Relung Langit

Relung Langit
Part 89


__ADS_3

Aku dan Anyelir berjalan menuju tempat ijab kabul. Kaki kami terus melangkah sampai di meja dimana sudah ada penghulu, ayahnya Anyelir, saksi dan kakakku tersayang. Kini aku membantu sahabatku duduk disebelah kakakku tersayang. Ya, proses ijab kabul telah dilaksanakan. Anyelir dan Kak Bryan dipertemukan untuk tanda tangan di beberapa berkas.


Setelah mereka selesai tanda tangan semua berkas. Kak Bryan menyematkan cincin di jari Anyelir begitu pun sebaliknya. Tak lupa selesai itu sahabatku menyium tangan kakakku. Disanalah air mataku mengalir tanpa bisa kubendung, aku mengaitkan tanganku ke tangan Zeyden yang sedang menggendong Zayyan. Tak lupa aku menaruh kepalaku di lengannya yang kuat.


Zeyden menoleh kearahku, lalu mengusap kepalaku dengan lembut. Aku mencari sosok Kak Aryan yang tak nampak kulihat sejak tiba di ballroom. Mataku terus berkelana mencari sosok itu. Makin sedih aku tak melihatnya, sampai tiba dimana sebuah tangan memeluk pinggangku.


"Kakak!" ucapku sedikit berteriak karena kaget saat menoleh ada kakak sulungku di samping.


"Kamu bahagia sayang?" tanyanya datar.


"Apa kakak bahagia?" tanyaku kembali sambil menangkup wajahnya.


"Sedikit. Aku iri sama adik-adikku!" serunya dengan wajah sangat sedih.


"Come on Kak! Kami selalu ada untukmu, kami bahagia jika kau bahagia." ucapku sambil menyatukan kening kami.

__ADS_1


"Hmm.. Aku bahagia sayang!" ujarnya sambil menghembuskan nafas berat lalu tersenyum kepadaku.


"Jangan bersedih lagi ya Kak! Kami selalu bersamamu." Zeyden ikut buka suara sambil menyodorkan putraku.


Ya, Zayyan adalah obat kebahagiaan buat kami semua. Kak Aryan kembali tersenyum saat menggendong Zayyan, seakan tanpa beban lagi. Aku melihat kearah pengantin, kini mereka sudah berada di pelaminan. Orang-orang sudah mengantri untuk bersalaman. Aku, Zryden dan Kak Aryan menghampiri pengantin saat MC memanggil keluarga inti dari pengantin pria.


Kami semua berfoto ria, sampai momen dimana kami bertiga meminta di foto hanya bertiga. Fotografermu mengiyakannya. Aku dan Kak Ryan berfoto dari foto normal sampai gila. Semua tamu undangan hanya tersenyum melihat keakraban kami bertiga.


"Oh si pengantin prianya kembar ya! Apa tidak salah orang itu ya pengantin perempuannya!" seru seorang ibu-ibu di belakangku saat aku mengambilkan buah-buahan untul Zeyden.


"Bu, maaf nih ya. Keduanya itu kakakku, dan kakak iparku sudah bisa membedakan mana suaminya mana iparnya. Jadi tolong banget nggak usah nyinyir di acara orang ya bu." celetukku membuat kedua ibu-ibu itu bengong dan tak dapat berkata-kata.


Aku yang meninggalkan mereka masih menggerutu kesal. Ternyata didunia ini masih ada orang-orang seperti mereka yang sangat sok tahu. Masih dalam keadaan menggerutu, bahuku ditahan oleh Zeyden.


"Kenapa menggerutu gitu Yang?" tanyanya bingung dan aku menceritakan semuanya tanpa ada yang kulewati.

__ADS_1


"Ya udah sabar ya sayangku! Mereka kan tidak tahu keadaan yang sebenarnya. Okey. Jangan manyun terus nanti cantiknya luntur." hibur suamiku membuatku malu dan langsung memeluknya.


"Ehem.. Milik berdua ya Mas, Mba!" ujar suara yang kukenal.


"Zahra!!!" seruku sambil memeluknya.


"Kapan datang sayang?" tanyaku langsung nyerocos.


"Dua hari yang lalu Kak. Maaf tidak memberitahumu, aku takut mengganggu kakak yang sedang mengurus acara ini." jelasnya ditelingaku dengan nada yang sangat pelan.


"Hai, Ra. Makin cantik aja!" sapa Kak Aryan sambil menggodanya.


"Hai Kak Ar. Bagaimana kabar kakak? Makasih loh sudah muji Zahra." ucap Zahra dengan senyuman manisnya.


"Jadi kakaknya sendiri tidak disapa nih. Jahat ya." rajuk Zeyden yang hanya fokus padaku dan Kak Aryan.

__ADS_1


"Sorry kakakku yang tampan. Aku tak melihatmu." sahutnya sambil memeluk Zeyden yang masih merajuk.


__ADS_2