Relung Langit

Relung Langit
Part 131


__ADS_3

Hmm.. Selamat membaca para kesayangan aku…


***


Saat kami memasuki aula para wartawan sudah disana. Kami duduk menghimpit Ayah dan pengacara. Tak lama pengacara kami menjelaskan semuanya tapi terlihat raut wajah cemas saat melihat keluarga Shanti juga temannya. Anggia juga belum menampakkan diri di dekat kami. Dia pasti masih menenangkan diri di suatu tempat.


“Ya, mana Gia?” tanya Bryan dengan berbisik di telinga adiknya.


“Masih diluar!” sahut Priyanka dengan wajah sedih.


“Apa yang kamu pikirin, Ya?” tanya Bryan lembut kepada sang adik sambil menggenggam jemarinya.


“Gia meminta diselesaikan secara kekeluargaan, Kak. Tapi lihatlah wajah Ayah, itu tidak mungkin. Aku nggak berani memintanya pada Ayah.” Sahut Priyanka dengan kekhawatiran.


“Anak itu memang selalu memikirkan orang lain. Kamu juga benar, De. Ayah sudah tidak bisa diajak kompromi mengenai hal ini. Dia sudah marah besar, sepertinya pihak Shanti ngomong hal yang sangat-sangat Ayah benci. Kamu tahu Ayah akan marah ketika kesayangannya dihina dan difitnah. Kakak curiga hal itu yang disampaikan oleh pihak Shanti.” Tutur Bryan yang sudah berusaha menenangkan sang ayah tapi hasilnya nihil.


“Aku tahu, Kak. Maka dari itu aku tetap diam dan membiarkan Ayah bertindak. Walau kita tidak setuju, tapi kebenaran tetap harus ditegakkan. Aku hanya khawatir dengan nasib keluarga itu!” lirih Priyanka bisa membayangkan kemarahan sang ayah bisa menghancurkan kebahagiaan orang lain. Penuturan demi penuturan sang pengacara dan Ayah membuat kami hanya terdiam.


“Zey, panggil anak-anak semua.” Titah Ayah tak ingin dibantah dan permintaan ayah mertuanya dianggukinya.


Segera Zeyden mencari putri kami, karena Gara, Arjuna dan Rakha sudah bergabung. Ya, Rakha belum lama diantar Pak Min kesini. Mereka ketakutan karena perbuatan mereka ternyata malah menjerumuskannya kedalam hal yang makin buruk. Tidak berapa lama Zeyden datang dengan menggandeng putrinya. Semua kamera langsung membidik Gia yang melangkah mengiringi sang ayah menuju meja konferensi. Wajah putriku menampilkan raut yang enggan di ekspos, penampilannya masih dengan kuncir dua dan kacamatanya.


“Perkenalkan ini cucu-cucu saya dari Bryan dan Priyanka. Disini ada Arjuna putra satu-satunya dari putra kedua saya. Dan ini Anggara, Anggia juga Rakha keluarga dari Thamrin dan Pradipta. Oh lupa dua cucu saya ada di luar negeri dan saya masih tidak akan memperkenalkannya. Mengenai hal yang tadi di bicarakan oleh pengacara saya adalah hinaan kepada Anggia.” Suara ayah terdengar tegas namun tetap menusuk untuk para terdakwa.


“Yah, sudah dong.” Lirihku karena ayah menatap para terdakwa dengan tatapan mematikan.


“Kami minta maaf Tuan Shailendra. Kami tidak bermaksud menghina keluarga anda.” Ucap mereka semua bersamaan.


“Opa, selesaikan baik-baik ya!” pinta Gia dengan tatapan memohonnya.


“Tidak. Mereka bukan hanya kali ini menyakitimu, sayang. Ingat kejadian kemarin itu?” ucap sang Opa yang tidak tega melihat kesayangannya disakiti.


“Maaf semua terserah keluargaku. Aku pernah mengatakan pada kalian jangan sentuh aku apalagi menyakitiku bukan. Itu bukan ancaman tapi peringatan, sekarang kalian yang memaksa mereka untuk melakukan hal ini.” Ucap Gia yang sejak kemarin sudah memperingatinnya namun tak digubris.


Ayah mendengarkan semua rekaman suara keluarga dan teman-teman Shanti. Semua orang disana membelalakkan matanya tak percaya. Anggiapun sampai menggeleng-gelengkan kepala. Dia sampai nggak percaya jika mereka sampai ingin dirinya dihukum seberat-beratnya. Kini ucapan itu berbalik ke diri mereka masing-masing. Ayah pun menyerahkan semua informasi mengenai pengeroyokan yang di lakukan Shanti dan teman-temannya.


