
Maafin Author ya kalo banyak typo dan kesalahan dalam penulisannya..
Betewe end de baswey..
Kesayangan aku semuanya.
Sudah siap-siap lanjut ceritanya nggak??
Ready...
***
"Kami belum ngapa-ngapain kok. Nanti nunggu waktu pas, karena aku juga kan baru kedatangan tamu bulanan usai acara resepsi semalem." jelas Gia dengan polosnya.
"Polos bener si Gia ini. Nggak perlu diceritain detailnya kali." ucap Devika membuat semua tertawa.
"Kak Zayyan maaf ya akan kejadian semalem!" seru Rohan dengan wajah memelasnya.
"Nggak ada yang perlu dimaafkan. Sekarang buka lembaran baru ya!" seru Zayyan sambil menepuk pundak sang ipar.
Suasana kebahagiaan dan keceriaan tampak indah dari generasi kedua keluarga Pradipta. Siapapun yang melihat mereka akan merasakan kehangatan. Tak lihat jarak mereka sangat kompak dan menyayangi tulus. Canda tawa terlempar dari anak-anak itu saat mengisi perut mereka di pagi hari.
Pasangan pengantin baru itulah yang membuat mereka semua senang meledeknya. Kepolosan Gia kadang membuat kakak, sepupu dan adiknya gemas. Rohan yang baru bergabung dengan keluarga itu pun merasa tak ada perbedaan orang lain dengan mereka yang sedarah.
"Nggak nyangka keluarga hebat nan kaya raya yang terlihat sosok dingin nan angkuh, nyatanya sosok hangat dan lembut. Nggak pernah bisa mendapatkan kehangatan seperti ini dari siapapun." batin Rohan melihat guyonan yang dilempar para saudara barunya itu.
"Ro, kamu kan udah sebulan hidup bareng sama Gia. Udah tahu belum kelemahannya?" tanya Devika yang yakin sang ipar belum mengetahui apapun.
"Hanya tahu dia tidak bisa tidur tanpa aku disampingnya!" sahut Gia dengan wajah memerah menahan malu.
"Aish, manjanya masih toh!" timpal Zayyan dan Gara bersamaan sambil menggelengkan kepalanya.
"Mau tahu nggak kemarin malam itu kan, Kak Gia ngamuk nggak jelas. Sampai Kak Rohan di usir dari kamarnya, eh malah Rakha juga kena getahnya ikut diusir dari kamar sendiri." jelas Rakha dengan mimik wajah dibuat sedih.
"Ulu ulu, adeku yang bontot diusir! Kita hukum yang ngusir gimana?" tanya Arjuna buka suara sambil memeluk Rakha dan mengelus kepalanya.
"Ih, ember banget sih, De." gerutu Gia sambil pura-pura mencubit lengan Rakha.
"Auw, sakit Kak Gia." Rakha mengaduh dengan pura-pura kesakitan.
"Ish, lebay deh. Orang nggak sampe dicubit juga." kesal Gia dikerjain sama adiknya itu.
"Bentar-bentar. Kalo kamu diusir dari kamar kamu, kamu tidur di kamar pengantin dong, De?" ucap Gara penasaran dengan tatapan menyelidik.
"Ya, nggaklah. Ngapain Ade tidur disana, kalo nanti bakal diusir lagi." ucap Rakha dengan jujur.
"Jadi kamu tidur dimana?" selidik Gara makin menjadi-jadi.
"Paling juga sofa, Ra." timpal Devika ekspresi muka santai.
"Nggak mungkin seorang perpeksionis macam anak ini mau tidur disana!" ucap Arjuna menimpali karena jangan harap Rakha mau tidur disofa yang bisa buat badannya sakit-sakit.
"Kamar tamu dia mah pasti!" seru Gia asal nebak tak pikir panjang.
"De, jangan bilang Kamu tidur disalah satu kamar kita?" tuduh Zayyan dengan seketika raut wajah Rakha berubah sendu.
"Aish, bener ini mah. Dia nggak mungkin tidur di kamar Kak Zayyan. Bisa dimarahi Mama, udah pasti ini mah dia tidur di kamar Gara." ucap Gara dengan nada kesal yang dibuat-buat.
Raut wajah Rakha seketika pucat, padahal sang kakak tidak masalah. Ia tahu adiknya tidak akan macam-macam dikamarnya. Hanya tidur dan tidak mengeledah kamarnya. Rakha bukan anak yang kepengen tahu segala hal tentang kakaknya itu. Zeyden selalu mengajarkan tetap menjaga privasi keluarganya dan tidak boleh berantem satu sama lain.
"Maaf!" lirihnya ketakutan karena lancang memasuki kamar sang kakak tanpa ijin.
