
Maafin Author ya kalo banyak typo dan kesalahan dalam penulisannya..
Betewe end de baswey..
Kesayangan aku semuanya.
Sudah siap-siap lanjut ceritanya nggak??
Ready...
***
"Oke. See you." ucap Zayyan tak mengubah suara maupun ekspresinya.
"Kenapa?" tanya Zeyden penasaran.
"Tidak, Pa. Gara hanya mengatakan jangan lupa makan walau panik mencari mama." bohong Zayyan pada sang papa.
"Hm, ada apa ya, sampai Gara nyuruh bikin papa kesal. Jangan-jangan mama sudah sama mereka lagi." batin Zayyan dan melengkungkan senyum sumringah.
Zeyden masih lihat kiri kanan mencari keberadaanku. Wajahnya sudah lesu dan kesal karena tak menemukan diriku. Penyesalan pasti ada, bukan Zeyden jika tidak sedih membuat aku kesal. Kedua kakakku sudah kembali usai ditelepon para isterinya.
Ya, mereka memang langsung menyidangku pastinya. Tapi aku jelaskan semuanya hingga mereka mengerti dan tak marah lagi.
***
Zayyan dan Zeyden pun kembali ke resort pukul sepuluh malam waktu setempat. Zayyan kembali ke kamarnya begitu juga dengan Zeyden. Saat memasuki kamar wajahnya begitu lesu, dia menunaikan ibadah sholat isya terlebih dahulu, usai sholat dia langsung merebahkan badannya di kasur tanpa mengganti bajunya.
Pikirannya sudah menerawang kemana-mana. Memikirkan hal-hal buruk akan keberadaanku dan kegiatan yang aku lakukan. Tak lama ia pun terlelap karena rasa lelahnya. Zayyan mencoba membangunkan kedua adiknya dan menanyakan keberadaan sang mama.
"Kha, Ra. Bangun dong." pintanya pada kedua adiknya.
"Hm.. Apa sih Kak? Aku masih ngantuk nih!" seru Gara dengan suara orang tidur.
"Tahu nih. Kenapa sih, Kak?" sahut Rakha dengan suara yang tak kalah seraknya.
"Mama dimana?" tanya Zayyan dengan wajah khawatir.
"Telepon Devika." sahut keduanya masih memejam mata mereka.
Zayyan langsung megambil ponselnya di nakas dan segera mencari nomor telepon sepupunya itu. Sekali tak ada respon dari orang yang ia hubungi. Ia tak putus asa, berkali-kali menghubungi nomor itu dan akhirnya diangkat.
"Hm, kenapa?" tanya sumber suara di seberang telepon.
"Mama dimana?" tanya Zayyan dengan nada khawatir.
"Kakak ke kamarku aja!" serunya dengan suara serak.
"De, ini udah malam. Mana enak aku ke kamarmu!" ucap Zayyan yang merasa tidak nyaman mendatangi kmar adiknya itu di malam hari, apalagi seorang diri.
"Ya udah nggak usah ketemu Mama Iya." ucapnya dengan santai.
"Hah! Oke aku kesana. Buka pintunya." pinta Zayyan dengan wajah terkejutnya.
"Hm." ujar Devika langsung mematikan panggilan dan membuka pintu kamarnya.
Tak butuh waktu lama karena kamar mereka berdua hanya terhalang satu kamar. Zayyan celingak celinguk melihat apa ada yang melihatnya atau tidak. Ia pun membuka pintu kamar sang adik, tak lupa menguncinya kembali.
Kakinya mendekati ranjang dan duduk disana. Dua orang yang ia sayang sedang terlelap. Dia mengecup keningku sangat lama. Aku terbangun karena ada yang menciumku. Kaget rasanya melihat ada sosok di sampingku.
"Siapa?" tanyaku dengan memundurkan posisiku dan langsung duduk.
"Kakak, Ma." ucapnya dengan suara khas menahan tangis.
Segera kunyalakan lampu utama. Kulihat putra sulungku dan ia langsung memelukku. Tangisnya pecah dalam pelukan dan aku hanya mampu mengelus punggungnya.
"Mama kemana aja? Aku nggak mau mama pergi kayak tadi lagi." suara lirih Zayyan dan aku menangkup wajahnya serta menghujaninya dengan ciuman disana.
"Mama hanya jalan-jalan saja sayang. Karena kesal sama Papa kamu. Dia dengan santainya bilang banyak perempuan yang mengejar-ngejar dia kalo mama nggak mau sama papa. Mama kesal dan pergi deh, eh di resto ketemu mantan mama. Dia minta di temani keliling outletnya, dan mama mengiyakan karena butuh jalan-jalan juga." jelasku panjang lebar dan anakku hanya menghapus air matanya. Lalu dia pun menutup mulutnya.
