Pria Cacat Itu Suamiku

Pria Cacat Itu Suamiku
Perbincangan dua pangeran tampan


__ADS_3

" Pria itu adalah....." Kia menjeda ucapannya.


" Tentu saja Papa Miko Ma, Papaku, Cinta pertamaku, My Hero... yang sebentar lagi akan segera di gantikan oleh putra tersayang Mama... Mamas Indra hhhh." Ucap Kia sambil tertawa membuat Mama Meri lega mendengarnya dan tersenyum dengan bahagia.


" Kamu tahu nggak kalau jantung Mama terasa mau copot sayang, kamu benar benar membuat Mama hampir mati berdiri, kau benar benar jahil ya." Ujar Mama Meri membuat Kia merasa bersalah mendengarnya.


" Maaf Ma, aku tidak bermaksud menjahili Mama.... Tapi aku sengaja melakukannya he he." Ucap Kia memeluk Mama Meri.


" Kamu ini." Kekeh Mama Meri.


Keduanya melanjutkan perbincangan mereka sambil menunggu Rey datang, tapi entah apa yang sedang Ia lakukan di dapur sana, hanya membuat jus saja rasanya sampai bertahun tahun.


Sedangkan di dapur, setelah Rey selesai membuat jus Ia segera melangkah keluar dari dapur membawa segelas jus mangga buatannya. Tiba tiba Indra mengagetkannya.


" Apa kalian pacaran?" Tanya Indra.


Pertanyaan Indra menghentikan langkah Rey, Ia menoleh kebelakang menatap kearah Indra yang sedang duduk di meja makan.


" Kenapa? Apa ada masalah?" Rey balik bertanya. Ia duduk di depan Indra yang terhalang oleh meja saja.


" Aku hanya memastikan saja, kamu tahukan kalau aku sangat mencintai Kia, aku tidak mau kamu hanya mempermainkan perasaan Kia saja Rey." Ucap Indra menatap ke arah Rey.


" Lalu bagaimana denganmu? Apa kau merada tidak menyakiti hatinya dengan penolakanmu itu?" Tanya Rey.


"Jikapun aku mempermainkannya atau bahkan menyakitinya sekalipun, maka kamulah yang harus bertanggung jawab atas semua itu, karna apa? Karna kamulah yang menyebabkan Kia memintaku untuk menikahinya walaupun dia tahu tidak ada perasaan di antara kami." Sambung Rey menekankan setiap kata katanya, sambil menatap tajam Indra.


Indra memejamkan matanya sambil mengepalkan tangannya erat. Ia menahan rasa sakit yang menjalar di hatinya. Semua yang di ucapkan Rey adalah kebenaran. Semua ini karna ulahnya yang sok sokan menolak Kia.


" Kau pengecut Bro, kau pecundang, hanya karna kau merasa tidak percaya diri, kau tega membuat Mamamu dan Kia terluka, kau benar benar egois memikirkan perasaanmu sendiri, lihatlah Kia... Ia berani berkorban demi permintaan Mamamu." Sambung Rey berusaha menyadarkan Indra.


" Aku hanya tidak ingin membuat Kia menderita dengan terus mengurusi pria cacat sepertiku, aku pria yang tidak berguna Rey, aku hanya akan menyusahkan hidupnya saja." Ucap Indra sendu sambil menunduk. Tak terasa air mata lolos begitu saja dari netranya. Ia merasakan sakit yang teramat dalam. Ia mengusap air matanya dengan punggung tangannya.


" Makanya bergunalah untuk orang lain, setidaknya untuk Mamamu sendiri, terimalah perjodohan ini." Ujar Rey.


Indra tidak bergeming, Ia hanya diam saja sambil menundukkan kepala.

__ADS_1


Hening....


Untuk sesaat suasana menjadi hening dengan pikiran masing masing.


" Apa kamu mencintainya?" Tanya Indra menatap Rey.


" Yah.. Jujur aku memang jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya, aku tidak bisa memungkiri perasaanku Ndra, tapi aku tahu kalau Kia tidak ada perasaan apa apa padaku, jadi aku hanya diam saja tanpa memperjuangkannya, jika kamu mau berubah pikiran, aku akan mengembalikan Kia kepadamu karna dari awal memang Kia untukmu, cobalah terima perjodhan ini dan berbahagialah kawan." Jelas Rey jujur. Memang Ia sudah tertarik pada Kia, saat Ia melihat Kia pertama kali. Tetapi Ia sadar bahwa gadis itu adalah gadis yang di cintai Indra sahabatnya. Makanya Ia memilih mundur.


