
Bryan menggenggam tangan Vanka, keduanya berjalan menghampiri Pak Polisi dan tim sar yang sedang mengevakuasi mobil Brayen yang penyok penyok, setengah badan mobil tersangkut di atas jembatan yang setengahnya terperosok ke dalam sungai. Beruntung hujan sudah mulai reda.
" Bagaimana pencariannya Pak?" Tanya Bryan kepada salah satu tim sar di sana.
" Maaf Pak, kami telah berusaha tapi korban belum di temukan kami terpaksa menghentikan proses pencarian untuk sementara Pak, Bapak bisa melihat sendiri jika arus sungainya begitu deras, apalagi ini sudah tengah malam Pak, kami akan melanjutkan proses pencarian esok hari." Sahut tim sar.
Ya dapat Bryan dan Vanka lihat jika arus sungai sangat deras dan terlihat keruh. Apalagi ini sudah malam sangat sulit di lakukan untuk pencarian Brayen.
" Baiklah, lakukan pencarian hingga ke bawah Pak, saya mohon temukan saudara saya apapun kondisinya." Ucap Bryan mencoba tabah.
" Baik Pak, kami akan bekerja sebaik mungkin." Sahut tim sar dan pihak kepolisian.
Bryan kembali ke mobil dengan lesu. Vanka mengapit lengannya karna khawatir Bryan akan jatuh. Kini keduanya sudah berada di dalam mobil, namun rasanya Bryan berat untuk meninggalkan tempat itu.
" Menangislah Mas, bagi dukamu kepadaku aku siap menjadi sandaranmu." Ucap Vanka merentangkan kedua tangannya ke arah Bryan.
Hap....
Bryan memeluk tubuh Vanka dengan erat.
" Hiks..... Bray, sayang.... Bagaimana kondisinya saat ini? Dimana dia sayang?... Bagaimana dia bisa melawan arus sungai sederas itu? Walaupun dia bisa berenang tapi rasanya sangat mustahil jika dia bisa selamat sayang, Kenapa dia mengalami nasib naas seperti ini di hari pernikahan kita hiks..... Bray...." Isak Bryan.
Baru saja Bryan merasakan kebahagiaan pernikahannya, setelah jauh dari Vanka selama satu bulan, kini Ia harus kembali bersedih kerena kehilangan saudaranya. Saudara yang sangat di sayanginya, saudara yang selalu Ia lindungi dan saudara yang selalu Ia tutupi kesalahannya. Sepertinya ujian tiada henti datang menguji kesabarannya.
" Bersabar dan berdoalah Mas supaya semua baik baik saja, yakinlah Kak Bray pria yang kuat, Ia pasti selamat, kita hanya menunggu waktu saja untuk menemukannya Mas." Ujar Vanka mengusap punggung Bryan.
" Iya sayang, terima kasih sudah menguatkan Mas, jika kemungkinan terburuknya Bray tidak selamat maka Mas harus ikhlas melepasnya." Ujar Bryan.
" Ini baru suamiku." Ujar Vanka.
" Bagaimana Mas bisa mengabari Mama, sayang? Mas nggak mau melihat Mama sedih." Ucap Bryan.
" Tapi Mama tetap harus tahu Mas, Mama akan lebih sedih jika tahu kebenarannya dari orang lain." Sahut Vanka.
" Baiklah, Mas akan memberitahu Mama besok pagi." Ucap Bryan.
" Sekarang kita pulang ya Mas, biarkan aku saja yang mengemudi." Ujar Vanka.
" Baiklah." Sahut Bryan pasrah.
Bryan dan Vanka bertukar tempat duduk. Vanka melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumahnya. Satu jam kemudian, Vanka dan Bryan sampai di rumah. Mereka masuk ke dalam kamar dengan langkah pelan karena takut membangunkan kedua orang tuanya.
" Mas ganti dulu pakaianmu." Ucap Vanka memberikan celana pendek dan kaos oblong kepada Bryan yang duduk di tepi ranjang.
" Baiklah sayang." Sahut Bryan beranjak menuju ruang ganti.
Setelah selesai Bryan kembali ke ranjangnya. Ia mengedarkan pandangannya mencari istrinya, tapi sepertinya Vanka tidak ada di sana.
Ceklek...
Bryan menoleh ke arah pintu menatap Vanka yang sedang membawa segelas susu berjalan ke arahnya.
" Minum dulu Mas biar hatimu sedikit tenang." Ucap Vanka menyodorkan segelas susunya.
" Terima kasih sayang." Ucap Bryan menghabiskan susu hangatnya.
" Apa ada yang Mas perlukan lagi?" Tanya Vanka.
__ADS_1
" Ada." Sahut Bryan.
" Apa itu Mas? Akan aku ambilkan." Ujar Vanka.
" Pelukanmu." Sahut Bryan membuat Vanka mengerutkan keningnya.
" Mas butuh pelukan darimu untuk menenangkan pikiran Mas sayang." Ujar Bryan menarik Vanka hingga jatuh ke atas ranjang.
