Relung Langit

Relung Langit
Part 137


__ADS_3

Maafin Author ya kalo banyak typo dan kesalahan dalam penulisannya..


Betewe end de baswey..


Kesayangan aku semuanya.


Sudah siap-siap lanjut ceritanya nggak??


Ready...


***


Pandangannya jatuh pada lukisan Gia dan seorang lelaki yang sangat tampan dengan mata kehijauan. Badan atletis dan di lukisan itu. Sosok lelaki yang tengah asyik menggendong perempuan dengan ala bridal style sambil mencium pipi. Dibawah lukisan itu tertulisan pangeran dan putri, membuat Rohan meremat jemarinya dan rahangnya sudah mengeras.


Rasa kesal itu di coba redam dengan duduk di pinggir ranjang. Karena merasa lelah ia merebahkan dirinya di kasur dan tak terasa mulai terbuai dalam mimpinya. Gia yang usai menelpon dengan kesayangannya itu segera masuk ke kamar. Karena suasana sudah mulai sepi. Dia terkejut saat membuka pintu ada lelaki yang sedang terlelap dalam kasurnya.


Gia masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti baju dan gosok gigi. Setelah selesai ia kembali ke kamarnya dan menyelimuti Rohan yang sudah terlelap. Ia masih belum bisa tidur bersama Rohan, memilih tidur di sofa kamar. Walau tidak nyaman dia berusaha terlelap.


Tengah malam Rohan merasakan dahaganya kering dan hendak minum. Alangkah kagetnya dia melihat tempat tidurnya hanya ada dirinya seorang. Rohan memilih mengambil air minum terlebih dahulu di dapur lalu kembali ke kamar Gia.


Setelah menaruh gelas berisi air di nakas, ia menghampiri Gia dan menggendongnya. Ia memindahkan Gia untuk tidur di kasur, takut badan istrinya sakit pagi nanti. Usai menaruh Gia di kasur tak lupa ia menyelimutinya dan ikut terlelap di samping sang istri sambil memeluknya.


***


Pagi harinya Gia merasakan sesak dan kaget, karena ia semalam tertidur di sofa, tetapi kini ia sudah ada di ranjangnya. Dia menatap ke sebelah, melihat tangan Rohan memeluk dirinya. Gia mencoba melepaskan pelukan itu dan berhasil. Perlahan ia menuruni ranjang dan bergegas ke kamar mandi.


Usai mandi dan berpakaian. Gia merapikan rambutnya yang di kuncir kuda. Saat dirinya siap dia keluar kamar lebih dulu dan menuju kamar Gara. Beruntung sang kakak sudah bangun, dia pun segera meminjam satu setel pakaian untuk Rohan. Karena kedatangannya yang tiba-tiba tidak membawa apapun. Gara dengan cepat mengambilkan pakaiannya.


"Udah ngapain aja kamu, De." ledek Gara pada sang adik yang hendak keluar dari kamarnya.


"Tidur aja tuh, dan jangan mikir mesum. Kalo Kak Gara berani mikir gitu, Ade bilangin Papa!" ancam Gia sambil menutup pintu kamar Gara.


Gia menyiapkan pakaian dan mengambilkan handuk baru dari lemarinya. Semua itu ia letakkan di sofa tempat dirinya terlelap semalam. Lalu dia menghampiri Rohan dan berdiri di sampingnya dengan sedikit membungkuk.


"Rohan. Ro, bangun udah pagi." ucap Gia sambil menepuk lengannya yang tak di respon oleh lelaki dihadapannya.


Gia pun membangunkannya kembali dengan menepuk pipi Rohan pelan. Lelaki itu merespon dengan menggeliat dan merenggangkan otot-ototnya. Matanya perlahan terbuka dan kaget saat melihat Gia di hadapannya.


"Kamu ngapain di kamar aku?" ucap Rohan yang lupa akan kejadian semalam.


"Hello, nggak salah ya! Ini kamar aku, lupa dengan kejadian semalem?" ucap Gia mulai menjauhi Rohan dan duduk di sofa sambil memegang ponselnya.


