjang dengan selimut menutupi bagian perutnya, Ia memejamkan mata karna memang Ia sudah sangat mengantuk.


Pagi hari sinar mentari menyorot kamar Kia membuatnya mengerjapkan mata, Perutnya terasa berat karna tertindih tangan suaminya, Dengan pelan Kia mengangkat tangan Indra tapi Indra justru mengeratkan pelukannya.


" Kenapa? Mau menghindar? Nggak mau di peluk?" Tanya Indra. Rasa kesalnya masih menetap di hatinya kala mengingat tadi malam Kia memeluk pria lain tanpa rasa bersalah di depannya.


" Mas lepas udah siang, Kamu tadi nggak shalat ya?" Kia membalikkan badannya menatap Indra.


" Shalat... Habis subuh tidur lagi." Jawab Indra.


Indra menatap wajah istrinya, Ia memajukan wajahnya ingin mengecup bibir Kia, Saat bibirnya hampir sampai tiba tiba...


Drt...drt...drt...


Ponsel Kia berdering, Kia segera beranjak menuju nakas mengambil ponselnya, Sedang Indra menghela nafasnya.


" Hallo." Sapa Kia setelah mengangkat panggilannya.


" Kia Dimas histeris... Dimas tidak mau menerima keadaan kakinya yang lumpuh, Dia marah marah sambil teriak teriak Ki, Bisa tolong ke sini?" Jelas Candra.


" Tunggu satu jam lagi Bang, Aku bersiap dulu." Kia mematikan sambungan ponselnya.


" Dimas lagi?" Tanya Indra.


" Iya Mas... Dimas histeris karna mengetahui jika kakinya lumpuh." Jawab Kia menghampiri Indra.


" Kamu mau kesana?" Indra menatap Kia.


" Iya... Aku mau bersiap dulu....Ijinin aku ya." Kia menangkup wajah Indra.


Kia mencium kedua pipi Indra dan mengecup bibirnya.


" Aku mandi dulu setelah itu gantian kamu Mas." Kia meninggalkan Indra yang masih mematung masuk ke dalam kamar mandi.


Indra memegang pipinya dengan hati yang sejuk bagai tersiram air es, Ia bahagia Kia mau mendekat ke arahnya lagi. Indra yakin tidak lama lagi sifat Kia akan kembali menyayangi dan memanjakannya seperti dulu.


" Mas mandi gih air hangatnya sudah siap." Kia menghampiri Indra yang sedang duduk di ranjang.


" Sini buka dulu bajunya." Ucap Kia.


Kia membuka kancing kemeja Indra satu persatu, Ia melepas kemejanya menampakkan dada Indra yang putih mulus seperti susu.


" Udah." Ujar Kia.


Indra beranjak menghadap Kia, Ia mencium kening Kia lama.


" Makasih." Ucap Indra, Ia segera berlalu menuju kamar mandi. Kia bersiap dengan memakai celana jeans panjang dan kaos putih kedodoran. Ia mengoles make up tipis pada wajahnya. Tak lama Indra keluar dari kamar mandi, Ia berjalan menuju ranjang kembali.


Dengan telaten Kia memakaikan kemeja dan Jas untuk suaminya. Setelah selesai mereka turun untuk sarapan.


" Mas aku barangkat dulu." Ucap Kia setelah selesai dengan sarapannya.


" Hmm hati hati." Sahut Indra.


Kia menyalami tangan Indra dengan takzim, Tak lupa Kia juga mencium pipi Indra.


" Semangat.... Jangan negatif thinking aku hanya berusaha membantunya sebagai teman, Sama sepertimu dengan Gea, Bye." Tanpa menunggu jawaban Indra, Kia segera berjalan keluar menuju mobilnya.


Sesampainya di rumah sakit, Kia segera menuju ke ruangan Dimas.

