
Vanka mengerjapkan matanya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Kamar yang nampak asing baginya.
Ceklek....
Vanka menoleh ke arah pintu saat mendengar suara pintu terbuka. Ia menatap pria berbadan tegap, tinggi, kulitnya putih bersih dan wajahnya tak kalah tampan dengan Bryan. Pria itu sedang berjalan mendekatinya.
" Kamu sudah bangun rupanya." Ucap pria itu.
" Kamu siapa? Dan kenapa aku ada di sini?" Tanya Vanka.
" Kamu di sini karna suamimu." Ucap pria itu.
" Apa maksudmu?" Tanya Vanka mengerutkan keningnya.
" Suamimu Bryan menyuruhku membawamu ke sini sebagai jaminan hutang perusahaannya." Sahut pria itu.
" Hutang perusahaan? Aku tidak percaya perusahaan Permana punya hutang, jangan membodohiku dengan trik murahan seperti ini." Ucap Vanka.
" Kalau kau tidak percaya, kau bisa melihat buktinya sendiri, sekarang silahkan kamu baca dengan teliti surat perjanjian itu." Ucap pria itu menyodorkan sebuah map kepada Vanka.
Vanka menerimanya lalu Ia segera membukanya. Vanka membaca poin poin penting yang menyatakan pihak pertama menyerahkan istrinya yang bernama Devanka Permana kepada pihak kedua yang bernama Yoseph Ardianto. Di sana tertera tanda tangan Bryan dan pria bernama Yoseph sebagai pengesahan perjanjian.
" Yoseph." Gumam Vanka.
" Ya akulah yang bernama Yoseph, apa sekarang kamu percaya denganku?" Tanya Yoseph menatap Vanka.
" Aku tetap tidak percaya dengan semua ini, Mas Bryan tidak akan memberikanku pada siapapun." Sahut Vanka.
" Ho manis... Kau membuat harga diriku terluka, kau pasti bertanya tanya kenapa Bryan bisa melakukan ini kan? Bryan tidak punya pilihan, perusahaannya bangkrut dan dia tidak mau kalau sampai keluarganya tahu tentang perusahaannya, maka dari itu dia mengambil pinjaman kepada perusahaanku dengan jumlah yang sangat banyak, dan jika dalam jangka waktu tiga bulan dia tidak bisa mengembalikannya, maka kamu akan menjadi jaminannya, kamu akan menjadi milikku sayang." Ucap Yoseph mengelus pipi Vanka.
" Lepas! Jangan pernah sentuh aku." Bentak Vanka menepis tangan Yoseph.
" Wow... Ku kira kamu jinak sayang, ternyata kamu buas juga." Ucap Yoseph.
" Tapi aku lebih suka yang buas gini dari pada malu malu tapi mau." Sambung Yoseph.
" Aku mohon lepaskan aku, biarkan aku pulang ke rumah, aku akan membantu Mas Bryan untuk melunasi hutang hutangnya kepadamu." Ucap Vanka.
Vanka tidak ingin mempercayai semua ucapan Yoseph, namun surat itu semuanya asli. Kenapa Bryan melakukan semua ini kepadanya? Apakah dirinya sudah tidak berarti lagi bagi Bryan? Vanka menunduk sedih mencoba mencerna apa yang terjadi.
__ADS_1
" Kenapa kamu melakukan semua ini kepadaku Mas? Apa kesalahanku? Apakah cinta yang selama ini kamu berikan hanya cinta palsu? Hiks.... Aku berharap semua ini kebohongan saja Mas.... Aku mohon cepat tolong aku Mas." Batin Vanka.
" Setelah melihatmu aku tidak tertarik dengan uangku, aku lebih tertarik denganmu sayang." Ucap Yoseph hendak mencium pipi Vanka. Vanka segera menghindarinya dengan turun dari ranjangnya.
" Kamu menolakku? Baru kali ini ada wanita yang berani menolakku Devanka." Ucap Yoseph geram. Ia menarik kasar tubuh Vanka hingga menubruk dada bidangnya.
" Ah." Pekik Vanka.
Yoseph mencengkram dagu Vanka supaya Vanka mau menatap kearahnya.
" Dengarkan aku sayang, aku paling tidak suka dengan penolakan, aku akan memberikanmu perhitungan jika kamu berani menolakku lagi, kau tidak mau kan aku membunuh anak dalam kandunganmu itu? Apa kamu ingin aku memberikan obat peruntuh janin kepadamu?" Tanya Yoseph.
Deg....
Jantung Vanka berdetak kencang sambil matanya melotot karna kaget. Ya Vanka kaget karna Yoseph tahu jika dia sedang hamil.
" Kenapa? Kau kaget karna aku mengetahuinya, Bukankah sudah aku katakan jika Bryan yang mengirimkanmu ke sini, jadi Bryan sudah memberitahuku tentang semuanya Devanka... Jadi menurutlah jangan macam macam jika ingin anakmu selamat, aku tidak akan berbuat melebihi batas jika kau bisa di ajak kerja sama." Ucap Yoseph menatap tajam Vanka.
