
Tok.. Tok.. Tok..
Suara pintu kamar diketuk. Zeyden menaruh kepala istrinya di bantal, lalu ia beranjak menghampiri pintu dan membukanya. Disana tengah berdiri putra putri kesayangannya dengan senyuman diwajah mereka.
"Kenapa sayang?" tanya Zeyden sambil berjongkok untuk menyesuaikan tinggi badannya dengan anak-anaknya.
"Papa.." seru ketiga anak-anak Zeyden dan Priyanka dengan nada ragu-ragu.
"Iya." sahut Zeyden singkat sambil menyelidik.
"Mama dimana pa?" tanya Anggia ke Zeyden karena pintu kamar yang sudah di tutup olehnya tadi.
"Hm.. Mama tidur sayang. Kenapa? Gia kangen mama?" tanya Zeyden sambil mengusap pipi putri satu-satunya.
"Mama sakit ya Pa?" tanya Anggara yang cukup peka dengan orang-orang terkasihnya.
"Hm.. Itu.." seru Zeyden terputus sambil mengelus tengkuk lehernya yang tak gatal.
"Ayo kita masuk." perintah Zayyan kepada kedua adiknya dan berusaha dihadang oleh Zeyden namun hasilnya nihil.
Ketiga anak itu mulai masuk dan melangkahkan kaki ke arah tempat tidur. Dimana ibu tercinta mereka sedang terlelap. Anggara yang sangat sensitif langsung menangis, dan itu membuat Zeyden memeluk putra keduanya. Zayyan langsung menaruh tangannya di kening sang ibu, betapa terkejutnya dia saat tahu ibunya panas.
"Papa, kenapa tidak memberikan mama obat? Mama demam, pa." ujar Zayyan sedikit panik sehingga sedikit berteriak.
"Hei, jangan berteriak. Mama lagi istirahat dan tadi papa sudah berikan obat. Puas!" ucap Zeyden sambil mengelus kepala anak-anaknya.
"Kami mau temani mama ya pa!" seru ketiga anaknya secara kompak dan hanya diangguki oleh Zeyden.
__ADS_1
"Papa titip mama ya sayang. Papa mau kerja dulu di sana." ujar Zeyden sambil menunjuk kearah sofa kamar.
Zeyden duduk di sofa sambil memangku laptop kesayangannya. Sedang ketiga anaknya tengah asyik memijat sang ibu. Zeyden hanya tersenyum melihat tingkah anaknya. Mereka sangat perhatian kepada ibu mereka, bahkan khawatir saat tahu badan ibunya panas. Anggia menangis sambil memijat kaki sang ibu begitu juga dengan Anggara. Zeyden hendak menghampiri anak-anaknya namun langkahnya terhenti ketika Zayyan menasihati kedua adiknya.
"Kalian nggak sayang mama ya?" tanya Zayyan dengan wajah serius.
"Sayang mama kak." seru keduanya kompak.
"Kalo sayang jangan menangis nanti mama bangun. Berdoa biar mama cepat sembuh." nasihat Zayyan kepada kedua adiknya.
Aku membuka mata saat terdengar suara ribut tepat di dekat telingaku. Ternyata anak-anakku tengah menangisi aku yang sedang sakit. Aku memanggil nama mereka satu persatu, dan mereka menoleh sambil memanggil namaku. Aku tersenyum saat ketiga anakku memelukku erat.
"Papa dilupain deh!" seru Zeyden menghampiriku dengan tersenyum manis.
"Permisi tuan dan nona, boleh saya memeriksa nyonya cantik ini?" gurau Zeyden kepada anak-anaknya.
"Aku yang periksa mama. Papa pasti akan nakal ke mama nanti." seru Zayyan sambil memeriksa keningku lalu mengambil termometer dari tangan papanya.
"Boleh papa minta tolong sama kalian?" tanya Zeyden pada ketiga anaknya dan diangguki mereka semua.
"Kak Zayyan bilang Daddy Bi, minta tolong ambilkan air dingin dan handuk kecil serta minta tolong diantar kesini ya sayang!" ucap Zeyden sambil menepuk pundak anak sulungnya dan Zayyan langsung meluncur keluar kamar.
"Gia dan Gara minta tolong oma buatin bubur buat mama ya Nak. Papa mau urus mama dulu. Oke." ucap Zeyden pada si kembar dan diangguki oleh keduanya lalu meluncur keluar.
"Kamu bikin repot orang rumah aja sih Kak." seruku dengan nada sedikit parau.
"Jangan bandel sekarang aku periksa kamu dulu ya sayang." ucap Zeyden sambil memeriksa badanku dengan teliti.
__ADS_1
"Maaf ya sayang, gara-gara anak-anak mau nemenin kamu. Sekarang kamu malah nggak bisa istirahat." ucap Zeyden sambil merapikan peralatan dokternya dan langsung duduk disampingku.
"Nggak apa-apa sayang. Mungkin mereka khawatir sama aku." sahutku sambil memeluk suami tercinta.
Pintu kamar terbuka namun kami berdua tak menyadarinya karena terlelap dalam buaian pelukan kami. Aku tersadar saat kasurku terasa bergetar. Kubuka mata dan Zayyan tengah kesal sambil melompat-lompat didekatku.
"Papa, mama lagi sakit malah nakal ya!" teriak Zayyan kesal dengan papanya.
Aku hanya tertawa melihat suami tersayang dimarahi anaknya. Marahnya Zayyan hanya karena aku memeluk papanya. Kak Bryan hanya tersenyum melihat tingkah Zayyan yang membuat Zeyden melongo tak percaya. Zayyan berteriak sambil menangis membuat seisi rumah langsung menuju ke kamarku.
"Ada apa Zayyan?" teriak orang rumah di depan pintu.
"Papa nakal. Mama lagi sakit tapi dipeluk sama papa." adunya pada semua orang.
Mereka semua hanya tertawa mendengar aduan kesayangan mereka. Zayyan selalu saja merasa papanya salah setiap kali dekat dengan aku. Zayyan sama protektifnya dengan suami tercintaku. Sampai ia tidak mengijinkan aku berduaan dengan papanya. Dia takut aku diambil papanya.
"Sayang, Mama yang peluk papa. Bukan Papa. Tadi mama kedinginan." celetuk Zeyden sedikit berbohong dan kami semua hanya menggelengkan kepala saat mendengar alasan aneh Zeyden.
"Papa bohong! Badan mama panas mana mungkin mama kedinginan." skakmat, Zeyden dibuat diam oleh Zayyan. Zeyden lupa bahwa anak sulungnya itu sangat cerdas dari anak seusianya.
"Sini sayang sama mama." ujarku sambil meminta Zayyan duduk dipangkuanku.
"Kakak minta maaf sama Papa ya! Nggak baik berteriak kayak tadi sama Papa. Lihat apalagi didepan banyak orang, anak mama yang pintar minta maaf ya." nasihatku sambil memeluk dan menciumi wajah putraku.
"Pa, sorry. Kakak salah, Papa mau maafin Kakak?" ujarnya dengan tatapan sangat tulus.
"Papa akan maafin kakak, tapi ada syaratnya!" seru Zeyden dan seketika langsung diangguki oleh putranya.
__ADS_1
"Peluk, cium dan sayangi papa selalu ya." ujar Zeyden langsung diangguki oleh Zayyan.
Kini Zayyan sudah pindah haluan ke papanya. dan semua orang sudah menghampiriku. Menanyakan keadaanku yang terlihat sangat pucat. Sampai disarankan ke rumah sakit namun dengan cepat aku menggelengkan kepala.