
Pagi hari Dirga menunggu Rea menyiapkan baju untuknya di kamarnya. Bahkan Ia sampai kedinginan karena Dirga sudah mandi duluan. Biasanya jam segini Rea sudah masuk ke kamarnya tapi entah mengapa sampai jam menunjukkan pukul delapan, Rea belum ke kamarnya. Pada akhirnya Dirga berjalan menuju almari, Ia mengingat ingat apa yang biasanya Rea siapkam untuknya.
Dirga mengambil baju, celana dan pakaian dalamnya. Lalu Ia memakainya, setelah itu Ia membawa sisir menuju kamar Rea. Dirga membuka pintu, Ia menghampiri Rea yang masih tidur di ranjangnya. Dirga duduk di tepi ranjang Ia menempelkan telapak tangannya pada kening Rea.
Panas...
Dirga kebingungan harus berbuat apa. Ia mengguncang pelan tubuh Rea, Rea tidak bergeming. Dirga memajukan wajahnya lalu...
Cup...
Dirga mengecup lama kening Rea. Ia memeluk tubuh Rea sesekali Ia menciumi pipi Rea sambil meneteskan air matanya. Ia merasa takut jika Rea kenapa napa. Hingga air mata Dirga menetes di pipi Rea. Rea mengerjapkan matanya menatap Dirga yang sedang menangisinya.
" Tenanglah aku baik baik saja, aku belum mati." Lirih Rea menepuk punggung Dirga seolah tahu apa yang Dirga rasakan saat ini.
Dirga kembali menciumi pipi Rea, kali ini dengan mata berbinar bahagia.
" Nafasku sesak kalau kamu memelukku terus." Ujar Rea.
Dirga melepas pelukannya. Ia menempelkan telapak tangannya pada kening Rea.
" Aku sedang tidak enak badan, jadi aku mau tidur aja hari ini ya." Ujar Rea di angguki kepala oleh Dirga.
Tiba tiba Dirga menyodorkan sisir kepada Rea.
" Astaga... Masih sakit gini juga masih harus menyisir rambutmu, beruntung kamu bisa berpakaian sendiri sekarang." Gerutu Rea.
Rea duduk bersandar pada tumpukan bantal.
" Apa kamu mengambil bajumu sendiri?" Tanya Rea. Dirga menganggukkan kepalanya.
" Pasti tadi kamu udah mandi ya Mas, terus kedinginan menungguku." Ujar Rea. Lagi lagi Dirga menganggukkan kepalanya.
" Kasihan sekali, sekarang menghadaplah sana, aku akan merapikan rambut indahmu ini." Ucap Rea.
Dirga memunggungi Rea, lalu Rea menyisir rambut Dirga.
" Selesai, sekarang udah rapi." Ucap Rea. Dirga kembali menghadap Rea.
" Sekarang ambil makanan di meja makan, lalu kamu makan sendiri di sana." Ujar Rea di ikuti gerakan tangannya supaya Dirga bisa menangkap maksudnya.
Dirga menunjuk Rea.
" Aku lagi malas makan, jadi kamu makan sendiri saja." Ujar Rea.
Dirga menganggukkan kepalanya. Ia keluar kamar Rea menuju meja makan. Tak lama setelah itu, Dirga kembali dengan membawa sepiring makanan.
" Kenapa makanannya di bawa ke sini? Kamu makan aja di sana Mas." Ujar Rea di balas gelengan kepala oleh Dirga. Rea menghela nafasnya. Ia tidak mau ambil pusing , biarkan saja Dirga makan di sana.
Dirga menyendok makanan, lalu Ia menyodorkannya ke mulut Rea membuat Rea melongo.
" Kamu mau menyuapiku ternyata, ah so sweet banget ternyata kamu Mas." Ujar Rea.
Rea menerima suapan dari Dirga. Ia mengunyah makanan sambil menatap Dirga yang sedang menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dengan sendok yang sama dengan yang di pakai Rea.
__ADS_1
Hati Rea merasa berbunga bunga melihat semua itu. Dirga benar benar peduli dan perhatian kepadanya. Suapan demi suapan Dirga berikan kepada Rea hingga makanan dalam piringnya habis tak tersisa. Setelah itu Dirga memberikan segelas air putih kepada Rea. Rea segera meminumnya.
" Makasih Mas." Ucap Rea. Dirga menggangguk lagi.
Dirga keluar kamar untuk meletakkan piring kotornya di dapur. Setelah itu Ia kembali ke kamar Rea.
" Mas tolong ambilkan obat turun panas di kotak itu." Ucap Rea menunjuk kotak p3k di samping almarinya.
Dirga mengambil obat itu lalu menghampiri Rea. Ia menyodorkan obat itu kepada Rea.
" Iya benar ini obatnya." Ucap Rea.
Dirga mengambil segelas air di atas nakas lalu memberikannya kapada Rea. Rea segera meminum obatnya.
Setelah itu Rea kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang, Dirga menyelimutinya. Tanpa Rea duga tiba tiba Dirga naik ke atas ranjang dan memeluk tubuhnya. Entah mengapa Rea merasa begitu nyaman. Ia memejamkan matanya karena mengantuk. Mungkin efek obat tidur.
Siang hari Pak Ruli kembali dari peternakan.
