Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
38. Rencana Vanka


__ADS_3

" Emang ada acara apa sampai kamu memberitahu Vanka?" Tanya Brayen lagi.


" Acara tunanganku dengan Revan."


Jeduar.....


Bagai di sambar petir di siang bolong, tubuh Brayen tiba tiba merasa kaku. Jantungnya terasa berhenti berdetak. Seakan bumi berhenti berputar pada porosnya.


" Ap..... Apa? Acara pertunanganmu dengan Revan?" Tanya Brayen memastikan.


" Iya." Sahut Rea.


" Bukankah rencananya akan di laksanakan sebulan lagi?" Tanya Brayen.


" Bulan depan Revan ada magang di perusahaan ternama, jadi acaranya di ajukan Mas, malam ini acara tunangannya dan besok pagi acara pernikahannya" Sahut Rea.


" Apa? Pernikahan? Secepat itu? Lalu bagaimana dengan aku?" Tanya Brayen.


" Bagaimana gimana? Kamu bahkan tidak mampu mengenali perasaanmu padaku Mas, sesuai baktiku kepada Ayahku, aku akan menerima lamaran dan pernikahan dengan Revan kapanpun itu." Sahut Rea.


" Aku butuh waktu sebelum satu bulan itu kan? Kenapa kau begitu cepat mengambil keputusan Rea." Ujar Brayen.


" Mau bagaimana lagi Mas? Apakah aku harus menanti sesuatu yang tidak pasti? Aku dan kamu berbeda Mas, aku bukan siapa siapa sedangkan kau orang berada, sudahlah Mas mungkin tidak ada takdir untuk kita berdua bersama." Ujar Rea.


" Aku akan memantapkan hatiku Rea, aku akan membuktikan jika perasaanku kepadamu ini nyata." Ucap Brayen.


" Sudahlah Mas tidak perlu di pikirkan, lupakan saja semua yang pernah terjadi di antara kita, anggap saja kita tidak saling mengenal sebelumnya, aku juga sudah melupakan perasaanku padamu, oh ya kamu akan datang kan ke acara pernikahanku?" Tanya Rea dengan hati serasa di remas.


" Akan aku usahakan untuk datang." Sahut Brayen memejamkan mata.


" Baiklah aku tutup dulu ya Mas, masih banyak yang harus aku kerjakan." Ujar Rea.


" Baiklah." Sahut Brayen.


" Apa kau tidak mau mengucapkan selamat untukku?" Tanya Rea.


" Selamat untukmu Rea, semoga kau bahagia." Sahut Brayen menutup teleponnya.


" Aku akan datang bukan sebagai tamu undangan, tapi sebagai seseorang yang akan bertunangan denganmu Rea, itu janjiku padamu." Monolog Brayen meletakkan ponselnya di atas nakas.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Jam tujuh pagi Vanka sedang bersiap di depan meja rias untuk pergi ke acara Rea. Perjalanan ke tempat acara pernikahan Rea hanya membutuhkan waktu satu jam saja dari rumah Vanka. Acara akan di mulai pukul sembilan pagi jadi Vanka tidak terburu buru untuk sampai di sana.


" Kamu mau pergi sama Bray Dek? Kenapa nggak bilang sama Mas? Mas bisa mengantarmu." Ujar Bryan yang baru saja masuk ke dalam kamarnya. Ia merasa kesal karena Vanka tidak mengatakan apapun soal kepergiannya kepadanya.


Vanka menghela nafasnya, sebenarnya Ia masih malas untuk berbicara dengan Bryan. Entah mengapa rasanya Ia begitu ingin menghindari Bryan.


" Sayang jangan diam saja donk! Apa kamu masih marah sama Mas?" Tanya Bryan lembut menghampiri Vanka.


" Hmm." Gumam Vanka mengoleskan lipstik pada bibirnya.


Vanka beranjak mengambil slingbag di atas nakas. Bryan mencekal tangannya saat Vanka hendak meninggalkannya.


