Relung Langit

Relung Langit
Part 154


__ADS_3

Berat rasanya untuk seorang Zayyan berbagi hidupnya dengan orang lain. Tidak ada cinta dalam sebuah hubungan, tanpa perkenalan untuk memulai lembaran baru. Keputusan tersulit yang dia ambil, hanya berharap semoga langkah itu tepat untuk kebahagiaan semua orang.


Zayyan melangkahkan kaki ke ruangan anak, ia menemui dua orang yang berada di ujung ruang nomor 213. Hanya senyum yang mampu ia lontarkan tanpa tahu cara menyampaikan tujuannya. Wanita cantik itu bangkit dari duduknya dan memberi sedikit hormat pada dokter tampan itu.


"Saya ingin bicara berdua sama anda!" serunya sambil berbalik badan dan keluar dari ruangan itu.


Wanita itu hanya mengikuti di belakang Zayyan. Di luar ruangan mereka masih diam tak ada yang bersuara. Rasa risau terlihat jelas di wajah tampannya, Aleta hendak membuka mulut tapi ia urungkan.


"Saya akan menikahi kamu, pertemukan saya dengan kedua orang tuamu minggu ini!" ucapnya tanpa basa basi dan membuat wanita cantik di depannya melongo.


"Hello!" seru Zayyan sambil melambaikan tangan di depan wajah Aleta yang masih bengong.


"Ah, maaf. Saya sudah tidak memiliki orang tua. Saya hanya berdua dengan Banyu. Apa yang anda katakan barusan serius?" sahutnya masih dengan ketidak percayaan.


"Ya, mungkin saya belum memiliki rasa cinta padamu. Entah kapan rasa itu akan hadir, tapi saya akan berusaha memberikan yang terbaik untuk Banyu. Apakah kamu bersedia menungguku?" tuturnya masih dengan nada datarnya.


"Jadi anda menikahi saya karena kasihan? Saya menolak jika itu berdasarkan rasa kasihan. Saya tidak membutuhkan rasa simpati anda itu. Permisi." sahut Aleta dan langsung bergegas hendak masuk ke dalam ruangan kembali.


"Selama ini saya tidak pernah jatuh cinta, hidup saya hanya untuk keluarga dan pekerjaan. Tidak ada sedikit pun terbesit untuk memiliki waktu dengan wanita. Maka dari itu beri saya waktu untuk belajar menerima kamu dan mencintai!" jelas Zayyan yang membuat Aleta membalikkan badannya dan menatap lelaki dihadapannya penuh selidik.


Sayangnya dia tidak menemukan sebuah kebohongan di sana. Ragu-ragu ia melangkah kembali mendekati Zayyan. Perlahan dia mencoba menggenggam tangan lelaki di hadapannya.


"Anda yakin mau jadi Ayah sambung untuk Banyu?" tanya Aleta dengan penuh keseriusan.

__ADS_1


"Sangat yakin. Biarkan saya belajar menjadi ayah juga suami yang baik. Tunggu saya sampai bisa menjadi suamimu seutuhnya, bisa?" sahutnya dengan nada dinginnya.


"Baiklah saya menerima keputusan anda dengan satu syarat. Kita menikah minggu ini juga tanpa lamaran atau pertunangan?" permintaan yang mungkin sulit di terima Zayyan menurut Aleta. Sayangnya hal itu di setujui oleh dokter tampan itu.


Jangan tanya masalah persiapannya, semua di handle oleh adik-adik kesayangannya. Gara menyiapkan gedung, dekorasi serta undangan. Rakha tentunya berurusan dengan makanan, souvenir juga urusan ijin-ijin. Si cantik Gia pastinya masalah kostum dan perintilannya.


Waktu mereka hanya hitungan hari untuk mengurus semuanya. Zeyden yang mengatur vaksinasi untuk calon menantunya. Aku hanya disuruh duduk manis, sebal rasanya tak ke bagian tugas. Kebahagiaan anak lebih utama dari apapun, jadi aku cukup membantu memantau dan menjaga si kecil.


Awalnya Ayah marah karena pernikahan ini terkesan buru-buru, bahkan dia mencurigai Zayyan telah melakukan zina. Aku dengan kesabaran menjelaskan kejadian sesuai kenyataan. Satu sisi ku sedih, tapi di sisi lain aku bahagia.


