Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
11. Murung


__ADS_3

Vanka mengerjapkan matanya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Nuansa putih yang mendominasi ruangan itu membuat Vanka tahu kalau dirinya saat ini berada di rumah sakit. Vanka menoleh ke samping dimana Bryan sedang tidur sambil memeluk dadanya. Ingat kejadian semalam, Vanka menyentuh perutnya, sayup sayup Ia mendengar ucapan suster di tengah kesadarannya saat Ia sampai di rumah sakit.


Pasien keguguran Dok


Deg...


Jantung Vanka terasa berhenti berdetak. Keguguran? Anaknya telah tiada? Sedih... Itulah yang Vanka rasakan saat ini.


" Kau telah meninggalkan Mama sebelum Mama bisa melihatmu sayang, maafkan Mama yang tidak bisa mejagamu, tapi Mama ikhlas melepas kepergianmu sayang, damai dan tenanglah di sana, suatu saat nanti Mama pasti akan menyusulmu." Batin Vanka.


" Hiks.... Hiks..." Tiba tiba Vanka terisak padahal Ia sudah mencoba mengikhlaskan semuanya. Tapi sekuat apapun seorang ibu jika melihat anaknya terluka pasti Ia akan menangis juga kan? Apalagi melihat anaknya telah tiada. Itulah yang di rasakan Vanka saat ini.


Mendengar suara isakan Vanka, Bryan mengerjapkan matanya.


" Sayang kamu menangis?" Bryan mengusap air mata di pipi Vanka.


Vanka memang sedih karna kehilangan janinnya, tapi Ia lebih sedih saat Bryan pergi dan tidak mempercayainya. Bukankah mereka sudah berjanji untuk saling percaya? Tapi kenapa semalam Bryan justru tidak mau mendengarkannya. Ingin sekali Vanka mengatakan itu tapi Ia enggan untuk berbicara dengan Bryan.


" Maafkan Mas sayang, maafkan Mas yang tidak bisa menjaga kalian, maafkan Mas yang tidak bisa mengontrol emosi sehingga kita harus kehilangan calon anak kita, andai saja semalam Mas bisa mengontrol emosi pasti semua ini tidak akan terjadi, maafkan Mas sayang." Ucap Bryan memeluk Vanka.


" Semua sudah takdir Mas, tidak perlu di sesali." Sahut Vanka beranjak dari tidurnya.


" Mau kemana sayang?" Tanya Bryan.


" Ke kamar mandi." Sahut Vanka turun dari ranjangnya dengan pelan.


" Biar Mas bantu sayang." Ujar Bryan.


" Aku bisa sendiri." Sahut Vanka menolak banruan Bryan. Bryan menghela nafasnya dalam dalam. Ia tahu kalau Vanka marah padanya.


Vanka berjalan pelan sambil mendorong tiang infusnya menuju kamar mandi. Vanka membasuh mukanya dan menggosok gigi. Sebenarnya Ia mau mandi tapi Ia akan kesusahan karna tangannya masih di pasang infus. Setelah selesai Ia keluar dari kamar mandi kembali ke ranjangnya.


" Hati hati sayang." Ucap Bryan membantu Vanka naik ke ranjang pasien.


" Hmm." Sahut Vanka.


Vanka duduk di atas ranjang. Melihat rambut Vanka yang tergerai dan sedikit berantakan, Bryan segera mengambil sisir dan ikat rambut.


" Mas rapiin rambutnya ya." Ujar Bryan. Vanka hanya diam saja membiarkan Bryan menyisir lalu mengikat rambutnya.


" Dah selesai, nah kalau gini kan rapi, jadi kelihatan cantiknya." Ujar Bryan tersenyum manis.


" Duduknya sambil sandaran saja ya biar enakan." Sambung Bryan menata bantal di belakang punggung Vanka.


Vanka duduk bersandar pada tumpukan bantal. Sedangkan Bryan duduk di kursi samping ranjang.


" Mau makan apa hmm?" Tanya Bryan menatap Vanka. Vanka menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Bryan menggenggam tangan Vanka lalu menciuminya.


" Kamu marah sama Mas?" Tanya Bryan. Vanka menggelengkan kepalanya.


" Maafkan Mas sayang karna Mas tidak mau mendengar penjelasanmu, Mas sangat menyesalinya, Mas juga merasa sedih dengan kejadian ini sayang, tapi Mas mohon tersenyumlah, jika kamu marah sama Mas kamu boleh tampar Mas, jambak rambut Mas, atau pukul Mas sesuka hatimu, Mas siap menerimanya tapi jangan mendiamkan Mas seperti ini, jangan bersikap dingin dengan Mas sayang, Mas tidak sanggup menerima perlakuan dinginmu ini." Ucap Bryan sendu sambil mengelus pipi Vanka.


Vanka mengusap kasar air matanya.