" Baiklah Mas, sesuai keinginanmu." Sahut Vanka memeluk Bryan.
Keduanya menuju ke alam mimpi hingga pagi hari. Mereka berharap hari esok akan lebih baik dari hari ini.
Pagi harinya setelah membasuh muka, Vanka turun ke bawah untuk membantu Mama Kia menyiapkan sarapan.
" Pagi Ma." Sapa Vanka menghampiri Mama Kia yang sedang mencuci beras.
" Pagi sayang, Bry belum bangun?" Tanya Mama Kia.
" Belum Ma, sepertinya Mas Bry begadang semalam." Sahut Vanka.
" Lembur kerja?" Tanya Mama Kia.
" Mungkin Ma." Sahut Vanka.
Keduanya membuat sarapan dengan kompak. Selesai memasak mereka menatanya ke dalam piring.
Vanka kembali ke kamarnya untuk membangunkan suaminya dan mandi. Setelah Vanka membuka pintunya, Ia menghampiri Bryan yang sedang bergulung di bawah selimut.
" Mas bangun sudah siang." Ucap Vanka mengguncang pelan pundak Bryan.
" Mas Bry sayang, bangun donk." Bisik Vanka di telinga Bryan.
" Hmm." Gumam Bryan.
" Bangun ya Mas, aku mau mandi dulu nanti aku siapkan air buat kamu mandi." Ujar Vanka masuk ke dalam kamar mandi.
Lima belas menit kemudian, Vanka keluar daei kamar mandi sudah berpakaian rapi.
" Kamu tidak menunggu Mas?" Tanya Bryan yang sudah duduk di atas ranjangnya.
" Menunggu untuk apa?" Vanka balik bertanya.
" Mandi bareng." Sahut Bryan menghampiri Vanka.
Blushhh
Pipi Vanka memerah akibat ucapan Bryan.
" Pipimu merah Dek." Goda Bryan.
" Apa sih Mas." Lirih Vanka.
Bryan menangkup wajah Vanka, Ia mencecap bibir Vanka dengan lembut. Vanka memejamkan matanya menikmati sentuhan bibir Bryan. Suara decapan terdengar memenuhi ruangan kamar mereka. Setelah puas bermain dengan bibir Vanka, Bryan melepas pagutannya.
" Makasih sayang semangat paginya." Ucap Bryan.
" Sama sama Mas." Kekeh Vanka.
__ADS_1
" Mas mandi dulu." Ucap Bryan mencium kening Vanka.
Setelah selesai bersiap, Bryan menggandeng tangan Vanka menuju meja makan. Di sana sudah ada Papa Indra dan Mama Kia.
" Pagi Ma, Pa." Sapa Bryan.
" Pagi sayang, silahkan duduk." Sahut Mama Kia.
Keempat anggota keluarga Permana makan dengan khidmat. Selesai makan mereka berkumpul di ruang keluarga, karena kebetulan ini weekend.
" Ma, Pa ada yang ingin Bryan kabarkan kepada kalian." Ucap Bryan menatap kedua orang tuanya.
" Apa sayang?" Tanya Mama Kia.
" Semalam Bry mendapat telepon dari pihak kepolisian....
" Kepolisian? Apa yang terjadi? Apa kamu melakukan kesalahan fatal hingga harus berurusan dengan polisi?" Tanya Mama Kia memotong ucapan Bryan.
" Ma tenanglah dulu! Biarkan Bryan melanjutkan ucapannya." Ujar Papa Indra.
" Ah maaf sayang, Mama udah syok duluan." Ujar Mama Kia.
" Tidak masalah Ma." Sahut Bryan.
" Semalam Bry mendapat telepon dari polisi, dia mengabarkan kalau.... Kalau....." Bryan menjeda ucapannya sambil melirik ke arah Vanka. Vanka menggenggam tangan Bryan sambil menganggukkan kepalanya.
" Kalau apa Bry? Jangan buat Mama penasaran ah." Ujar Mama Kia.
" Kalau Bray kecelakaan Ma." Ucap Bryan.
" Apa? Bray kecelakaan?" Pekik Mama Kia menutup mulutnya.
" Iya Ma." Sahut Bry.
" Tidak.... Ini tidak mungkin..... Ini tidak mungkin kan Pa? Bray baik baik saja kan?" Tanya Mama Kia menggelengkan kepalanya.
" Tenang sayang." Ucap Papa Indra.
" Jadi benar kalau Bray kecelakaan?" Tanya Mama Kia berdiri menatap Bryan.
" Iya Ma, ada kemungkinan tubuh Bray terseret arus sungai dan sampai sekarang Bray belum di temukan." Terang Bryan...
Deg....
Jantung Mama Kia terasa berhenti berdetak. Bray belum di temukan? Tiba tiba pandangannya kabur dan....
Brugh......
TBC....
Hari ini tidak ada tebak tebakan ya...
Authornya lagi meriang....
Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya biar author semangat ngetiknya....
Miss U All......
__ADS_1