"Haha. De, kamu pikir kakak akan marah? Ya nggaklah, masa kakak biarin ade kakak yang ganteng ini tidur di sofa." ucap Gara dengan diiringi tawa yang lainnya, Rakha sudah bisa menormalkan mimik wajahnya saat sang kakak mengatakan tidak keberatan. Sedangkan Rohan masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Usai sarapan mereka masih tetap berada di ruangan itu untuk mengisi waktu mereka mengadakan permainan. Tak lama para orang tua pun ikut bergabung dengan anak-anak yang bahagia diiringi canda tawanya.
Karena para orang tua sudah bergabung dengan mereka, mau tidak mau pindah mencari meja yang pas buat menampung mereka semua. Usai mendapati meja yang bisa menampung semuanya, agar bisa menambah kehangatan keluarga itu.
"Ya, nggak nyangka ya. Kalo little princess kita udah jadi nyonya sekarang. Siap-siap jadi kakek nenek nih kita!" ucap Kak Aryan menggoda Gia dengan sindiran melaluiku.
"Bi, sih nggak mau ah dipanggil kakek atau opa dan sebagainya!" serunya membuat yang ada di meja itu mengerutkan dahinya.
"Terus kalo Daddy Bi, nggak mau dipanggil itu, mau dipanggil apa?" celetuk Devika yang cerewet melebihi Gia.
"Bryan Bhai. Gimana?" sahut Kak Bryan dengan memainkan alisnya.
"No!!" teriak orang di meja itu kompak dan membuat Bryan menutup telinganya.
__ADS_1
"Aish, ngefans banget kalian sampai meneriaki diriku seperti itu" ucap Kak Bryan mulai dengan narsis yang dibuat-buat.
"Kak Bi, sumpah ya, Iya jijik lihat sikap kakak barusan." ujarku dengan memainkan kedua bahuku.
Sontak semua tertawa mendengar percakapan kami berdua. Aku dan kedua kakakku itu bebas dalam melakukan apapun dalam batas yang wajar. Candaan sudah biasa kami isi dalam keseharian.
"Aish, kamu sama kakak juga masih gantengan kakak, Bi. Kamu mah jauh dibawah kakak!" seru Kak Aryan dengan pedenya membanggakan dirinya.
"Tunggu, kalian itu wajah, sikap tuh sama. Jadi nggak ada bedanya. Juna, Gara, Zayyan, Rohan dan Rakha tuh yang ganteng mah. Kalian berdua mah nggak!" celetuk Anyelir membuat keduanya terbelalak.
"Aish ade ipar macam ini nih yang minta di kasih duit buat shopping-shopping!" guyonannya membuat Kak Sharma melotot.
"Mana sini Kak Ar, Anye nggak sabar buat shopping sama kaum wanita disini." timpalnya dan diangguki oleh para wanita.
"Emang enak dipalak sama ade iparnya!" seru anak dan isteri Kak Aryan kompak secara otomatis membuat yang lain tertawa sedangkan terdakwanya hanya garuk-garuk tengkuk lehernya.
"Jangan macem-macem sama wanita Kak Ar. Perkataan mereka mutlak wajib di turuti." timpal Zeyden dan membuat kakak sulungku mendengus kesal.
"Oke-oke. Kita liburan ke Bali sebagai hadiah buat kalian semua. Sore ini kita berangkat!" seru Kak Aryan yang memang sudah punya seribu akal untuk memberikan keluarganya kebahagiaan.
"Yeah!" sorak semuanya senang.
Mereka semua pun kembali ke kamar dan siap untuk kembali kerumah. Bersiap menyiapkan liburan ke Bali sesuai dengan intruksi Kak Aryan. Cinta yang diberikan kedua kakakku tak tergerus waktu dan perbedaan.
***
Keesokkan harinya di Bali. Kami semua sudah berada di resort dekat dengan pantai. Anak-anak bermain di pinggir pantai bermain kejar-kejaran. Bahagia melihat mereka tersenyum seperti itu. Sayang aku tak mendapat ijin bergabung dengan mereka. Suamiku ingin menikmati masa pacaran lagi katanya.
"Awas ya kamu kalo pergi gabung sama anak-anak. Aku mau kita honeymoon lagi!" celetuknya membuat aku hanya tepuk kening.
"Ish, udah kayak anak abegeh aja!" ledekku dengan sedikit menghindarinya yang dari bangun tidur sudah menahanku.
"Ye, aku kan emang masih muda. Mana ada yang tahu kalo aku ayah empat orang anak. Masih banyak kok yang mengejar-ngejar aku." cerocosnya membuat aku kesal.
