
Liona mengerjapkan matanya. Ia menatap wajah suami tercintanya sambil tersenyum. Ia mengingat bagaimana semalam Andre begitu memuja tubuhnya.
" Kamu memang tampan Mas, Semoga anak kita nanti bisa menuruni ketampanmu." Lirih Lio yang mengharap anak laki laki.
Lio turun dari ranjang hendak membersihkan dirinya di kamar mandi. Tiba tiba,
" Awh." Pekik Lio saat merasa bagian intinya begitu sakit.
Mendengar rintihan Lio, Andre segera membuka matanya Ia beranjak menghampiri Lio.
" Sakit banget ya Yank?" Tanya Andre.
" Awww." Pekik Lio saat tubuhnya terasa melayang ke udara.
" Kamu ini bikin kaget aja Mas." Sambung Lio mengalungkan tangannya ke leher Andre.
Andre mendudukkan tubuh Lio pada bath up. Lalu Ia mengisinya dengan air hangat.
" Harusnya tadi di isi dulu bath up nya Mas baru aku masuk ke sini." Gerutu Lio.
" Kalau yang itu udah biasa sayang... Aku mau yang luar biasa." Sahut Andre enteng.
" Ada ada aja kamu Mas." Ucap Lio menggelengkan kepalanya.
Setelah bathup terisi penuh Andre mematikan krannya, Ia ikut berendam di dalam bathup bersama Lio. Ia menggosok punggung Lio sambil menatap tubuh Lio yang membuatnya candu.
" Udah Mas ah aku bisa sendiri." Ucap Lio.
" Mau lagi." Ucap Andre tiba tiba.
" Mau apa?" Tanya Lio.
" Ini." Andre menunjuk bagian bawah Lio.
" Nggak mau ah Mas masih sakit." Ujar Lio.
" Dosa lhoh Yank kalau nolak suami." Ucap Andre.
Lio menghela nafasnya, Bagaimanapun sikap Lio Ia juga takut akan dosa.
" Baiklah lakukan saja Mas, Aku siap melayanimu" Ujar Lio.
" Makasih sayang." Ucap Andre memulai aksinya.
Akhirnya apa yang seharusnya terjadi terjadilah.
Bayangin sendiri ya... Authornya lagi ngeblank efek sakit kepala😁
Di tempat lain tepatnya di depan teras rumah Indra, Kia dan Indra sedang menjemur Babby twinsnya. Mereka menjemur Babby di atas pangkuannya.
" Yank ini nanti balikin badan Bry gimana? Tanganku nggak bisa Yank." Ucap Indra sedikit takut karena Kia menengkurapkan Bry di atas pangkuannya.
" Nanti aku yang gendong Mas tenang aja, Sekarang pangku aja dulu." Sahut Kia.
" Uh anak Daddy sampai merah banget gini badannya." Ucap Indra mengelus punggung Bry yang sedang menghisap jempolnya.
" Anak Mommy juga nih, Sampai merah padam kaya' apel merah." Sahut Kia membalikkan tubuh Bray.
__ADS_1
" Aku bawa masuk Bray dulu Mas nanti gantian Bry." Ujar Kia.
" Ok Mommy." Sahut Indra.
Kia menggendong Bray masuk ke dalam. Ia mulai memakaikan baju kepada Bray. Setelah selesai Ia kembali ke luar mengambil alih Bry dari Indra.
Setelah semua rapi Kia menyusui Bray dan Bry secara bergantian karena Ia tidak bisa menyusui keduanya secara bersamaan.
" Mereka sudah tidur?" Tanya Indra sambil membawa nampan makanan di tangannya.
" Udah Mas." Sahut Kia.
" Makan dulu biar tet*knya ada isinya lagi sebelum di sus* sama Bray dan Bry." Ujar Indra menyodorkan nampannya ke arah Kia.
" Makasih Mas." Sahut Kia.
Ya Indra akan memberi Kia makan setelah si kembar menyusu, Walau cuma sedikit tapi Kia harus mengisi perutnya dengan asupan gizi untuk si kembar agar terpenuhi karena Kia tidak memberi si kembar sufor. Bahkan setiap malam Kia selalu bangun untuk menyusui mereka. Benar benar seorang ibu yang penuh perjuangan. Babby Sister yang di siapkan Papa Anton hanya bekerja selama dua minggu saja selepasnya Kia sendiri yang mengurus kedua putranya.
" Mas kapan kamu mau berangkat lagi ke kantor?" Tanya Kia setelah menghabiskan makanannya.
" Aku udah nggak ke kantor lagi Yank, Semua pekerjaan aku serahkan sama Rey dan Andre, Aku ingin menemani kamu dan kedua putra kita di rumah." Ujar Indra.
" Yah walaupun aku tidak banyak membantu dalam mengurus mereka setidaknya aku ikut andil dalam perkembangan mereka." Sambung Indra.
" Kamu ngomong apa sih Mas, Kamu itu membantu banget tahu Mas coba aja kalau tidak ada kamu, Aku harus pakai jasa babby sister lagi." Sahut Kia.
" Tapi maaf ya Mas, Sekarang aku tidak bisa memasak lagi buat kamu." Sambung Kia.
" Tidak masalah sayang semuanya sudah di selesaikan sama Bi Sumi, Sekarang rasa masakannya juga hampir mirip seperti masakanmu." Ucap Indra.
" Aku ke dapur dulu ya." Ucap Indra.
Di rumah Cindi, Ia sedang bersiap menuju kantor Rey untuk mengajaknya makan siang bersama. Cindi menitipkan Arsya ke asistent rumah tangganya karena Ia tidak mau membawa Arsya ke tempat umum apalagi sekarang sedang masa pandemi.
