Relung Langit

Relung Langit
S2 Part 19


__ADS_3

"Kak Abian!!" seru Adrian kaget melihat sang kakak ada di sana.


"Kalian kayak lihat setan aja deh," Abian dengan nada kesal yang dibuat-buat.


"Hai Om." sapa Gara sambil mencium tangan sang mantan pacar mamanya itu.


"Hai, Ra. Apa kabar kamu? Udah lama nggak ketemu makin ganteng aja sih kamu." cerocos Abian sambil mengelus kepala Gara.


"Baik Om. Om juga makin ganteng kok." balas Gara sambil menggaruk tengkuknya.


"Duh bos. Nggak usah muji bikin dia terbang karena merasa ganteng padahal kan.." timpal Adrian yang tak terima sang kakak dipuji.


"Bilang aja loe iri dek sama gue." Abian langsung membuat Adrian menekuk wajahnya karena kesal. Dia pun memilih meninggalkan kedua orang itu.


Adrian kembali mencari-cari pakaian yang akan dibelinya. Dia melihat sosok yang kemarin ditemuinya bersama Gara ada di pojok ruangan sedang melihat-lihat baju. Wanita yang tadi pagi membuat Gara hancur moodnya. Langkah kaki Adrian kembali ke arah Gara dan Abian.


"Ada April, bos." bisik Adrian saat sudah dihadapan keduanya.


Gara hanya membuang nafas kasar. Dia paling benci dikuntit oleh wanita, terlebih dia tidak suka cara berpakaian wanita yang ketat seperti menunjukkan bentuk tubuhnya. Gara takut rencananya gagal untuk sidak kali ini. Dia tidak mau kelak usaha adiknya ikut kena imbas jika dia menolak kerja sama dengan Budiman Corp.


"Om, kayaknya aku butuh bantuan om bisa?" tanya Gara sedikit ragu jika Abian mau membantunya.


"Bantuan apa? Uang untuk inves?" ledek Abian kepada Gara diiringi dengan senyuman mengejek.


"Kak, serius dikit dong. Genting ini!" geram Adrian yang kesal melihat bosnya dipermainkan oleh sang kakak.


"Oke, sorry. Om akan bantu kamu. Kamu itu udah kayak anak om sendiri kok." jelas Abian dengan lembut dan mengajak kedua lelaki itu duduk di sofa.


Di sofa Gara menjelaskan semuanya tujuannya datang ke butik hingga pertemuannya dengan utusan Budiman Corp. Serta menceritakan semua yang didapat berdasarkan informasi yang didapat dari informan mereka. Akhirnya Abian mengangguki kepala setuju untuk berperan di sini.


Abian melirik mencari pelayan yang akan membantunya. Dia menemukan sosok gadis muda berhijab yang sangat manis dan mengenakan seragam karyawan butik. Abian memanggil sambil melambaikan tangannya. Gadis itu berjalan menghampiri Abian, Gara juga Adrian. Langkahnya sangat anggun.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" ujar sang pelayan dengan ramah. Gqra hanya diam menatap gadis yang baru pertama kali membuat detak jantungnya tak karuan.

__ADS_1


"Tolong panggilkan manajer atau assisten Ibu Anggia sekarang," ujar Abian dengan lembut dan sopan.


"Apa sudah buat janji Pak?" tanya karyawan itu dengan kehati-hatian.


"Belum, saya mohon panggilkan segera." Kali ini nada Abian terdengar sedikit tegas dan membuat gadis itu menganggukinya.


Kepergian gadis itu tak hilang dari pandangan Gara. Sedangkan kedua lelaki di sekitarnya hanya tersenyum melihat tingkah Gara yang pertama kali seperti itu melihat wanita. Keduanya terkekeh saat melihat Gara, tidak hanya itu mereka langsung memotret wajah tampan itu yang masih mematung. Adrian lebih jahil dia memvideokan sikap Gara.


"Ra, cantik ya?" tanya Abian dengan lembut.


"Bukan cantik om, tetapi manis." Sahutnya secara spontan.


"Cocok ya kalo om jodohin sama Adrian?" Abian memancing Gara untuk jujur saat diri lelaki itu masih belum sadar. Sedangkan Adrian sudah melotot kesal mendengar ucapan sang kakak.


