
Akhirnya aku pasrah saat semua keluarga memintaku di bawa kerumah sakit. Kak Aryan beserta anak dan istrinya pun menunda kepergiannya sampai aku sembuh total. Kakak ipar dan suamiku langsung mengambil alih penangananku walau tetap ada satu dokter dari rumah sakit juga. Aku terlalu lemah untuk saat ini, anak-anakku pun khawatir akan kesehatanku. Disaatku sakit mereka bahagia sekaligus sedih. Ya, aku sedang mengandung lagi. Entah kehamilan kali ini tidak terdeteksi sama sekali bahkan tanda-tandanya pun tidak ada.
Mungkin anakku kali ini terlalu pemalu untuk menunjukkan kehadirannya. Hal itu diketahui saat aku mengatakan perutku kram dan langsung di usg. Saat itulah baru ketahuan bahwa aku sudah mengandung hampir sembilan minggu. Zeyden teramat bahagia, mendengar kabar ini. Calon bayiku tak banyak pintanya hanya saja dia enggan melihat wajah papanya. Aku memang selalu ingin dekat dengan Zeyden tapi tak ingin melihat wajahnya.
Aku malah lebih suka melihat wajah kedua kakakku tapi tak suka mereka memakai parfum. Aku dirawat di rumah sakit sampai kondisiku stabil. Mau sampai melahirkan pun tak maslah sebenernya, toh yang punya rumah sakit suamiku.
"Ya, kenapa sih kamu malah nggak mau lihat suami kamu? Malah lihat kakak kamu yang kembar itu." tanya Anyelir kepadaku.
"Entahlah. Aku hanya merasa mual setiap kali lihat wajah Kak Zey." sahutku dengan jujur.
Dua minggu sudah aku dirawat. Anak-anakku tinggal dirumah Ayah dan Bunda, aku tak tega bila orang tuaku harus merawat cucunya. Sudah tak layak menurutku, cukup sudah mereka mengasuh kami putra putrinya. Tapi apa mau dikata, mereka malah yang meminta.
Hari ini anak-anak berkumpul semua diruanganku. Celoteh mereka buat aku kangen suasana kebebasan alias hidup tanpa selang infus di tanganku. Itu semua terjadi karena aku tak bisa makan apapun seminggu belakangan ini, jadi makananku ya hanya dari infus itu.
"Ma, kapan pulang? Kakak kangen mama dirumah." seru putra sulungku dengan wajah sedihnya.
"Segera sayang. Emangnya kalian nggak takut kalo mama pulang, mama bisa marah-marah lagi loh!" seruku setengah menyelidik.
"Kakak lebih suka mama marah-marah daripada diam seperti ini." sahutnya dengan mata berkaca-kaca.
"Ya Allah sungguh lembut hati putraku. Aku jadi ingin cepat sembuh. Sayang jangan buat mama lemah ya nak. Lihat Kakak kamu mau kita dirumah." batinku sambil mengelus perutku yang masih rata.
Semua tersenyum melihat penuturan Zayyan. Sikap polosnya selalu buat kami gemas. Ayah meminta Kak Aryan tetap tinggal di Indonesia, dan menyuruh Zoan yang menghandle perusahaan di luar negeri.
***
Waktu terus berjalan tanpa henti tak terasa kini aku telah memiliki empat orang anak. Dan si bontot adalah anak laki-laki. Tapi entah bagaimana caranya, si bungsuku ini malah jadi sorotan publik. Kehadiran si bungsu malah diketahui banyak orang setelah hampir tujuh tahun kehadiran anak-anak tak diketahui publik.
Ya hanya Rakha Thamrin Pradipta yang diketahui publik sebagai satu-satunya putraku. Saat kehadirannya banyak gosip yang berhembus, tapi tak satu pun kebenaran ada disana. Ayah terpaksa melakukan konferensi pers karena kesal dengan gosip murahan terhadapku. Tanpa sedikitpun menyinggung cucunya yang lain.
__ADS_1
Setelah konferensi itu, Ayah lega karena namaku tidak buruk di mata publik. Padahal aku dan Zeyden tak peduli akan hal itu. Asal anak-anak bahagia, aman itu cukup bagiku. Aku memilih tinggal di sebuah desa kini. Jauh dari hiruk piruk kota yang makin membuat anak-anak menjadi bebas dalam pergaulan. Kami sudah berpencar kini, aku di desa, Kak Aryan ke London dan Kak Bryan tetap menemani Ayah Bunda di Jakarta.
Disini Zeyden pun membangun sebuah rumah sakit. Dia sesekali turun langsung menerima pasien. Sedangkan aku sibuk dengan usaha agrobisnis. Anak-anakku juga lebih bahagia tinggal di desa karena disini bahasanya belum terkontaminasi oleh kata-kata yang tak sopan.
