Relung Langit

Relung Langit
Part 99


__ADS_3

"Maaf!" lirihku sambil menundukkan kepala dan menitikkan air mata.


"Kamu tahu yang kamu lakukan itu salah besar yang! Salah. Kamu tahu seberapa berartinya Zahra buat aku?" setengah berteriak dia ke arahku membuat air mataku makin deras.


Ini pertama kalinya Zeyden setengah berteriak kepadaku, semua karena salahku. Badanku gemeteran saat mendengar dia berteriak. Sejak kecil tak pernah keluargaku berteriak kepadaku.


"Aku kira kamu sayang sama Zahra, tapi apa yang kamu lakukan sama dia sekarang? Menyakitinya kamu tahu itu!" teriaknya makin kencang.


Aku tanpa pikir panjang langsung mengambil kunci mobil yang ada di meja kecil. Aku berlari keluar rumah tanpa menghiraukan panggilan siapapun. Aku meninggalkan semuanya, hanya ponsel yang aku bawa. Segera aku menekan nomor telepon sahabatku satu-satunya.


"Gue nggak mau tahu sekarang temui gue dintempat biasa." teriakku kesal sambil mematikan teleponnya.


Aku membawa mobil itu ke pinggir sebuah danau. Ya, hanya aku dan Zoan yang tahu tempat itu. Aku memarkirkan mobil di parkiran mobil selanjutnya melangkahkan kaki ke tempat biasa. Kulihat sosok sahabatku sudah disana, aku berlari dan memeluknya. Kaget jelas dia kaget, karena sudah lama dia tak bisa aku peluk.


"Zo, bantu gue!" seruku dengan menangis.

__ADS_1


"Apa yang bisa gue bantu?" tanyanya sambil mengusap punggungku.


"Bawa gue pergi sejauh mungkin dari Zeyden!" seruku membuat dia kaget setengah mati.


"What? Lo mau pergi dari Zeyden terus gimana dengan Zayyan." ucap Zoan makin kaget dan membuat aku tidak pikir panjang.


"Biarkan Zayyan sama papanya, stok asi masih beberapa botol di kulkas. Biarkan dia merasakan mengurus anak. Aku tak terima dibentak seperti tadi." ucapku sambil menceritakan secara detailnya.


Zoan pun memberikan kunci vila dan mobilnya untukku serta kartu ATMnya kepadaku. Mobilku dibawa olehnya, tak lupa aku meminta dia untuk tidak memberitahukan kepada siapapun. Sakit hatiku saat dibentak suamiku sendiri. Aku segera meluncur ke tujuanku.


Zeyden semakin gila melihat aku yang pergi meninggalkan dirinya juga Zayyan. Zayyan terus menangis walau sudah digendong Zahra atau Ayah serta sudah diberikan susu. Ayah sangat kebingungan melihat aku yang pergi gitu aja.


"Apa yang terjadi sama kalian Zey? Kenapa Priyanka sampai pergi gitu?" tanya Ayah membuat Zeyden makin pusing.


"A.. Aku tidak sengaja membentaknya Yah!" seru Zeyden membuat Ayah dan Zahra membulatkan matanya.

__ADS_1


"Kakak. Cepat cari Kak Iya sekarang! Dia nggak pernah di bentak siapapun sebelumnya." teriak Zahra marah sama kakaknya.


"Keterlaluan kamu Zey, kenapa kamu bisa berubah begini sama istri kamu? Kamu tahu dia akan menghilang dari kita semua. Bersiaplah kamu, dia nggak bisa disakiti Zey." ucap Ayah dengan kekecewaannya.


"Dia pasti kembali Yah. Ada Zayyan yang butuh dia." ucap Zeyden tanpa pikir panjang.


"Kamu nggak tahu dia secara keseluruhan Zey. Waktu dia ditinggal Gibran di pergi ke rumah ini, tanpa pamit. Sekarang kita nggak akan tahu dimana dia berada. Apa dia bawa dompetnya? Pasti tidak. Apa dia menyalakan ponselnya saat ini? Pasti tidak. Anyelir masih bulan madu tidak mungkin dia bercerita padanya." jelas Ayah dengan wajah khawatir.


"Itu suara mobilnya Yah, pasti dia pulang." celetuk Zeyden segera menghampiri pintu depan.


"Kamu siapa? Kenapa bisa mobil istri saya kamu bawa?" tanya Zeyden saat sosok lelaki paruh baya keluar dari mobilku.


"Maaf tuan saya hanya mengantarkan mobil ini disuruh sama seorang wanita cantik. Dia memberikan saya uang ini dan alamat ini." ujar lelaki itu memberikan uang serta kunci mobilnya.


"Puas kamu Zey?" ucap Ayah pergi meninggalkan rumah kami.

__ADS_1


__ADS_2