
Pagi ini Kia, Indra, Rey dan Cindy bersiap berangkat menuju Pulau B. Mereka menggunakan pesawat untuk sampai ke Bandara Ngur*h R*i. Sesampainya di Bandara mereka berempat menaiki mobil jemputan untuk menuju villa tempat mereka menginap. Villa seperti rumah sendiri, Dengan dua kamar di sertai dapur dan ruang tamu, Jadi mereka bisa memasak sendiri. Mereka menyewa dua mobil agar tidak saling berdesakan. Di dalam mobil Kia duduk bersandar di bahu Indra karna merasa sedikit pusing.
" Sayang sini..." Ucap Indra menepuk pahanya.
Kia merebahkan kepalanya di paha Indra, Lalu Indra memijat kepala Kia dengan lembut.
" Masih pusing?" Tanya Indra.
" Hmmm." Gumam Kia.
" Bobok aja dulu nanti aku bangunin, Masih satu jam lagi sampainya." Ujar Indra. Kia menganggukkan kepala.
Perjalanan terus berlanjut dengan keheningan karna Kia tertidur. Indra mengelus pipi Kia dengan perasaan yang entah. Hatinya selalu berdebar jika berdekatan dengan Kia.
" Aku akan merebutnya darimu... Aku tidak mau kehilangannya, Aku sudah nyaman berada di dekatnya, Aku rela harus pura pura cacat selamanya demi bisa hidup bersamanya, Aku harus menghabisimu sebelum Kia mencurigaiku dan berhasil menemukanmu, Maafkan aku Ndra semua ini ku anggap untuk menebus semua ketidak adilan yang orang tuamu lakukan padaku." Batin Indra.
Selang beberapa lama akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai di sebuah Villa kecil tapi tempatnya bersih dan terkesan mewah di pinggir pantai K. Mereka memilih honeymoon di sana karna Kia dan Cindy sama sama pecinta pantai. Dengan hamparan pasir putih yang luas membuat honeymoon mereka menjadi lebih menyenangkan.
" Sudah sampai Tuan." Ucap Driver.
" Bantu bawa koper ke dalam ya Pak." Ucap Indra.
" Baik Tuan." Sahut Driver.
" Sayang bangun..." Ucap Indra mengelus pipi Kia.
"Engh...." Lenguh Kia sambil mengucek matanya.
" Udah sampai... Ayo turun." Ucap Indra.
" Hmmmm." Gumam Kia.
" Perlu aku gendong?" Tanya Indra tanpa sadar.
" Emang kamu bisa gendong aku?" Tanya Kia sambil duduk menatap Indra.
" Eh... Nggak ding... Maaf... Aku selalu tidak bisa berbuat banyak karna tanganku ini." Lirih Indra.
" Its OK, Mana air mineral? Aku mau cuci muka dulu." Tanya Kia.
" Ini." Sahut Indra memberika sebotol air mineral ke tangan Kia.
Kia segera turun dari mobil mencuci mukanya dengan air mineral.
" Ki... Udah nggak pusing?" Tanya Cindy menghampiri mereka.
" Udah mendingan." Sahut Kia.
" Ayo masuk ke dalam." Ajak Rey dengan koper di tangannya.
" Ayo." Sahut Indra.
" Koperku mana?" Tanya Kia mencari kopernya.
" Udah di bawain sama Driver sampai depan kamar kita." Jawab Indra.
" Aku bisa bawa sendiri kenapa nyusahin orang Mas?" Kesal Kia.
" Kamu lagi pusing Yank." Sahut Indra.
" Yank???" Tanya Rey bingung.
__ADS_1
" Mulai sekarang aku panggil Kia Yank... Biar kamu nggak manggil dia Yank lagi." Ucap Indra.
" Nggak akan, Kan aku udah move on, Aku udah punya Yayank beneran." Sahut Rey merangkul pundak Cindy.
" Udah ah ayo masuk." Ujar Kia.