"Papa." geram Zayyan sambil mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Mama tahu, papamu bercanda makanya mama layanin permainannya. Sekarang dia kan yang bingung sendiri." ujarku dengan senyuman dan itu membuat Zayyan menganggukkan kepalanya.
"Besok subuh tolong kamu ke kamar papa. Siapkan pakaiannya ya!" pintaku pada putra sulungku dan dia mengangguki tanda setuju.
"Pa, lihat besok. Papa akan makin celeng lihat permainan besok." gumam Zayyan sangat pelan.
"Ma, apa papa sepanik itu setiap mama jalan dengan lelaki lain?" tanya Zayyan dengan wajah penasaran.
"Papa hanya akan menjadi panik sama kayak para Daddy kamu kalo itu adalah Gibran dan Abian. Mereka takut mamamu ini tersakiti." ujarku dengan senyuman karena lucu mengingat kemarahan mereka bertiga setiap aku dekat dengan kedua orang itu.
"Kenapa?" tanya Zayyan makin penasaran.
"Itu karena mereka mantan mama dan pernah meninggalkan mama. Tapi sekarang kami sudah baik-baik saja." jelasku dan membuat Zayyan membulatkan mata sambil menutup mulutnya.
"Ya udah, sekarang kamu tidur sana. Sudah malam nggak baik begadang." ucapku sambil mengantarnya sampai pintu dan mencium keningnya.
Setelah kepergian Zayyan aku memikirkan hal yang akan dilakukanny esok. Aku sudah bisa membayangkan keputus asaan suamiku jika aku datang tapi tak menemui dirinya.
***
Pagi harinya Zayyan menjalankan perintahku. Aku hanya mengintip dari balik pintu. Ia meletakkan pakaian Zeyden di kursi rias tak lupa meletakkan secarik kertas. Secepat mungkin ia keluar dari kamar. Saat kembali ke kamar Devika. Tak lama ponselku berbunyi akan tanda pesan singkat masuk.
***Abian
Ya. Dilobby ada karyawanku mengantarkan sarapan buat kalian semua. Aku ingin mengantarnya sendiri, tapi selama kamu belum berbaikan dengan Zeyden, aku tak akan menemui kalian.
Priyanka
Baiklah nanti si sulung yang akan kesana. Makasih ya Bi. Nanti kalo Zeyden sudah baik-baik aja aku kabarin kamu ya!
Abian
Baiklah. Salam buat anak-anak dan kakakmu ya.
Priyanka
Insya Allah nanti disampaikan***.
Usai berbalas pesan dengan Abian. Aku meminta Zayyan ke lobby untuk mengambil makanan yang dikirim oleh Abian. Tanpa banyak berpikir ia menuju lobby. Tak butuh lama, ia membawa beberapa bungkus plastik dan menaruhnya di kamar Devika.
Pagi sayang.
Gimana semaleman tanpaku bahagia? Ah, atau sudah ada wanita yang mengejar-ngejar kamu. Ingat jika sudah dapat penggantiku, langsung kenalkan pada anak-anak ya. Aku juga mau mencari pengganti kamu, jadi kamu nggak usah khawatir ya.
Ibu dari anak-anakmu
Kata-kata itu ditulis sendiri oleh Zayyan. Ia ingin melihat reaksi sang papa. Zeyden langsung kalut dan menghampiri kamar para bujangnya. Wajahnya sangat panik dan kaget saat kakinya memasuki kamar itu. Anak-anaknya sedang makan dengan box makan tertera nama resto Abian.
Seketika ia murka dan membuang makanan yang sedang di makan Rakha. Si bungsu pun tak kalah kesalnya dan mengamuk. Ia kesal karena sarapannya dibuang sang papa. Zayyan mencoba menenangi sang papa juga adiknya yang sudah dipuncak amarah. Gara dan Zayyan menahan tawa melihat sikap sang papa.
"Pa. Are you okay?" tanya Gara saat Zeyden sudah tenang dan duduk di sofa bersama ketiga bujangnya. Sedangkan Rakha sudah memakan makanan milik Zayyan.
"Kalian kenapa malah memakan makanan dari resto orang itu sih? Dia pasti mau merebut kalian juga usai merebut mama kalian dari papa." lirih Zeyden dengan omongan yang melantur.
"Inget nggak, kalo papa yang udah buat mama kesal dan pergi!" celetuk Rakha dengan juteknya.
"Papa kan hanya bercanda." sahut Zeyden dengan nada bersalahnya.