Dengan memakai dres merah maroon selutut Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dua puluh menit kemudian Cindi sampai di perusahaan ZIP Group tempat dimana Ia pernah bekerja.
Cindi melangkahkan kakinya menuju ruangan suaminya.
Ceklek...
Cindi membuka pintunya dan alangkah terkejutnya Ia melihat pemandangan yang menyayat hatinya. Bagaimana tidak? Kini Rey sedang duduk berciuman dengan seorang wanita yang berada di pangkuannya. Bahkan keduanya tidak menyadari kehadiran Cindi di sana.
Air mata menetes di pipi Cindi melihat suaminya mengkhianatinya. Ia tidak menyangka Rey mampu melakukan ini di belakangnya.
"Selamat siang Nona Cindi." Sapa OG yang sedang melintas di depannya.
" Selamat siang." Sahut Cindi mengusap air matanya.
Mendengar nama istrinya di sebut, Rey menatap ke arah pintu dimana bayangan seorang wanita menjauh dari sana.
Rey segera mendorong tubuh Raya hingga terjerembab ke lantai.
" Awh." Pekik Raya.
" Urusan kita belum selesai, Kau akan menyesal karena telah berani bermain main denganku." Tekan Rey.
Rey pergi meninggalkan Raya mengejar wanita yang Ia yakini sebagai istrinya. Sampai di Lobbi Rey melihat mobil Cindi yang baru keluar meninggalkan perusahaan Indra.
__ADS_1
Rey mengambil mobilnya mencoba mengejar mobil Cindi.
" Sayang jangan marah dengarkan dulu penjelasanku." Gumam Rey.
Rey mencoba menghubungi Cindi tapi tidak di angkat olehnya. Rey semakin frustasi di buatnya. Ia mengikuti mobil Cindi yang melaju menuju rumahnya.
Sesampainya di rumah Rey segera berlari menuju kamarnya.
Brakk...
Rey mendorong pintu dengan kasar sambil ngis ngossan.
" Sayang." Rey menghampiri Cindi yang sedang duduk di meja rias menghapus make up nya.
" Sayang kau salah paham padaku." Ucap Rey memeluk Cindi dari belakang.
" Lepas." Ucap Cindi dingin.
" Dengarkan aku, Apa yang kau lihat tidak seperti apa yang kau pikirkan." Ucap Rey.
" Memang apa yang aku lihat? Apa yang aku pikirkan?" Tanya Cindi melepas pelukan Rey. Ia menatap tajam ke arah Rey.
" E... Kamu melihat Raya menciumku kan?" Rey balik bertanya.
" Yah kau mengakuinya." Sahut Cindi tenang.
" Sayang dia yang menciumku..
" Tapi kau menikmatinya." Cindi memotong ucapan Rey.
" Tidak sayang.....
" Tidak apa? Tidak menikmatinya maksudmu?" Lagi lagi Cindi memotong ucapan Rey.
" Dia duduk di pangkuanmu, Mencium bibirmu bahkan kau tidak menyadari kehadiran istrimu, Apa itu yang di namakan tidak menikmati ciumannya? Kau tega padaku Mas, Seharusnya jika kau sudah tidak suka padaku kamu bilang, Bukan seperti ini caranya." Ujar Cindi dengan mata berkaca kaca.
" Kenapa setelah ada Arsya kamu melakukan semua ini padaku Mas? Yang aku lihat baru ciuman Mas lalu apa yang terjadi di belakangku? Apa yang terjadi di belakangku Mas? Apa yang kau lakukan dengannya? " Tanya Cindi dengan nada tinggi.
Rey menelan ludahnya dengan kasar.
" Nggak bisa jawab kan? Karena banyak yang kau lakukan di belakangku tanpa sepengetahuan aku." Sambung Cindi.
" Lanjutkan saja pekerjaanmu dan hubunganmu dengannya, Aku akan pulang ke rumahku bersama Arsya." Ucap Cindi.
" Tidak... Kau tidak boleh kemana mana, Maafkan aku... Bukan maksudku menyakitimu sayang... Tadi Raya datang dan tiba tiba dia duduk di pangkuanku lalu menciumku, Aku kaget sayang bukan menikmatinya, Aku bahkan tidak mau di sentuh oleh wanita manapun selain kamu sayang, Percayalah aku hanya mencintai dan menginginkanmu, Aku tidak melakukan hal buruk di belakangmu." Ujar Rey berlutut di depan Cindi.
Cindi mendongak menahan air mata agar tidak jatuh membasahi pipinya.
" Sayang percayalah padaku, Aku tidak pernah mengkhianatimu, Aku mencintaimu sayang.... Sungguh hanya kamu seorang, Ku mohon jangan pernah pergi dariku." Ujar Rey menggenggam tangan Cindi.
" Aku kecewa padamu Mas, Seharusnya jika kau tidak menginginkannya kau bisa mendorongnya bukan malah diam saja, Aku tidak percaya jika kau tidak punya hubungan apa apa dengannya." Ucap Cindi menarik tangannya. Ia mengusap air matanya dengan kasar.
" Selama kau belum bisa membuktikan jika kau tidak bersalah maka aku tidak akan pernah memaafkanmu." Ancam Cindi.
Cindi meninggalkan Rey menuju kamar Arsya. Hatinya sakit melihat suaminya bercumbu dengan wanita lain. Entah itu sengaja atau tidak Cindi tidak mau menerima alasannya.
TBC....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak likenya ya...
Miss U All...