Mereka berempat masuk ke dalam villa kecil yang hanya bisa di huni empat orang saja.
"Ternyata Rey juga suka sama Kia tapi persahabatan mereka tetap utuh... Sungguh persahabatan yang luar biasa." Batin Indra.
Sesampainya di depan kamar, Indra segera membuka pintu kamarnya.
Ceklek....
" Ayo masuk sayang." Ucap Indra.
Kia dan Indra masuk ke dalam kamar yang sudah di dekor layaknya kamar pengantin baru.
Deg....
Jantung Kia berdetak kencang, Ia takut jika Indra yang bersamanya saat ini meminta Kia untuk melayaninya sebelum Kia tahu yang sebenarnya, Bagaimana jika dugaannya benar? Bagaimana jika yang bersamanya adalah Indra palsu? Sebenarnya Kia merasa risih harus berdekatan dengan Indra yang sekarang, Tapi demi mengurai benang yang kusut dan menemukan kebenarannya maka Kia harus melakukannya. Semoga Tuhan mengampuni semua dosanya, Begitu doa Kia sepanjang hari.
" Sayang... Kenapa bengong hmm?" Tanya Indra.
" Eh.... Enggak kok Mas, Aku cuma terharu saja mengingat malam pertama kita, Apa kamu ingat?" Pancing Kia.
" Eh... Ya ingatlah Yank, Kamu mendes*ah memanggil namaku, Bahkan kita melakukannya berkali kali." Sahut Indra.
" Kamu ingat kenapa kita melakukannya saat itu?" Selidik Kia.
" Eh...eh.. Ya karna kita memang saling cinta dan saling membutuhkannya." Ujar Indra gugup.
" Ah sial kenapa aku tidak menyelidiki dulu sampai sedetail ini si, Aku terlalu terburu buru hingga aku sudah melakukan beberapa kesalahan yang tak pernah Indra lakukan." Batin Indra.
Kia berjalan mendekati ranjang, Ia mengumpulkan kelopak mawar pada ujung ranjang. Ia segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk itu. Kia memejamkan matanya. Indra yang melihatnya membuat sesuatu di bawah sana menegang.
"Sial... Hanya melihatnya seperti itu saja membuat juniorku bangun, Ah alamat selalu tersiksa kamu tong." Gerutu Indra dalam hati.
Indra segera menuju kamar mandi membersihkan dan mendinginkan tubuhnya. Setelah selesai Ia keluar kamar mandi dengan handuk kecil di tangannya. Ia menggosok rambutnya dengan pelan. Saat Ia menatap ke arah ranjang, Ia melihat Kia yang sedang tidur terlentang membuatnya geleng geleng kepala. Indra menghampiri Kia lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Indra menunduk menatap wajah cantik milik Kia.
Cup... Indra mengecup bibir Kia.
" Aku benar benar menyayangimu sekarang, Aku ingin selalu bersamamu dan kamu harus tetap selalu bersamaku." Lirih Indra.
" Apa maksud ucapanmu Mas?" Batin Kia.
Sebenarnya Kia belum tidur saat Indra menyelimutinya. Indra berbaring di samping Kia sambil memeluk tubuhnya. Akhirnya mereka sama sama tertidur siang ini.
Sore hari Indra mengerjapkan matanya, Indra beranjak meninggalkan ranjang menuju kamar mandi mencuci mukanya, Setelah itu Ia berjalan menuju balkon kamarnya, Ia sedikit menutup pintunya. Indra duduk menatap hamparan pasir putih yang luas dari atas balkonnya. Ia menyalakan sepuntung rokok untuk mengusir rasa jenuhnya, Ia berharap Kia tidak mengetahuinya.
Dengan pelan Kia turun dari ranjang menuju balkon kamar, Ia membuka pintu dengan pelan dan betapa terkejutnya Kia saat melihat Indra sedang merokok di sana.
" Apa yang kamu lakukan Mas?" Tanya Kia menghampiri Indra.
