Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
37. Hati yang Sensitif


__ADS_3

Bryan membuka pintu kamarnya, Ia menghampiri Vanka yang sedang berdiri menghadap keluar jendela sambil bersedekap dada.


" Sayang." Ucap Bryan menyentuh pundak Vanka, tapi Vanka segera menepisnya.


Entah mengapa hatinya merasa sakit dan kesal atas ucapan Bryan dan Mama mertuanya. Ia merasa telah membawa pengaruh buruk untuk Bryan si anak baik dan pendiam kesayangan keluarganya.


" Sayang maafkan ucapan Mama, bukan maksud Mama menyinggung perasaanmu, Mama sangat merasa bersalah padamu sayang, Mama menitipkan maaf kepadaku untukmu, mungkin Mama hanya merasa heran saja dengan perubahan sikap Mas yang berubah menjadi lebih banyak berbicara dari sebelumnya, dulu kalau Bray mengajak Mas berdebat Mas hanya diam saja tidak pernah menanggapinya sayang, tapi lihat sekarang! Mas selalu meladeninya dan tidak mau kalah berdebat dengannya." Terang Bryan.


" Mas juga minta maaf karena Mas tadi berkata seperti itu, Mas keceplosan, Mas salah bicara sayang, Mas tidak bermaksud mempermalukanmu di depan mereka." Ujar Bryan.


" Maafkan Mas yang membuatmu malu di depan keluarga kita ya, Mas dan Mama benar benar meminta maaf padamu." Sambung Bryan.


Vanka masih tidak bergeming, entah Ia mendengarkan ucapan Bryan atau tidak. Yang jelas telinganya menolak untuk mendengar semuanya.


" Sayang." Ucap Bryan memegang pundak Vanka. Lalu Ia membalikkan badan Vanka menghadap kepadanya. Keduanya saling melempar tatapan untuk beberapa menit, karna Vanka lebih dulu memutus tatapannya.


Vanka berjalan menghindari Bryan tiba tiba...


Grep....


Bryan memeluk erat tubuh Vanka dari belakang.


" Maafkan Mas sayang, jangan marah lagi! Mas tidak kuat kamu diamkan seperti ini sayang, Mas lemah, Mas mohon jangan marah lagi ya." Ucap Bryan.


Vanka memejamkan matanya mencoba menetralkan emosinya.


" Mas siap menerima hukuman apapun darimu, tapi jangan marah lagi dan bersikap dingin kepada Mas, Mas mencintaimu sayang... Sangat mencintaimu." Ujar Bryan mengendus tengkuk leher Vanka.


" Lepaskan!" Ucap Vanka.


" Mas akan melepaskanmu setelah kamu memaafkan Mas." Sahut Bryan.


" Kalian tidak bersalah, aku saja yang terlalu sensitif menanggapi semuanya." Sahut Vanka.


" Tidak! Mas bersalah sayang karena melukai hatimu." Ucap Bryan.


" Baiklah Mas aku memaafkanmu, sekarang lepaskan pelukanmu! Aku mau istirahat." Ujar Vanka.


Bryan melepas pelukannya. Ia membalikkan badan Vanka lalu menatap Vanka dalam.


" Baru jam sepuluh mau istirahat? Apa kamu sakit?" Tanya Bryan menempelkan telapak tangannya pada dahi Vanka.


" Aku sedikit tidak enak badan Mas." Sahut Vanka naik ke atas ranjang menyelimuti sebagian tubuhnya.


" Kalau begitu kita ke dokter saja." Ujar Bryan.


" Tidak usah Mas, aku mau tidur aja, dan tolong jangan ganggu aku." Ucap Vanka memejamkan matanya.


" Baiklah kamu istirahat saja, Mas ke bawah ya kalau ada apa apa panggil Mas." Ucap Bryan mencium kening Vanka.


" Hmm." Gumam Vanka.


Bryan keluar kamarnya, setelah menutup pintu Ia berjalan menuruni tangga menuju ruang keluarga untuk kembali berkumpul dengan keluarganya.


" Gimana Bry? Apa Vanka marah?" Tanya Mama Kia.


" Tidak Ma, dia hanya tidak enak badan saja." Sahut Bryan duduk di samping Opa Anton.


" Oma mengharap akan ada kabar baik darimu dan Vanka Bry." Ujar Oma Meri.

__ADS_1


" Kabar baik? Kabar baik apa maksud Oma?" Tanya Bryan menatap Oma Meri.


" Ya Oma pengin dengar kalau Vanka saat ini sedang hamil begitu." Sahut Oma Meri.


" Oma ada ada aja, kami bahkan melakukannya baru beberapa hari yang lalu." Sahut Bryan.


" Lhoh bisa aja kan langsung jadi Bry, siapa tahu Vanka masih dalam masa kesuburannya, kita akan mengetahui dengan jelas pada bulan berikutnya." Ujar Oma Meri.


" Kita berdoa saja Oma, tapi jangan berharap lebih pada apapun karna kita akan sangat kecewa jika hasilnya tidak sesuai dengan harapan kita." Ujar Bryan.


" Tentu sayang." Sahut Oma Meri.


Keluarga Permana kembali bercakap cakap satu sama lain, membuat keluarga ini nampak begitu harmonis. Setelah puas bercanda ria, mereka semua melanjutkan kegiatan dengan makan siang bersama.