"Gak. Adrian nggak boleh sama dia. Aku mau maju om, dia cuma cocok sama ak.." sahutnya spontan dan langsung sadar. Langsung menggaruk tengkuknya. Sedang kakak beradik di sisi Gara hanya tertawa mendengar pengakuan dirinya itu.


Saat mereka tertawa bersama, tiba-tiba aktifitas mereka terhenti. Wanita itu bersama seseorang di sampingnya, dan berhenti di hadapan ketiga lelaki itu. Tanpa basa basi Abian langsung mengutarakan kedatangannya ke butik itu. Sang assisten Gia segera membawa ketiganya ke ruangan Gia. Hanya lima belas menit sang assisten menyerahkan laporan keuangan. Tak lupa Gara langsung meminta sang assisten untuk membagikan kuisioner kepada pegawai.


 


 


Tiga puluh menit Gara membaca laporan itu dan memotonya untuk dikirim ke Gia. Ketiganya berbincang-bincang mengenai seputar dunia bisnis dan perkembangannya. Tak kalah mereka juga sesekali meledek Gara yang masih asyik menjomblo.


"Ra, gimana kabar papa mamamu? Lama om tidak ketemu mereka." tanya Abian yang merasakan rindu pada kedua orang itu.


"Mereka.." ucapan Gara terpotong oleh dering panggilan masuk ke ponselnya dimana tertera nama sang mama.


"Sebentar om, my queen menelpon." ujar Gara memberikan informasi kepada Abian dan dia hanya menganggukinya.


"Assalamualaikum my queen." sapa Gara seperti biasa selalu memanggil Priyanka my queen.


"Waalaikumsalam. Lagi di mana? Udah makan?" sahut Priyanka dengan memberondong pertanyaan untuk sang putra.

__ADS_1


"Ma, lagi nyanyi ya?" ledek Gara sambil menahan tawa.


"Kakak!!" Priyanka sedikit menaikkan nada bicara yang disertai penekanan.


"Kamu di mana, dengan siapa, semalem berbuat apa?" nyanyi Gara meledek sang mama membuat Abian tertawa geli membayangkan betapa kesl orang diseberang telepon.


"Kak, pindah ke video sekarang!" titah Priyanka karena mengenali suara tawa barusan. Secepat kilat Gara memindahkan panggilan ke video dan mengaktifkan kamera belakang.


"Abian jelek. Ngapain ketawa? Dasar sombong nggak ngasih kabar, nggak main, tiba-tiba nongol cuma ketawanya aja yang kedengeran." teriak Priyanka dengan nada setengah kesal dan itu makin membuat Abian tertawa.


"Mana Zeyden? Kangen gue sama dia." ujar Abian tanpa memperdulikan pertanyaan Priyanka.


"*Ish, si kutu kupret. Malah Zeyden yang ditanyain, parah. Yank!!" gerutu Priyanka sambil memanggil sang suami.


"Kenapa sih?" tanya Zeyden dengan nada lembut*.


"Widih lembut banget loe, Zey. Padahal bini loe nggak ada lembutnya manggil loe." cerocos Abian.


"Ma, kalo mau ngobrol sama om Bian di nomornya aja ya. Sekarang kakak mau nanya mama kenapa telepon?" timpal Gara karena sudah males meladeni orang tua itu reunian.


"Ya udah iya deh. Mau tanya gimana hari ini kamu? Lancar semua?" Priyanka bertanya dengan penuh kelembutan.


"Baik kok, Ma." sahut Gara singkat.


"Bohong, Tan. Tadi pagi dia menghukum empat orang. Dan ada satu hal penting nih buat om sama tante. Kalo Gara mau nikah." ucap Adrian tanpa permisi dengan nada sedikit meninggi.


Seketika panggilan itu diputuskan oleh Gara dan ia memilih menaruh ponselnya. Usai menaruh ponselnya ia berlari mengejar Adrian yang terbilang rese mengatakan hal itu. Pasti pulang dari Bandung ada masalah baru untuk lelaki itu.


💐💐💐


Hai.. Hai.. Maaf ya upnya segini dulu. Tapi aku berusaha agar bisa up lagi dengan Gara lagi dan pendekatan sama cewek yang disukainya.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like, komen share dan vote aku ya gaes.. love you.. 😘😘😘


__ADS_2