" Aku tetap pada keputusanku Rey, aku hanya berpesan padamu, sayangi dia dan lindungilah dia untukku, aku percaya padamu, aku percaya kalau cintamu bisa membuatnya bahagia." Ucap Indra.


" Kau memang keras kepala, baiklah kalau memang itu keputusanmu, mulai sekarang lupakan perasaanmu pada kekasihku, kau tenang saja aku akan menjaganya dengan nyawaku sendiri, tapi bukan untukmu melainkan untuk diriku sendiri." Tegas Rey. Tiba tiba...


" Mana bang jusku? lama amat bikinnya sampai keriput nih pipi adek." Ucap Kia duduk di sebelah Rey. Ia mengambil gelas jusnya di depan Rey.


" Ya ampun Bang... jusnya dah gak dingin lagi." protes Kia sambil mengerucutkan bibirnya.


" Maaf sayang... Tadi Indra ngajak ngobrol ya aku temani ngobrol dulu kan." Ucap Rey. Indra hanya melihat interaksi mereka dengan diam sambil menahan gemuruh di dadanya.


" Ck... Karna mas Indra, kau melupakan adek tersayangmu ini, aku gak suka ya Bang kamu lebih memilih orang lain dari pada aku, calon istrimu." Cebik Kia melirik ke arah Indra.


" Ah.. abang jadi berantakan nih, aku denda ya buat ke salon untuk menata rambutku biar rapi lagi.." Ucap Kia manja sambil merapikan rambutnya.


" Mau minta berapa? Abang siap menguras dompet demi calon istri tersayang Abang ini, Hm?" Tanya Rey sambil melirik Indra.


" Mau semuanya yang ada di dalam dompet." Ucap Kia.


" Tapi uang cash aja ya, jangan sama kartunya." Sahut Rey.


" Pelit amat Bang, katanya calon istri." Cebik Kia.


" Yang di dalam kartu itu tabungan buat pernikahan kita Yank, nih ambil." Sahut Rey menyodorkan dompetnya kepada Kia.


" Ma kasih Bang." Dengan berat hati, Kia membukanya dan....


"Maaf ya Bang kalau gue lancang." Batin Kia.

__ADS_1


" Apaan ini Bang." Ucap Kia menunjukkan selembar uang berwarna hijau di depan Rey.


" Ambillah buat kamu." Ujar Rey.


" Segini mah cuma dapet permen kaki doank Bang, mana bisa ke salon." Gerutu Kia.


" Ya udah nyicil aja dulu, sekarang beli permen, besok kesalonnya kalau udah menjelang hari H." Ujar Rey.


" Katanya Asistent Pribadi, tapi dompet gak jauh beda sama OB." Ejek Kia.


" Lhah Abang kan pegang uang cash cuma buat bayar parkir doank Yank, kalau transaksi lainnya pakai kartu donk." Jelas Rey.


" Up to U lah Bang, Bodo' amat." Sahut Kia.


Dada Indra bergemuruh melihat kemesraan keduanya. Ingin sekali ia menitikkan air matanya, tetapi ia tidak mau Kia melihatnya. Lebih baik Ia pergi dari sana. Saat ia beranjak, Kia memanggilnya.


" Mas Indra." Panggil Kia, indra menoleh kearah Kia.


" Duduk dulu Mas, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu." Ucap Kia.


Indra duduk kembali ke kursinya.


" Pertunanganku akan di laksanakan minggu depan, aku mau kamu yang memilihkan cincin pertunangannya dan semua konsep dekorasinya, aku mau pertunangan ini terlihat istimewa." Ujar Kia.


Mendengar perkataan Kia, dada Indra berdenyut nyeri seperti tertikam sebilah pisau.


" Baiklah aku akan melakukannya." Ucap Indra pasrah.


" Dan jangan lupa kamu harus datang ke acara itu sebagai kakak dari Bang Rey ku tersayang." Ujar Kia menatap Rey mengerlingkan sebelah matanya kearah Rey.


Tanpa berbicara lagi, Indra segera pergi dari sana dengan hati yang begitu terasa sakit. Benar kata Rey... Ia pengecut..Ia pecundang.


Ya.. pertunangan mereka akan diadakan minggu depan. Kia dan Mama Meri sudah sepakat, begitupun dengan orang tua Kia.


Mereka sepakat mengadakan pertunangan di rumah Kia yang di kampung.

__ADS_1


TBC....


__ADS_2