"Kalo papa lihat mama jalan berdua dengan Om yang ada di foto itu. Apa yang papa lakuin?" tanya Zayyan dengan kepolosannya.
"Papa gendong mama kamu kembali dan mengurungnya di kamar sambil bikib ade lagi buat kalian." ucap Zeyden membuat ketiahlga bujangnya melotot.
Akhirnya percakapan ayah dan anak usai. Kmi semua bersiap di mobil yang telah di sewa. Zeyden satu mobil dengan anak-anak dan aku bersama Kak Aryan, tak lupa menceritakan ide mengerjai Zeyden. Kak Aryan yang enggan akhirnya setuju, dia sendiri yang menghubungi Abian untuk menjalankan rencana.
Kak Aryan senang bisa mengerjai adik iparnya itu. Jarang-jarang dia melakukannya. Kami semua janjian bertemu di pantai pandawa. Pantai ini lokasinya berada di jalan Pantai Pandawa, Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung ini sangat unik karena letaknya berada di balik tebing kapur yang sangat tinggi dan anda juga bisa melihat pemandangan dari atas tebing. Untuk mengunjunginya akan menempuh perjalanan 1 jam dengan jarak 18 kilometer dan apabila anda memulainya dari Pantai Kuta maka akan menempuh jarak hingga 21 kilometer, dengan perkiraan waktu tempuh 1 jam 15 menit.
Daya tarik pantai pandawa yaitu dulunya pantai ini menjadi salah satu tempat atau pantai tersembunyi. Namun pada tahun 2012, Pantai ini menjadi salah satu pantai yang ramai di kunjungi dengan di dominasi oleh para wisatawan lokal.
Setelah anda membayar tiket masuk kita akan melewati jalan raya aspal yang halus dan akan melihat tebing kapur yang menjulang tinggi. Usai melewati jalan raya kita akan melihat pemandangan samudera hindia, serta garis pantai yang berpasir putih nan eksotis. Dari atas tebing juga melihat tempat parkir yang luas, dan pada bagian kiri jalan raya terdapat enam lubang yang terdapat patung panca pandawa beserta Ibu Kunti.
Patung panca pandawa pertama yang akan anda lihat adalah patung Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Setiap wisatawan yang berkunjung di pantai pandawa akan terpesona dengan keindahan pantainya yang memiliki tekstur pasir yang halus. Kebersihannya juga sangat terjaga serta ombaknya yang tenang.
__ADS_1
Saat anda menginjakan kaki di pasir pantai pandawa yang langsung menghadap ke samudra hindia anda akan menyaksikan perpaduan warna yang indah. Mulai dari warna pasir putih warna air laut yang biru dan warna kehijauan.*
Panggilan masuk ke ponselku dan segera aku mengangkatnya. Kakak serta kakak iparku hanya mendengarkan percakapan kami melalui loud speaker yang kunyalakan.
"Ya, aku sudah sampai. Kamu dimana?" tanya Abian.
"Kita ketemu sebentar lagi, aku akan pindah ke mobil kamu. Tunggu di dekat parkiran ya." ujarku dan diangguki oleh kakakku.
"Baiklah." ujarnya sebelum ia mematikan panggilan itu.
"Kamu yakin sayang?" tanya Kak Sharma kepadaku dengan sedikit khawatir.
"Hm, aku kesal sama Zeyden, Kak. Biar kasih dia pelajaran. Aku nggak tega sebenernya, karena aku sudah sangat mencintainya. Dia separuh nafasku, tapi perkataannya melukai hatiku walau hanya candaan." jujurku dengan perasaan campur aduk.
Tak lama mobil Kak Aryan berhenti didepan mobil A****a. Kak Aryan turun lebih dulu untuk bertemu dengan Abian dan berpesan banyak padanya. Aku harus menunggu di mobil sampai kakakku memberi kode untukku turun.
Tak lama kakakku yang gantengnya tidak tertolong itu memberikan isyarat untukku turun. Aku melangkah menghampiri kedua lelaki itu. Secepat mungkin masuk ke dalam mobil, takut jika Zeyden melihat hal itu sebelum semuanya berjalan sesuai rencana.
Mobil Abian mulai berjalan lebih dulu dan berikutnya kakakku. Itu terlihat dari spion mobil. Selama perjalanan aku meminta maaf sudah memanfaatkan pertemuan dengannya. Tapi dia tidak masalah selama hal itu bisa membawanya pada maaf dari kedua kakak dan aku sebagai penebusan rasa bersalahnya dulu.
