
Haiii...
Apa kabar kalian??
Aku kangen banget sama kalian, tapi apalah dayaku yang hanya mampu membagi cerita ini gak seperti kemarin-kemarin.
Semoga aku bisa lekas memenuhi tugas aku dengan cerita di sini ya.
\*\*\*
"Kalian benar-benar tega buat mama kalian khawatir. Nggak sayang ya sama mama?" ujar Zeyden yang duduk di tepi meja berhadapan langsung dengan kwtiga putranya.
Zayyan, Gara dan Rakha hanya diam. Mereka tahu kesalahan fatal yang sudah membuat sang ratu bersedih dengan sikap mereka. Kakak beradik itu hanya saling memandang dengan pikiran masing-masing.
"Maaf," ujar ketiganya bersamaan membuat mereka tersenyum.
"Maafin Rakha ya Kak Zay, Rakha salah sudah memukul kakak. Jujur hati Rakha sakit lihat kakak terluka karena aku." jujur Rakha dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kakak salah, karena sudah tidak memperdulikan adik-adik kakak lagi. Maafin kakak ya!" sahut Zayyan dan memeluk kedua adiknya. Zeyden tersenyum melihat anak-anaknya kembali akur.
"Enak kayak gini dipandangnya adem. Coba tadi serem," Zeyden membuat ketiga anaknya tersenyum mendengar perkataan sang papa.
Keempat lelaki itu berakhir terlelap di sofa dengan saling berpelukan. Zeyden tidak kembali ke kasur karena masih was-was jika putranya kembali bertengkar. Walau dugaannya salah.
***
Pagi pun tiba, Aleta kaget tak mendapati sosok suaminya di kamar. Ia segera membersihkan diri dan mencari Zayyan. Sedangkan si kecil Amara kaget karena mendapati dirinya berada di kamar kakak perempuannya. Semua sudah menunggu Priyanka beserta suami juga ketiga anak lelakinya di restoran hotel.
Priyanka yang sudah rapi, menghampiri keempat lelaki dikehidupannya. Dia menghampiri sang suami untuk membangunkannya. Dia kecup kedua mata Zeyden dan tak lupa mencium keningnya. Seperti biasa lelaki tampan walau usia sudah tak lagi muda itu muli membuka mata. Saat melihat wanita cantik pujaannya ia segera bangun dan memeluk Priyanka.
Priyanka mendorong tubuh Zeyden untuk segera ke kamar mandi. Usai Zeyden menghilang di kamar mandi, wanita itu langsung membangunkan ketiga putranya dengan lembut.
"Kak Zay, Kak Gara, Kak Rakha, bangun yuk sudah siang. Kita ditunggu daddy dan yang lainnya loh. Jangan membuat mereka menunggu kelamaan ya. Tahu sendiri kalo Daddy kalian nggak suka orang terlambat." Priyanka membangunkan ketiganya dengan menciumi wajah anak-anaknya. Ia tidak pernah merasa jika putranya itu sudah dewasa, bagi seorang ibu, anaknya tetaplah anak-anak.
__ADS_1
Ketiganya menggeliat dan langsung membuka matanya saat mendengar kata 'Daddy'. Ya, Daddy kembar mereka itu paling nggak suka sama orang yang telat. Ketiganya langsung meninggalkan kamar sang mama tanpa pamit lebih dahulu. Mereka sangat takut akan hukuman sang daddy yang kadang suka aneh-aneh.
***
Kini semua telah siap melanjutkan perjalanan mereka. Menikmati kembali keindahan pantai kali ini pantai lengkuas menjadi pilihan mereka sebelum besok pulang ke Jakarta. Amara sudah kembali ceria dan memilih lebih dekat dengan kakak sulungnya. Rasa bersalah dalam diri Amara membuatnya enggan menjauh dari sang kakak.
Suara merdu dari Gia memberikan keseruan di dalam mobil yang mereka naiki. Lagu milik Widi Nugroho - Kamu Bisa Apa, menjadi pilih wanita cantik itu.
*Kamu bisa apa
Bila Tuhan mau kau menjadi milikku?
Kita bisa apa?
