
Pukul lima pintu kamar Zayyan di ketuk. Berat hati rasanya dokter tampan itu melangkahkan kakinya. Dia membuka pintu dan ternyata para perias sudah datang untuk mendandani isterinya.
Zayyan mempersilahkan perias itu duduk di aofa dan dia segera membangunkan Aleta dengan pelan serta romantis menurut orang yang melihatnya. Dia mengusap kepala isterinya secara lembut dan mengecup keningnya. Hal itu membuat Aleta sedikit terusik dan hanya menatap lelaki di depannya.
"Bersihkan dirimu, para perias sudah tiba." ucap Zayyan sambil menunjuk ke arah sofa.
Aleta mengikuti arah yang ditunjuk sang suami. Dia menganggukkan kepala menuju kamar mandi. Zayyan segera masuk bergantian dengan wanita cantik itu. Usai berganti baju, Zayyan ijin untuk ke kamar adik-adiknya.
"Mas, boleh tolong liatin Banyu?" saat Zayyan membuka pintu dan diangguki.
Dokter tampan itu melihat keadaan Banyu di kamar kedua orang tuanya. Di sana tampak anak kecil itu tengah asyik menonton kartun bersama Amara juga Rangga. Ketiganya nampak akur walau baru kenal, rasanya seperti melihat keluarga utuh.
Zayyan menghampiri ketiga anak kecil itu dan nenciumi satu persatu. Rasa cinta kepada mereka tulus diberikan lelaki tampan itu. Siapapun yang akan melihat kebersamaan itu, menyangka bahwa kasih sayangnya sama rata.
"Dokter, Banyu harus panggil dokter apa?" tanya Banyu masih dalam kondisi di peluk.
"Banyu nyamannya panggil apa?" Zayyan malah balik tanya kepada Banyu. Dia juga bingung akan dipanggil apa sama anak sambungnya itu.
"Appa!" celetuk Rangga.
"Panda?" usul Amara dengan senyumannya.
"Yanda, saja bagaimana? Kan sudah ada Bunda." ujar Banyu sambil memukul keningnya dengan telunjuknya pelan.
__ADS_1
"Oke. Yanda!" senyum Zayyan lepas begitu saja.
'Bagaimana kisahmu, Nak. Sungguh penasaran, Yanda akan bertanda pada bundamu usai acara ini selesai.' batin Zayyan sambil memeluk Banyu.
"Kalian sudah makan?" tanya Zayyan sambil menyolek hidung anak-anak itu satu persatu, dan mereka kompak mengangguki kepala.
"Ya sudah, Yanda kembali ke kamar Bunda dulu ya!" ucap Zayyan bangkit dan tak lupa menciumi kening anak-anak itu satu persatu.
Kedua orang tua Zayyan hanya memperhatikan dari jauh sikap anak sulungnya itu. Mereka tersenyum kala sang anak tersenyum. Lelaki itu pun pamit kepada orang tuanya dengan mencium pipi mereka.
***
Di pelaminan Zayyan hanya menatap Aleta dengan tatapan penuh arti. Ratusan tamu undangan mengucapkan selamat pada keduanya. Kolega, karyawan, sanak saudara dan sahabat hadir semua tanpa mau melewatkan pernikahan penuh kejutan itu.
Semua itu di tepis dengan gamblang oleh pihak keluarga Zayyan. Bukti yang diberikan kepada media membungkam gosip itu seketika. Ya, bukti hasil pemeriksaan komplit mengenai kondisi Aleta sebelum menikah.
Benar, Aleta masih perawan. Lalu bagaimana dengan Banyu? Hal itu juga yang membuat Zayyan bingung. Jika Aleta masih suci, lalu Banyu anak siapa? Itulah yang akan ia tanyakan kepada sang isteri usai acara ini selesai.
***
Acara telah usai, semua sudah kembali ke kamar masing-masing. Kini hanya ada Zayyan dan Aleta di kamar. Mereka sudah membersihkan diri juga berganti pakaian tidur. Kecanggungan di mulai, keduanya berada di kasur yang sama hanya saja masih bersandar.
"Boleh saya bertanya mengenai Banyu?" Zayyan mencoba membuka pembicaraan pada sang isteri.
__ADS_1
"Saya akan jelaskan pada Mas, tapi tidak malam ini. Kita terlalu lelah seharian ini. Bisa kita istirahat saja?" Aleta mencoba menerangkan keadaan dirinya yang sejujurnya sangat lelah dan Zayyan menganggukinya.
