
Aku masih ngambek sama sikap Kak Zeyden. Terlebih lagi martabak yang aku inginkan sudah dilahap abis oleh kedua sahabatku. Kak Zeyden berusaha sekuat hati merayuku, tapi aku masih ngambek. Tiba-tiba Kak Zeyden menggendongku dan membawaku ke kamar.
Kak Zeyden menurunkanku di ranjang secara perlahan. Lalu dia ke lemari dan mengambil sesuatu di tas kerjanya. Segera dia menghampiriku dengan membawa stetoskop.
"Mau apa kamu Kak?" tanyaku dengan sedikit ketakutan.
"Siklus bulanan kamu gimana sayang?" tanya Zeyden dengan wajah serius.
"Aku lagi ngambek malah ditanyain siklus bulanan aku. Kamu mah nggak romantis banget sih, Kak." ujarku sambil memanyunkan mulut kecilku yang tipis.
"Au... Sakit, Kak." ujarku ketika mulutku yang manyun disentilnya.
"Isteriku ngambek mulu sih. Sini aku periksa dulu perut kamu. Tadi banyak banget makan martabak duriannya." Ujar Kak Zeyden sambil membuka baju bagian perutku.
Ya, itu hanya alibi Zeyden untuk mengetahui apakah aku sedang hamil atau tidak. Zeyden sedikit curiga sampai dia mendengar sesuatu di stetoskopnya. Dia Tersenyum dan menitikkan air mata.
"Kak, Kakak kenapa? Kok nangis sih." ujarku sambil mengusap air mata yang jatuh ke pipinya.
__ADS_1
"Besok kita ke dokter ya sayang!" serunya dan kemudian mengecup keningku sangat lama.
Adzan subuh berkumandang, aku kaget karena perlakuan Kak Zeyden padaku. Seperti saat ini, hanya mau ke kamar mandi saja aku dipapahnya. Katanya takut aku jatuh. Saat aku sedang berwudhu, pintu kamar mandi dibuka olehnya dengan tergesa-gesa.
"Huek.. huek.." Kak Zeyden mendadak muntah-muntah dan aku panik.
"Are you okey?" tanyaku sedikit khawatir dan Kak Zeyden hanya mengangkat bahunya.
Wajahnya sangat pucat dan kupapah dia ke tempat tidur setelah berwudhu. Karena lemas dia sholat ditempat tidur. Aku sangat khawatir dan meninggalkan dia sebentar untuk mengambil air hangat serta membangunkan Zoan.
"Zo, pagi ini anterin kami ke rumah sakit ya. Kak Zey sakit kayaknya." ujarku pada sahabatku yang masih mengucek-ngucek matanya dan kemudian menganggukkan kepalanya.
"Gimana dok, suami saya?" tanyaku cemas.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan Bu. Dokter Zeyden baik-baik saja." ujar dokter dengan keyakinan.
"Aku memang baik-baik saja. Coba kau tolong periksa isteriku." ujar suamiku membuat aku dan dokter di depanku bingung.
__ADS_1
"Baiklah, mari ikut saya bu." ujar sang dokter mengarahkanku ke bangsal.
"USG dia." titah Kak Zeyden setengah berteriak dan dokter itu hanya menganggukkan kepalanya.
Kak Zeyden duduk sambil menungguku dengan menghirup minyak kayu putih agar ia tidak mual lagi. Tak berapa lama aku turun dengan air mata di pipiku dan langsung manghampirinya dengan sedikit berlari. Aku memeluk Kak Zeyden sangat erat.
"Hei, kok nangis. Ada apa sayang?" tanya Kak Zeyden yang bingung.
"Tangis bahagia itu dokter Zey." sahut sang dokter menghampiriku.
"Anda sudah tahu isteri sedang hamil, pake nyuruh-nyuruh saya periksa!" ujar dokter itu membuat aku mendongkakkan kepala menatap Kak Zeyden.
"Nggak usah liatin aku kayak gitu dong sayang. Aku tahu kalo aku ganteng kayak artis korea Lee Min Ho itu." ujar Kak Zeyden dengan pedenya sambil menangkup wajahku dengan kedua tangannya.
"Ih, pede banget sih kamu. Jadi dari semalam kamu udah tahu?" ucapku sambil mencoba duduk di sampingnya dan dia mengangguk.
"Ini vitamin buat anda ya, Bu. Dan ini untuk anda Dokter Zey, obat mualnya. Kalo habis buat resep sendiri ya, dok." ujar sang dokter sambil tertawa kecil kepada Kak Zeyden.
__ADS_1
Kami pun pamit dan segera menuju parkiran. Saat sudah di samping mobil, segera aku ketuk jendelanya. Tapi tak ada sahutan atau pintu terbuka dari dalam. Aku panik takut Zoan kenapa-napa, segera aku beralih ke jendela kemudi. Dan disana dia tidur atau pingsan, aku nggak tau.
"Zo.. Zo.. Zoan... Buka pintunya!" seruku dengan berteriak.