
Senyuman putra putriku sangat merekah seakan kebahagiaan mereka tiada habisnya. Melihat senyuman mereka membuat aku dan Zeyden ikut tersenyum. Masuk kedalam mobil tak lupa mereka mengucapkan salam pada kami berdua. Mereka tidak tahu sama sekali bahwa hari ini aku akan mengajak mereka semua kembali ke kota Jakarta untuk persiapan lusa Zayyan pergi. Mobil kami melaju menuju sekolah Rakha, didalam perjalanan ketiga anakku tak hentinya mengoceh tentang sekolahnya, aku hanya tersenyum melihatnya. Tak berapa lama kami sampai di sekolah Rakha, namun si bungsu belum terlihat. Aku memilih turun dari mobil dan mencarinya ke dalam sekolah. Langkahku terhenti saat seorang anak laki-laki berlari kearah gerbang sekolah
"Happy birthday Ma. I love you and wish you all the best Ma. Terima kasih selama ini sudah menjadi Mama terbaik untukku. Hari ini Rakha mau jadi assisten mama, dan mama tidk boleh menolaknya." cerocos Rakha tanpa henti dan membuat air mataku jatuh membasahi pipiku. Rakha juga tak lupa memberikanku sebuah buket bunga mawar dengan warna-warna cantiknya, karena rasa haru aku memeluknya dan tak henti menciumi wajahnya.
"Ma, apa hanya Dede Rakha yang mendapatkannya? Kami tidak!" protes Gara dari balik kaca mobil di bangku penumpang dan aku hanya tersenyum saat menoleh.
"Sayang hayo pulang. Sudah sore!" titah Zeyden, aku dan Rakha akan masuk mobil namun dihentikan oleh Rakha.
"Abang, abang depan dong sama papa. Dede mau sama mama hari ini." pintanya pada Anggara, ya Rakha tak akan mau meminta sesuatu dari kakak sulungnya dia amat menyeganinya.
__ADS_1
"Baiklah. Tapi kenapa selalu aku sih De yang kamu ganggu, kenapa nggak Kak Zayyan?" ucap Anggara sambil pindah ke bangku depan.
"Nggak apa-apa. Kalo Abangkan tidak disayang Mama jadi aku bebas mengganggu Abang." sahut Rakha meledek kakak keduanya.
"Dede, tidak baik bicara begitu sama Abang! Kami berdua menyayangi kalian sama besarnya kok." ucap Zeyden dengan lembut dan diangguki oleh semuanya. Aku serta si bungsu kini sudah di mobil.
Si bungsu dan si cantikku hari ini bergelayutan di lenganku dengan kemanjaannya. Aku harap ini bukanlah akhir dari kebahagiaan keluarga kecilku. Tiba-tiba ponselku berdering panggilan video. Segera kuangkat dan disana terpampang wajah kakak keduaku.
"Hai Kak Bi!" sahutku dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Daddy..." teriak semua anakku serempak.
"Dad, hari ini mama hanya akan jadi ratuku. Jadi tidak bisa ada yang boleh menggambil cinta mamaku." cerocos Rakha tak suka jika Kak Bryan memanggilku my princess.
"Maafin Daddy, my prince. Kapan kalian berangkat ke Jakarta?" ucap Kak Bryan yang bocor akan kedatangan kami semua. Anak-anak menatapku meminta jawaban.
"Kak Bi, ember bener deh ah." teriak Zeyden mengungkapkan kekesalannya.
"Eh, sorry Zey. Nggak tahu kalo buat suprise." ucap Kak Bryan dengan tampang memelas.
__ADS_1
Tanpa ucapan salam segera kuakhiri sambungan teleponnya. Kulihat wajah Zeyden sudah bete berbeda dengan anak-anak yang tampak senang. Aku tahu, Zeyden selalu berusaha membahagiakan keluarga kami walau dengan hal-hal kecil. Dia lelaki yang romantis untuk keluarganya dan itu menurun pada anak bungsuku. Zeyden berusaha kembali menormalkan emosinya. Aku hanya tersenyum melihatnya. Tak berapa lama kami semua sudah sampai dirumah. Aku langsung meminta semuanya mandi dan bersiap untuk berangkat sore ini juga ke Jakarta.