" Kamu kenapa lagi Dek? Perasaan kemarin udah nggak marah sama Mas, Mas salah apa sih sama kamu? Kamu belum memaafkan kesalahan Mas waktu itu?" Bryan memberondong Vanka dengan pertanyaan.


Vanka menatap Bryan yang terlihat begitu sedih. Tapi lidahnya terasa kelu saat akan menjawab ucapan Bryan.

__ADS_1


" Baiklah jika kamu tidak mau berbicara dengan Mas, nggak pa pa tapi Mas yang akan mengantarmu." Ucap Bryan.


" Van udah belum?" Tanya Brayen di depan pintu.


" Udah." Sahut Vanka.


" Biarkan Vanka pergi bersamaku Bray, kamu duluan aja." Ujar Bryan.


" Kita pergi bertiga aja, biar gue yang menjadi sopir buat kalian." Ujar Brayen.


" Ide yang bagus." Sahut Bryan.


Brayen melajukan mobilnya dengan kecepatan sedikit kencang. Satu jam kemudian mobil Brayen sampai di sebuah gedung yang di sewa oleh Pak Ruli untuk acara pernikahan Rea.


Ketiganya turun dari mobil, Bryan menggandeng tangan Vanka untuk masuk ke dalam di ikuti Brayen dari belakang. Ketiganya di sambut oleh Pak Ruli sebagai pemilik acara.


" Selamat pagi Nak Vanka, Bryan dan Nak Dirga." Ucap Pak Ruli.


" Selamat pagi Pak." Sahut Vanka.


" Terima kasih atas kedatangan kalian ke sini." Ucap Pak Ruli.


" Sama sama Pak, kami turut bahagia ata pernikahan Rea Pak." Sahut Vanka.


" Terima kasih, silahkan masuk dan nikmati acaranya." Ucap Pak Ruli.


" Terima kasih Pak." Sahut Vanka mengapit lengan Bryan masuk ke dalam gedung. Gedung besar di lengkapi dengan dekorasi yang sangat mewah menurut Vanka.


Brayen mengedarkan pandangannya berharap menemukan Rea. Ia ingin mengatakan sesuatu kepada Rea sebelum semuanya terlambat. Tiba tiba tatapannya tertuju pada Rea yang baru saja masuk ke sebuah ruangan yang ada di sana. Mungkin semacam ruangan yang biasa di gunakan untuk rias calon pengantin.


Ceklek....


Brayen membuka pintu ruangan itu, Ia masuk ke dalam lalu mengunci pintunya dari dalam. Rea yang sedang membetulkan kebayanya menoleh ke belakang. Ia terkejut melihat Brayen yang berada di sana.


" Mas Dirga.. Ngapain kamu ke sini Mas?" Tanya Rea.


Brayen berjalan menghampiri Rea, Ia menarik pinggang Rea hingga menempel pada tubuhnya. Keduanya saling melempar tatapan dengan jantung yang berdegup kencang. Rea nampak sangat cantik dengan menggunakan kebaya warna putih dan riasan yang natural. Bibir mungilnya di hiasi lipstik berwarna merah terang membuat Dirga ingin mencicipinya.


" Lepaskan Mas, mereka semua sedang menungguku." Ucap Rea.


" Aku tidak akan membiarkanmu menikah dengan Revan." Ujar Brayen.


" Kenapa? Apa semua ini berpengaruh padamu? Tidak kan? Kamu tidak ada perasaan apa apa kepadaku Mas, jadi berhentilah memberikan harapan palsu kepadaku." Sahut Rea.


" Jika aku mengatakan kalau aku mencintaimu, apa kamu akan membatalkan pernikahanmu dengan Revan?" Tanya Brayen mengelus pipi Rea.


" Seperti yang Ayahku bilang, saat kau keluar dari rumahku perasaanmu sudah tidak ada gunanya lagi, apapun perasaanmu padaku tidak akan mengubah keadaan saat ini, aku harus tetap menikah dengan Revan." Sahut Rea.


