
"Ka, bangun dong. Gue janji kalo lo bangun sekarang, gue nggak akan pergi hanya berdua sama Kak Ar. Tapi plis bangun my beb." ujar Anyelir sambil mengusap punggung tanganku.
"Dia hanya banyak pikiran dan kelelahan aja kok An. Bentar lagi juga dia baik-baik aja." Ujar Zeyden yang keluar dari kamar mandi dan duduk diranjang persis disampingku.
Anyelir mengajak Zayyan bermain disofa, sampai akhirnya Kak Aryan datang membawa obat-obat yang diminta. Kak Aryan sedih melihat adiknya tertidur seperti itu. Ia tak sanggup jika harus mengalaminya lagi dan lagi.
"Tenang bro. Dia baik-baik aja, istri gue hanya banyak pikiran dan kelelahan aja kok." ujar Zeyden berusaha meyakinkan kakak iparnya.
"Maafin princess kak. Princess nggak maksud buat hati kakak sakit." gumam Priyanka sambil meneteskan air mata dan menggenggam tangan Zeyden erat.
"De, kakak nggak marah sama kamu. Apapun keslahan kamu udah kakak maafin kok." sahut Aryan di telinga adiknya dengan suara lirih.
"Kak Bi..." teriakku membuat semua mata menatapku saat aku membuka mata.
__ADS_1
"Bryan? Mereka bertengkar? Nggak mungkin. Priyanka kesayangannya, nggak mungkin Bryan tega bikin adiknya seperti ini." gumam Aryan dalam hati.
"Kak Ar. Mana Kak Bi?" tanyaku sambil memeluk kakak sulungku.
"Bi, kan ikut Ayah, De." sahutnya.
Mendadak seisi ruangan menjadi sunyi. Wajah murung sangat jelas terlihat diwajahku, saat menoleh semua orang diruangan itu ikutan murung. Aku sedih telah menyakiti salah satu kakakku. Aku bingung harus gimana sekarang, hanya mampu berharap kami baik-baik saja dan semua salah paham ini hilang.
"Aku salah sama kalian. Princess jahat sama kalian berdua, nggak ngertiin perasaan kalian sama sekali. Aku egois, maafin aku ya Kak." ucapku sambil menatap wajah kakakku yang tak sengaja air mataku meluncur dengan sendirinya.
Saat suasana sudah mulai mencair, aku damai tapi masih diselimuti rasa bersalah. Kami semua sudah mulai tertawa dan bercanda. Tiba-tiba suara bel menghentikan aktifitas kami semua. Zeyden berjalan menuju pintu.
"Permisi Pak, kami mengantarkan pesanan untuk Nyonya Priyanka Pradipta Putri." ucap pelayan sambil membawa troli berisi makanan yang ditutupi tutup saji.
__ADS_1
"Tapi kami tidak pesan, Pak." ujar Zeyden dengan bingungnya.
"Terus ini bagaimana ya pak?" tanya sang pelayan.
"Bawa masuk aja Zey, biar kita makan bareng-bareng." teriak Kak Aryan dari ruang tengah.
Akhirnya Zeyden membawa masuk makanan itu. Saat sudah di meja dekat keluarganya, makanan langsung diturunkan. Namun mata Zeyden menangkap sebuah amplop berwarna biru laut. Dia mengangkat amplop itu dan membuat semua mata tertuju kepadanya.
"Apa itu Yang?" tanyaku sambil menghampiri suamiku.
"Entah, mari kita buka bareng-bareng." ujar Zeyden sambil mengajakku kembali duduk.
Baru juga kami berdua duduk suara bel kembali terdengar. Kami saling lempar pandangan. Kali ini aku yang berjalan ke arah pintu dengan wajah gelisah. Aku intip siapa yang verada diluar, namun orang itu membelakangi pintu. Aku buka pintu dengan perlahan.
__ADS_1
"Iya, siapa ya?" tanyaku saat pintu mulai terbuka.
Aku langsung memeluk orang itu, ketika dia membalikkan badannya. Pelukan erat yang aku berikan pada orang itu sambil air mataku menetes tak terkira. Rasa enggan melepas sangat mempengaruhiku. Lama aku tak memeluknya, Zeyden menghampiriku karena cukup lama aku tak kembali kedalam. Dia pun merasakan kaget luar biasa saat melihat sosok yang aku peluk.