
Hari hari berlalu kini usia kandungan Kia sudah memasuki sembilan bulan. Ia sudah susah untuk beraktifitas. Indra semakin memanjakannya, Bahkan Kia sama sekali tidak boleh melakukan pekerjaan apapun.
Saat ini Kia sedang makan malam bersama Indra, Seperti biasa Indra akan menyuapinya.
" Mas udah." Ucap Kia menolak suapan Indra.
" Kenapa hm? Kamu makannya baru sedikit lhoh Yank." Ujar Indra.
" Udah ah Mas aku lagi malas makan, Perutku sedikit sakit." Sahut Kia.
" Baiklah." Sahut Indra.
Indra beranjak menuju wastafel untuk mencuci tangannya. Tiba tiba terdengar seperti sesuatu yang pecah...
Pyakkk (Anggap aja gitu)
" Mas air Mas." Pekik Kia.
Indra segera menghampiri Kia. Ia panik saat melihat air mengalir dari bagian bawah Kia.
" Kenapa ini Yank?" Tanya Indra panik mondar mandir di depan Kia memikirkan sesuatu.
" Mas hei... Tenang jangan panik, ini air ketuban Mas." Ucap Kia menenangkan Indra.
" Air ketuban? Artinya kau mau melahirkan?" Tanya Indra memastikan.
" Iya Mas." Sahut Kia.
" Mana yang sakit Yank?" Tanya Indra.
" Nggak ada Mas cuma melilit aja, sekarang telepon Mama Meri suruh Mama menyusul kita ke rumah sakit." Ujar Kia.
" Baiklah." Sahut Indra.
Setelah menelepon Mama Meri, Indra dan Kia menuju rumah sakit dengan di antar sopir. Kia berusaha untuk setenang mungkin tapi keringat terus mengalir pada dahinya. Dengan telaten Indra mengusap keringat itu dengan tisu.
" Sayang jika sakit mengeluhlah, bilang saja kalau memang sakit jangan diam saja." Ujar Indra.
" Itu hanya akan membuang tenaga sia sia Mas, aku harus mengumpulkan tenaga untuk mengejan nanti." Sahut Kia.
Sesampainya di rumah sakit Kia segera duduk di kursi roda, Suster mendorongnya menuju ruang bersalin. Rasa mulas pada perutnya berdurasi semakin kencang. Indra menggenggam tangan Kia berharap bisa memberikan kekuatan untuk sang istri yang sebentar lagi akan berjuang memberi dua kehidupan sekaligus.
Sesampainya di ruangan Kia segera di periksa oleh Dokter, Ternyata sudah pembukaan delapan tinggal menunggu sebentar lagi. Kia di sarankan untuk melakukan metode jongkok lalu berdiri.
" Shhhh." Desis Kia saat rasa mulas kembali menghampirinya.
" Sakit ya Yank?" Tanya Indra mengelus punggung Kia.
Kia sudah tidak bisa merespon ucapan Indra, Ia sibuk dengan dunianya sendiri. Kia berjongkok lalu berdiri lagi sambil membuka kakinya. Keringat terus meluncur dari dahinya, Ia terus merapalkan doa doa berharap bisa mengurangi rasa sakit yang luar biasa. Semakin ke sini rasa sakit itu semakin berdurasi lama dan cepat jaraknya.
" Sayang Mas harus apa untuk mengurangi rasa sakitmu?" Tanya Indra terus mendampingi Kia.
Kia tidak bergeming, seorang Dokter menghampirinya.
" Silahkan berbaring saya cek dulu ya bu sudah pembukaan berapa." Ucap Dokter Mila, Kia hanya menganggukkan kepalanya.
" Wah pintar pembukaannya sudah sempurna, siap siap mengejan mengikuti instruksi saya ya bu." Ujar Dokter. Kia menganggukkan kepalanya.
Dokter membuka lebar kaki Kia. Lalu Ia memberi instruksi kepada Kia untuk mengejan.
" Tarik nafas lalu keluarkan bu." Ucap Dokter.
Kia melakukan apa yang dokter katakan.
" Hitungan ke tiga nanti dorong ya bu." Ucap Dokter.
" Semangat sayang aku ada disini kamu pasti bisa." Ucap Indra mencium kening Kia memberi semangat padanya.
Setelah hitungan ke tiga, Kia mulai mengejan dengan suara khasnya, Indra menyebulkan doa pada ubun ubun Kia sambil menggenggam tangan kanan Kia. Kia melakukan instruksi Dokter begitu berulang ulang sampai....
