Relung Langit

Relung Langit
S2 Part 24


__ADS_3

Seminggu sudah setelah proses rangkaian acara pernikahan Gara dan Chiara. Ya, mereka kini tinggal di rumah Chiara yang lebih kecil dari rumah Zeyden. Walau sama-sama tak bertingkat, namun rumah Zeyden jauh lebih luas. Chiara tetap bekerja di tempat sang adik ipar. Berangkat dan pulang kerja bareng dengan Gara.


Mereka sudah melakukan kewajiban masing-masing sesuai ajaran agama islam. Bahkan Gara tidak pernah bisa puasa sehari saja tanpa menyentuh haknya itu, bahkan dengan baik Chiara menjalankan kewajibannya itu. Walau lelah seorang isteri tidak berhak menolak permintaan sang suami. Wanita itu selalu menjalankan perintah suaminya dengan baik. Tak jarang dia meminta pendapat Priyanka masalah rumah tangganya. Karena ia ingin memiliki sikap seorang isteri yang baik dari sang mertua.


Setiap weekend keluarga itu berkumpul dan menginap di rumah Zeyden. Kedua menantu dan Gia sedang berada di halaman belakang. Memperhatikan ketiga anak kecil itu main dengan gembiranya. Tak lama Priyanka menghampiri mereka di halaman belakang dengan membawa minuman dingin juga cemilan buat para kesayangannya.


"Ma," bagai paduan suara ketiganya sangat kompak memanggil Priyanka.


"Sini Gia bantuin." Gia menghampiri dan mengambil makanan dari tangan sang ibu.


"Aku yang bawain minumannya ya, Ma." Aleta mengambil dan membawa minuman.


"Dan aku yang akan merangkul mama," Chiara merangkul dan melangkah menuju tempat duduk yang tak jauh dari tempat para kurcaci.


"Sejak ada Kak Chiara, kita dilupain ya Kak Leta!" ledek Gia dengan cengegesan.


"Maafin aku ya, Gi, Kak. Aku nggak maksud kayak gitu kok." ujar Chiara dengan penuh rasa takut.


"Haha.. Kak Chiara lucu." kedua wanita itu tertawa dengan melihat iparnya yang polos itu.


"Kalian semua selalu dihati Mama kok." Priyanka mulai merentangkan tangannya dan berhambur memeluknya.


"Oma.." teriak ketiga para kurcaci dengan lantangnya.


Amara dan Rangga berlari sedangkan Banyu masih belum berani untuk berlari. Keenam orang itu berebutan untuk bisa memeluk Priyanka. Semuanya tertawa dengan riang dan para lelaki hanya melihat dari ruangan keluarga.

__ADS_1


 


***


 


Rakha kini selalu menjadi bahan ledekan para kakaknya. Bagaimana tidak dia seorang diri yang menjomblo. Lelaki itu hanya pasrah mendapati dirinya yang menjadi bahan ledekan. Rakha berlalu meninggalkan papa dan ketiga kakaknya itu, menghindar itulah yang selalu dilakukannya.


Langkahnya menyusul ke halaman belakang. Jika sudah kesal dia akan menghampiri sang mama, walau hanya memeluknya dia sudah merasakan ketenangan. Ya, dia memeluk sang mama dari belakang. Priyanka menarik tangan sang putra untuk duduk di depannya.


"Mereka lagi?" tanya Priyanka yang sudah tahu jika kesayangannya itu jadi bahan olokan para lelakinya yang lain. Ketiga wanita di sekeliling Priyanka hanya mengernyitkan dahinya.


"I'm okay, Ma." sahutnya dengan senyuman seakan mampu menipu hati sang mama.


"Kamu anak mama, mama tahu apa yang terjadi. Jangan dengarkan mereka ya, kamu tetap jadi anak mama apapun yang terjadi." penuturan penuh kasih yang dilontarkan Priyanka sambil memegang rahang kokoh milik Rakha dengan kedua tangannya.


"Semua orang akan iri melihat aku masih bisa seperti ini sama mama, mereka tidak akan bisa bebas seperti aku. Karena ada hati yang harus mereka jaga." ujarnya sambil melirik kedua kakak iparnya.


"Mata lo- eh kamu biasa aja sih, Dek. Dan nggak usah nyindir. Kakak juga masih bisa kayak kamu ke mama, blee" Gia tak terima jika hanya Rakha yang bermanjaan dengan sang mama.


Priyanka yang melihat kedua anaknya merebutkan dirinya hanya tersenyum dan mengelus kepala Gia juga Rakha. Tak lama lelaki yang lain pun menghampirinya. Zeyden duduk di belakang Priyanka dan mengelus kepala sang isteri. Begitu juga dengan Rohan, Zayyan dan Gara mengikuti sang ayah.


"Aku harap ini akan selalu menjadi kenangan terindah dalam hidupku." batin Priyanka.


 

__ADS_1


***


Hari semakin larut Zeyden masih bersama anak serta menantu laki-lakinya. Mereka membicarakan masalah rumah sakit, perusahaan, restoran dan juga butik. Zeyden ingin melepas semua tanggung jawab itu kepada keempat lelaki di hadapannya kini. Ia hanya ingin istirahat dan menemani sang isteri di masa-masa tua mereka.


"Pa, seberapa besar papa mencintai mama?" Rohan bertanya dengan rasa ingin tahunya. Walau sudah jelas terlihat dengan matanya sendiri, tapi ia ingin tahu rasa cinta sang papa mertua untuk mama mertuanya.


"Cinta papa ke mama, lebih besar dari pada cinta kalian ke kami. Lebih dalam dari cinta dia ke kalian." jujur Zeyden dengan senyuman sumringah.


"Apa papa nggak pernah cemburu ada mama?" ia kembali menanyakan hal yang bodoh itu.


"Papa sering cemburu padanya. Papa sering kesal padanya dan masih banyak sifat buruk papa kepada mama kalian. Tapi semua itu papa pendam, papa tidak ingin ia tahu." jelas sang papa kepada anak-anaknya.


"Apa perasaan papa saat mama waktu itu pergi atau bertemu dengan mantan kekasihnya?" Kini Rakha mulai membuka suaranya kepada sang papa.


"Hanya takut. Takut ditinggalkan, takut dia masih mencintai mantannya, ah intinya papa selalu takut jika mengenai mama kalian itu." kembali Zeyden tersenyum setiap ingat kekasih hatinya itu. "Kenapa kalian jadi mengintrograsi papa?" tanya Zeyden yang mulai merasa diintrograsi.


"Hehe, mau nyari ilmu dari papa." ujar keempatnya sangat kompak.


"Jangan sakiti perempuan yang mendampingi kalian. Jangan biarkan dia kecewa." nasihat Zeyden kepada lelaki-lelaki itu dan dianggukinya.


Mereka pun nemutuskan kembali ke kamar masing-masing, karena jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Zeyden memasuki kamar saat sang isteri telah berbalut selimut. Ia segera masuk ke dalam selimut, mengecup kening dan pipi Priyanka serta ia memeluknya menuju alam mimpi.


\*\*\*


Maaf segini dulu ya sayangnya aq. Besok aq lanjut ya.

__ADS_1


jangan lupa like, komen, share dan vote. love you all.


__ADS_2