Indra menoleh ke arah Kia lalu dengan segera Ia membuang rokoknya.
" Eh... Sayang." Ucap Indra mendekati Kia.
" Stop di situ." Cegah Kia dengan tangannya.
" Sejak kapan kamu merokok?" Tanya Kia.
__ADS_1
" Ah sebenarnya aku sering merokok diam diam di belakangmu sayang untuk mengusir kejenuhan." Sahut Indra.
" Benarkah?" Selidik Kia.
" Iya... Maaf." Sahut Indra menunduk.
" Mulai sekarang jangan dekati aku lagi, Aku nggak suka sama perokok sepertimu." Ujar Kia.
" Jangan gitu Yank... Baiklah aku akan membuang semua rokoknya." Sahut Indra. Ia mengambil bungkus rokok lalu mematahkan semua batang rokoknya.
" Aku buang.... Aku berjanji tidak akan merokok lagi." Ucap Indra sambil membuang rokok ke tempat sampah yang ada di ujung.
Kia berjalan keluar yang di ikuti oleh Indra.
" Yank tunggu." Ujar Indra mengejar Kia.
Kia tidak menghiraukannya, Ia terus berjalan keluar villa menuju pantai. Di sana Rey dan Cindy sedang duduk di bawah pohon pines.
" Sayang tunggu aku." Ucap Indra mencekal tangan Kia. Rey dan Cindy menoleh ke arahnya.
" Duh yang sukanya ngamar... Baru keluar Neng." Goda Cindy.
" Apasih.... Aku capek tau makanya tidur." Sahut Kia duduk di samping Cindy.
" Ya iyalah capek orang olahraganya siang siang, Nggak sabar nungguin malam?." Sahut Rey.
" Apasih Bang... Rese' ih." Kesal Kia.
" Sini Ndra duduk." Ujar Rey.
" OK." Sahut Indra duduk di samping Rey.
Mereka berempat duduk di atas pasir sambil menatap lautan luas di depannya, Mereka memesan makanan untuk di santap di pinggir pantai yang indah ini. Hingga malam menjelang akhirnya mereka kembali ke villa untuk beristirahat.
" Sayang mandi dulu biar seger badannya." Ucap Indra yang baru keluar dari kamar mandi.
" Iya ini baru mau mandi Mas." Sahut Kia masuk ke dalam kamar mandi.
Ceklek....
Kia membuka pintu kamar mandi, Dengan memakai hotpants dan tangtop Kia menghampiri Indra yang sedang duduk di atas ranjang sambil memainkan ponselnya. Indra menoleh ke arah Kia, Glek... Indra menelan kasar salivanya.
" Sayang.. Kamu memancingku." Ucap Indra meletakkan ponselnya ke atas nakas.
" Sini." Indra menarik tangan Kia hingga tubuh Kia terjerembab di atas kasur, Indra segera menindihnya.
Indra menatap mata Kia dengan penuh cinta, Begitupun sebaliknya. Indra mengelus pipi Kia dengan jarinya.
" Kamu cantik sekali sayang.... Ijinkan aku melakukannya." Ucap Indra.
Belum sempat Kia menjawab Indra sudah membungkam mulutnya dengan bibirnya. Indra mencecap bibir Kia dengan lembut membuat Kia memejamkan matanya, Kia meresapi perasaanya dengan apa yang di lakukan oleh suaminya. Rasanya hampa tidak seperti yang Kia rasakan selama ini. Indra mengekspos setiap inchi mulut Kia membuat gairahnya semakin naik, Jantung Kia deg deg an Ia berharap ada dewa penolong yang datang menolongnya.... Ia tidak mau melakukannya karna Ia yakin pria yang bersamanya bukanlah suaminya.... Kia terus merapalkan doa doa dalam hatinya....
TBC.....
Hayo.... Apa yang akan terjadi selanjutnya???
Jangan lupa like dan komenya...
Kalau berkenan kasih author hadiah ya...
Makasih.. Miis U All...
__ADS_1