Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
Keputusan Andre


__ADS_3

Andre dan Pak Romi berjalan menuju ke ruangan Liona. Mereka melewati lorong lorong rumah sakit. Sesampainya di depan ruang rawat Liona, Pak Romi membuka pintunya. Ia masuk ke dalam sedangkan Andre menunggunya di luar, Ia ragu untuk masuk ke dalam. Sebenarnya Ia enggan berurusan dengan wanita bar bar seperti Liona. Pak Romi berjalan menghampiri Liona.


" Papa.... Mana Mas Andre Pa?" Tanya Liona celingak celinguk ke belakang Pak Romi.


" Di....Dia..." Pak Romi menjeda ucapannya.


" Papa nggak boleh ke sini kalau tidak membawa Mas Andre Pa.... Lio mau Mas Andre, Dimana dia Pa... Hiks.. Apa Mas Andre mau meninggalkan aku Pa.. Hiks .." Tangis Liona pecah kala melihat Papanya tidak berhasil membawa sang pujaan hatinya.


" Aku mau Mas Andre Pa.... Aku mau Mas Andre.... Mas Andre...." Teriak Liona.


" Iya sayang, Nanti ya, Nanti Andre pasti akan ke sini." Sahut Pak Romi.


" Enggak mau, Papa pasti bohong... Aku mau sekarang, Aku mau Mas Andre sekarang Pa, Aku tidak mau kalau sampai Mas Andre meninggalkan aku Pa... Aku mau Mas Andre." Ucap Liona dengan nada meninggi.


Andre muncul dari depan pintu, Liona menoleh ke arahnya dengan mata berbinar.


" Mas Andre." Pekik Liona turun dari ranjangnya membuat selang infusnya tertarik hingga darahnya naik ke selang yang manancap pada punggung tangannya.


" Sayang hati hati." Ujar Pak Romi.


" Massss." Liona memeluk Andre tanpa menghiraukan ucapan Papanya.


Andre diam membeku, Ia tidak membalas pelukan Liona. Liona mendongak menatap wajah tampan Andre.


" Kenapa Mas? Apa kamu tidak suka aku memelukmu?" Tanya Liona menatap Andre.


Andre menatap Pak Romi yang mengganggukkan kepala ke arahnya. Andre membalas pelukan Liona dengan terpaksa membuat Liona tersenyum.


" Mas kapan Mas Andre mau menikahiku?" Tanya Liona masih dalam pelukan Andre.


" Apa kamu lupa siapa aku?" Pancing Andre.


" Tidak... Kamu Mas Andre Permana calon suamiku." Ucap Liona membuat Andre jengah.


" Sudah lepaskan pelukanmu." Ucap Andre dingin.


Liona melepaskan pelukannya sambil memanyunkan bibirnya. Ia kembali duduk di atas brankar.


" Pa aku mau pulang, Bilang sama Dokter ya." Ucap Liona.


" Tapi kondisimu....


" Aku baik baik saja Pa, Aku sudah sembuh karena obat yang sebenarnya sudah datang." Liona memotong ucapan Pak Romi sambil melirik ke arah Andre.


" Baiklah Papa bilang Dokter dulu." Sahut Pak Romi.


Pak Romi keluar ruangan menuju ruangan Dokter. Di dalam ruangan Andre menatap tajam ke arah Liona, Ia berharap bisa memastikan sesuatu yang membuatnya tidak jadi menikahi wanita yang ada di depannya. Sungguh dirinya belum siap menjalin hubungan dengan wanita lain.


" Mas kapan mau nikahi aku?" Tanya Liona.


" Kalau aku tidak jadi menikahimu gimana?" Tanya Andre.


" Aku akan bunuh diri." Sahut Liona.


" Ya udah bunuh diri sekarang aja, Karena sampai kapanpun aku tidak akan menikahi wanita licik sepertimu, Aku tahu kalau kamu hanya bersandiwara saja, Setelah sandiwaramu kemarin gagal sekarang kamu bersandiwara hilang ingatan... Trik murahan." Ucap Andre dingin.


" Baiklah jika itu maumu, Aku akan bunuh diri sekarang." Ucap Liona.


Liona mengambil pisau buah yang ada di nakas lalu.....