Rohan masih mencoba mengingat kejadian semalem. Ia langsung bangun dari tidurnya dan menghampiri Gia dengan bersimpuh di hadapannya. Lelaki dengan wajah bantal dan rambut acak-acakan itu memohon pada Gia, akan sikapnya yang buruk semalam.


Gia yang hanya berpikir lelaki itu bersikap buruk karena cemburupun langsung memaafkannya. Segera Gia memberikan handuk dan pakaian ganti pada Rohan. Ia pun melangkahkan kakinya ke kamar mandi sedangkan Gia masih berkutik dengan ponselnya.


Setengah jam berlalu, Rohan sudah rapi dan Gia langsung mengajaknya ke ruang makan untuk sarapan bersama keluarganya. Disana sudah ada aku, Zeyden, Gara dan Rakha. Keluarga yang lain sudah pulang tadi malam. Pasangan pengantin baru itu menyapa kami semua dan segera duduk di kursi yang kosong.


Acara makan pun dimulai, aku menyendoki nasi dan lauk pada piring Zeyden dan hal itu ditiru oleh Gia. Kami melihat sikap Gia sempat kaget tapi sudah selayaknya seorang istri melakukan tugasnya untuk menyiapkan segala sesuatu buat suaminya. Kami makan tanpa ada obrolan seperti biasanya, masih canggung itu yang tepat digambarkan saat ini.


Usai makan seperti biasa mereka duduk di ruang keluarga guna mengobrol dan lain-lainnya. Namun, ada yang berbeda kali ini. Gia membantuku membereskan meja makan dan mencuci piring kotor. Senang, pastinya. Hanya saja Gia yang biasanya akan bergabung dengan Papa dan kakak juga adiknya di ruang keluarga, kini berada di dapur.


Aku tidak banyak bicara dengan Gia dan membiarkan dia melakukan tugasnya. Gia membuat minuman untuk dibawa ke ruang keluarga dan mengantarkan sendiri. Gia duduk di dekat papanya sambil bergelayut manja.


"Ro, hari ini pulanglah kerumahmu ambil barang-barangmu. Besok kita ke KUA untuk urus surat-surat kalian sekaligus menyiapkan acara resepsi. Bagaimana?" ucap Zeyden dengan tegas dan hanya diangguki oleh Rohan.


"Kamu ikut ke rumah Rohan ya! Jangan menyusahkannya." ucap Zeyden pada Gia sambil mengusap kepala anak gadisnya.


"Baik, Pa." ucapnya dengan lembut.


"Kita berangkat sekarang aja yuk, Gia. Takut macet nantinya!" ajak Rohan dengan lembut dan di ikuti Gia dari belakang.


"Ro, pakai mobil Mama saja." ucap Zeyden dengan senyuman.


"Baik, Pa." sahut Rohan sambil mencium tangan Zeyden diikuti Gia.


Aku yang hendak masuk pun tak luput dari buruan mereka untuk mencium tanganku. Tak lupa Gia meminta kunci mobil beserta stnknya. Setelah pamit ke rumah orang tuanya. Aku duduk di samping Zeyden dan bersandar di lengannya.


"Yank, gimana udah jadi papa mertua?" godaku dengan senyuman dan kedipan mata.


"Ya nggak gimana-gimana. Jalanin aja!" sahutnya dengan wajah datar.


"Siap jadi kakek?" godaku menjadi-jadi dan wajahnya berubah merah.


"Harus siap. Tapi aku nggak ijinkan mereka punya anak dulu sebelum lulus kuliah!" ucapnya dengan ketus sambil menjawil hidungku.


"Berarti kamu nolak rezeki yang Allah kasih dong!" ucapku membuat dia berpikir dan seketika langsung mengalihkan pembicaraan.


"Ra, gimana persiapan buat kuliah kamu?" tanya Zeyden ada putra keduanya itu dan Gara hanya bengong dengan pertanyaan papanya.