" Apa kau tidak punya perasaan padaku? Aku sangat yakin jika sebenarnya kau mencintaiku Rea." Ujar Brayen.


" Tahu apa kamu tentang perasaanku Mas." Sahut Rea.


" Kamu sudah mengatakan semuanya di saat aku tidak bisa bicara Rea, kau jangan mengelak sayang." Ucap Brayen mencium pipi Rea membuat Rea memejamkan matanya. Rea segera menguasai dirinya kembali.


" Tapi sekarang perasaan itu akan aku berikan kepada Revan, dia calon suamiku dan akan menjadi suamiku sebentar lagi." Sahut Rea.


" Aku tidak akan membiarkan itu terjadi Rea." Bentak Brayen. Rea berjingkrak kaget.

__ADS_1


" Aku mencintaimu Rea, aku baru menyadari perasaanku saat kamu bilang akan bertunangan dengan orang lain, aku tidak rela kamu hidup bersama pria lain, aku tidak mau kehilanganmu Rea, ku mohon hentikan semua ini, menikahlah denganku bukan dengan Revan, aku mencintaimu Andrea." Ungkap Brayen mencium kening Rea lama.


Rea memejamkan matanya menahan sesuatu yang sesak di dadanya.


Tes.....


Air mata Rea menetes di pipinya setelah mendengar ungkapan cinta Brayen kepadanya. Hatinya bahagia dan sakit secara bersamaan. Brayen menangkup wajah Rea. Ia mengusap air mata Rea dengan tangannya.


" Kenapa kamu menangis hmm?" Tanya Brayen.


" Kamu terlambat mengatakan semua itu padaku Mas, andai saja kamu mengatakannya lebih awal aku bisa mencegah pernikahan ini terjadi Mas, tapi maaf aku sudah tidak bisa mundur dari pernikahan ini hiks..." Isak Rea.


" Apa maksudmu tidak bisa Rea?" Tanya Brayen.


" Aku sudah menandatangani surat perjanjian dengan Revan Mas." Sahut Rea.


" Perjanjian apa itu?" Tanya Brayen.


" Ayah sakit Mas, ayah butuh donor ginjal untuk mengobati sakitnya, dan hanya Revan yang bisa menolong ayah karena hanya ginjal Revan yang cocok untuk Ayah Mas." Terang Rea.


" Apa? Apa ginjalku tidak cocok untuk ayahmu? Aku rela mendonorkan ginjalku untuk ayah asalkan pernikahan ini batal Rea." Ujar Brayen.


" Maaf Mas semua sudah terlambat, aku harus pergi." Ucap Rea hendak melangkah.


Brayen menarik Rea ke dalam pelukannya.


" Hikss..." Isak Rea.


" Maafkan aku Rea, aku memang pria bodoh yang tidak bisa menilai perasaanku sendiri, maafkan aku hiks..." Isak Brayen.


" Mungkin memang takdir kita harus seperti ini Mas, kita bertemu, saling jatuh cinta tapi kita juga terpisah." Ujar Rea.


" Aku harus bagaimana Rea? Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Brayen.


" Relakan dan lupakan aku Mas, mungkin aku bukan jodohmu." Ujar Rea.


Keduanya cukup lama saling berpelukan hingga...


Tok tok tok


" Rea.... Pak penghulu sudah menunggu." Ucap Vanka dari luar membuat keduanya melepas pelukan mereka.


" Aku harus pergi Mas, mungkin ini pertemuan kita yang terakhir, jika suatu saat nanti kita bertemu, anggap saja kita tidak saling mengenal Mas." Ucap Rea berjalan membukakan pintu.


" Hai, sedang apa kamu lama lama di dalam?" Tanya Vanka.


" Tidak pa pa." Sahut Rea mengusap air matanya dengan tisu yang sempat Ia ambil sebelum keluar.


" Ya udah ayo." Ucap Vanka mengapit lengan Rea.


Nah loh... Rea mau nikah?????


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya biar author semangat....


Miss U All.....


TBC.....

__ADS_1


__ADS_2