Cesssssss

__ADS_1


Liona menyayatkan pisau itu ke tangannya. Darah menetes di lantai membuat Andre terkejut dengan tindakan Liona.


" Apa apaan kamu ini." Bentak Andre menekan tangan Liona agar darah berhenti mengalir. Andre merebut pisau yang ada di tangan kanan Liona lalu membuangnya.


" Kau gila." Bentak Andre.


" Lepas.... Biarkan wanita licik ini mati di hadapanmu agar kamu bisa tenang karena aku tidak akan mengganggumu lagi." Teriak Liona.


Andre memencet tombol nurse dengan hati cemas.


" Minggir... Biarkan aku mati." Teriak Liona menepis tangan Andre.


" Diam... Atau aku tidak akan pernah menikahimu." Ucap Andre. Andre merasa iba, Hatinya berdesir kala melihat Liona yang rela mati demi dirinya. Adakah wanita sebodoh Liona? Ia lebih memilih bunuh diri karena tidak bisa mendapatkan cintanya?


Mendengar ancaman Andre Liona langsung mengunci mulutnya, Pandangannya sedikit kabur sampai tiba tiba...


Brugh....


" Liona." Pekik Andre.


Tubuh Liona jatuh ke lantai dengan tangan yang masih di cekal oleh Andre.


Pintu terbuka dari luar,


" Ya ampun Lio... Apa yang terjadi padamu Nak?" Ucap Pak Romi yang datang bersama dengan Dokter dan Suster. Mereka menghampiri Lio dan Andre.


" Dok tolong Liona, Dia tadi sempat menyayat tangannya sendiri." Ucap Andre.


" Baik Pak, Silahkan di baringkan ke brankar biar suster yang mengurusnya, Bapak mohon tunggu di luar." Ujar Dokter


" Baik Dok." Sahut Andre.


Andre dan Pak Romi keluar ruangan, Mereka duduk di kursi tunggu yang di sediakan rumah sakit. Andre menundukkan kepalanya, Ia merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada Liona. Semua karena dirinya, Andre menatap darah yang ada pada telapak tangannya.


" Apa yang terjadi dengan putriku Nak Andre? Kenapa Lio bisa menyayat nadinya sendiri?" Tanya Pak Romi.


" Aku mencoba menolak untuk menikahinya, Maafkan aku." Ucap Andre menghela nafasnya.


" Jika kamu berat melakukannya, Batalkan saja niatmu, Bapak akan mencoba memberi pengertian kepada Lio." Ucap Pak Romi.


" Lalu bagaimana jika Lio mencoba bunuh diri lagi Pak?" Tanya Andre.


" Bapak pasrahkan kepada yang kuasa saja, Jika memang jalan takdirnya harus seperti ini Bapak bisa apa? Bapak hanya bisa mengikhlaskannya." Sahut Pak Romi.


" Saya tidak akan membiarkan semua itu terjadi Pak, Saya tidak mau ada orang yang kehilangan nyawanya hanya karena diriku, Saya tidak mau menambah beban dosa Pak." Ujar Andre.


"Lalu apa kau tidak akan merubah keputusanmu?" Tanya Pak Romi.


" Tidak, Saya akan segera menikahinya Pak sesuai janjiku padamu, Besok saya akan datang dengan membawa pak Kiai ke sini untuk menikahkan kami." Ucap Andre.


" Terima kasih Nak Andre, Semoga kalian berdua bisa bersatu setelah ikatan pernikahan ini." Ucap Pak Romi.


" Semoga Pak." Sahut Andre.


" Kalau begitu saya pulang dulu Pak, Katakan pada Lio kalau saya sedang mempersiapkan pernikahan kami jika dia mencari saya nanti." Ucap Andre.


" Baiklah hati hati Nak Andre sekali lagi terima kasih atas bantuannya." Ucap Pak Romi.


" Sama sama Pak." Sahut Andre.


Andre berjalan menjauh meninggalkan lobbi rumah sakit menuju mobilnya, Ia melajukan mobilnya menuju apartementnya, Ia ingin menghabiskan waktu dan berpikir tentang keputusan yang Ia ambil beberapa jam lalu.

__ADS_1


" Semoga ini jalan terbaik untukku." Gumam Andre dalam hatinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam ini saat Kia hendak tidur tiba tiba Indra menginginkan sesuatu.