Hasil laboratorium, visum dan pemeriksaan lainnya di beberkan di depan umum. Sehingga mereka semua tidak bisa berkutik untuk mengeles akan semua yang terjadi. Keluarga sampai berlutut di hadapan keluarga Pradipta. Mereka minta maaf akan kesalahan semuanya, teman-teman Shanti pun mengakui kesalahannya terhadap Gia di depan umum.


Flash Back On


Cerita Bryan pada kakaknya. Hal itu membuat Aryan melongo akan semua cerita itu. Tidak tak percaya akan semua yang terjadi terlebih cerita tentang ayah mereka dengan perubahan sikapnya. Tak berapa lama sambungan telepon itu pun berakhir. Wajah Aryan yang masih shock membuat isterinya menjadi bertanya-tanya.


“Yank, kenapa?” tanyanya dengan memegang tangan suaminya.


“Perubahan Ayah hanya karena hinaan terhadap cucu-cucunya. Sungguh kami semua kaget, itu pasti lebih parah dari apa yang sebenarnya terjadi.” Gumam Aryan yang mampu terdengar oleh Sharma.

__ADS_1


“Ya sudah toh, masalah ini udah kelar kan?” tanya Sharma.


“Iya sudah. Akan tetapi shock anak-anak itu pasti masih ada. Mereka tidak pernah melihat Opa mereka marah seperti itu, begitu juga Priya. Dia akan shock pastinya.” Ujar Aryan dengan membayangkan perasaan sang adik yang shock akan sikap ayah mereka.


“Tanyakan pada Priya. Bagaimana keadaan mereka sekarang.” Sharma berusaha memberikan solusi untuk ketenangan sang suami dan Aryan menganggukinya. Sharma kembali dengan aktifitasnya dan Aryan langsung mengetik di ponselnya.


Mr. A


Ya. Gimana keadaan kalian semua?


Tak ada balasan dari sang adik karena perbedaan waktu. Aryan kembali ke ruang kerjanya untuk mengerjakan kerjaan yang sempat tertunda. Ya, dia sudah tak bisa istirahat. Hanya memikirkan masalah keluarganya yang mungkin bagi kami itu hal sepele. Namun, bagi anak-anak itu hal luar biasa. Pikiran Aryan makin menerawang bagaimana keadaan Gia untuk melalui hal ini. Dia pun menebak betapa hancurnya Gia akan masalah ini.


***


Keesokkan harinya. Aku yang baru bangun tidur langsung melanjutkan aktifitas seperti biasa. Seorang ibu rumah tangga yang sangat tekun pada kehidupan kesehariannya. Anak-anak masih terlelap dan kebetulan ini libur, aku bergelut di dapur untuk menyiapkan sarapan mereka. Setengah jam aku berada di dapur, lalu aku beranjak ke kamar mandi dan membersihkan diri. Seusai berdandan aku masih melihat suami tersayang di atas tempat tidur. Aku menghampirinya dan menundukkan wajahku.


Cup.


Kukecup pipinya dan mengelus wajah tampannya. Kugerakkan tanganku dengan lembut membelai rambutnya. Ia menggeliat dan merenggangkan ototnya, lalu berbalik badan mengambil badanku. Aku dipeluknya sangat erat dan sedikit memberontak.


“Yank, bangun ih. Tolong lepasin pelukannya aku engap, nggak bisa nafas ini!” gerutuku sambil berusaha keluar dari kungkungan pelukannya yang erat.


“Cium aku dulu.” Ucapnya masih dengan matanya yang terpejam.


“Masa! Aku nggak merasakannya tuh!” ucapnya membuat aku sedikit jengah.


Demi terbebas dari pelukannya yang akan semakin bahaya, segera aku mengecup wajahnya tanpa henti dan itu sedikit membuatnya geli. Bukan hanya mencium tetapi mendusel-duselnya. Mau tidak mau dia melepaskan pelukan segera aku bangkit dan berdiri di sampingnya. Aku menarik badannya untuk bangun, tetapi dia sengaja menahan badannya.


“Ya udah kalo nggak mau bangun. Aku mau bangunin anak-anak untuk ajak mereka jalan-jalan.” Ucapku yang berlalu meninggalkan Zeyden belum beranjak dari tidurnya, tapi dia menahan tanganku dengan kencang.


