Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
63. Nadira Dian Permana


__ADS_3

Hari hari berlalu tak terasa dua bulan sudah Vanka melahirkan putranya. Rayyan tumbuh menjadi anak yang aktif dan sehat. Setiap hari Bryan dengan sabar mengurusnya dengan baik. Ia bahkan tidak membiarkan Vanka kecapekan karena merawat Rayyan.


Makan, mandi dan menjaga Rayyan, Bryan lakukan sendiri. Selama dua bulan ini Bryan tidak pergi ke kantor, Ia lebih memilih bekerja dari rumah saja. Seperti hari ini, selesai memandikan Rayyan, Bryan memakaikan baju Rayyan dengan telaten. Vanka yang baru masuk kamar, menghampiri Bryan.


" Sini biar aku yang lanjutin Mas." Ujar Vanka.


" Enggak usah sayang, biar Mas aja." Sahut Bryan memakaikan diapers kepada Rayyan.


" Selama ini aku merasa tidak sempurna sebagai seorang ibu Mas." Ucap Vanka.


" Kenapa?" Tanya Bryan.


" Ya karena urusan Rayyan kamu semua yang menghandlenya." Sahut Vanka.


Bryan menatap Vanka yang sedang duduk di tepi ranjang.


" Maafkan Mas sayang, bukan maksud Mas untuk menjauhkanmu dari Rayyan, tapi Mas hanya ingin menjadi Papa yang siap tanggap untuk Rayyan." Ujar Bryan.


" Enggak masalah kok Mas, yang penting kamu selalu menjaga kesehatan, jangan sampai kamu kecapekan terus sakit, aku nggak mau sampai itu terjadi." Ujar Vanka.


" Dont worry sayang, Im strong." Sahut Bryan menggendong Rayyan.


" Anaknya daddy yang paling tampan sekarang udah wangi, minum susu Mommy dulu ya biar kenyang." Ujar Bryan mencium pipi Rayyan.


" Iya Daddy, terima kasih Daddy udah menjadi Daddy yang baik untuk Ray." Sahut Vanka.


" Ya udah kasih asi dulu Dek, kamu tadi udah kenyang kan sarapannya?" Tanya Bryan.


" Iya udah Mas." Sahut Vanka.


Bryan memajukan jam sarapan Vanka yaitu jam enam pagi, karena jam tujuh paginya Vanka harus menyusui Rayyan. Bahkan Bryan mengubah jatah makan Vanka menjadi lima kali dalam sehari, ya walaupun porsinya sedikit sih.


Vanka memangku Rayyan lalu segera menyusuinya. Rayyan menyesap puti** su** Vanka dengan kuat. Bryan menatap Rayyan dengan gemas. Bagaimana tidak? Rayyan memiliki kulit putih seputih susu, pipi gembul dan mata sedikit sipit. Sama persis sewaktu Bryan bayi.


" Duh anak Daddy udah lapar ya, minumnya kok gitu sih Dek, lahap bener." Ujar Bryan menoel pipi Rayyan membuat Rayyan menoleh ke arahnya lalu tersenyum.


" Senyuman dedek juga manis banget seperti senyuman Daddy." Ujar Bryan.


" Emang senyuman kamu manis Mas?" Tanya Vanka.


" Ya manis lah Dek." Sahut Bryan.


" Masa'?" Tanya Vanka.


" Buktinya senyuman Mas bikin hati adek meleleh tuh." Sahut Bryan menaik turunkan alisnya membuat Vanka tersipu malu.


" Kenapa malu malu gitu? Malu ya karena ketahuan terpesona dengan senyuman Mas." Ucap Bryan.


" Iya Mas, entah mengapa aku merasa senyumanmu meneduhkan hatiku, aku suka kamu terus tersenyum seperti ini, tapi aku tidak rela kamu mengobral senyuman sama wanita lain." Ujar Vanka.


" Senyum itu adalah ibadah, yang penting hati ini hanya untuk kamu Dek, Adek Devanka tersayang." Ucap Bryan mencium kening Vanka.


" Terima kasih Mas." Ucap Vanka.


" Untuk?" Tanya Bryan.


" Untuk semuanya, untuk semua kebahagiaan yang kamu berikan kepadaku, kamu satu satunya pria yang sempurna yang pernah aku temui." Ujar Vanka.


" Hmmm ngegombal.... Pasti ada maunya nih." Ujar Bryan.

__ADS_1


" Apa sih Mas." Ujar Vanka.


" Katakan saja jika memang benar ada maunya, Mas pasti akan mewujudkannya." Ucap Bryan menatap Vanka.


" Aku hanya mau cinta dan kasih sayangmu selamanya Mas." Sahut Vanka.


" Tanpa kamu minta aku akan memberikannya sayang." Ucap Bryan kembali mencium kening Vanka.


" I love you." Sambung Bryan.