"Anggara, Papa tanya kamu ya! bukan diam begitu." ucap Zeyden dengan kesal.


"Ish, Papa marah-marah mulu. Udah tahu kalo persiapan itu baru bulan depan. Kalo kesel sama Gia jangan dilimpahin ke aku dong. Lagian nih ya, Pa. Kalo nggak setuju Gia menikah kenapa semalam papa lakukan ijab kabul itu?" cuap Gara dengan santainya.


Zeyden yang mendengar ucapan putranya langsung bangkit dari duduk dan meninggalkan ruangan itu. Aku mengikutinya sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah suamiku. Ya, dia masih belum rela putri kecilnya sudah menjadi milik orang lain. Tetapi dia enggan menunjukkannya pada anak-anaknya.


Langkahnya menuju kamar, dan aku langsung mengunci pintu saat sudah di dalam. Aku duduk di sampingnya sambil mengelus lengannya. Dia hanya menghembuskan nafas kasar, lalu memelukku. Aku tahu kejadian tadi malam bukan harapan yang diimpikannya.


Nasi sudah menjadi bubur. Mau tidak mau, kami harus ikhlas karena jodohnya Gia memang lebih cepat sama denganku. Sekarang hanya mampu mengarahkannya ke arah yang lebih baik.


***


Di perjalanan menuju rumah Rohan. Gia hanya diam tak bersuara. Lelaki itu memutar cara untuk bisa berkomunikasi dengan wanita di sampingnya kini. Iya mulai dengan memutar mp3 dan mencari lagu-lagu yang enak untuk dinikmati. Akhirnya lagu itu terhenti dengan lagu milik Andmesh-Cinta Luar Biasa, dan Rohan menyanyikannya sedangkan Gia hanya melirik dengan senyuman di wajahnya.


***Waktu pertama kali


Kulihat dirimu hadir


Rasa hati ini inginkan dirimu


Hati tenang mendengar


Suara indah menyapa


Geloranya hati ini tak kusangka


Rasa ini tak tertahan


Hati ini selalu untukmu


Terimalah lagu ini


Dari orang biasa


Tapi cintaku padamu luar biasa


Aku tak punya bunga


Aku tak punya harta


Yang kupunya hanyalah hati yang setia


Tulus padamu


Hari-hari berganti


Kini cinta pun hadir


Melihatmu, memandangmu bagai bidadari


Lentik indah matamu


Manis senyum bibirmu


Hitam panjang rambutmu anggun terikat


Rasa ini tak tertahan

__ADS_1


Hati ini selalu untukmu


Terimalah lagu ini


Dari orang biasa


Tapi cintaku padamu luar biasa


Aku tak punya bunga


Aku tak punya harta


Yang kupunya hanyalah hati yang setia***.


"Aku juga butuh uang buat hidup kali. Kalo kamu nggak punya apa-apa gitu!" seru Gia tanpa menatap ke arah Rohan yang baru usai bernyanyi.


"Ia, maaf ya untuk semalem." lirihnya sangat pelan, namun mampu Gia dengar dengan baik.


"Maaf buat apa?" tanyanya dengan nada super santai.


"Maaf buat kejadian aku menyakiti kamu." ucapnya dengan lembut dan hanya diangguki oleh Gia.


"Aku boleh nanya sesuatu?" tanya Rohan yang mulai membuka pertanyaan dengan rasa penasarannya.


"Apa?" tanyanya super singkat.


"Pertama pangeranku siapa? Kedua apa kamu sudah menerimaku sebagai suami? Ketiga bisakah kita menjalani peran kita masing-masing?" tanyanya tanpa jeda dan membuat Gia menepuk dahinya.


"Pertama pangeranku itu seseorang yang spesial dan tidak akan pernah bisa digantikan posisinya dihatiku. Kedua iya, aku sedang berusaha menerimanya. Walau aku belum bisa mencintaimu. Ketiga, bukankah aku sudah melakukan tugasku. Kamu harus tahu untuk hal dewasa itu aku belum siap, jangan paksa aku." tutur Gia panjang lebar dan hanya membuat Rohan diam tak bisa berkutik.