" Kemana Rea dan Dirga? Kenapa sepi sekali?" Gumam Pak Ruli.
Pak Ruli membuka pintu kamar Rea dan....
" Rea Dirga apa yang kalian lakukan?" Bentak Pak Ruli membuat kedua orang yang sedang tertidur terbelalak menatap Pak Ruli.
" Ayah..." Ucap Rea.
" Apa yang kalian lakukan hah?" Tanya Pak Ruli.
Dirga turun dari ranjang. Ia menarik tangan Pak Ruli lalu menempelkannya ke dahi Rea.
" Panas... Kamu demam sayang?" Tanya Pak Ruli.
" Iya Yah, aku baru saja minum obat dan maaf Yah, Mas Dirga menungguiku sambil memelukku, mungkin dia mengantuk makanya dia tidur di sini Yah, maafkan kesalahan kami." Terang Rea.
" Ya sudah yang penting kalian tidak melakukan apa apa, Ayah hanya khawatir kalian melakukan hal hal di luar batas." Ujar Pak Ruli.
" Sekarang tidurlah, Dirga kembalilah ke kamarmu." Sambung Pak Ruli.
Dirga menggelengkan kepalanya. Ia justru naik ke atas ranjang menggenggam tangan Rea. Pak Ruli menghela nafasnya.
" Ya sudah kamu tungguin Rea aja di sini, jangan melakukan apapun." Ucap Pak Ruli.
Dirga menganggukkan kepalanya. Pak Ruli keluar kamar Rea tapi tanpa menutupnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kamar Bryan, Bryan sedang duduk di sofa sambil mengecek laporan. Sedangkan Vanka duduk di balkon menatap pemandangan di depannya.
Ia membuka aplikasi wa di dalam ponselnya. Ia memencet tombol telepon atas nama Ronal. Sambungan telepon berdering, tinggal menunggu Ronal mengangkatnya.
" Halo Van." Sapa Ronal di sebrang sana.
" Bagaimana? Apa kamu sudah mendapat informasinya? Besok sore aku sudah kembali ke kota jadi aku harus segera memastikannya." Ujar Vanka.
__ADS_1
" Berdasarkan keterangan warga setempat, ada warga baru di sana, namanya Dirga, dia dalam keadaan sakit saat ini, ada gangguan syaraf pada otaknya sehingga saat ini dia tidak bisa bicara, tapi dia calon suami orang Van, dia calon suami anak yang punya peternakan di daerah sana." Sahut Ronal.
" Apa kamu sudah ketemu dengan orang itu dan memastikan kalau dia bukan Kak Brayen?" Tanya Vanka.
" Belum Van, aku belum ada waktu untuk menemuinya, kamu tanyakan saja pada warga sekitar dimana rumah Rea anaknya Pak Ruli." Ujar Ronal.
" Ok baiklah, Rea anaknya Pak Ruli." Ucap Rea.
" Iya." Sahut Ronal.
" Baiklah terima kasih." Sahut Rea menutup panggilan ponselnya.
" Jadi kamu masih penasaran dengan pria yang mirip dengan Brayen? Ternyata kamu menyelidikinya di belakang Mas?" Tanya Bryan membuat Vanka menoleh ke belakang.
" Mas." Ucap Vanka mendekati Bryan.
" Mas fikir kamu benar benar melupakan masalah ini." Ujar Bryan.
" Maafkan aku Mas, aku memang menyuruh Ronal untuk menyelidiki semua ini, aku hanya ingin memastikan jika aku salah Mas, Entah mengapa aku merasa jika pria itu benar benar Kak Brayen." Ujar Vanka.
" Maafkan aku Mas, aku mohon biarkan aku menemui pria itu dan memastikan jika dia bukan Kak Brayen Mas, tapi jika benar dia Kak Brayen kita harus membawanya pulang Mas, saat ini dia sedang sakit, ada gangguan pada syarafnya sehingga dia tidak bisa bicara Mas." Sambung Vanka.
" Aku tidak mengerti apakah ini karna kepedulianmu atau karna di hatimu masih menyimpan namanya." Ucap Bryan cemburu.
" Mas jangan cemburu gitu donk, hatiku hanya ada namamu Mas." Sahut Vanka memeluk Bryan.
" Entahlah." Sahut Bryan.
" Apa kamu tahu apa yang membuatku semakin yakin kalau dia adalah Kak Brayen?" Tanya Vanka.
" Tidak." Sahut Bryan mengelus rambut Vanka.
" Karna pria itu bernama Dirga Mas." Ucap Vanka.
" Apa? Dirga?" Pekik Bryan melepas pelukannya. Ia menatap Vanka dengan dalam.
" Iya Mas, dan aku berharal semoga saja dia benar benar Kak Brayen." Ujar Vanka.
" Semoga saja sayang, tapi jangan terlalu berharap karna kau akan kecewa jika dia bukan Bray." Sahut Bryan.
" Iya mas, jadi Mas mengijinkan aku untuk menemuinya Kan? Rumahnya tidak jauh dari sini Mas." Ucap Vanka.
" Baiklah, Mas akan menemanimu." Sahut Bryan.
" Terima kasih Mas." Ucap Vanka memeluk Bryan.
TBC.....
Jangan lupa like koment dan votenya ya...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author...
Miss U All...
__ADS_1