__ADS_1


" Tidak.... Aku tidak mau lumpuh.... Aku tidak mau.... Aku benci kaki ini." Teriak Dimas dari dalam. Kia segera membuka pintu, Ia masuk menghampiri Dimas yang sedang duduk di atas ranjang sambil memukuli kakinya.


" Dimas..." Panggil Kia. Dimas menoleh ke arahnya dengan tatapan nanar.


" Kia.... Kakiku lumpuh Hiks... Aku cacat Ki... Ku cacat.... Aku tidak mau cacat Ki.. Apa gunanya aku hidup jika tidak bisa berjalan... Aku lumpuh.. Aku lumpuh." Teriak Dimas.


" Tenanglah... Kamu harus semangat untuk sembuh." Ujar Kia.


" Aku tidak bisa sembuh Ki... Aku cacat permanen, Aku cacat Ki...Cacat." Lirih Dimas.


" Tuhan menghukumku atas semua perbuatan burukku kepadamu dan kepada semua orang, Aku menyesal Ki.. Aku menyesalinya...Hiks Aku tidak mau cacat." Isak Dimas.


" Jangan pikirkan masa lalu, Sekarang pikirkanlah masa depanmu." Ucap Kia.


" Masa depan yang mana? Apakah pria cacat sepertiku masih punya masa depan?" Tanya Dimas.


" Kenapa tidak? Masa depanmu masih panjang, Kamu belum menikah, Kamu belum punya anak yang akan selalu memberikanmu semangat untuk hidup." Jawab Kia.


" Kau juga belum punya anak." Ucap Dimas.


Kia menunduk sedih mendengar ucapan Dimas, Hatinya kembali sakit mengingat kejadian yang membuatnya kehilangan calon anaknya.


" Hei... Kenapa?" Tanya Dimas memegang dagu Kia.


" Aku baru saja kehilangan calon anakku Dim." Lirih Kia. Tak terasa air mata menetes di pipinya, Kia segera menghapusnya.


" Maksudmu kamu baru saja keguguran?" Tanya Dimas memastikan. Kia menganggukkan kepalanya.


" Maaf aku tidak bermaksud membuatmu sedih." Sesal Dimas.


" Tidak apa." Sahut Kia.


Jantung Candra berdetak sangat kencang, Ia takut Kia akan mengungkap kejahatannya sekarang. Ia takut kondisi Dimas tambah memburuk.


" Ya sudah lah jangan di pikirkan, Mungkin belum rejekiku untuk mempunyai seorang anak, Yang terpenting sekarang kamu harus semangat untuk pulih, Walau kemungkinan terburuknya kau tidak bisa berjalan lagi, Tapi jangan patah semangat, Hidup tidak akan berhenti sampai di sini Dim." Ujar Kia.


" Ki... Apakah aku bisa menemukan wanita sepertimu untuk mendampingiku di sisa hidupku?" Tanya Dimas menatap Kia.


" Tentu... jika kamu mau berubah kamu pasti akan mendapatkannya." Jawab Kia.


" Tidak ada wanita yang seperti dirimu, Wanita yang mau menerima kekurangan pasangannya dengan tulus, Aku sudah kehilangan wanita itu jadi aku tidak mungkin bisa mendapatkannya." Ucap Dimas.


" Yakin dan percayalah pada takdir Tuhan yang sudah di gariskan untuk kita." Sahut Kia.


" Aku salut padamu, Semoga kamu dan Indra selalu bahagia, Terima kasih sudah menjadi teman baikku tanpa menoleh ke masa laluku." Ucap Dimas menggrnggam tangan Kia.


" Sesama teman harus saling mendukung kan." Sahut Kia.


TBC.....


Bosan nggak sih baca cerita author?..


Ada yang bosan nggak dengan sikap dingin Kia terhadap Indra?


Kita sudahi sikap dinginnya Kia atau Kita buat sedikit lebih lama lagi nih? Jawab di kolom komentar ya....


Author punya foto Kia sama Indra



Dan Kia sama Dimas


__ADS_1


Cocok yang mana????


__ADS_2