Aku berbincang padanya mengenai usaha kami berdua. Sampai kami berencana membuat usaha bersama dalam dunia fashion. Dia sangat antusias, karena bisa bekerja sama denganku. Akhirnya kami pun tiba di tujuan.
Disinilah akting kami dimulai. Risih sebenernya jalan bergandengan tangan dengan lelaki yang bukan suamiku. Dalam hati aku terus meminta pengampunan sang Maha Pencipta dengan sikapku yang saat ini kulakukan. Sengaja Abian membuat lelucon agar aku bisa tertawa, seakan bahagia bersamanya.
Padahal aku merutuki diriku sendiri. Sakit rasanya melakukan akting ini kalau bukan membuat Zeyden menyesali ucapannya. Keluargaku pun melakukan persiapan untuk berakting. Anyelir yang sengaja memotret kami dari kejauhan memulai adengannya.
"Yank, lihat deh. Ini Priya bukan sih, dan cowok disampingnya itu Abian bukan sih?" ucapnya pada Kak Bryan sambil menunjukkan foto di ponselnya.
"Bener sayang ini my princess. Dimana kamu bertemu mereka?" tanya Kak Bryan sambil melirik ke arah Zeyden.
"Di pinggir pantai sebelah sana. Saat aku mengambil tas yang ketinggalan di mobil tadi. Dia baru turun dari mobil dengan sangat romantis." ujar Anyelir membuat Zeyden mengepalkan tangannya.
"Kamu jangan ngelantur deh sayang. Nggak mungkinlah Priya kayak gitu." bela Kak Bryan pada sang isteri.
"Mom, serius ketemu Mama! Aku mau ketemu mama." celetuk Rakha memulai akting berikutnya.
"Aku mau ikut mama aja. Mama nggak pernah berkata kasar." ujar Rakha polos dengan membuat Zeyden kesal hingga menggebrak meja dan berlalu.
Gara, Juna, dan Zayyan mengikuti Zeyden dari belakang. Ia takut papanya kalap dan melakukan hal konyol. Zeyden menelusuri pinggir pantai mencari keberadaanku. Zayyan langsung memberi tahuku tentang suamiku tersayang itu.
Zayyan
Ma, papa sedang mencari mama. Bersiaplah.
Priyanka
Baiklah sayang.
Tak lama dari jauh aku melihat Zeyden. Itu terlihat dari cara jalannya dan dibelakangnya ada tiga anak muda mengikutinya. Aku langsung memeluk Abian dan berbisik bahwa Zeyden sudah mendekat. Sengaja kami pura-pura tertawa dan bahagia, untuk memancing emosi Zeyden.
"Apa-apaan ini." teriak Zeyden sambil menarik tanganku dan memisahkanku berpelukan dengan Abian.
"Kamu masih isteriku ya, nyonya Priyanka Thamrin." celetuknya dengan mata memerah menahan semua emosinya.
Sejujurnya tidak tega melihat dia seperti sekarang. Tapi mau bagaimana lagi, dia lucu dn menggemaskan kalau sedang marah karena cemburu. Rasanya makin cinta dan ingin segera menciumnya, sayangnya masih akting.
"Salah aku mencoba mencari yang lain? Sedang kamu banyak yang ngejar-ngejar. Sana pergi sama perempuan-perempuan yang ngedeketin kamu." ucapku dengan emosi menggebu-gebu.
"Aku hanya mencintai kamu ya. Walau ratusan perempuan mengejar-ngejar aku, hanya kamu yang aku cintai." teriaknya di depan wajahku dan itu membuat aku kaget akan sikapnya.
"Bro, nggak usahlah teriak-teriak gitu. Kasihan Priya." ucap Abian yang geram melihat dia teriak di hadapanku.
"Nggak usah ikut campur, cuma masa lalu juga kan!" seru Zeyden dengan tatapan membunuh.
"Kita pulang sekarang ke resort." ucap Zeyden menarik tanganku namun aku menahannya.
Aku kaget saat Zeyden membopongku seperti mengangkat karung. Ya, badanku ditaruh di pundaknya. Jelas aku meronta-ronta karena malu digendong seperti itu, lagi pula aku takut jatuh serta pusing.
Zeyden membawaku ke dalam mobil dan mengikat tubuhku dengan seatbelt. Segera dia melajukan mobil dengan kencang. Entah aku akan dibawa kemana karena itu bukan jalan menuju resort. Aku lelah jadi masa bodo dibawa kemana sama suamiku. Aku memutuskan untuk tidur karena masih mengantuk berat.
***
__ADS_1
Hai kesayanganku, sudah aku panjangin..
Jadi jangan lupa jempol, share, komen dan vote sebanyak-banyaknya.