Oek.....Oek.....
" Alhamdulillah putra pertama sudah lahir." Ucap Dokter Mila.
__ADS_1
" Alhamdulillah, makasih sayang." Ucap Indra mencium kening Kia.
Setelah memotong tali pusar Babby Kia yang pertama, Dokter Mila memberikan Babby Kia kepada suster untuk di bersihkan. Ia kembali fokus kepada Kia.
" Ayo bu tarik nafas lalu dorong lagi ya dedeknya udah nunggu." Ucap Dokter Mila.
" Masss." Lirih Kia.
" Iya sayang." Sahut Indra menatap Kia.
" Haus." Ujar Kia membuat Dokter tersenyum.
" Minum dulu bu belum ngajak lagi kan dedeknya." Ujar Dokter Kia menggelengkan kepalanya.
Indra memberi segelas teh hangat kepada Kia. Setelah itu Kia mulai mengejan lagi dan tak lama setelah itu....
Oek..... Oek.....
" Alhamdulillah Babby kedua lahir dengan selamat." Ujar Dokter.
" Selamat Pak Bu kedua putra kalian lahir dengan fisik yang sempurna." Ucap Dokter membuat hati Indra lega.
" Alhamdulillah makasih sayang kamu telah menyempurnakan hidupku dan membuatku bahagia, kedua putra kita sempurna sayang tidak sepertiku, terimakasih atas perjuanganmu selama ini sayang." Ucap Indra memeluk Kia sambil menangis.
Dokter menatap haru pada kedua pasangan itu. Dokter tahu akan kekhawatiran Indra, Ia takut salah satu Babbynya akan cacat sepertinya. Bahkan setiap usg Indra selalu menanyakan hal itu untuk memastikan.
" Maaf Pak ibunya harus di bersihkan dulu." Ujar Dokter.
" Iya Dok." Sahut Indra menjauh dari tubuh Kia.
" Sambil saya membersihkan ibu, kita lakukan IMD dulu ya bu dengan satu babby, nanti gantian ya." Ujar Dokter.
Dokter menengkurapkan Babby Kia pada dadanya. Sang babby pun mulai mencari cari ****** sus* Kia. Kia dan Indra menatap haru pada babby mungil di atas dada Kia. Setelah selesai gantian Babby satunya.
" Sudah selesai nanti tinggal menunggu suster memindahkan ke ruang rawat ya bu, saya permisi." Ujar Dokter.
" Terima kasih Dok." Sahut Kia dan Indra bersamaan.
Tapi Indra sedih karena mengingat calon bayi yang pernah di kandung Kia. Ia merasa telah menjadi pembunuh bagi calon bayinya sendiri. Andai saja dulu Indra mendengar semua perkataan Kia pasti saat ini anak itu sudah menjadi Kakak dari kedua babby twins yang baru saja di lahirkan oleh istrinya.
Setelah di pindahkan ke ruang rawat, Kia boleh di kunjungi oleh keluarganya. Mama Meri dan Papa Anton masuk ke dalam untuk melihat menantu dan kedua cucunya.
" Selamat sayang atas kelahiran babby twins, semoga keduanya menjadi anak soleh dan berbakti kepada orang tua." Ucap Mama Meri mencium kening Kia yang masih terbaring lemas di atas ranjang.
" Makasih Ma." Sahut Kia.
" Kamu hebat lhoh sayang bisa melahirkan mereka secara normal, mama aja dulu cesar." Ujar Mama Meri.
" Dari dulu istriku memang wanita terhebat Ma." Sahut Indra.
" Iyalah kalau nggak hebat dia tidak akan bisa menghadapi suami manja sepertimu." Ejek Mama Meri.
" Mama." Cebik Indra.
" Nah kan manjanya kumat." Ucap Mama Meri.
" Sekarang udah jadi Daddy jangan manja lagi, malu sama kedua putramu." Sambung Mama Meri.
" Siap Ma." Sahut Indra.
" Papa udah siapkan Babby sister untuk merawat putra kalian." Ucap Papa Anton.
" Makasih Pa tapi hanya untuk satu bulan saja Pa, setelah itu aku akan mengurus putraku sendiri." Ujar Kia.
" Sesuai permintaanmu sayang, Papa salut kepadamu walaupun kamu masih muda tapi kamu mau mengurus suami dan putramu dengan tanganmu sendiri, benar benar wanita mandiri, Indra tidak salah memilihmu menjadi pendamping dan pelengkap hidupnya" Ujar Papa Anton.
" Papa bisa aja." Ujar Kia.