Amara yang sangat peka bertanya padaku "Ma, are you happy?" aku hanya mampu menganggukinya.


"Apa Ara akan jadi Tante kecil lagi?" Lagi-lagi aku menganggukinya.


Amara antara senang dan kesal jika dilihat dari raut wajahnya. Kesal karena masih kecil sudah jadi tante untuk dua orang lelaki. Senang bisa melihat kakaknya menikah, jadi dia tidak kan mendengar perkataan papa dan mamanya yang menuntut kakak-kakaknya menikah.


***


"Ma, apa aku bisa membahagiakan mereka kelak?" tanyanya dengan nada ragu-ragu.


"Kamu bisa membuat kami bahagia, bagaimana kamu berpikir seperti itu, kakak akan selalu bisa bahagiain kami semua termasuk anak dan isterimu kelak. Jangan berpikir yang nggak-nggak, sekarang senyum ya!" mencoba memberikan pengertian padanya agar rileks.


"Kak, Ma hayu semua sudah menunggu di bawah. Acara akan di mulai dan untukmu, Kak. Tolong tersenyum di hari bahagiamu!" ucap Gia dengan senyuman manisnya.

__ADS_1


Kami bertiga menuju lift, ah lupa kalau kami sudah di hotel tempat acara berlangsung. Zayyan tak melepaskan tangannya dari lenganku, jelas hal itu membuat orang tercintaku cemburu. Zeyden akan selalu cemburu ketika anak-anak lebih dekat dengan mamanya daripada dia.


Walau kali ini rasa cemburunya luar biasa, dia bisa mengendalikan. Hari ini ia tak ingin merusak kebahagiaan putra kesayangannya itu. Bagaimana pun juga Zeyden sangat menyayangi Zayyan lebih dari dia menyayangi isterinya.


Air mata Zeyden lolos begitu saja tanpa permisi. Hal itu jelas membuat putri kecil kami menghapusnya dengan jemari mungilnya. Si bungsu juga tak lupa menciumi kedua mata papanya.


Di meja tempat terjadinya ikrar pernikahan, Zayyan duduk dengan wajah cemasnya. Sedangkan Aleta yang baru tiba dengan sangat cantik membuat mata semua oramg kagum. Hal itu tidak menjadi pusat perhatian Zayyan sedikit pun.


Acara ijab kabul berjalan lancar, walau harua diulang sebanyak tiga kali karena gugupnya sang pengantin pria. Ia memakaikan cincin bermata berlian begitu sebaliknya. Tak lupa acara mengecup kening sang isteri membuat semua orang berteriak histeris.


Acara kali ini diadakan secara live oleh beberapa stasiun televisi. Hal itu adalah permintaan sang kakek di hari pernikahan cucu tercintanya. Usai acara selesai semua kembali ke kamar untuk istirahat. Resepsi akan di adakan pukul delapan malam nanti.


Pasangan pengantin baru itu bergandengan tangan menuju kamar. Itu terpaksa mereka lakukan karena kami pun satu lift dengan mereka. Banyu di bawa ke kamar aku dan Zeyden. Karena anak itu masih memerlukan perawatan intensif.


Hanya Zeyden yang bisa menjaga anak itu selama pasangan baru itu masuk kamar. Aku hanya membantu Amara juga Banyu untuk istirahat. Kesehatan anak-anak itu jauh lebih penting bagiku. Suamiku tersayang sudah terlelap si sofa usai dia berganti baju.


***


"Istirahatlah, acara nanti malam akan buat kamu lelah nanti." pinta Zayyan pada Aleta.


"Baiklah!" sahutnya dengan lembut.


Aleta yang sudah merebahkan badannya di kasur langsung bangun kembali saat Zayyan berbaring di sofa.

__ADS_1


"Apa kamu tidak tiduran di kasur?" Aleta mencoba untuk bangun tapi tangan Zayyan melarangnya.


"Tidurlah, biar aku di sini lebih dahulu." perintahnya yang tak bisa di tolak oleh Aleta karena itu merupakan permintaan suaminya.


__ADS_2