"Gini aja ya Bapak Zeyden yang terhormat. Anda silakan cari yang mengejar-ngejar anda itu dan aku mencari yang baru disini? Atau kembali pada.." ucapku langsung menutup mulut hampir keceplosan menyebut nama mantanku.
"Gibran!" serunya dengan sorot mata penuh cemburu.
"Mungkin. Kan mantan aku bukan cuma dia, ada Abian juga." seruku dengan nada kesal.
"Kamu cemburu aku bilang dikejar-kejar para wanita?" tanya Zeyden menarik tubuhku kedalam pelukannya.
Aku berhasil keluar dari kungkungan Zeyden dan bergegas meninggalkan kamar. Tak lupa dompet juga ponselku bawa. Masa bodo dengan suamiku yang bikin kesel dan merusak mood di masa-masa liburan. Aku pergi untuk mengembalikan mood yang sudah rusak, lagi pula Zeyden aneh. Mana ada isteri yang tidak cemburu dengan perkataannya tadi.
Aku jalan-jalan seorang diri dengan memesan taksi untuk mengantar keliling bali. Sedih memang harus melakukan ini sendirian. Siapa suruh Zeyden membuat kesal. Akhirnya aku diantar ke monkey forest Ubud.
Monkey Forest Ubud adalah salah satu daya tariknya dapat berinteraksi dengan kera ekor panjang. Warga setempat menganggap jika kera-kera tersebut adalah keramat yang tidak boleh diganggu. Lagi pula suasana alamnya yang sangat sejuk cocok untuk refreshing sejenak.
Asyik aku menikmati di monkey forest sampai tak terasa sudah jam makan siang. Aku keluar dari tempat itu dan mencari rumah makan, perutku sudah bernyanyi.
Aku masuk ke salah satu rumah makan, bangku yang dekat jendelalah pilihanku. Pelayan menghampiriku dan menanyakan makanan yang akan aku makan. Hanya lima belas menit aku menunggu makanan. Saat aku sedang makan ada seseorang yang menghampiriku.
"Permisi, boleh gabung di sini!" seru seseorang yang sedang berdiri di samping mejaku.
"Silakan." jawabku tanpa menoleh ke sumber suara dan dia duduk tepat di hadapanku.
"Apa kabar?" ujarnya dengan suara ngebas khas lelaki yang sangat familiar di telingaku.
"Ba..ik." seruku tergagap saat melihat sosok di depanku.
"Lama nggak ketemu ya, Ya." ujarnya dengan lembut.
"Hm. Kamu apa kabar? Sedang apa di sini?" ucapku dengan ekspresi wajah super kaget.
"Aku baik. Lagi inspeksi ke tempat ini. Gimana keluargamu?" sahutnya dengan menunjuk resto ini.
"Baik. Ini restomu?" tanyaku dengan wajah tak percaya.
"Iya. Makanlah dulu, nanti temani aku keliling Bali boleh?" ucapnya dan aku menganggukinya.
***
Di resort Zeyden panik mencariku tak kunjung ketemu. Dihubungi pun selalu mailbox. Keluargaku pun marah ada Zeyden, begitu juga anak-anak. Panik jelas pastinya, anak mana yang tak kaget jika saat kembali ke penginapan ibu mereka tidak ada.
"Zey, come on. Kamu tuh bikin, Iya kabur mulu deh. Udah tua juga bukannya akur-akur malah berantem nggak karuan." cerocos Kak Bryan kesal sama adik iparnya.
"Dad, ini Mama posting foto sama pria. Aku nggk kenal siapa dia!" celetuk Rakha dengan polos sambil menunjukkan sosial media sang mama.
__ADS_1
"Abian!" gumam Kak Bryan dengan nada makin kesal.
"Siapa?" tanya Kak Aryan langsung merebut ponsel Rakha dan tak lagi mampu menahan khawatirnya.
Kak Aryan pergi membawa ponsel si bungsu dan diikuti kembarannya. Wajah mereka penuh amarah saat teringat kejadian yang lalu. Bryan berusaha menenangkan kakaknya. Di tempat lain Zeyden langsung membuka sosial mediaku dan sangat terkejut dia saat melihat aku foto berdua dengan mantanku.
"Dia lagi yang muncul." geram Zeyden dengan wajah merah menahan amarah.
"Zay, kita cari mama. Yang lain stay disini, pastikan ponsel kalian aktif." ujar Zeyden sambil menarik tangan Zayyan.
Mereka langsung menyewa mobil dari resort. Mencari aku di lokasi setengah jam yang lalu berada. Kedua kakak, anak dan suamiku terus mengitari lokasi itu. Memasuki restoran yang kusinggahi tadi dan menanyakan lelaki yang ada di foto pada salah satu karyawan. Dia menjawab lelaki itu pemilik resto ini, dan sedang kunjungan ke outlet yang lainnya.
