Relung Langit

Relung Langit
Part 28


__ADS_3

"Boleh aku tahu siapa dia? Dan apa perasaanmu padanya masih sama?" tanyanya membuat aku diam, aku tak mampu menjawabnya.


"Aku nggak tau gimana perasaanku ke dia saat ini Kak. Ada sakit teramat dalam setiap mendengar suara atau bertatapan dengannya. Ada amarah yang nggak bisa aku luapkan. Ada bahagia saat tahu dia baik-baik aja." ujarku sejujurnya pada suami dan dia hanya mengelus pundakku.


"Siapa dia sayang?" ujarnya penuh dengan kelembutan sambil memelukku.


"Dia.. Dia Gibran, Kak." ujarku ragu-ragu dan sontak suamiku melonggarkan pelukannya.


Aku tidak tahu apa sebenarnya yang ada di pikirannya saat ini. Dia tidak pernah menunjukkan ekspresi kemarahan atau hal negatif lainnya. Tapi aku tahu satu hal yang pasti, dia kaget mendengar perkataanku barusan.


"Gibran.. Gibran WO kita kah?" tanyanya dengan penuh kehati-hatian dan aku mengangguk.


"Okey, aku tahu sekarang. Kenapa kamu menangis saat melihatnya. Kenapa Anyelir tiba-tiba mau menghandle acara kita dan tidak membiarkan kita bertemu dengannya lagi. Aku paham sekarang." ujarnya sambil mengelus rambutku yang panjang.


"Kak, apa kamu akan terus bersamaku dan menjagaku?" tanyaku sambil menaruh kepala di pundaknya.

__ADS_1


"Jika di hatimu ada aku, aku akan menjagamu dan selalu bersamamu." ucapnya dengan ketegasan dan aku diam.


Aku tidak pernah tahu, apakah aku sudah benar-benar mencintai Zeyden dan melupakan Gibran setelah sekian lama. Atau masih ada Gibran di hatiku yang belum mampu pergi. Aku sendiri masih ragu sama hatiku.


"Sayang, kenapa melamun? Masih mikirin dia?" tanya Zeyden membuyarkan lamunanku, kemudian aku menggelengkan kepala.


Jika keluargaku tahu lelaki itu sudah kembali, mereka akan mengurung aku dirumah. Atau lebih parahnya kakak keduaku akan menghukum dia. Karena Kak Bryan sangat membenci dia. Kak Bryanlah yang memilih jadi dosen dikampusku karena takut aku tersakiti tuk kesekian kalinya.


Dia tidak peduli jika nama baiknya rusak karena menjagaku. Kak Bryan juga sempat diputuskan oleh tunangannya hanya karena memilih aku. Aku tidak mau jikalau Gibran dan Kak Bryan saling berhadapan. Mungkin mereka akan baku hantam.


"Jangan bilang sama Kak Ryan, Ayah dan Bunda ya, Kak. Aku mohon." pintaku dengan mata berkaca-kaca.


"Kenapa mereka tidak boleh tahu?" tanyanya penasaran.


"Hmm.. Anggaplah Kak Zey sedang menyelamatkan nyawa seseorang jika tidak memberi tahukan hal ini." Lanjutku dengan memegang tangannya.

__ADS_1


"Terlebih jika Kak Ryan tahu. Semua bisa tamat, Kak." ujarku memelas.


"Jika sampai Ryan bisa melakukan hal itu. Pasti Gibran pernah berbuat sesuatu yang menyakitimu. Benar begitu kan?" ujarnya dan aku mengangguk.


Dalamnya samudera masih bisa diukur, tapi dalamnya hati manusia mana ada yang tahu. Sama seperti aku, suamiku ini sebenernya hatinya terbuat dari apa. Dia tidak cemburukah dengan ceritaku tadi. Seberapa besarkah cintanya padaku, atau aku hanya angin lalu untuknya.


"Apa perlu kita ganti WO?" tanyanya dengan penuh kelembutan.


"Kenapa diganti?" tanyaku balik.


"Kalo kamu nggak nyaman dengan Gibran yang menanganinya, kan bisa ganti WO." ujarnya dengan nada lembut.


"Kak, sayang uang dan waktunya kalo harus ganti WO. Aku nggak apa-apa kok. Toh udah di bantu sama Anyelir kan." sahutku sambil mengelus punggung tangannya.


Aku masih mau melihat Gibran. Masih mau dengar semua alasan kenapa dia dulu begitu padaku. Aku masih mau mendengar suaranya sebelum aku ikhlas melepaskannya.

__ADS_1


__ADS_2