Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
Kunjungan Dimas dan Anggun


__ADS_3

Setelah makan siang Kia bersantai duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponselnya, Indra sedang menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerja.


oek... oek....


Baby Bray menangis di atas babby boxnya. Kia segera menghampirinya. Ia tatap bayi mungil yang sedang menangis membuat wajahnya memerah seperti tomat matang.


" Sayang anak Mommy, Kenapa nangis? Dedek haus ya." Ucap Kia menggendong Bray.


Kia berjalan menuju ranjang, Ia duduk memangku Bray lalu menyusuinya.


" Anak pinter kalau haus nangis." Ujar Kia mengelus kepala Bray.


Ceklek.... Suara pintu terbuka lalu tertutup kembali.


" Duh anak Daddy minum mulu, Haus ya." Ucap Indra yang baru masuk menghampiri Kia.


" Iya Dad." Sahut Kia.


" Dedek Bry anteng Yank." Ujar Indra.


" Iya Mas sepertinya dia lebih pendiam, Mirip sama kamu Mas, Kalau Bray mirip aku... Pecicilan ha ha." Kekeh Kia.


" Itu yang aku suka darimu sayang." Ucap Indra menoel pipi Kia.


" Apasih Mas orang pecicilan bar bar gini kok di sukai." Cebik Kia.


" Lhoh bener Yank, Aku suka sama kamu yang cerewet, pecicilan kalau di kelas, Galak sama temen temen apalagi sama temen cowok nggak ada halus halusnya sama sekali." Ujar Indra mengenang masa lalunya saat SMP.


" Cowok mah kalau di baik baikin ujung ujungnya minta hati Mas, Coba kalau chat aku terus aku balas aja langsung kirim I Love U Kia, Mau nggak jadi pacar aku? Eh aku suka lho sama kamu, Mau ya jadi pacar aku." Celoteh Kia sambil menye menye.


" Ha ha ha kamu pd banget Yank, Nggak semua kali ngomong kaya' gitu, Buktinya aku enggak ya." Ujar Indra.


" Kamu enggak karna kamu nggak pd aja, Coba kalau kamu berani aku yakin pasti kamu bilang gitu juga ke aku, Kia I Love U." Sindir Kia.


" Ah ya aku ingat, Kamu mah kalau chat aku formal banget, Gini Assalamu'alaikum Mbak Kia, Aku mau nanya apa hari ini ada pr? Kalau ada, pr apa ya dan halaman berapa, Di buku mana, Makasih banyak bantuannya Mbak Kia." Ujar Kia seolah sedang membaca chat Indra yang di kirim untuknya.


" Kaku banget nggak sih." Sambung Kia.


Indra menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Ha ha ha aku nggak nyangka ternyata di balik chat kaku itu kamu memendam cinta yang besar untukku Mas, Kalau aja dari dulu aku mengetahuinya pasti akan aku ejek habis habissan kamu tiap hari, Sayangnya kamu diam aja waktu itu." Kekeh Kia.


" Aku malu Yank, Aku nggak pd waktu itu, Aku sadar kamu wanita sempurna mana mungkin mau sama aku yang jelas jelas cacat ini." Ujar Indra.


" Buktinya aku mau sama kamu Mas, Tidak semua orang memandang rendah orang lain dari fisiknya, Buat apa fisik sempurna tapi otak dan perasaannya dangkal, Mereka yang banyak mengumbar janji tanpa mau menepatinya, Aku lebih memilih kamu yang punya kekurangan fisik tapi punya kelebihan hati." Sahut Kia.


" Kelebihan dari mana? Orang hati Mas cuma satu kok." Canda Indra.


" Ah Mas kau mengacaukan suasana." Cebik Kia.


" Makasih Yank udah mau nerima semua kekuranganku, Makasih udah memilihku untuk menjadi penamping hidupmu, Aku tidak pernah menyangka hidupku akan sesempurna ini, Aku bisa menikahi wanita yang sangat aku cintai dan punya anak anak lucu seperti mereka, Aku bahagia banget bisa hidup bersamamu dan anak anak kita Yank." Ucap Indra menatap Bray yang sedang menyusu.


" I Love U forever jangan pernah tinggalkan aku." Ucap Indra mengelus kepala Kia.

__ADS_1


"Ya kalau aku mau ke toilet masa' kamu mau ikut." Balas Kia.


" Kamu merusak moment romantisku." Ujar Indra.


" Biar satu sama." Sahut Indra.


" OK nggak pa pa." Balas Indra.


Indra menatap Bray yang sedang menyesap ****** milik Kia. Pemandangan itu terlihat lucu di matanya.


" Uluh uluh haus banget ya sayang, Baru pulang sekolah ya anak Daddy." Ucap Indra mengelus pelan pipi Bray.


" Iya Dad." Sahut Kia.


" Jangan di habiskan donk Bray, Entar Daddy nggak kebagian gimana? Udah lama ini Dad nggak dapat jatah." Seloroh Indra.


" Apaan sih Mas kamu ini." Gerutu Kia.


" Bercanda Yank." Sahut Indra.