"Ro, maaf atas sikap atau perkataan pangeranku. Dia memang begitu, tapi hatinya dia sangat lembut. Beberapa tahun lagi dia akan pulang atau kita yang akan kesana bertemu dengannya." ucap Gia dan membuat Rohan mengerutkan keningnya.


"Maksudmu dengan kita kesana?" tanyanya dengan bingung.


"Ya, kita kuliah di London bersama dengannya!" seru Gia dengan wajah berseri-seri, tapi tidak dengan Rohan.


"Kamu itu udah nikah loh, masa masih mau deket-deket sama pacar kamu sih?" gerutu Rohan dengan nada kesal.


"Hah! Pacar?" ucap Gia tak percaya dengan ucapan Rohan.


"Iya pangeranku itu pacar kamu kan! Sampai lukisan kalian aja dipasang di kamar. Nanti malam akan aku copot." ujar Rohan dengan nada kesal tak terbendung lagi.


"Aish, aku itu tidak pernah pacaran. Kamulah lelaki yang langsung menyatakan cinta dan menikahiku. Awas ya, kalo kamu berani copot lukisan itu." ujar Gia dengan penuh penekanan tak suka jika lukisan itu di copot.


"Gila apa nih orang ya! Masa aku pacaran dengan kakak sendiri. Dasar cemburu buta!" gerutu Gia dengan sangat pelan dan tak terdengar Rohan.


Akhirnya perjalanan yang hanya memakan waktu tiga puluh menit itu pun usai. Mobil sport itu memasuki perkarangan rumah mewah. Rohan tampak senang ketika Gia menatap rumahnya. Bukan takjub akan apa yang dilihatnya, namun sorot mata Gia hanya menampilkan tatapan biasa saja. Rumah Rohan hanya seperlima bahkan seperdelapan dari rumah opa-opanya.


Mereka memasuki rumah dan disambut oleh kedua orang tua Rohan dengan senyuman manisnya. Sepasang pengantin baru itu langsung menghampiri dan mencium tangan pasangan suami isteri yang sedang duduk di ruang keluarga. Ibu dari Rohan menciumi pipi menantu barunya itu dengan kasih sayang. Usai memberikan salam pada orang tua itu, mereka langsung ijin ke kamar.


Menaiki anak tangga yang lumayan tinggi membuat Gia kesal karena lelah. Dirumah kedua opanya ada lift, jadi dia tidak perlu capek, walau ada tangga juga. Gia membuang nafas kasar dan itu mampu menarik perhatian Rohan. Merasa sang isteri kelelahan, ia segera menggendongnya ala bride style. Gia meronta-ronta karena merasa masih mampu.


"Turunin aku!" pinta Gia sambil memukul-mukul dada Rohan.


"Diam atau kita akan gelinding di tangga ini!" ucap Rohan tegas dan seketika Gia langsung diam.


Tiba sudah di depan kamar Rohan, tapi ia tidak menurunkan Gia disana. Ia malah meminta isterinya itu membuka pintu dan diturutinya. Menutup pintu dengan menendangnya, lalu menghampiri ranjang miliknya dan menjatuhkan isterinya disana. Gia langsung memundurkan badannya. Semakin Gia mundur semakin maju pula Rohan, hingga isterinya itu tersudut di ujung ranjang.


Rohan yang hanya menggoda isterinya akhirnya tertawa dan merebahkan dirinya di kasur. Gia yang akhirnya sadar bahwa dirinya sedang dijahili oleh suami, langsung mencubit pinggang Rohan. Rohan mengaduh karena sakit akan cubitan dari sang isteri dan berlari menjauh.


Ia pun kembali dengan tujuannya yaitu mengambil pakaian dan barang-barang lainnya. Segera ia menarik koper dari bawah lemari dan langsung membukanya. Gia membantu menata pakaian sang suami di koper. Tidak semua pakaian ia bawa, hanya sebagian. Agar jika ia menginap di rumah itu tidak perlu bawa baju ganti.


