
Di Lombok kami semua bahagia. Walau merasa ada sebagian jiwa yang hilang. Anak-anak kecil sangat bahagia bermain tanpa lelah. Aku dan Zeyden memilih menjaga anak dan cucu. Sedangkan yang dewasa telah menghabiskan waktu mereka sendiri. Untuk yang telah menikah memilih menghabiskan waktu dengan honeymoon. Untuk yang jomblo memilih menikmati keindahan alam Lombok.
Amara beserta para keponakannya tengah asyik bermain di pinggir pantai. Aku dan Zeyden hanya memperhatikannya di bawah naungan payung pantai. Banyu dan Rangga terlalu senang bermain pasir. Ah, lupa memberikan info. Kami berada di Pantai Kuta, bukan Bali ya. di Lombok pun ada nama yang sama.
Pantai Kuta Lombok sering disebut “Pantai Merica” karena memiliki tekstur butiran pasir yang menyerupai merica. Selain keindahan alam, di pantai yang dikelilingi perbukitan ini pun kamu bisa mengenal legenda suku Sasak, suku asli Lombok. Ada satu bukit yang memiliki nama serupa dengan seorang gadis cantik, Putri Mandalika.
Di Bukit Mandalika, kamu bisa melihat ritual bau nyale atau berburu cacing laut yang dilakukan masyarakat Sasak pada bulan Februari hingga Maret. Ritual ini dilakukan untuk mengenang legenda Putri Mandalika yang memutuskan lompat dari bukit karena tak ingin menjadi rebutan banyak pangeran. Konon, putri cantik ini berubah menjadi cacing laut atau nyale.* (didapat dari info tra*******)
Kebahagiaan keluarga lebih indah dari apapun di dunia ini. Tawa canda mereka membuatku selalu ingin memberikan yang terbaik untuk mereka. Walau kesibukan kadang membuat rentang tapi tidak dengan kasih cinta kami. Terlebih di sampingku selalu hadir lelaki hebat yang tak pernah sedetik pun membuat aku terluka.
Kesabaran tiada batas membuat aku merasa di atas awan. Cinta yang diberikan oleh anak-anak, suami juga keluargaku tiada pernah lagi membuat aku kecewa. Masa lalu yang kelam membuat aku perlahan beralih mengikhlaskan dan belajar mencintai tulus akan cinta dari mereka.
"Sayang, makasih ya sudah menemaniku selama ini. Sungguh aku nggak tahu jika nggak ada kamu di dunia ini," ucapku saat Zeyden memelukku dari belakang.
"Kalo ngomong jangan ngaco. Kita akan selalu sama-sama, melihat tumbuh kembang anak bungsu kita juga cucu-cucu kita kelak." sahut Zeyden sambil menciumi tengkukku.
Aku mengelus rahang suami tercintaku kala wajahnya di taruh pada bahuku. Pandangan kami terus menatap anak-anak itu sampai mentari perlahan terbenam dalam ufuk. Kami berlalu menikmati pergantian hari, sambil mengajak anak-anak kembali ke vila.
Aku memandikan Amara sedangkan Bnyu, Rangga dan yang lainnya dimandikan oleh Zeyden. Usai anak-anak mandi kami berdua bergantian dan mengajak mereka makan malam. Entah kemana orang tua mereka perginya sampai lupa keberadaan anak-anaknya. Apa mungkin merasa aku menjaga mereka semua jadi tak ada rasa khawatir.
"Kamu kenapa?" tanya Zeyden menghampiriku di teras.
__ADS_1
"Kenapa tak ada rasa khawatir dari mereka sih? Emang mereka aja yang mau berduaan, aku juga kn mau." gerutuku sampai lupa dengan kalimat terakhir yang terlontar.
"Oh, sayangku juga mau manja-manjaan sama aku?" tanya Zeyden sambil memasukkan tangannya ke dalam bajuku.
"Iyalah, masa aku harus manja sama siapa lagi kalo bukan kamu!" sahutku dengan polosnya.