" Betul itu sayang, aku melihat semua itu sejak kita SMP makanya aku jatuh cinta padamu." Ucap Indra.
" Tapi tidak bisa mengungkapkan, kalau bukan usaha Mama dan Rey pasti saat ini Kia sudah menjadi istri dan menantu orang lain." Sindir Mama mengingatkan Indra.
" Ah iya Ma... He he Maaf." Sahut Indra cengengesan.
__ADS_1
" Oh ya siapa nama kedua cucu tampan Oma ini?" Tanya Mama Meri menghampiri box bayi.
" Yang ini siapa namanya?" Tanya Mama Meri sambil menggendong Babby pertama Kia.
" Babby pertama aku beri nama Brayen Dirga Permana Ma." Sahut Indra.
" Wah nama yang bagus, kalau yang satunya?" Ujar Mama menunjuk Babby Kia yang ke dua.
" Kalau itu babby ke dua aku beri nama Briyan Dika Permana Ma." Sahut Indra.
" Hallo Babby Bray dan Babby Bry." Sapa Papa Anton kepada kedua cucunya.
" Papa gendong Bry donk, Mama gendong Bray." Ujar Mama Meri.
" Eh... Papa kan belum pernah gendong bayi Ma, takut ah nanti jatuh gimana?" Tanya Papa Anton.
" Ya enggak lah Pa, ya udah Papa gendong Bray aja biar Mama yang gendong Bry." Ucap Mama memberikan Bray ke tangan Papa Anton.
Dengan sedikit gemetar Papa Anton menggendong Brayen. Papa Anton menatap wajah mungil di depannya dengan perasaan bahagia.
" Ma jadi pengin." Ucap Papa Anton.
" Pengin apa? Pengin bikin?" Tanya Mama vulgar.
" Pengin punya babby, aku udah bisa gendong nih." Sahut Papa Anton membuat Kia dan Indra saling melempar senyuman. Keduanya asyik menatap ke arah kedua orang tuanya
" Ya ampun Pa.... Inget umur Pa udah tua, lagian mana bisa Mama hamil lagi." Ujar Mama Meri.
" Tapi Papa pengin punya Babby Ma biar bisa gendong setiap hari." Ucap Papa Anton tanpa sadar.
" Oh pengin punya Babby? Lalu kenapa waktu itu Mama suruh kawin sama yang muda nggak mau? Alasannya udah punya Indra lah, Cuma cinta sama Mama lah, sekarang pengin punya anak sendiri kan." Gerutu Mama Meri.
" Eh maaf Ma, Papa salah bicara, Maaf ya.. Papa nggak kepengin punya anak lagi kok, kalau Papa mau gendong Babby, Papa gendong cucu Opa yang tampan saja." Ujar Papa Anton menyadari kesalahannya.
" Bodo'." Sahut Mama cemberut.
Mama Meri menaruh kembali Babby Bry ke dalam box. Ia menghampiri Kia di ranjangnya.
" Mama pulang dulu sayang, besok pagi Mama ke sini lagi, oh ya kedua orang tuamu juga sampai besok pagi." Ujar Mama Meri.
" Iya Ma hati hati jangan lama ngambeknya." Kekeh Kia.
" Biarin... Biar tahu rasa tuh tua keladi." Sahut Mama Meri.
" Mama pulang Ndra." Ucap Mama.
" Hati hati Ma." Sahut Indra.
Mama Meri berjalan ke arah pintu, Papa Anton segera mengejarnya.
" Sayang tunggu." Ucap Papa Anton pergi tanpa pamitan dulu.
Melihat kedua orang tuanya membuat Kia dan Indra tersenyum.
" Ternyata sifatmu menurun dari Mama ya kalau ngambek." Ujar Kia.
" Mungkin iya, tapi sekarang udah nggak lagi karena sekarang aku udah jadi Daddy." Sahut Indra.
" Sekarang tidurlah sayang akan ada babby sister yang mengurus Bray dan Bry." Sambung Indra.
" Iya Mas aku juga lelah." Sahut Kia.
Setelah itu Kia memejamkan matanya. Indra menyewa ranjang yang lebih besar agar Ia bisa tidur di samping Kia.
" Malam sayang mimpi indah." Ucap Indra mencium kening Kia.
TBC....
Bagus nggak namanya? perpaduan dari nama yang readers berikan. Maaf ya cuma pilih dua nama jadi nggak bisa semuanya masuk, entar kepanjangan kan kasihan kalo ujian nggak kelar kelar nulis namanya.
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya
Miss U All
__ADS_1