Usai merapikan pakaian Rohan, mereka merebahkan badannya di kasur. Tak terasa mata mereka berdua terpejam dan masuk dalam dunia mimpi masing-masing. Mereka tidur sambil berpelukan satu sama lain.


Sore harinya. Terdengar suara ketukan pintu membuat Gia terbangun. Saat membuka matanya ia kaget karena wajahnya dan Rohan sangat dekat. Ia langsung membangunkan Rohan karena ketukan pintu semakin kencang.


"Rohan, bangun. Itu mama manggilin kita!" seru Gia sambil menepuk-nepuk wajah suaminya.


"Sebentar, Ma!" teriaknya masih dengan mata terpejam dan Gia hanya menutup telinganya.


"Ro, kita harus pulang loh." seru Gia sambil berusaha melepaskan pelukan sang suami.


"Lima menit aja, diam jangan bergerak." pinta Rohan dan dituruti oleh Gia.


Sudah lebih dari lima menit Rohan masih memeluk Gia. Wanita yang ada dalam kungkungan Rohan pun kesal dan mencium pipi suaminya hingga mata Rohan langsung terbuka tak percaya. Ia langsung memegang pipinya sedangkan Gia sudah berlari ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, wajah Gia memerah karena malu akan sikapnya barusan. Ia segera membasuh wajahnya agar menetralkan emosi dalam dirinya. Setelah membasuh wajahnya Gia membuka pintu dan dia dikagetkan oleh Rohan yang sudah berdiri di depan pintu. Lelaki itu tersenyum manis dan langsung menarik tangan isterinya masuk ke dalam pelukannya.


"Terima kasih. Aku akan menunggu sampai kapanpun untuk cintamu." ujarnya sambil memeluk Gia.


Tanpa sadar senyuman terlukis di wajah Gia dan dia membalas pelukan Rohan. Mereka terbuai akan suasana indah yang baru mereka rasakan. Sampai disadarkan oleh panggilan masuk dari ponsel milik Gia. Segera Gia melepas pelukannya dan mengambil ponsel di dalam sakunya. Tertera nama sang papa disana. Rohan memasuki kamar mandi dan Gia mengangkat panggilan itu.


"Iya, Pa!" seru Gia dengan nada sopan.


"Kamu menginap di sana atau pulang?" tanya Zeyden penasaran karena putrinya belum juga pulang dari rumah mertuanya.


"Pulang, Pa. Tadi kita ketiduran karena lelah membereskan barang yang akan dibawa." jelas Gia pada sang papa agar tak mengkhawatirkan dirinya.


"Oke. Cepat pulang kita makan malam bersama." ucap sang papa dengan lembutnya.


"Boleh Gia dan Rohan makan malam berdua di luar aja, Pa? Karena takut ke jebak macet." ucap Gia yang memang jika pulang akan telat untuk makan malam bersama.


"Baiklah. Hati-hati dijalan ya, sayang!" seru Zeyden dengan pasrah.


"Oke, Pa. See you." ucapnya dengan lembut.


Rohan yang mendengar perbincangan mertua dan isterinya itu hanya tersenyum. Dia tampak bahagia karena wanita yang dicintainya ingin jalan berdua tanpa ia pinta. Ia langsung memeluk Gia yang berdiri dan hendak keluar dari kamar. Dia pun mencium leher isterinya dan membuat Gia geli.


Rasa geli yang diberikan oleh Rohan membuatnya menepuk tangan yang melingkar di perutnya itu. Karena sakit akan tepukan dari sang isteri, akhirnya pelukan itu pun terlepas. Gia menunjuk ke arah koper dan menyuruh Rohan untuk membawanya.