***
Beberapa tahun kemudian. Kini Zayyan sudah berusia 18 tahun, dia hendak melanjutkan kuliahnya. Dan dia sudah merengek menagih janji sang papa.
"Pa, Kakak mau nagih janji papa!" serunya sambil bergelayutan di lengan sang papa yang masih sibuk dengan laptopnya.
"Janji yang mana ya Kak?" sahut Zeyden usil membuat anak sulungnya kesal.
"Papa ingkar janji sama Kakak. Kakak tidak suka papa lagi." gerutunya sambil meninggalkan sang papa.
"Kak!" teriak Zeyden saat Zayyan sudah mulai menjauh darinya.
"Dia menagih janji tinggal bareng sama Kak Ar. Padahal aku sedang urus semuanya, dan Kak Ar pun sedang mengurus universitas terbaik disana. Cuma si Kakak nggak sabaran." jelas Zeyden sambil menarik tanganku untuk duduk di sebelahnya.
"Kenapa nggak dijelasin aja sih? Kamu kan tahu anakmu itu kalo ngambek sama kamu kayak apa?" ingatku kepada suamiku.
"Kejutan dong sayang, biarkan dia ngambek, asal dia bisa bahagia kedepannya!" seru Zeyden sambil mengusap kepalaku.
Setelah membahas Zayyan dan anak-anak, kami membahas pekerjaan masing-masing. Zeyden yang aku tahu banyak fansnya disini dan hal itu membuat aku jengah. Walau sudah punya empat buntut, wajah suamiku tak pernah terkikis usia masih tampan.
Malam pun tiba, saat makan malam Zayyan masih menekuk wajahnya. Adik-adiknya merasa kebingungan dengan kakak sulungnya dan aku tidak suka jika di meja makan ada yabg berwajah murung.
"Kak, tahu kalo mama paling nggak suka wajah itu disini. Bisa tolong mama kan!" seruku tak ingin dibantahkan.
"Kak, jangan murung. Mama sudah kesal itu, jangan buat mama marah Kak. Plis!!" mohon Anggia sambil menggoyang-goyangkan tangan kakaknya.
__ADS_1
Zayyan dengan wajah terpaksa kini sudah sedikit tersenyum. Aku lega melihatnya. Zayyanku yang manis masih tak berubah, aku akan merindukannya bila dia tinggal bersama kakakku.
"Selesai makan, semua kumpul di ruang kerja papa ya, mama mau bicara!" tegasku.
"Okey Ma." sahut semuanya serentak.
Akhirnya kamipun selesai makan malam. semua kini sudah berkumpul di ruang kerja suamiku tersayang. Kini wajahku sangat kecut, walau itu hanya akting.
"Kakak, kenapa tadi murung?" tanyaku tegas.
"Papa ingkar janji. Aku tidak suka Ma." sahutnya dengan nada tinggi.
"Apa mama mengajarkan kamu berbicara dengan nada tinggi kepada orang tua?" tanyaku dengan sedikit kesal.
"Maaf ma." lirihnya sambil tertunduk.
"Dengarkan Mama. Kami berdua tidak akan pernah ingkar janji pada kalian. Hanya waktu yang belum pas, jadi bersabarlah. Kalian paham!" ucapku dengan menatap anak-anakku penuh kasih dan mereka mengangguk tanpa mengangkat kepalanya.
"Kak, sini duduk disamping papa. Papa mau kasih lihat kamu sesuatu. Setelah itu kamu boleh tidak suka sama papa." ucap Zeyden sambil menunjuk ke arah laptopnya dan Zayyan mulai melangkah mendekati.
"Pa, Maaf ya. Aku sudah berkata tidak baik sama papa." lirihnya sambil memeluk Zeyden dan suamiku hanya menepuk pundak Zayyan dengan lembut.
"Sudah, jagoan papa tidak boleh menangis. Coba Kakak lihat ke laptop sekarang." ujarnya dengan penuh kelembutan.
"Pa, ini.." ujarnya terputus langsung memeluk Zeyden erat.
"Iya sayang itu buat Kakak. Kakak janji harus nurut sama Daddy dan Mommy disana ya! Gapai impianmu, buat bangga kami semua dan jangan macem-macem disana ya!" ujar Zeyden sambil menangkup wajah anaknya.
Karena rasa penasaran ketiga anakku yang lain langsung menghampiri sang ayah dan kakaknya. Tidak lupa mereka pun memeluk keduanya setelah melihat laptop yang membuat kakaknya menangis.
__ADS_1