
Semua orang kelabakan mencari-cari aku. Ah, lupa bilang, kalau di balik lemari buku ada tempat tidur. Aku tertidur disana dengan buku di atas dadaku. Acara lima menit lagi tapi aku belum kunjung ketemu.
"Yah, tempat tidur ruang kerja." ingat Kak Aryan kepada Ayah.
"Oh iya benar. Anak itu suka sekali baca buku kemudian tertidur disana." sahut Ayah yang segera melangkahkan kaki ke ruang kerjanya.
"Tuh lihat anaknya asyik tidurkan. Kita sudah kelimpungan kesana kemari. Bangunin dia Ar." ujar Ayah pada anak sulungnya.
"Ka. Bangun Ka." ujar kakakku lembut sambil menoel-noel pipiku beberapa kali tapi tak ada respon dariku.
"My Princess.. Bangun sayang, semua orang menunggu kamu tuh." ujar Ayah sambil mencoba membangunkanku. Namun hasilnya masih nihil.
"Putri kesayangan Ayah kebluk banget sih. Aku jadi kesal sendiri. Aku panggilin Zeyden aja deh, aku nyerah banget bangunin anak ini." Kak Aryan berlalu meninggalkanku dan Ayah.
Sepeninggalan kakakku itu, Ayah masih berusaha membangunkanku. Aku masih tak bergerak sampai Zeyden masuk keruangan itu. Dia tersenyum menatapku dan melangkah mendekat.
__ADS_1
"Kamu mau bangun atau aku balik ke Bandung sekarang juga." bisik Zeyden di telingaku yng sontak membuat mataku membelalak.
"Kalo kamu balik ke Bandung tanpa aku. Lebih baik aku mati Kak." ujarku seceplas ceplosnya membuat Zeyden langsung memelukku.
"Jangan ngomong ngaco gitu ah. Aku nggak akan ninggalin kamu kok." ujarnya sambil mencium keningku.
"Tahu kamu nih, ngomong kok ngaco gitu." ujar Ayah dan Kak Aryan berbarengan.
"Dari melek mata aku sendirian, emang masih ada yang peduli sama aku?" ucapku kesal sambil melepaskan pelukan Zeyden.
Teriakan permintaan maaf dari mereka tak kunjung menghentikan langkahku. Aku menuju lantai atas untuk ke kamarku. Aku malas untuk hadir diacara itu. Zeyden masih mengekoriku, tapi aku tak menggubrisnya.
Di kamar aku menyiapkan baju untukku pakai. Gamis putih dan jilbab senada. Setelah itu aku langsung ke kamar mandi melakukan ritual mandiku. Zeyden hanya duduk menungguku keluar. Tak berapa lama aku keluar dan masih mendiamkan Zeyden. Dia pun langsung masuk dan melakukan ritual mandinya. Disaat bersamaan aku menyiapkan baju koko putih dan celana bahan berwarna hitam serta kopiah.
Saat aku sedang merias diri dengan make up tipis dan menggenakan jilbab. Zeyden duduk di bawah sampingku, dia memohon ampunan padaku karena telah mengabaikan aku. Aku tidak menggubrisnya walau aku risih dengan kelakuannya.
__ADS_1
"Yang, maafin aku. Aku nggak enak kalo nggak bantu-bantu. Secara ini kan acara untuk kamu dan anak kita." ucapnya dengan nada lirih.
Klek.. pintu kamarku
"Maaf ganggu. Kak, kalian berdua sudah ditunggu dibawah. Acara sudah mulai Kak Iya harus turun sekarang."
"Oh, iya Ra. Makasih ya, nanti kakak turun." ujarku sambil melempar senyuman ke adik iparku.
Zahra langsung pergi setelah aku jawab tadi. Kakiku masih tertahan oleh Zeyden.
"Yang, aku mohon maafin aku." pintanya dengan memelas.
"Bangun Kak. Aku harus segera turun, jangan sampe mereka kesini." ujarku dengan nada serius dan Zeyden segera melepaskan kakiku.
"Kamu mau kan maafin aku Yang?" tanyanya sambil tersenyum dan menggandeng tanganku.
__ADS_1
"Kita bahas nanti ya saat acara selesai. Kali ini biarkan acaranya berjalan lancar dulu." ucapku dengan mengikuti langkah Zeyden.