Rohan hanya mengikuti keinginan sang isteri dan keluar kamar. Mertua Gia memintanya untuk makan malam disana, namun di tolak halus oleh Gia. Wanita itu berjanji akan makan malam dan menginap dirumah mertuanya usai urusan surat nikah jadi dan resepsi. Sang mertua pun mengerti maksud dari menantunya itu. Ya, Gia hanya tidak ingin jadi bahan omongan orang-orang, bila dia menginap di rumah mertuanya. Berbeda dengan Rohan yang tinggal di rumahnya, karena disana ada kakak juga adik laki-lakinya jadi aman.


Usai berpamitan merekapun meninggalkan rumah itu. Walau dengan perasaan tidak enak harus mematahkan keinginan mertuanya. Rohan yang melihat perubahan sang isteri hanya mampu menggenggam tangan wanita disebelahnya.


"Sayang!" panggil Rohan membuat Gia menengok ke arahnya dengan tatapan bingung.


"Boleh aku panggil kamu itu?" tanya Rohan dengan lembut.


"Terserah kamu aja." sahut Gia datar.


"Mau makan malam dulu nggak?" tanya Rohan dan diangguki oleh Gia.


"Mau dimana?" tanya Rohan dengan memandang isterinya sekilas.


"Dimana aja deh, aku udah laper banget nih!" serunya dengan mengelus perutnya.


"Laper apa mau bikin Rohan atau Gia kecil?" Goda Rohan sambil mengedipkan matanya.


"L A P E R! Kamu mengerti kan!" ucap Gia penuh penekanan dan tatapan tajam.


"Iya ampun isteriku tersayang." ujar Rohan dengan menoel dagu Gia.


"Ampun deh nih cowok ya! Gombal banget." Gia mengomel dengan suara yang sangat pelan.


Tak berapa lama setelah keluar dari perumahan orang tua Rohan, mobil mereka berhenti di salah satu restoran cepat saji Jepang. Setelah mobil berhenti, Rohan langsung membukakan pintu untuk isterinya. Mereka memasuki reatoran itu dengan bergandengan tangan.


Semua mata tertuju pada dua insan yang baru memasuki restoran itu. Mereka di antar salah satu pramusaji ke bangku dekat jendela. Keduanya memesan makan favorit mereka. Setelah pramusaji itu pergi, Rohan hanya menatap sang isteri yang duduk di hadapannya.


"Kenapa?" tanya Gia dengan ketusnya.


"Hm, kamu cantik banget." ucapnya dengan jujur.


"Baru tahu ya!" seru Gia sekenanya.


"Aku tahu sejak kamu di jemput papamu." tutur Rohan membuat Gia membelalakkan mata.


"Kapan?" tanyanya penasaran.

__ADS_1


"Pertama kali kalian bertiga di jemput papa, dimana kamu melepas semua atribut penyamaran kamu, begitu juga dengan Gara." jelasnya dengan ketulusan tiada henti.


"Jadi kamu mencintaiku sejak lihat wajah asliku?" geram Gia yng menyangka Rohan hanya mencintai fisiknya.


"Nggaklah. Aku jatuh cinta sama kamu sejak kamu nggak merespon bullyan dari Shanti and the genk." ujar Rohan dengan kejujuran.


Rohan memang kagum sama Gia yang tak pernah merespon dengan membalas tindakan Shanti beserta kawan-kawannya itu. Dia melihat sosok yang beda dari Gia, bukan karena pengecut mengahadapi bullyan itu. Tatapan kesedihan dan takut akan sesuatu jika dia membalas bullyan itu.


"Kamu kenapa nggak bales aja sih bullyan dari mereka itu?" tanya Rohan penasaran.


"Bukan aku nggak mau balas. Hanya takut mereka kena masalah jika aku turun tangan. Aku punya ilmu bela diri, kapanpun bisa aku tujukan kepada mereka. Tapi aku takut akan kemarahanku jika menggunakan dalam kemarahan. Aku sudah berkali-kali mengingatkan juga jangan sentuh aku. Karena di sekitar kami itu ada shadow bodyguard, itu bisa mencelakakan nasib mereka." jelas Gia dengan sejujurnya.


