
Maafin Author ya kalo banyak typo dan kesalahan dalam penulisannya..
Betewe end de baswey..
Kesayangan aku semuanya. Bagaimana kabar kalian?? Semoga selalu baik-baik saja ya..
Sudah siap-siap lanjut ceritanya nggak??
Yuks..
1..
2..
3..
Mulai..
***
Gia terlihat sesekali bergelayutan manja pada Gibran membuat aku ketakutan. Kadang aku mencuri pandang melirik ke arah Zeyden saat putriku bersikap manja bukan pada papanya.
"Cemburu?" lirihku namun mampu di dengar oleh suamiku tercinta.
"Sedikit. Tapi dia terlihat bahagia." sahutnya dengan nada sedih.
__ADS_1
"Lalu?" ucapku dengan menggantungkan kalimat.
"Biarkan selama anak-anak bahagia." ucapnya dengan kembali membelai rambutku.
"Yakin?" ucapku dan dia malah merengkuhku masuk kedalam pelukannya.
"Dia menatap ke arah kita dengan tatapan cemburu!" bisik Zeyden yamg menaruh wajahnya kedalam pundakku.
"Biarkan. Asal jangan kamu. Kalo kamu cemburu, bisa bahaya akunya!" sahutku dan kemudian dia menciumi wajahku tanpa henti.
"Ish, kalian ini tidak ingat waktu ya. Masa bermesraan di depan umum. Terlebih depan kami para jomblo sih." ucap Gibran yang sontak membuat kami berdua melepas pelukan.
Zeyden yang kesal karena di ledekin oleh Gibran malah melempar tisu yang dia bulat-bulatkan ke wajah lelaki didepan kami. Semuanya tertawa melihat tingkah dua orang dewasa di sisi kami.
Kami melanjutkan makan, hingga tak terasa senja sudah menguasai bumi. Keputusan untuk kembali pun sudah nyata adanya. Namun, Zeyden mengajak kami bermalam di penginapan. Karena ia sangat butuh istirahat. Lelah sangat terlihat di wajahnya yang sangat tampan itu.
Sebelum ke hotel kami mampir ke toko baju lebih dahulu. Karena tidak membawa pakaian ganti sama sekali. Menikmati perjalanan yang cukup indah bersama orang-orang terkasih membuat kita jauh lebih bahagia. Sesampainya di hotel kami memesan empat kamar. Dua dengan double bed dan dua kamar dengan single bed.
Kamarku dan Gia bersebelahan, sedangkan kamar para lelaki di hadapan kami. Gara dengan Rohan dan Gibran dengan Rakha. Kami semua memasuki kamar masing-masing, Zeyden tak lepas merangkulku sampai ke kamar. Wajahnya sedikit murung, aku tak tahu sebabnya.
"Yank, kenapa?" tanyaku sambil menangkup wajahnya dengan kedua tanganku, saat dia duduk di pinggir kasur.
"Aku takut kamu masih mencintainya!" jujurnya masih dengan nada cemburu.
Cup.. Cup.. Cup..
__ADS_1
Kukecup setiap inci wajahnya hanya untuk merayu guna menenangkan emosinya. Dia malah memelukku dan membenamkan wajahnya di perutku. Aku membelai kepalanya sambil mengecup puncak kepala suamiku.
"Dia masa laluku, kamu hidupku selamanya. Aku hanya kaget tadi dia ada disana. Lagi pula kita sudah baik-baik saja dengannya, bukan?" ucapku dan diangguki olehnya.
"Kamu percaya padaku?" tanyaku dengan mengangkat wajahnya tuk menatapku.
"Sangat!" serunya dengan tatapan serius nan tulus.
"Jangan buat aku merasa takut kehilangan kamu ya. Karena hanya kamu separuh nafasku kini." tuturku dengan sedikit gombalan.
"Gombal!" ucapnya sambil menggelitik pinggangku.
Kuhentikan gelitikannya dan menyuruhnya mandi. Dia pun langsung memasuki kamar mandi sedangkan aku membersihkan wajahku yang kotor dengan pembersih wajah.
***
jangan lupa like, comment, share dan votenya ya sayang-sayangnya aq..
Lanjut nggak nih gaes.. kalo lanjut, votenya yang kenceng yes.. Biar akunya semangat nih..
okey..
okey guys..
lope.. lope.. lope.. untuk kesayangan aku semuanya..
__ADS_1
mmuuuaaaccchhh....