Zeyden tersenyum mendapati tingkah polosku yang tak termakan usia. Pelukan itu makin erat hingga membuat aku sesak.
"Opa, kasihan Oma!" teriak anak-anak kompak kecuali Amara yang cengengesan melihat papanya diserbu ponakannya.
"Emangnya Oma diapain sama Opa?" tanya Zeyden salah tingkah di depan cucu-cucunya.
"Nggak anak nggak orang tua sama aja. Monopoli aja istriku ini." gerutunya membuat aku tertawa mendengarnya.
Kami pun masuk ke dalam kamar dan menidurkan mereka di kamar masing-masing. Hanya hitungan menit mereka sudah terbang ke alam mimpi. Aku juga Zeyden kembali ke kamar dan terlelap menikmati keindahan mimpi.
***
Di tempat lain Gara dan Rakha yang sedang asyik mencari-cari tempat untuk restoran baru. Canda gurau pun hadir menemani kedua orang itu. Karena seharian belum mendapatkan apa yang diinginkan mereka memutuskan untuk pulang.
"Kak, sepi ya nggak ada Kak Zayyan. Ah, dia sudah punya pasangan, sebentar lagi pasti kakak juga deh!" seru Rakha membuat Gara mengacak-acak rambut adiknya itu.
__ADS_1
"Cengeng, dengerin ya. Walau Kak Zayyan atau kelak kakak punya pasangan hidup, kalian semua tetap menjadi kesayangan kami. Apa kamu liat perubahan Gia sama kamu?" Gara menengok ke arah adiknya sesaat dan Rakha hanya menggelengkan kepala.
"Kamu tahu karena apa? Daddy Ar dan Daddy Bi juga Mama Papa mengajarkan kita bahwa tak ada perubahan selain sebuah status. Kebersamaan harus tetap ada, begitu juga dengan cinta dan kasih sayang." jelas Gara membuat Rakha menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Betewe, mama sama papa gimana nasibnya ya Kak? Hadapin anak-anak itu." ucap Rakha memikirkan nasib orang tuanya ditinggalkan bersama anak-anak super aktif dan cerdas.
"Wah, kalo itu nggak bisa kakak bayangin. Karena mereka berdua itu hebat sih. Kita saja bisa tekuk lutut sama mama papa. Gimana anak-anak itu." sahut Gara yang sangat yakin kalau orang tuanya bisa mengatasinya, hanya dia tidak yakin dengan sang papa.
"Rakha bisa nebak kalo papa lebih histeris, jika mama di monopoli sama keponakan kita." Rakha tak kalah yakin jika ingat rasa cemburu sang papa setiap ada yang mendekati mamanya.
Zeyden memang sangat cemburu buta jika aku dikelilingi oleh orang-orang yang menginginkan bersamaku. Walau itu anak-anaknya dia akan cemburu dengan ekspresi kadang diluar nalar. Ancamannya biasanya uang jajan dipotong, tidak boleh makan dengan bangku dan lain sebagainya.
Walau cemburunya itu dibuat-buat tapi bikin siapapun yang melihatnya jadi ingin mengerjainya. Anak-anak jauh lebih seneng melihat papanya merajuk karena akan muncul wajah menggemaskannya. Wajah Zeyden ketika ngambek itu seperti anak balita yang kehilangan dotnya.
"Hahaha..." keduanya tertawa mengingat betapa lucu wajah sang papa.
"Papa oh papa maafkan anak-anakmu ini." seru keduanya kompak.
"Papa terlalu mencintai mama ya, Kak. Sedangkan mama lebih cinta pada anak-anaknya. Kasihan papa deh kalo inget itu." ucap Rakha yang kadang suka ngomong ngaco.
"Salah, mama sangat sangat mencintai papa. Walau dulu mungkin sulit mendapatkan rasa cintanya. Perjuangan Papa itu berat loh, buat dapetin hati mama. Makanya papa nggak rela cinta mama terbagi walau untuk kita." sahut Gara yang juga tahu kisah cinta orang tuanya dari para Daddy-nya. Kisah cinta yang luar biasa menurut seorang lelaki.
__ADS_1