"Kamu kira kita keluar berdua begini nggak ada yang ngikutin. Mereka ada, hanya saja tidak terlihat. Mereka akan muncul bila aku dalam keadaan terancam." tutur Gia dengan suara pelan.


"Hah!" teriak Rohan dan langsung di bekap mulutnya oleh Gia yang disertai matanya yang melotot.


Rohan pun mengangguki tanda setuju untuk diam. Tak berapa lama makan mereka pun tiba juga. Mereka menyantap makanan dengan diam tanpa percakapan sedikit pun. Keduanya masing-masing dalam pemikirannya.


***


Pukul sembilan tiga puluh mereka berdua tiba di rumahku. Kami masih di ruang keluarga saat mereka tiba. Aku dan Zeyden menghampiri pasangan itu di ruang tamu. Mereka mencium tangan kami berdua dan langsung ijin ke kamar. Aku langsung ke dapur membuatkan minuman hangat untuk anak dan menantuku.


Tok.. Tok..


Pintu kamar Gia kuketuk perlahan. Tak lama pintu terbuka dan Rohan berdiri di hadapanku. Tanpa sungkan langsung menyuruhku masuk. Kulangkahkan kaki memasuki kamar anak dan menantuku itu.


"Ma, ini kunci mobilnya. Makasih ya, Ma!" seru Rohan sambil menyerahkan kunci dan memelukku.


"Iya, sayang. Oh iya ini minuman hangat buat kalian." seruku sambil menyerahkan nampan di tanganku dan menaruhnya di atas nakas.


"Gia, pakaian yang sudah kecil dan lama tidak layak pakai. Kamu keluarkan dari lemari, agar bisa Rohan menaruh bajunya disana." ucapku dan diangguki oleh putriku.


"Ya udah kalo gitu Mama keluar dulu ya! Istirahat jangan begadang. Besok kalian akan pergi urus surat-surat kan!" ucapku sambil melangkah menuju pintu.


"Baik, Ma. Mama juga segera istirahat ya!" ucap Gia dan Rohan bersamaan. Tak lupa mereka mencium pipiku sebagai ucapan selamat malam.


Aku berlalu meninggalkan kamar anakku dan menuju kamar sendiri. Karena lampu rumah sudah dipadamkan oleh Zeyden. Di kamar aku tak mendapati suamiku, tetapi aku mendengar suara air dari kamar mandi.


Aku menunggu suamiku keluar dari kamar mandi. Saat keluar matanya sembab dan hal itu sontak membuat aku kaget bergegas menghampirinya. Kutangkup wajahnya dengan kedua tanganku dan kutatap dia dalam. Sorot matanya terpancar kekhawatiran dan kesedihan. Tanpa perlu ijinnya aku memeluknya dan dia menangis dalam pelukan.


Ia mengungkapkan isi hatinya yang belum bisa terima putri kecilnya menjadi milik orang lain. Ia pun takut cinta serta kasih sayang putri satu-satunya itu hilang untuknya. Aku hanya mengelus punggung suamiku yang selalu lucu ketika cemburu pada anak-anaknya. Aku membawanya untuk duduk di atas tempat tidur dengan bersandar.


Rasa gemas akan sikap suamiku itu membuat aku mencubit pipinya. Dia hanya menoleh dan langsung memelukku. Setiap kali aku mencubit pipinya, ia tahu bahwa dirinya tidak boleh bersikap seperti itu. Ia sadar akan kesalahannya. Karena lelah menangis ia tertidur dalam pelukanku.


***


Keesokkan paginya, usai sarapan Zeyden dan sepasang suami isteri itu pergi ke KUA. Sedang aku dan kedua pangeranku memilih menemui Gibran untuk mengatur resepsi pernikahan putriku. Tenang, tidak ada cinta lama bersemi kembali. Usai mengurus surat-surat, mereka bertiga akan bergabung bersama kami.