" Yank... Pengin durian." Ucap Indra.


" Ini sudah malam Mas." Ujar Kia memiringkan tubuhnya menatap Indra.


" Tapi pengin banget Yank, Mana Andre nggak pulang lagi malam ini." Ucap Indra memelas.


" Dimana aku bisa mendapatkan durian Mas? Tadi di supermarket aku nggak lihat durian, Kalau toko buah jam segini udah tutup." Ujar Kia.


Kia memikirkan dimana dia bisa mendapatkan durian malam malam gini? Ini sudah jam sepuluh malam.


" Ya udahlah Yank tidur aja, Biar aku nahan dulu sampai besok pagi." Ujar Indra.


" Sini di elus dulu Babbynya, Suruh Babby menahannya sampai besok pagi biar nggak mutah." Ucap Kia menuntun tangan Indra ke perutnya. Pasalnya jika apa yang Indra inginkan belum keturutan maka Indra akan mutah tiada henti.


" Sayangnya Daddy.... Minta duriannya besok pagi aja ya, Sekarang udah malam kasihan Mommy kalau Mommy harus mencarinya, Daddy Andre juga nggak ada di rumah, Sabar nunggu besok aja ya..." Ucap Indra mengelus perut Kia.


" Ok Daddy..." Sahut Kia menirukan suara anak kecil.


" Sekarang kita belah duren aja ya Yank." Ujar Indra.


" Mas nggak capek?" Tanya Kia.


" Kamu yang mimpin lah, Aku tinggal menikmati permainan kamu saja." Jawab Indra.


" Nggak mau ah." Sahut Kia.


" Kenapa?" Tanya Indra.


" Malu." Sahut Kia.


" Sama suami sendiri malu, Ayo ah biar Mas lupa sama duriannya." Ujar Indra.


" Hmmm baiklah." Pasrah Kia.


Kia menindih tubuh Indra, Ia menatap wajah suami yang berada di bawahnya. Kia mulai memajukan wajahnya ke dekat wajah Indra. Untuk beberapa saat mereka saling tatap. Kia mengecup bibir Indra, Membuat Indra memejamkan matanya. Indra menahan tengkuk Kia memperdalam ciumannya, Lidah mereka saling membelit, Kia mencecap bibir Indra dan melum*tnya dengan lembut. Tangan Indra meremas ****** Kia membuat Kia mendesis. Ciuman Kia turun ke bawah leher Indra. Ia memainkan lidahnya di sana sesekali Ia menyesapnya membuat Indra mendesis merasakan sensasi yang membuat hati berdesir.


Tangan Indra sudah bergerilya ke mana mana, Kia merasakan sesuatu yang sudah mengeras di bawah sana. Ia mulai melancarkan permainannya dengan membuka pakaian mereka. Malam ini Kia benar benar menguasai tubuh suaminya, Kia memainkan permainan yang membuat Indra tak berdaya. Kia benar benar menguras tenaga Indra dengan membuat tubuh Indra menggelinjang kesana kemari menikmati sensasi yang Kia berikan. Suara erotis keduanya menggema di ruangan bercahaya temaram ini, Suhu AC tidak mampu mendinginkan suhu tubuh mereka. Indra benar benar terlena denga kelihaian istrinya. Hingga sampai beberapa jam lamanya, Keduanya sama sama tumbang mengakhiri permainannya. Tubuh Kia ambruk di samping Indra.


" Makasih sayang... Permainanmu sungguh luar biasa, Aku akan selalu menantikannya di lain waktu." Ucap Indra mencium kening Kia.


" Hmmm." Gumam Kia.


" Babby tidak protes kan?" Tanya Indra.


" Tidak Mas, Aman kok." Sahut Kia.


" Syukurlah... Sekarang tidurlah selamat mimpi indah sayang." Ucap Indra memeluk tubuh Kia. Mereka melewati malam dengan mimpi indah yang mereka ciptakan sendiri.


TBC....


*Saat ngetik adegan pas bareng suami dengerin pengajian jadi buyar semuanya... Hhhhh


Jangan lupa like koment dan votenya...


Makasih atas doa dan dukungannya..

__ADS_1


Miss U All*


__ADS_2