Relung Langit

Relung Langit
Part 76


__ADS_3

Aku menyerahkan Zayyan ke Zeyden, kemudian berlari ke arah Kak Bryan dan memeluknya. Sakit hatiku melihat orang terkasih menangis seperti itu. Tanpa sadar aku menciumi seluruh wajahnya. Air mataku ikut menetes tanpa kupinta. Kuseka air mata kakak tersayangku. Kak Aryan yang melihatku memberikan pelukan hangat kepada Kak Bryan pun langsung memeluk kami bersamaan.


Pelukan Kak Aryan mampu memecah suara kakak keduaku untuk keluar. Isakannya kini terdengar, membuat hatiku makin sakit. Kak Aryan tak melepas pelukannya sampai benar-benar adiknya itu tenang.


"Are you okey bro?" tanyanya saat Kak Bryan sudah tenang dan dia mengangguk.


"Sudah lalu, biarkanlah berlalu. Ada masa depan yang harus kita raih, jangan kembali melihat ke belakang lagi." ujar Kak Aryan sambil menepuk-nepuk pipi adik kembarnya.


"Masih mau saingan sama gue kan?" tanyanya membuat senyum tipis diwajah Kak Bryan.


"I'm fine. Dan gue akan selalu berusaha merebut hatinya." ujar Kak Bryan sambil menatap kearah Anyelir.


Saat aku menatap kearah Anyelir, matanya sudah memerah. Mungkinkah dia habis menangis tadi? Ya Tuhan, nggak mungkinkan dia merasakan apa yang dirasakan Kak Bryan, jika iya, apa mungkin hati mereka sudah terpaut?


"Kak Bi, dirimu baik-baik saja kan?" tanya Anyelir saat kami sudah diposisi duduk semula.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja. Maaf sudah membuatmu cemas." ujarnya sambil memberikan senyuman termanisnya.


"Ceritakan padaku jika Kak Bi butuh teman curhat." ujar Anyelir membuat kami semua menatap tak percaya padanya dan Kak Bryan hanya menganggukkan kepala.


Waktu semakin malam, kami pun segera kembali ke hotel. Tak ada suara sepanjang jalan menuju hotel. Hanya ketenangan yang terasa. Aku yang berjalan sambil merangkul pinggang Kak Zeyden, Zayyan dalam pelukannya dan tangan Kak Zeyden di bahuku. Seakan aku tak ingin waktu ini berjalan, bahagia seperti sekarang.


***


Pagi ini kami semua siap meninggalkan Jogjakarta. Aku sudah rindu rumah kecil kami. Keluarga kecilku sudah berada di lobby menunggu tiga orang yang masih bersiap katanya. Zeyden mengajak Zayyan jalan-jalan mengitari lobby. Aku masih fokus membaca novel di salah satu aplikasi.


***Priyanka Pradipta Putria


Lama banget sih. Bete nih.


Mr. A

__ADS_1


Sabar. Ini sudah mau keluar kamar.


Priyanka Pradipta Putria


10 menit atau aku tinggal. Kalau aku duluan ke Jakarta jangan harap bisa ketemu Zayyan.


Mr. A


Okey. 10 menit. Otw***.


Aku kesal karena sudah satu jam menunggu mereka yang tak kunjung datang. Aku melihat jam setelah beberapa menit dari respon terakhir pesan dari Kak Aryan. Tinggal dua menit lagi, aku bangkit dari duduk dan mengajak Zeyden menuju halaman depan. Mobil sudah disana untuk mengantarkan kami ke bandara. Ya, kali ini pulangnya memilih naik pesawat. Agar lekas sampai kasihan Zayyan nanti terlalu lelah.


Barang-barang kami bertiga sudah di bagasi mobil. Zeyden dan Zayyan sudah di mobil. Satu menit lagi, aku pun masuk kedalam mobil. Perasaanku makin kesal, karena mereka belum muncul juga. Aku pun menyuruh supir melajukan mobil. Saat mobil baru melaju mereka keluar dengan berlari sambil membawa koper masing-masing. Mobil terus melaju tanpa memperdulikan mereka.


"Princess.. tunggu.." teriak kedua kakakku, namun mobil semakin melaju. Nampak ketiganya sangat ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2