Bryan berjalan menuju kamarnya dengan membawa nampan berisi makanan di tangannya.


Ceklek.....


Bryan membuka pintunya, Ia menatap Vanka yang sedang terlelap. Bryan menghampiri nakas dan meletakkan nampannya di sana.


" Sayang." Ucap Bryan menyentuh pundak Vanka.


" Eugh.... Aku bilang jangan menggangguku." Gumam Vanka.


" Sayang sudah waktunya makan siang, kamu harus makan biar sehat ya." Ujar Bryan.


" Makan saja sendiri, aku masih ngantuk." Sahut Vanka memunggungi Bryan.


Bryan menghela nafasnya.


" Mas sangat lapar sayang, tapi Mas tidak mau makan kalau kamu tidak makan." Ucap Bryan.


Vanka mengerjapkan matanya.


Tiba tiba kepalanya berdenyut nyeri, pandangannya sedikit berkunang kunang membuat Vanka sempoyongan, Bryan segera menopang tubuh Vanka agar tidak terjatuh.


" Hati hati sayang." Ucap Bryan.


" Awh kepalaku pusing banget Mas." Keluh Vanka memegangi kepalanya.


" Duduk dulu sini." Ucap Bryan menuntun Vanka ke tepi ranjang.


" Aku mau cuci muka Mas." Ujar Vanka.


" Iya bentar dulu nunggu pusingnya hilang." Sahut Bryan.


Setelah lima menit, Vanka berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Ia keluar kamar mandi menuju sofa yang ada di sana.


Bryan menghampiri Vanka dengan makanan di tangannya.


" Mau makan sendiri atau Mas suapi?" Tanya Bryan.


" Makan sendiri aja, Mas juga harus makan." Sahut Vanka.


" Mas suapi aja ya, sepiring berdua kelihatannya lebih enak." Ujar Bryan.


" Baiklah Mas terserah kamu saja." Sahut Vanka.


Bryan menyuapi Vanka dan dirinya sendiri bergantian. Sepiring dan sesendok berdua membuat keduanya lebih romantis.

__ADS_1


Setelah selesai keduanya nonton televisi sambil rebahan di atas ranjang. Vanka bersandar pada pundak Bryan, sambil tangan Bryan memijat pelan kepala Vanka.


" Udah Mas." Ucap Vanka.


" Apa udah enakan?" Tanya Bryan.


" Udah Mas." Sahut Vanka.


" Syukurlah kalau begitu." Sahut Bryan.


Di dalam kamar Brayen, Ia sedang berbaring terlentang sambil menatap langit langit kamar. Ia sedang merenungkan tentang perasaannya kepada Rea. Apakah itu perasaan sesaat atau perasaan yang sesungguhnya.


Brayen menyunggingkan senyumannya saat membayangkan wajah Rea yang sedang kesal karena ulahnya.


" Kamu memang manis Re, tapi kamu akan terlihat lebih manis saat kamu marah marah." Monolog Brayen.


" Aku akan menepati janjiku untuk membuktikan cintaku padamu, aku yakin perasaan ini adalah perasaan yang sesungguhnya untukmu, karena aku pernah merasakan seperti ini saat bersama Vanka dulu, walaupun nama Vanka masih tersimpan rapi di sudut hatiku yang paling dalam, aku berharap dirimu mampu menghapusnya dengan cintamu Re, bersabarlah menungguku aku akan segera datang untuk melamarmu." Gumam Brayen.


" Aku telepon Rea aja kali ya, kemarin aku sudah mendapatkan nomer Rea dari Vanka." Ujar Brayen.


Brayen mengambil ponselnya di atas nakas. Ia membuka aplikasi hijau mencari kontak nama "Andrea". Setelah itu Ia memencet icon telepon. Telepon tersambung tinggal menunggu Rea mengangkatnya. Setelah beberapa kali berdering, akhirnya Rea mengangkatnya.


" Halo, dengan siapa ini?" Tanya Rea di seberang sana.


" Calon suamimu." Sahut Brayen.


" Revan?" Tanya Rea.


" Kok Revan sih? Apa setelah aku tinggal dua hari kamu lupa dengan suaraku?" Tanya Brayen kesal.


" Oh Mas Dirga, aku mendengar suaramu hanya sekejap ya, jadi aku tidak bisa mengingatnya." Sahut Rea.


" Mau apa telepon aku? Aku lagi sibuk banget Mas." Sambung Rea.


" Sibuk? Emang sibuk ngapain?" Tanya Brayen.


" Emang kamu nggak tahu ya kalau malam nanti aku ada acara, aku baru saja mengatakannya pada Vanka." Ujar Rea.


" Aku belum bertemu Vanka siang ini." Sahut Brayen.


" Emang ada acara apa sampai kamu memberitahu Vanka?" Tanya Brayen lagi.


" Acara tunanganku dengan Revan."


Jeduar..... .


Nah loh..... Kaget kan????


Kira kira Brayen mau berbuat apa nih?


Penasaran nggak? Tunggu jawabannya di bab selanjutnya ya.....


Jangan lupa tekan like koment vote dan hadiahnya....


Jangan pada unfav donk biar performa karya author nggak turun....


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author...


Semoga sehat selalu....

__ADS_1


Miss U All.....


TBC.....


__ADS_2