Vanka menelan kasar salivanya. Ia benar benar takut dengan Yoseph. Karena sepertinya Yosep mempunyai jiwa psikopat.
" Kau mau menurut denganku kan?" Tanya Yoseph. Vanka menganggukkan kepalanya.
Yoseph menangkup wajah Vanka. Ia memajukan wajahnya membuat Vanka memejamkan matanya. Saat bibir Yoseph hendak menempel pada bibir Vanka tiba tiba....
Hoek....
Vanka muntah tepat mengenai wajah Yoseph. Yoseph memejamkan matanya. Ia mengusap wajahnya dengan sapu tangan yang ada di kantongnya.
" Menjijikkan sekali." Cebik Yoseph masuk ke dalam kamar mandi.
Vanka membersihkan mulutnya menggunakan tisu. Ia bisa bernafas lega, setidaknya kali ini Ia selamat.
" Terima kasih sayang kamu telah menyelamatkan Mommy, berdoa saja semoga apa yang di katakan oleh pria itu adalah kebohongan sayang, berdoalah semoga Daddy cepat sampai sini untuk menolong kita." Ucap Vanka mengelus perutnya.
Lima belas menit kemudian Yoseph keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang menutupi bagian bawahnya saja. Tubuh ateltis, dada bak roti sobek dan bulu bulu tipis yang tumbuh di antara dadanya membuat Vanka hampir terhipnotis.
Yoseph menatap ke arah Vanka membuat tatapan keduanya bertemu. Vanka segera mengembalikan kesadarannya lalu membuang pandangannya ke sembarang arah.
" Astaga Vanka apa yang kamu lihat? Dia bukan muhrimmu, ingat Vanka kamu sudah *mempunyai suam*i." Batin Vanka merutuki kebodohannya.
__ADS_1
" Kenapa? Apa kamu ingin menyentuhnya?" Tanya Yoseph mendekati Vanka.
" Tidak.... " Sahut Vanka cepat.
Vanka beringsut mundur sedangkan Yoseph memajukan tubuhnya mengukung Vanka.
" Apa yang kamu lakukan? Kau bilang tidak akan melewati batas bukan?" Tanya Vanka sedikit ketakutan.
Yoseph tersenyum manis, Ia mengelus wajah Vanka dengan pelan sambil menatapnya dengan tatapan seperti orang kelaparan. Jantung Vanka berdegup kencang. Ia ketakutan melihat sikap Yoseph yang seperti ini.
" Kau kelihatan gugup sayang, tenang saja aku tidak akan melakukannya saat ini, akan ada waktunya aku memanjakan dirimu sehingga kau tidak akan berhenti memanggil namaku." Ujar Yoseph.
" Tidak... Jangan lakukan itu, aku mohon padamu." Ucap Vanka menggelengkan kepalanya.
" Kita lihat saja apakah kau bisa menghentikanku atau tidak, aku menyukaimu sayang, aku menyukaimu." Ucap Yoseph mencium pipi Vanka. Vanka memejamkan matanya. Air mata menetes pada pipinya, Ia merasa bersalah karna telah mengkhianati suaminya.
Yoseph mencium pipi Vanka yang satunya membuat air mata Vanka semakin menetes deras.
" Aku tidak suka ada air mata di tengah tengah kesenanganku sayang, berhentilah menangis karna aku hanya menciummu saja, pipimu tidak berkurang sedikitpun kan? Kau akan mendapat pahala karena membuat hatiku senang, hitung hitung kau sedang bersedekah memberikan pipimu kepada pria sepertiku sayang." Bisik Yoseph.
Entah mendapat pemikiran darimana Yosep bisa berbicara seperti itu yang jelas jelas bertentangan dengan agamanya.
Yoseph beranjak menjauhkan tubuhnya dari tubuh Vanka. Ia duduk di tepi ranjang sambil menarik kasar rambutnya.
" Kau membuat milikku hidup Devanka, padahal selama ini dia selalu tidur saat bersentuhan dengan wanita manapun, kau benar benar menjadi obat mujarab untukku, aku semakin ingin memilikimu sayang." Ucap Yoseph menatap Vanka.
Vanka membulatkan matanya menatap punggung Yoseph.
" Jadi dia mengidap penyakit impo***? Bahaya kalau lama lama aku di sini, aku harus menemukan cara supaya bisa kabur dari sini, setelah aku bebas dari sini aku akan menanyakan kebenarannya kepada Mas Bryan, jika semua ini benar aku tidak akan memaafkanmu Mas, aku akan pergi meninggalkanmu untuk selamanya." Batin Vanka.
TBC......
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar author semangat ngetiknya...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author...
Semoga sehat selalu....
Miss u All....
__ADS_1