Relung Langit

Relung Langit
Part 27


__ADS_3

Anyelir sudah duduk di restoran dekat rumah sakit Zeyden. Dia duduk di dekat taman dan menghadap ke pintu masuk. Seorang lelaki masuk ke dalam restoran dan mencari-cari orang yang ia cari. Anyelir melihat orang itu dan melambaikan tangan ke arahnya.


"Hai." sapa Anyelir sambil mengulurkan tangan.


"Hai, udah lama?" sahutnya sambil membalas uluran tangan Anyelir.


"Belum. Baik kita bahas sekarang ya." ujar Anyelir to the point.


"Tunggu, bukannya kita menunggu Priya dan Zeyden?" ujarnya sambil melihat sekeliling, ia mencari dua sosok itu.


"Nggak usah cari-cari mereka dan menunggu mereka. Karena mulai hari ini lo akan berurusan sama gue, bukan mereka." ujarnya to the point.


"Loh kan yang mau menikah mereka, kenapa lo yang ngatur?" tanyanya masih tidak terima dengan kenyataan.


"Tenang, gue udah tahu. Apa yang mereka mau. Dan satu hal yang pasti, gue nggak akan biarin lo deket-deket sama sohib gue." ujarnya ketus.


Wajah Gibran kecewa, karena ia harus berhubungan dengan Anyelir bukan aku. Dia ingin terus bertemu denganku. Tapi apa dayanya dia hanya mampu menjalankan takdir saat ini.


Drrt.. Drrtt.. Drtt..


"Halo.." ucap sahabatku.


"An, gue mau konsep resepsi gue ala bollywood ya. Terus penuh dengan bunga mawar dan lo harus kasih sesuatu yang spesial di acara gue itu." pintaku kepada Anyelir.


"Baik nyonya. Ad.." sahutnya yang terpotong akibat ponselnya direbut oleh Gibran.


"Kenapa kamu biarkan Anyelir yang handle? Kenapa kamu nggak langsung hubungi aku, untuk bilang apa yang kamu mau? Apa kamu menjauhiku?" rentetan pertanyaan yang tak mampu kujawab satu persatu.

__ADS_1


"Bran, nggak sopan lo, maen rampas ponsel gue aja. Sini balikin." emosi Anyelir dengan wajah kesalnya.


"Gue pinjem An. Biarin gue denger jawaban langsung dari Priya." ujarnya dengan ketus.


"Ya, jawab aku. Kenapa diam aja?" ujarnya dengan nada sedikit meninggi.


"Bran, kita sudah selesai. Selesai saat kamu tinggalin aku. Zey yang setuju dengan usulan Anyelir yang bantu kami handle acara. Aku sudah sepenuhnya milik Zey saat ini. Jangan dekati aku lagi ya Bran. Kamu cukup jadi masa laluku." ujarku dengan suara serak, aku menahan tangisku agar tidak pecah.


"Aku nggak peduli kamu sudah jadi milik Zey atau belum. Aku mau kamu. Hanya kamu Priyanka Putria yang akan selalu di hatiku. Aku tunggu kamu sampai kapanpun dan tetap mengejar kamu. Acara kamu akan aku buat seperti impian kamu yang hampir kita buat." jelasnya membuat aku sedikit takut dan akhirnya aku mematikan telepon itu.


Anyelir marah besar pada Gibran, tapi lelaki itu hanya menanggapinya dengan santai. Sahabatku tidak menyangka kalau lelaki itu kini sangat terobsesi padaku.


***


***Priyanka Putria


Kak, bisa pulang sekarang. Aku mau bicara penting.


Ada apa sayang? Tunggu aku ya. Ada satu pasien lagi, setelah itu aku akan pulang.


Priyanka Putria


Oke. Hati-hati ya Kak***.


Aku gelisah dan takut mendengar Gibran akan mengejar serta menungguku. Gibran sudah gila saat ini. Aku harus jujur ada suamiku saat ini, agar dia sedikit waspada pada lelaki yang sedang menghandle acara kami. Walau aku tahu, suamiku akan santai menghadapinya.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul 15.30. Sebuah mobil berwarna merah sudah terparkir di teras. Lelaki dengan jas putih di lengannya masuk kedalam rumah. Dia menyapa Bunda yang duduk di ruang keluarga dan berlalu menuju kamarku.

__ADS_1


Saat dia membuka pintu, aku ragu untuk menghampirinya. Tapi aku harus menyambutkan karena aku yang memintanya pulang cepat. Kucium punggung tangannya dan mengambil jas serta tas yang ia bawa. Aku berikan ia air putih dan membiarkannya duduk di sofa dengan jendela.


"Ada apa? Katanya ada hal penting yang mau kamu bicarakan?" tanyanya dengan suara sangat lembut.


"Hmm.. Aku mau minta maaf, selama ini aku mengacuhkanmu Kak." ujarku ragu dan duduk di sebelahnya.


"Kalau aku ada salah kamu harus tegur aku sayang. Jangan diemin aku kayak gini ya. Aku bingung jadinya." Ujarnya sambil menarikku duduk dipangkuannya.


"Kak, kenapa kakak waktu malam itu tega merebut mahkotaku tanpa ijin dariku? Aku belum siap kak. Kakak tahu itu kan?" ujarku menunduk malu.


"Sayang, kapan itu? Aku nggak tahu hal itu." ujarnya membuat aku kaget.


"Waktu kamu demam beberapa hari yang lalu dan saat aku pergi ketemu Anyelir." ucapku dengan wajah serius.


Suamiku terdiam dan seakan memikirkan sesuatu. Dia kemudian memelukku erat, kemudian menciumi diriku.


"Maaf sayang, aku benaran nggak tahu. Setelah makan malam bareng keluarga kita, aku merasa agak panas. Aku langsung ke kamar dan tidur. Aku nggak tahu lagi setelah itu." jelasnya padaku.


"Makan apa kamu bersama mereka. Makanan yang di masak Bunda, hanya saja aku meminum jus jeruk yang diberikan Bryan padaku, setelah itulah tepatnya aku merasa aneh." jelasnya sambil mengingat-ingat.


"Kak Bi. Keterlaluan kamu ikut campur urusanku. Aku kesel sama kamu." batinku kesal.


"Ya sudah Kak, kita lupakan ya. Disini bukan kesalahan Kak Zey atau aku. Hm.. Aku mau cerita sedikit tentang aku boleh." ujarku sambil berbalik menatap ke suamiku.


"Kak, ada seseorang dari masa laluku yang kini hadir lagi. Dulu dia sangat spesial di hatiku. Dia bilang akan mengejar dan menungguku kembali. Walau dia tahu aku sudah menjadi milikmu. Apa kamu akan menjagaku Kak?" ragu-ragu aku mengatakannya.


"Abian?" tanyanya dengan wajah datar.

__ADS_1


"Bukan. Abian yang kedua tapi dia tidak sespesial orang ini." ujarku dengan sangat jelas.


"Apa aku mengenalnya?" tanyanya dan aku menganggukkan kepala.


__ADS_2