"Tidurlah, saya tidak akan berbuat macam-macam padamu!" ucapnya menegaskan bahwa dia menjamin keselamatan isterinya.
"Saya percaya sama Mas. Toh, jika Mas menginginkan macam-macam, itu sudah hakmu, Mas." Sahut Aleta menegaskan bahwa dirinya sudah halal untuk Zayyan.
Tanpa menjawab ucapan sang isteri, Zayyan langsung memunggunginya untuk segera terlelap. Walau tidak bisa memejamkan mata, keduanya berusaha untuk tidak bergerak agar terlihat sudah terlelap.
"Banyu hanya anak mantan sahabat juga kekasihku. Keduanya meninggal saat dua hari setelah Banyu lahir, mereka menyerahkan Banyu kepadaku. Mereka berharap Banyu bisa menjadi seseorang yang hidup dengan ketulusan. Jangan tanya apa aku di selingkuhi, jawabannya iya. Tapi aku ikhlas merawat Banyu seperti anakku sendiri. Banyu menginginkan Mas menjadi Ayahnya, karena dia ingin memiliki seorang Ayah hebat. Terlebih dia sering mendengar cerita mengenai Mas dari teman-teman di rumah sakit. Kadang Amara menceritakan kehebatan Mas kepada anak-anak di ruangan Banyu. Banyu pendiam sehingga tidak bisa aktif bergabung dengan mereka. Maaf jika pernikahan ini memaksakanmu, sejujurnya aku pun tidak tahu jika Banyu akan lancang mengajukan permintaan itu kepada Mas. Aku meminta menikah segera, agar tak lagi ada pengkhianatan jika memang Mas benar-benar serius. Aku juga tidak percaya jika Mas menyanggupinya." penjelasan panjang Aleta membuat Zayyan membalikkan badan menghadap ke arahnya begitu pun sebaliknya.
Aleta menitikkan air mata saat mengatakan hal itu. Kenyataan itu membuat ia merasakan kembali rasa pengkhianatan. Aleta kaget saat Zayyan menghapus air matanya bahkan memeluk tubuhnya.
Isakan tangis Aleta semakin pecah saat pelukan hangat yang diberikan oleh Zayyan. Ketulusan seakan hadir dalam pelukan itu, tak pernah ia merasakan hal itu sebelumnya.
"Bantu aku mencintaimu. Jangan pendam sendiri bebanmu, kini ada aku tempatmu berbagi. Kamu tanggung jawabku mulai saat ini juga Banyu. Jangan menangis lagi, aku tidak suka melihat wanita menangis. Tak akan ada pengkhianatan dalam pernikahan kita, aku tahu betapa sakit hal itu." ucap Zayyan sambil mengelus kepala sang isteri, Aleta hanya membalas dengan pelukan erat.
Zayyan mendengar pengkhianatan yang dialami Aleta. Ia kembali teringat cerita sang ibunda yang pernah disakiti oleh dia orang lelaki. Ia mendengar cerita itu langsung dari para Daddy juga Mommy Anyelir. Tak pernah Zayyan membahas hal ini dengan sang ratu dalam kehidupannya.
Zayyan ingin seperti papanya yang bersedia memberikan cinta dan kasih sayang kepada seseorang yang spesial. Walau saat ini dia belum bisa mencintai Aleta, tetapi dia yakin suatu saat bisa memberikan seluruh kehidupannya untuk isteri juga anak-anaknya kelak.
Untuk cinta kepada kedua orang tuanya tak kan pernah tergantikan. Dia percaya papa juga mamanya bisa memberikan kasih sayang yang sama untuk Aleta tanpa membedakan anak dan menantu. Hal itu terlihat dengan Rohan yang tidak dibedakan oleh keduanya. Jika menantunya salah akan ditegur layaknya seorang anak.
Zeyden dan Priyanka memang selalu memberikan cinta yang sama untuk anak, menantu juga cucu. Bahkan untuk keponakannya saja mereka anggap anak sendiri. Mereka hanya ingin mengajarkan bahwa cinta kepada sesama manusia itu sama, yang berbeda hanya ia berikan kepada sang pencipta.
__ADS_1
Zayyan dan Aleta terlelap usai mereka mulai membuka diri. Mereka tertidur dalam kondisi berpelukan. Tidak ada malam pertama, karena Zayyan belum bisa melakukannya. Perasaan cinta belum hadir di dalam hatinya, Zayyan sikapnya memang menduplikasi Zeyden perihal cinta. Tidak ingin memaksakan kehendaknya.