Kami janjian dengan Gibran di salah satu restoran ternama di Jakarta. Aku sedang memesan makanan bersama pangeran-pangeranku saat Gibran sampai. Tanpa basa basi dia langsung bertanya mengenai konsep acaranya.


"Konsep biar Gia dan suaminya yang memutuskan. Sedangkan aku hanya mau di ballroom hotel bintang lima yang ada di Jakarta. Tak lupa makanan nanti aku yang pilih. Untuk tema atau konsep tanyakan pada Gia ya!" ucapku dengan santai dan diangguki olehnya.


Kedua pangeranku asyik berbincang dengan Gibran yang diiringi canda tawa. Aku hanya sebagai penontonnya saja. Menemani mereka berdua sambil mengirim pesan dengan Zeyden.


My Hubby


Dimana, Yank?


Priyanka


Restoran biasa. Kamu sudah selesai belum?


My Hubby


Kami sedang menuju kesana. Kenapa? Udah rindu ya!


Priyanka


Bisa jadi.


My Hubby


Sedang apa kalian sekarang?


Priyanka


Anak-anak sedang berbincang dengan Gibran.


My Hubby


Oh. Jangan memandanginya terus ya! Aku cemburu.


Priyanka


Segeralah tiba, atau aku benar-benar menatapnya.


My Hubby


Berani kamu?


Aku hanya tertawa membaca balasan pesan dari Zeyden. Menggodanya membuat aku gemas. Tak sadar menjadi sorotan ketiga lelaki di depanku. Aku hanya fokus pada ponselku.


"Ma, are you okay?" tanya Gara dengan khawatir.


"Okey." sahutku singkat tanpa melihat ke arah meraka. Sedangkan mereka menatapku dengan tatapan khawatir juga bingung.


***


Satu jam berlalu sampai akhirnya suami, anak dn menantu pun tiba dihadapan kami. Tak lupa Zeyden mencium pipi dan keningku. Kelakuan suamiku itu tak pernah lihat situasi, main menunjukkan romantisnya.


Gia dan Gibran langsung membahas masalah konsep pernikahan. Rohan sibuk memilih undangan, sedangkan Aku juga Zeyden memilih menu makanan utama dan dessertnya. Saat sedang asyik memilih-milih, ponsel Gia berdering dan tertera nama pangeranku. Gia langsung meminta ijin pada Gibran untuk mengangkat panggilan dari Zayyan.


"Assalamualaikum, pangeranku." salam Gia dan membuat wajah Rohan merah padam.


"Waalaikumsalam, tuan putriku." balas Zayyan pada sang adik kesayangannya.


"Pulang ya saat resepsiku!" bujuk Gia dengan manjanya.


"Nggak bisa sayang. Biar nanti aku lihat siaran langsung yang akan dilakukan Gara atau Rakha. Gimana kamu setuju?" ujar Zayyan dengan penuh kelemahlembutan.


"Baiklah. Tapi kamu harus kasih aku hadiah super mahal dan tak terlupakan. Bagaimana pangeranku?" ucap Gia dengan nada super manja nan menggoda.


"Baiklah. Mau apa?" balas sang kakak demi kebahagiaan adiknya.


"Tiket honeymoon ke London. Bagaimana?" tantang Gia dengan senyuman manisnya.


Rohan yang sudah geram meminta ijin ke toilet. Gia hanya tersenyum melihat ekspresi wajah suaminya. Ya, Gia hanya menjalankan tugas mengetes keseriusan akan cinta suaminya yang baru sehari itu.


Rohan lelaki baik, tampan dan sopan. Hanya saja dia belum terlalu yakin akan cinta yang dia katakan. Harta dan status sosial Gialah yang menjadi ketakutan wanita itu.


***


Hai kesayanganku, sudah aku panjangin..


Jadi jangan lupa jempol, share, komen dan vote sebanyak-banyaknya.


Aku juga mau tanya dong, kalian suka sama siapa dalam novel ini?


Aryan


Bryan


Zeyden


Priyanka


Anak-anak Pradipta atau siapa?

__ADS_1


__ADS_2