Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
Rencana pernikahan


__ADS_3

Plakkkk.....


Kia menampar pipi Indra hingga memerah ngecap tangan manisnya. Ia menatap tajam kearah kedua mata Indra.


" Beraninya kau melecehkanku." Bentak Kia.


Air mata Kia meleleh begitu saja. Ia mengusapnya kasar dengan punggung tangannya.


" Maaf...maaf... aku kelepasan." Indra mencoba menenangkan Kia, tetapi tangannya ditepis olehnya.


" Kau berhasil membuktikan...". Kia menjeda ucapannya. Ia menghembuskan nafasnya kasar.


" Kau berhasil membuktikan kalau aku wanita murahan." Teriak Kia, Ia berlari meninggalkan Indra menuju rumahnya.


" Kia... bukan itu maksudku...maafkan aku." Teriak Indra. Ia hanya bisa memandang punggung Kia yang masih bergetar akibat menangis.


" Akhhhhhh." Teriak Indra menyugar rambutnya kasar. Ia menyesali perbuatannya yang telah melukai prinsip Kia.


" Maafkan aku Kia...aku tidak bisa mengendalikan diriku. Aku marah, aku cemburu saat kamu mengatakan mau menikahi orang lain. Aku tidak rela...Kia... Aku tidak rela." Ujar Indra dalam hati.


Sedangkan di dalam rumah, Hanya tinggal keluarga inti saja karna para tamu sudah kembali kerumah masing masing. Mereka semua berkumpul di ruang keluarga.


" Bu besan, acaranya sederhana saja, jangan terlalu mewah, sayang sama uangnya kan, Maaf kami tidak bisa ikut meringankan beban biaya pernikahan ini." Sesal mama Ria.


Ya mereka memang sedang merencanakan acara pernikahan,yang akan di laksanakan bulan depan di kediaman Mama Meri. Kia tidak mau, kalau dilaksanakan di hotel, tambah biaya katanya. Jiwa emak emaknya dah keliatan ya. Mereka merencanakan bagaimana dekorasi, Baju pengantin dan WO yang akan mereka sewa. Semua tanggung jawab diambil alih oleh pihak Pria.


" Jangan seperti itu bu, Ini kemauan saya. Dan maaf kalau untuk resepsi saya tetap merayakannya dengan wah... kan anak satu satunya, saya ingin membuat moment yang Istimewa dan luar biasa." Ujar mama Meri.


Acara pernikahan diadakan di Kota J,tepatnya dirumah mama Meri. Bukan apa apa, karna Mama Meri mau mengundang semua rekan dan kolega serta para karyawan di kantornya. Jadi tidak mungkin kan kalau diadakan di sini.

__ADS_1


Bisa saja acara Ijab Qobul disini dan acara resepsinya di kota J, Tapi Kia meminta kalau acara ijab qobul dan resepsi dilaksanakan dalam sehari dan satu tempat saja. Ia tidak mau menghambur hamburkan banyak uang hanya untuk pernikahannya. Mending nikah seadanya, sisanya bisa Ia berikan pada orang yang kurang mampu. Itulah didikan kedua orang tuanya. Dan belum tentu calon Suaminya mau juga kan?... Jadi sehari langsung selesai.


" Ndra...darimana." Tanya mama Meri saat Indra baru bergabung dengan mereka semua.


" Cari angin ma." Jawabnya asal.


" Oh ya tante, Kia mana ya." Rey menatap kearah Mama Ria.


" Ada dikamar... kenapa dah kangen ya." Goda mama Ria. Rey hanya nyengir kuda.


" He he..Bolehkah aku kesana tan, aku mau pamit pulang soalnya." Tanya Rey kepada mama Ria.


" Boleh kamarnya paling ujung, tapi jangan macem macem ya...." Jawab mama Ria.


" Beres , Makasih tan." Rey beranjak menuju kamar yang di tunjukkan oleh mama Ria.


Setelah sampai di depan kamar, Ia segera mengetok pintunya. Tak berselang lama Kia membuka pintu. Ia bersandar pada pintu dengan bersedekap dada.


" Kamu baik baik saja." Ujar Rey.


" Iya.. baik kok." Jawab Kia.


" Aku tahu semuanya. Jadi jangan bohong." Ujar Rey menatap Kia.


" Kau melihat semuanya." Tebak Kia.


" Iya.. bahkan tante Meri juga." Kia melongo..


" Lalu apa yang harus aku lakukan. Apakah aku harus menyerah." Tanya Kia.

__ADS_1


"Enak aja.. Kau harus lebih maximal berjuangnya.. segera ambil hatinya." Ujar Rey.


" Aku pengin juga bang ambil hatinya secara instant... akan ku belah dadanya lalu langsung aku ambil hatinya? biar dia gak punya hati sekalian. Sama aja, ada hati atau tidak nyatanya hatinya tidak tersentuh ." Celoteh Kia dengan gerakan tangannya membuat Rey bergidik ngeri.


" Ngaco kamu." Rey mengacak rambut Kia.


" Biar cepet bang... bosen lama lama buang waktu aja." Kia mengerucutkan bibirnya. Rey hanya tersenyum.


" Dah mulai cinta nih.." Goda Rey sambil menaik turunkan alisnya.


" Ih... belum ya... sebelum jadi istrinya.. aku belum menyebar benih cinta.. ntar kalau gak jodoh rugi donk akunya." Jelas Kia.


" Ki... aku ingin bicara." Rey dan Kia menoleh kearah Indra yang tiba tiba sudah berdiri di belakang Rey. Kia memutar bola matanya malas.


" Bang aku capek mo istirahat... Bye abangku tersayang." Kia langsung menutup pintu tanpa menghiraukan kedua pria yang berdiri di depan kamarnya. Ia sengaja menghindari Indra si pencuri ciuman pertamanya.


" Kenapa Kia menghindarimu. Apa kalian bertengkar." Tanya Rey dengan tatapan menyelidik. Indra mengkerutkan keningnya.


" Apa terjadi sesuatu saat kalian di pinggir sawah tadi?." Tanya Rey yang membuat Indra sadar kalau Rey pasti melihatnya.


" Aku menciumnya." Jawab Indra keceplosan, Ia segera menutup mulutnya.


" Sialan loe... loe nyuri star dari gue...dia calon bini gue bambang, loe main nyosor aja katanya gak suka." Cebik Rey sambil menoyor kepala Indra.


" Eh...tidak tidak." Indra menggerakkan telapak tangannya.


" Bodo amat..." Rey segera berlalu dari sana.


" Mau lo sosor juga hak lo... Diakan emang akan menjadi milikmu... nasib...nasib hanya jadi peran pengganti sementara... harus protes ma sutradaranya nih." Gerutu Rey dalam hati.

__ADS_1


Indra menyusul Rey menuju ruang tamu, yang ternyata, anggota keluarganya sudah pamitan untuk pulang. Mereka semua berjalan menuju mobil masing masing. Kedua orang tua Kia mengantar mereka sampai ke halaman depan. Setelah mobil mulai melaju, kedua orang tua Kia segera masuk kedalam rumah untuk beberes.


TBC....


__ADS_2