“Yank, mau mandi bareng!” serunya sambil menaikkan alisnya.


“Nggak!” tegasku sambil memukul genggamannya dan langsung berlari keluar kamar.


Aku memasuki kamar anak lelakiku dengan perlahan. Di dua tempat tidur si ganteng masih pada terlelap. Kuhampiri satu persatu dan mencium kening juga pipinya. Mereka menggeliat dan membuka mata, menatapku dengan senyuman mereka.


“Morning, Ma.” Ucap mereka berdua sambil berusaha duduk di ranjang.


“Morning, para pangeranku.” Ucapku dengan senyuman manis.


“Segera mandi, hari ini kita jalan-jalan ya!” ucapku sambil berlalu meninggalkan kamar mereka.


Kini aku memasuki kamar putriku. Perlahan aku mengetuk pintu putriku lebih dahulu. Ya, aku memang selalu menyuruhnya tidur dengan pintu terkunci. Dia anak perempuan jadi harus semaksimal mungkin menjaga keamanannya itu. Tak berapa lama pintu terbuka, aku masuk kedalam kamarnya mengikuti langkahnya lebih dahulu. Dia duduk di tepi tempat tidur sambil menenggak air minum. Aku duduk disampingnya dan mengelus rambutnya.


“Ade, baik-baik aja kok, Ma.” Ucapnya usai minum dan memandang wajahku heran.

__ADS_1


“Serius?” tanyaku dengan sedikit ragu-ragu.


“Hm.. Ma, apa ade salah? Karena membiarkan bullying terjadi?” tanyanya membuat aku mengambil nafas dalam-dalam.


“Gini sayang, bullying itu tidak benar. Itu harus dituntaskan, akan tetapi kamu memikirkan nasib mereka karena kekuasaan Opa. Mama, mengerti hal itu. Lain kali tetap jaga diri dan lawan jika kamu disakiti, tidak salah bila membela diri kamu tapi jangan sampai mengambil nyawa orang itu. Mengerti sayang!” jelasku dengan perlahan dan diangguki olehnya.


“Ya sudah sekarang kamu mandi. Mama tunggu di meja makan ya!” seruku lalu mencium keningnya sebelum meninggalkannya sendiri di kamar.


Aku menuju meja makan disana suamiku tersayang sudah menanti dengan senyuman manisnya. Kudekati dia dan menyiapkan makan untuk mereka semua, anak-anak pun satu persatu sudah bergabung dengan kami berdua. Hanya tinggal Gia yang belum tiba. Tak berapa lama akhirnya dia pun bergabung. Senyuman manisnya membuat kami yakin kini dia baik-baik saja.


Kami menikmati makan bersama seperti biasa. Kejadian kemarin sudah kami lupakan. Selesai makan, suami dan anak-anak duduk di ruang tengah sedangkan aku merapikan piring kotor. Aku segera bergabung setelah usai merapikan dapur. Aku ke kamar lebih dulu untuk mengambil tas dan ponselku. Kutatap ponselku dan melihat pesan dari kakakku tersayang.


Priyanka Pradipta Putria


Kami baik kak. Badai sudah berlalu, bagaimana kabar disana?


Mr. A


Kami pun baik. Zayyan histeris kemarin saat melihat berita di internet.


Priyanka Pradipta Putria


Sampaikan padanya kami sudah baik-baik saja. Begitupun dengan ketiga adiknya, dia tidak perlu merasa bersalah. Aku tahu histerisnya dia karena rasa bersalah tak ada disisi adiknya.


Mr. A


Aku rasa juga begitu. Nanti aku sampaikan pesanmu. Sedang apa mereka sekarang?


Priyanka Pradipta Putria


Sedang bersiap mau jalan-jalan kak. Kami mau menghibur Gia, kakak tahu sendiri bagaimana sensitifnya dia.


Mr. A


Have a fun. And I miss you. Salam buat mereka.


Priyanka Pradipta Putria


Baik nanti aku sampaikan. Salam juga buat Kak Sharma, Zayyan dan si cantik Vika, I miss you brother.


Aku membalas pesannya sambil menghampiri keluarga kecilku. Kami sudah siap berangkat ke daerah Bandung. Gia ingin ke salah satu tempat wisata di lembang.


***


jangan lupa like, comment, share dan votenya ya sayang-sayangnya aq..

__ADS_1


__ADS_2