Tok tok tok


Pintu di ketuk dari luar, Kia dan Indra saling pandang.


" Mas buka dulu." Ucap Indra.


Ceklek...


" Tidak, Silahkan masuk." Ujar Indra.


Lio masuk menghampiri Kia, Ia duduk di tepi ranjang di samping Kia. Sedangkan Indra pergi menuju ruang keluarga.


" Hai Ki, Bagaimana kabarmu hari ini? Baik kan?" Tanya Lio garing.


" Alhamdulillah baik, Gimana kabarmu setelah semalam ngilang." Canda Kia.


" Baik juga sih apalagi setelah mendapat kepastian dari Mas Andre." Sahut Lio.


" Lain kali hadapin aja Li dan tanyakan semuanya agar jelas dan tidak menimbulkan salah paham." Ujar Kia.


" Iya Ki makasih ya kamu selalu ada dan suport aku selama ini." Ucap Lio.


" Jangan di pikirkan aku hanya mengutarakan pendapat saja, Semua keputusan ada padamu." Sahut Kia.


Ya kemarin Lio memang meminta pendapat Kia untuk mengambil keputusan yang tepat, Kua menyarankan Lio untuk pulang ke rumah dan menyelesaikan masalahnya.


" Hallo......" Ucapan Lio menggantung.


" Bray." Ucap Kia seolah tahu kalau Lio sulit membedakan kedua putranya, Yang mana Bray dan yang mana Bry, Padahal Kia sudah memasang gelang dengan nama masing masing.


" Ah iya... Halo Bray... Kamu tambah tembem dan imut aja sih aunti jadi gemes deh pengin noel pipimu, Bray kok nen*nnya sambil bobok si, Ih imut banget." Ucap Lio menoel pipi Bray gemas.


" Iya aunti aku memang gemesin tapi jangan jatuh cinta sama Bray ya kasihan Papa Andrenya ." Sahut Kia menirukan suara anak kecil.

__ADS_1


" Kamu ini, Nggak di sambung aja Ki pakai sufor?" Tanya Lio.


" Kalau siang enggak, Paling kalau malam sama Mbak Nani di kasih dot, Soalnya kalau malam mereka begadang bersamaan jadi kadang akunya keteteran." Ujar Kia.


" Hebat kamu ya bisa ngurus dua bayi sekaligus." Puji Lio.


" Enggak juga lah orang aku masih butuh bantuan Mbak Nani juga kok." Sahut Kia.


Mbak Nani babby sister berusia sekitar empat puluh tahunan yang di sewa oleh Papa Anton, Ia akan melakukan pekerjaannya di malam hari saja, Karena jika siang Kia sendiri yang mengurus kedua buah hatinya dan kalau malam Kia istirahat walau kadang ikut begadang menemani putranya.


Kia menidurkan Bray ke dalam box bayi lagi. Ia gantian menyusui Bry supaya Bry juga kenyang.


" Sayang ada Anggun di ruang tamu." Ucap Indra dari depan pintu.


" Ah iya aku akan segera menemuinya." Sahut Kia.


Setelah menidurkan kembali Babby Bry Kia berjalan menuju ruang tamu, Sedangkan Lio masuk ke dalam kamar Andre yang berada di rumah itu.


" Hai Nggun." Sapa Kia setelah sampai di ruang tamu.


" Hai Ya, Gimana kabarmu? Mana dedeknya?" Tanya Anggun memeluk Kia.


" Aku baik, Dedeknya lagi tidur." Ujar Kia.


Kia beralih menatap Dimas yang sedang duduk di sofa.


" Hai Dim, Gimana kabarmu?" Sapa Kia menyalami Dimas.


" Aku baik Ki, Bahkan jauh lebih baik." Dimas beranjak dari duduknya, Kia terperangah melihat Dimas yang sudah bisa berdiri sempurna.


" Wow kejutan yang luar biasa." Pekik Kia.


" Iya Ki Alhamdulillah, Makasih atas suportmu selama ini yang membuatku bisa kembali berjalan normal seperti dulu." Ujar Dimas.


" Kamu bisa aja, Itu semua karena buah kesabaran Anggun yang dengan telaten mengurus dan mendukungmu." Ujar Kia.


" Kalau itu tidak Perlu di ucapkan lagi." Sahut Dimas kembali duduk.


"Terus ngomong ngomong udah isi belum nih?" Tanya Kia menatap Anggun.


" Udah Ki jalan tiga bulan." Sahut Anggun.


" Alhamdulillah double selamat kalau begitu." Ujar Kia.


" Makasih Ya doakan selamat dan lancar sampai persalinan ya." Ujar Anggun.


" Amien." Sahut Kia.


Mereka berempat ngobrol membahas selama pengobatan Dimas, Selama di kampung juga dan banyak lagi yang mereka obrolkan hingga hari menjelang sore, Dimas dan Anggun pamit pulang.


TBC....


Gimana nih mau athor tamatin tapi belum boleh sampai bulan depan, Udah pada bosen belum sih? Stop atau lanjut nih?

__ADS_1


__ADS_2