" Kemarin Mas sangat sibuk dengan pekerjaan kantor, semua laporan yang di audit managemen keuangan salah, dan itu membuat Mas sangat pusing karna Mas harus bekerja keras menyelesaikan laporan itu sendiri, laporan itu harus di laporkan pagi ini kepada para petinggi perusahaan, Mas lembur sampai malam, Mas capek sayang, saat sampai rumah Mas ingin memelukmu untuk menghilangkan rasa lelah dalam diri Mas, tapi apa yang Mas lihat? Justru pemandangan yang membuat emosi Mas memuncak, Mas pergi bukan karna Mas membencimu tapi Mas pergi karna Mas takut akan meluapkan emosi Mas kepadamu, Mas tidak mau menyakitimu sayang, Mas tidak menyangka kalau sikap Mas semalam malah membawa petaka untuk kita, sekali lagi maafkan Mas sayang, Mas juga merasa sangat sedih kehilangan calon anak kita, Mas menyayanginya seperti Mas menyayangi diri Mas sendiri, percayalah sayang." Terang Bryan sambil tetap menggenggam tangan Vanka.


Vanka menatap Bryan dengan tatapan sendu. Bryan melemparkan senyuman manisnya membuat hati Vanka menghangat.


Vanka berpikir tidak ada gunanya Ia menyimpan amarah atau rasa kesal kepada Bryan. Apalagi saling menyalahkan. Ia juga merasa bersalah karna tidak bisa mengenali suaminya sendiri hingga kejadian itu terjadi.


" Mau memaafkan Mas?" Tanya Bryan.


Vanka menganggukkan kepalanya. Bryan berdiri di tepi ranjang menghadap Vanka.


" Mau memeluk Mas?" Tanya Bryan merentangkan kedua tangannya ke arah Vanka.


Grep...


Vanka masuk ke dalam pelukan Bryan.


" Jangan bersedih lagi, kita pasrahkan semua ini pada Tuhan, karna di balik musibah pasti terselip hikmah di dalamnya." Ucap Bryan mengusap punggung Vanka.


" Mas menyayangimu." Lirih Bryan mencium pucuk kepala Vanka.


Ceklek.....


" Duh yang masih pagi sudah mesra mesraan, sampai tidak mendengar Mama membuka pintu." Ucap Mama Kia menghampiri mereka.


Keduanya melepas pelukannya lalu menatap ke arah Mama Kia. Bukan hanya Mama Kia tapi Papa Indra juga.


" Mama turut prihatin atas kejadian ini sayang, tabah dan ikhlaskanlah, karna dengan ikhlas kamu bisa menjalaninya dengan mudah." Ucap Mama Kia memeluk Vanka.


" Iya Ma." Sahut Vanka.


Mama Kia melepas pelukannya. Ia menangkup wajah Vanka dengan kedua tangannya.


" Mama bisa merasakan rasa sedih yang kamu rasakan saat ini, karna Mama pernah mengalaminya, tapi Mama berharap kamu jangan terlarut dalam kesedihan ini, lanjutkan kehidupanmu dan Mama yakin suatu saat nanti kau akan mendapatkan gantinya, dan yakinlah sayang apa yang Tuhan berikan saat ini adalah yang terbaik untuk kalian." Tutur Mama Kia.


" Iya Ma, aku sudah mengikhlaskannya, terima kasih untuk dukungan yang Mama berikan kepadaku." Sahut Vanka.


" Maafkan Mama yang tidak tahu menahu atas kejadian semalam, Mama udah tidur nyenyak di jam itu." Ujar Mama Kia.


" Tidak pa pa Ma, semua bukan salah Mama." Sahut Vanka.

__ADS_1


" Kau memang gadis yang tegar Vanka." Ucap Mama Kia.


" Kapan kamu boleh pulang?" Tanya Papa Indra.


" Menunggu Dokter visit dulu Pa, apakah Vanka masih harus di rawat atau tidak." Sahut Bryan.


Ya karna Vanka tidak tahu apa apa. Setelah menjalani kuret,Vanka tidur sampai pagi hari.


" Semoga cepet pulih sayang, setelah empat puluh hari kalian akan menikah lagi." Ucap Mama Kia.


Vanka menatap Bryan begitupun sebaliknya. Bryan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


" Iya Ma." Sahut Vanka.


" Apa kamu sudah makan?" Tanya Mama Kia. Vanka menggelengkan kepalanya.


" Jatah dari rumah sakit belum datang Ma, mungkin sebentar lagi." Sahut Bryan.


" Mau makan sesuatu? Biar Mama belikan." Ujar Mama Kia.


" Tidak Ma, makasih." Sahut Vanka.


" Baiklah kalau kamu tidak mau, tapi kamu harus tetap makan ya, jangan sampai perut kamu kosong, itu akan membuatmu sakit apalagi saat ini kamu sedang dalam masa pemulihan." Ujar Mama Kia.


" Iya Ma." Sahut Vanka.


" Duh istri siapa sih nurut banget." Ujar Bryan.


" Istrimu donk." Sahut Mama Kia.


" Ya sudah Papa sama Mama pamit dulu ya, kami ada urusan." Ucap Papa Indra.


" Iya Pa, hati hati." Sahut Bryan.


Papa Indra dan Mama Kia keluar dari ruangan Vanka meninggalkan rumah sakit.


Di dalam ruangan keduanya nampak diam saja dengan pikiran masing masing. Sampai seseorang masuk ke dalam ruangan mereka membuat keduanya menoleh ke arah pintu.


" Kamu... Ngapain kamu ke sini?"


Siapa coba yang datang???


Jangan lupa tekan like vote hadiah dan tulis komennya ya.... Biar author makin semangat hhhh


Terima kasih untuk readers yang sudah mensuport author, semoga sehat selalu....


Miss U All....

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2