Berlari 'ku mengejar dirimu
Bermimpi 'tuk mendapatkan cintamu
Melihat kau begitu sempurna
Membuat kini 'ku makin terpikat
Oh, oh, kamu bisa apa
Bila Tuhan mau kau menjadi milikku?
Kamu bisa apa
Bila Tuhan ingin kau menjadi takdirku?
Kita bisa apa*?
Walau hanya sebentar karena dia lupa lirik tak membuat keseruan itu memudar. Priyanka yang masih bergelendotan di lengan sang suami. Sedangkan yang lain masih asyik bercengkrama. Sesekali Zeyden mengelus kepala sang isteri bahkan mencium puncak kepalanya.
__ADS_1
Amara yang masih dalam dekapan sang kakak tersenyum dan berkata "Maafin Ara ya Kak," Zayyan menoleh ke arah sang adik dan mengangguk disertai ciuman di kening gadis kecil itu cukup lama.
"Memang Ara salah apa sampai minta maaf?" Zayyan hanya ingin tahu adiknya itu paham sampai dimana akan kesalahannya.
"Hm, Ara nggak dengerin ucapan Kaka Zayyan juga Bunda Aleta! Kalian bilang tetap diam tapi Ara malah membantu adik kecil itu mengambil bolanya di air." ucapnya dengan wajah sendu membuat siapapun tak tega melihatnya.
"Kalo Kak Zay nggak mau memaafkan Ara gimana?" tanya Zayyan yang kembali ingin mengerjai sang adik.
"Ara akan..." ucapnya terpotong dan langsung menghujani wajah sang kakak dengan ciuma. tanpa henti yang membuat Zayyan geli. Ya, lelaki itu memang sangat sensitif jika diciumi wajahnya.
"Stop my little Princess, Kamu menang." teriak Zayyan ditengah tawanya.
Semua mata mengarah ke Zayyan dan kaget melihat sikap kesayangan mereka. Hanya tawa yang membuat suasana mobil itu hidup. Kini Rakha, Rangga, Gara juga Banyu ikut menggelitik pangeran tampan itu.
\\*
Waktu berlalu begitu cepat kini sudah saatnya mereka semua meninggalkan Belitung. Semua sudah berada di lobby untuk segera kembali ke Jakarta. Sesaat kemudian mobil yang akan mengantar mereka ke bandara tiba. Selama perjalanan hanya anak-anak kecil itu yang berceloteh. Terkadang mereka bertiga bernyanyi bersama dengan lagu barat.
Amara menyanyikan lagu Let it go. Fasih itulah yang keluar dari mulut kecil itu. Semua hanya mendengarkan nyanyian itu dengan syahdu. Suara Amara sangat merdu seperti milik Gia. Terbuai itulah kata yang tepat saat mereka mendengarkan suara indahnya. Gemuruh tepuk tangan menjadi hadiah untuk Amara diakhir lagu.
Pasangan suami isteri sedang bergelayutan manja. Tak ayal membuat para jomblo hanya meringis menahan kesedihan. Raut wajah Gara juga Rakha sudah kusut akibat melihat kemesraan para pasangan.
"Duh, nasib kita gini banget sih ya, Dek. Yang punya pasangan pada nggak sadar diri gitu kalo ada kita yang jomblo," ujar Gara kepada sang adik yang saling beradu kepala satu sama lainnya.
"Tahu nie pada jahat banget sih sama kita. Nggak ada yang ngertiin perasaan kaum jomblo!" Rakha setengah berteriak agar para pasangan itu melepas cengkramannya. Namun bukan melepas mereka saling mengeratkan.
"Kaka berisik tahu nggak sih!" teriak Amara dengan wajah marahnya yang tetap imut.
Semua tertawa saat kedua jomblo itu mendadak diam seribu bahasa. Ya, Amara kesal karena tidurnya terganggu oleh suara kakak-kakaknya.
***
Maafkan aku para readers tercintaku.. Karena banyak deadline sehingga novel ini terpaksa lama upnya. Maaf ya..
__ADS_1
Berat rasanya aku nggak up setiap hari kayak gini buat kalian. Semoga lekas bisa kembali aktif untuk up tiap hari ya kesayangan aku.
Tolong tetap dukung aku ya kesayangan.. Like, Komen, Share dan Vote..