
Setengah jam Aryan menunggu, tak lama terdengar langkah kaki dari dalam rumah. Segera dia menghampiri pintu yang sudah mulai terbuka. Tampak seorang wanita paruh baya disana dengan senyumannya.
"Benar ini rumah Sharma?" tanya Aryan membuka suara sebelum ditanya oleh wanita itu.
"Benar. Maaf anda siapa?" tanya wanita itu dengan lemah lembut.
"Saya Aryan temannya. Apa Sharma berada dirumah?" Sahut Aryan dengan penih keramahan.
"Non Sharma belum pulang tuan. Tapi Tuan dan Nyonya besar ada." jelas sang wanita itu.
"Boleh saya bertemu dengan mereka?" tanya Aryan dengan senyuman yang mematikan.
"Mati Tuan, saya antar ke halaman belakang!" seru wanita itu dan mulai menuntun jalan ke halaman belakang.
Sepanjang perjalanan menuju halaman belakang, wanita itu menceritakan semuanya mengenai Sharma. Aryan fokus mendengarkan informasi yang disampaikan wanita itu. Setiba di halaman belakang, wanita itu menghampiri kedua majikannya dan meninggalkan Aryan sedikit jauh dari mereka. Sesekali tampak ketiganya menatap ke Aryan dengan tatapan sedikit menyelidik. Sekitar lima belas menit kemudian Aryan diajak oleh Mbok Jum bertemu dengan majikannya.
__ADS_1
"Tuan, Nyonya ini temannya Non Sharma. Tuan Aryan." Mbok Jum memperkenalkan Aryan kepada majikannya.
"Terima kasih Mbok." ucap Nyonya rumah itu ramah dan si Mbok Jum meninggalkan mereka bertiga.
"Silakan duduk Nak Aryan." ujar sang Nyonya rumah.
Aryan duduk tepat di depan kedua pasangan paruh baya namun wajah mereka sangat awet muda. Wajah awet mudanya sama seperti orang tua Aryan. Ayah Sharma menatap tajam Aryan seakan hendak memakannya, berbeda dengan sang ibu yang lembut. Aryan menjelaskan kedatangannya pada kedua orang tua Sharma, dan mereka antusias mendengar niat baik dari lelaki yang ada dihadapan mereka.
"Pekerjaanmu apa Nak?" tanya sang ibu kepada Aryan.
"Hanya membantu perusahaan Ayah yang masih merintis Tante." serunya dengan merendah.
"Aryan Putra Om." jujur Aryan dengan membuang nama keluarga besarnya.
Aryan tidak mau memakai nama keluarga bukan karena malu, melainkan ingin diterima dengan tulus hanya berdasarkan usahanya. Walau dia takut jika kelak sang raja Pradipta akan murka, bila tahu putra sulungnya menutupi nama keluarga besarnya.
__ADS_1
"Perusahaan Ayahmu bergerak di bidang apa?" tanya sang empunya rumah kepada Aryan.
"Apa saja Om. Namanya juga masih merintis." ucap Aryan masih terus merendah.
Aryan sedikit tersenyum setiap dia mengatakan Ayahnya masih merintis sebuah perusahaan. Memang benar Ayahnya sedang merintis usahanya di negara Eropa, sedangkan di Asia nama Pradipta sudah sangat terkenal. Hanya saja pangeran dan putri Pradipta tidak banyak diketahui publik.
"Saya juga punya usaha di bidang property bersama rekan saya. Apa kamu kenal dengan keluarga Pradipta? Tuan Pradipta salah satu kolega saya, dia orangnya sangat humble. Saya pernah berpikir ingin menjodohkan Sharma dengan anaknya. Tapi sayangnya anak-anak keluarga Pradipta sangat tertutup, kami yang koleganya saja hampir tak pernah berjumpa." cerita Ayah Sharma membuat Aryan kaget.
"Setiap kali rapat selalu Tuan Pradipta sendiri yang hadir padahal keputusan sudah dialihkan ke putra tertuanya. Tapi sampai detik ini tak ada satu orang pun yang mampu mengetahui wajah anak-anaknya. Apa kamu mengenal keluarga Pradipta?" ucapNya kembali membuat Aryan bingung harua jawab apa.
"Itu keluarga saya Om. Saya memang pimpinan seluruh perusahaan Ayah dan memang kami enggan diketahui publik mengenai jati diri kami. Saya sangat terharu Om mau menjodohkan putri om padaku." batin Aryan.
"Siapa yang tak kenal keluarga itu Om. Keluarga yang selalu buat publik penasaran. Keluarga yang tak pernah terekspos. Aku saja penasaran dengan keluarga itu Om. Jika Om, bertemu dengan Pak Pradipta saya boleh ikut Om? Saya ngefans banget sama beliau." celoteh Aryan dan diangguki oleh Ayah Sharma.
Mereka berbincang-bincang dengan sangat akrab. Ayah Sharma dan Aryan sesekali saling tukar pikiran mengenai masalah perusahaan mereka. Mereka seperti Ayah dan anak begitu dekat. Padahal baru beberapa jam mereka bertemu. Hal itu membuat Ibu Sharma sangat senang karena pertama kalinya ada seorang lelaki yang mampu meluluhkan hati suaminya.
__ADS_1
Sharma tiba di dekat pintu halaman belakang. Dia melihat kedua orang tuanya begitu akrab dengan lelaki yang baru satu hari ini ia kenal. Sharma kaget dengan sikap orang tuanya yang sangat terbuka itu. Baru kali ini ia melihat kedua orang tuanya terbuka dengan kehadiran seorang lelaki dirumahnya. Lelaki asing yang sudah mampu menaklukkan hati kedua orang tuanya.
Perlahan langkah Sharma menghampiri mereka yang tengah asyik tertawa bahagia. Mereka menoleh saat Sharma sudah berdiri disamping meja yang ada di hadapan mereka semua. Semuanya tersenyum melihat kehadiran Sharma, hanya senyuman tersirat yang tak bisa Sharma ketahui maknanya dari senyum kedua orang tuanya.