Mereka meminta alamat dan langsung menuju tempat itu. Waktu terus berjalan hingga tak terasa senja pun singgah ke bumi. Aku yang dari tadi menemani Abian keliling outletnya seharian, kini menginginkan kembali ke resort. Sesampainya di resort kedua kakak ipar dan anak-anak panik. Aku hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada Abian serta mengenalkan pada anak-anak.
Abian pun pamit undur diri dan aku menuju kamar Devika. Disana aku menceritakan kemana saja aku pergi.
"Jangan ada yang beri tahu Zeyden kalo aku ada di kamar Devika. Biarin dia pusing sendirian, bukannya gampang buat dia dapet penggantiku." kesalku setiap ingat perkataan suamiku.
"Tapi, Ma." ucap Gia yang tak bisa berbohong pada sang papa.
"Mama, mohon sayang!" pintaku memelas dan mereka semua menganggukinya.
"Ya, nggak balikan lagi sama dia kan?" tanya Anyelir setengah menyelidik sampai menggenggam tanganku.
"Siapa memang Om Abian, Mom?" tanya ketiga anakku kompak.
"Dia masa lalu mama, sama seperti Om Gibran!" seruku dengan santainya dan mereka semua melongo tak percaya.
"Tenang, An. Tidak akan, tadi dia hanya mau menyelesaikan masa lalu dengan meminta maaf. Walau dia bilang masih belum bisa melupakan cintanya buat aku. Tapi Zeyden masih dihatiku." tuturku mendapat pelukan dari anak-anak.
"Kalo buat memberi pelajaran ke Papa, baiklah aku setuju. Siapa suruh Papa bikin Mama sedih." celetuk Rakha yang tak suka bila aku sedih, siapapun yang buat aku sedih.
"Jangan sebel sama papa. Dia lagi iseng aja tadi." ucapku dengan mengelus kepalanya.Kami menikmati kebersamaan ini walau tanpa empat orang lelaki yang kusayangi. Tiba-tiba sebuah pesan masuk kedalam ponselku.
+628138790xxxx
Ya, ini Bian. Tadi aku sudah suruh anak buahku mengirim makan malam buatmu dan keluarga. Tunggulah di depan resort sebentar lagi akan tiba.
Priyanka
Aish, ngerepotin aja sih Bi. Tapi thanks loh kata anak-anak.
Abian
Sama-sama. Salam buat mereka dan suamimu ya.
Priyanka
Insya Allah nanti aku sampaikan.
Aku langsung meminta tolong Rohan mengambil makanan di resepsionis. Ia pun menyanggupinya. Selama menantuku mengambil makanan, aku yang masih khawatir pada kakak dan anakku langsung meminta kedua isterinya menghubungi kakak kembarku. Sedangkan Gara kuminta menghubungi Zayyan.
***
"Ma, dimana?" tanya Zayyan dalam hatinya.
Ponsel Zayyan pun berdering. Ia malas mengangkat, namun tetap diangkatnya. Ia takut sang adik memberi informasi tentang mama mereka.
"Hm, ada info apa?" dengan nada malas dan wajah datar Zayyan mengangkat panggilan itu.
"Jangan rubah suara dan ekspresi kakak. Buat papa kesal ya, perintah ibunda ratu kita." seru Gara dengan yakin sang papa tidak tahu, karena Zayyan selalu pakai ear phone kalau sedang menyetir.
"Oke. See you." ucap Zayyan tak mengubah suara maupun ekspresinya.
"Kenapa?" tanya Zeyden penasaran.
"Tidak, Pa. Gara hanya mengatakan jangan lupa makan walau panik mencari mama." bohong Zayyan pada sang papa.
"Hm, ada apa ya, sampai Gara nyuruh bikin papa kesal. Jangan-jangan mama sudah sama mereka lagi." batin Zayyan dan melengkungkan senyum sumringah.
Zeyden masih lihat kiri kanan mencari keberadaanku. Wajahnya sudah lesu dan kesal karena tak menemukan diriku. Penyesalan pasti ada, bukan Zeyden jika tidak sedih membuat aku kesal. Kedua kakakku sudah kembali usai ditelepon para isterinya.
Ya, mereka memang langsung menyidangku pastinya. Tapi aku jelaskan semuanya hingga mereka mengerti dan tak marah lagi.
***
Hai kesayanganku, sudah aku panjangin..
__ADS_1
Jadi jangan lupa jempol, share, komen dan vote sebanyak-banyaknya.
Maaf jika part kali ini bikin kalian kesel. Tapi tenang next kita hepi² lagi ya.. Mungkin sih lebih tepatnya. hehehe..