
Oek.. Oek..
Suara bayi memecah keheningan di dalam ruangan operasi. Sulit dipercaya bayi yang sudhbtak berdetak jantungnya bisa menangis. Perlahan mata sang bayi terbuka dan gerakan-gerakan kecil membuat Zeyden yakin putranya kembali. Langsung ia mengadzani anak laki-lakinya itu dengan air mata haru.
Semua yang ada diruangan itu saling lempar pandangan tak percaya. Serta mereka semua mengucapkan syukur dan bahagia melihat senyum diwajah Zeyden. Putra kami harus di rawat di ruang intensif, dengan berat hati Zeyden melepaskan putra kami.
Kuasa Allah begitu besar, semua hal negatif yang tadi sempat hadir kini semua hilang. Bayiku normal, Zeyden bahagia namun tetap bersedih karena aku masih terlelap dalam tidurku. Zeyden tanpa lelah menemaniku dan selalu membisikkan kata-kata indah.
"Sayang, bangun dong. Anak kita nungguin kamu tuh. Aku juga kangen kamu." bisiknya setiap hari dan setiap jam.
***
Aku tersadar disaat putraku sedang menangis diruanganku. Hari ini sengaja Zeyden membawa putraku dan menaruhnya didadaku. Saat putraku menangis jemariku mulai bergerak, perlahan mataku terbuka.
Air mata menetes kala melihat malaikat kecil sedang tengkurap di dadaku. Zeyden yang belum sadar aku siuman masih berbicara romantis agar aku bangun.
"Kamu jahat Kak, anakku dibuat nangis." ucapku pelan dan mulai menggerakkan tanganku memeluk anakku.
Saat Zeyden sadar aku telah membuka mata dia langsung mengecup keningku. Seketika dia langsung mengecek nadiku dengan tangannya. Zeyden menitikkan air mata dan memeluk kami.
__ADS_1
"Yang, cukup selalu buat aku khawatir. Kini udah ada baby boy kita, jangan tinggalin kami ya!" serunya sambil mengecup punggung tanganku.
"Maafin aku ya sayang tidak bisa menjagamu dengan baik. Tapi aku janji mulai hari ini tak akan membuat kalian sedih dan terluka lagi selama aku disamping kalian." ucapnya dengan penuh cinta dimatanya.
"Kak Zey sayang. Aku yang seharusnya minta maaf sudah membuat kakak selalu cemas dan menangis. Maafin aku, bisakah kita mulai semua dari awal bersama putra kita?" ucapku pelan dan Zeyden menganggukkan kepalanya.
"Kak siapa nama putra kita ini?" tanyaku yang memang belum mempersiapkan nama untuk anak kami.
"Kamu maunya siapa?" tanyanya kembali membuat aku mengangkat bahu.
"Hmm.. Kalo Zayan Mahendra bagaimana sayang?" tanya Zeyden membuat aku menganggukkan kepala.
***
Aku sudah boleh pulang. Kini kami tidak lagi tinggal di Bandung. Zeyden memilih tinggal dekat dengan orang tua kami. Dia ingin ada yang menemaniku saat dia kerja. Aku kembali kerumah Ayah yang dekat dengan perkampungan.
Aku yang meminta disana, Zeyden sebenarnya sudah membeli rumah yang tidak jauh berbeda dari rumah orang tua kami. Justru itu aku tidak betah, aku hanya mau rumah tanpa tingkat dan halaman yang cukup luas. Aku suka yang sederhana.
"Kak, aku mau minta ijin sama kamu. Aku harap kamu setuju dan mengijinkan." pintaku saat kami sedang duduk di gazebo halaman belakang bersama baby Zayan.
__ADS_1
"Apa itu sayang?" tanyanya sambil memelukku dari belakang dan mengecup keningku.
"Apa aku boleh berdandan sederhana diluar, dan hanya di rumah saat bersama kamu dan Zayan aku berdandan?" ujarku sambil mengelus pipi gembil putraku.
"Boleh sayang. Aku lebih suka kamu tampil sederhana dan menjadi dirimu sendiri tanpa harus dibuat-buat. Lakukan apapun senyaman kamu." ujarnya sambil mengambil Zayan dari gendonganku.
"Makasih sayang. Kamu adalah lelaki terbaik yang Allah kirim buat kami." ujarku sambil memeluk kedua lelakiku.
******
Notes :
Maaf ya gaes, kalo aku jarang apdet. Karena lagi sibuk banget nih. Dan maaf sama ceritanya yang kebanyakan konflik. Sengaja? Hmm.. pengen bikin kalian kesel aja bacanya.. Eh, enggak sih.. Tenang nanti aku kasih yang romantisnya deh..
Jangan kesel sama Priyanka ya!! Jangan kesel juga sama Zeyden..
Cung siapa yang disini kesel sama mereka berdua.. Semoga Aku bisa bikin romantis mereka berdua ya..
Makasih buat komen-komennya, i love you..
__ADS_1