" Love you too Mas." Sahut Vanka memeluk Bryan dengan satu tangannya.


" Dedek udah bobok sayang." Ucap Bryan menatap Rayyan yang memejamkan mata.


" Terus?" Tanya Vanka menatap Bryan.


" Kita buat dedek baru." Sahut Bryan vulgar.


" Mas...." Ucap Vanka saat tiba tiba Bryan menyesap lehernya.


" Ayo sayang." Lirih Bryan.


" Masih pagi Mas." Ujar Vanka.


" Nggak pa pa sayang, ayo." Ajak Bryan.


" Aku tidurin Ray dulu di box ya." Ujar Vanka.


" Iya sayang." Sahut Bryan.


Vanka menidurkan Rayyan pada box bayi dan setelah itu apa yang seharusnya terjadi maka terjadilah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


" Sayang, anak kita cantik mirip sama kamu banget." Ucap Brayen menatap babbynya.


" Hmm." Gumam Rea.


" Apa kamu sudah menyiapkan nama untuk anak kita?" Tanya Brayen menatap Rea.


" Belum Mas, kalau kamu gimana?" Rea balik bertanya.


" Ada sih tapi nggak tahu kamu suka apa enggak." Sahut Brayen.


" Siapa?" Tanya Rea.


" Nadira Dian Permana gimana?" Tanya Brayen.


" Nadira... Kita panggil Dira." Ujar Rea.


" Boleh." Sahut Brayen.


" Baiklah nama putri cantik kita adalah Dira, Abang Rayyan dan Dedek Dira." Ujar Rea.


" Oh ya apa kamu sudah telepon Kak Bryan sama Vanka Mas?" Tanya Rea.


" Udah sayang tapi nggak ada yang mengangkatnya satu pun dari mereka, mungkin mereka masih sibuk." Sahut Brayen.


" Pagi pagi gini emang sibuk ngapain?" Tanya Rea.

__ADS_1


" Ya mungkin mengajak Ray ke taman atau hanya berjemur di halaman belakang." Sahut Brayen.


" Owh mungkin." Sahut Rea.


Kembali ke kamar Bryan dan Vanka. Setelah keduanya menyelesaikan kegiatan yang cukup menguras keringat dan tenaga, kini keduanya mandi bersama. Sekitar dua puluh menit, keduanya sudah berpakaian rapi kembali. Vanka duduk di atas ranjang mengambil ponsel di atas nakas.


" Mas ada lima panggilan dari Kak Brayen, ada apa ya?" Tanya Vanka menatap Bryan.


" Mas kurang tahu sayang, coba telepon balik." Ujar Bryan.


Vanka menelepon Brayen. Tak lama kemudian telepon terjawab.


" Halo Kak, Kak Brayen meneleponku sampai lima kali, ada apa ya Kak? Apa terjadi sesuatu dengan kalian?" Tanya Vanka.


" Ya terjadi sesuatu dengan Rea, aku mencoba mengabarimu dan Bry tapi malah nggak ada yang menangkat teleponku, memangnya kalian pada kemana sih?" Tanya Brayen.


" Kami sedang... Ka...." Ucap Vanka gugup.


Bryan mengambil alih ponsel dari Vanka. Ia menempelkan pada telinganya.


" Katakan ada apa!" Titah Bryan.


" Rea sudah melahirkan dengan selamat." Ucap Brayen.


" Alhamdulillah." Sahut Bryan.


" Ada apa Mas?" Tanya Vanka menatap Bryan.


" Rea sudah melahirkan sayang." Sahut Bryan.


" Alhamdulillah, selamat ya Kak, oh ya laki laki atau perempuan Kak?" Tanya Vanka.


" Perempuan Van, cantik seperti ibunya." Sahut Brayen.


" Ahhh aku punya anak lengkap nih, laki laki dan perempuan." Pekik Vanka.


" Iya Van." Sahut Brayen.


" Ya udah Bray, aku sama Vanka akan otw ke sana." Ucap Bryan.


" Ok kami tunggu." Ucap Brayen.


" Ok bye." Sahut Bryan mematikan ponselnya.


" Ya udah ayo kita bersiap ke sana." Ajak Bryan.


" Tapi apa kita boleh membawa Ray masuk ke rumah sakit Mas? Lagian apa enggak bahaya ya Mas bawa Ray ke sana?" Tanya Vanka.


" Tenang saja sayang, rumah sakit itu milik Brayen, nanti kita akan lewat jalur sterilisasi jadi aman untuk Ray." Sahut Bryan.


" Ah baiklah." Sahut Vanka.


Bryan menggandeng Vanka yang sedang menggendong Rayyan menuju mobilnya. Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, Bryan melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


TBC....


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya...


Terima kasih untuk readers yang sudah mensuport author...

__ADS_1


Semoga sehat selalu...


Miss U All....


__ADS_2