Relung Langit

Relung Langit
Part 38


__ADS_3

Zeyden kini sudah ganteng maksimal dan kembali duduk di sampingku. Zeyden mengelus kepalaku dengan wajah yang nampak berusaha tegar. Semuanya pamit kecuali Kak Bryan memilih menemani Zeyden untuk menjagaku.


Setelah mereka pergi, kakakku ijin tidur lebih dulu di sofa dekat denganku. Sedangkan Zeyden terus berusaha mengajakku bicara. Ya, walaupun aku belum sadar. Saat hendak beranjak dari duduknya, Zeyden merasakan tanganku bergerak.


"Bryan.." Teriak Zeyden membangunkan kakakku yng seketika langsung lompat.


"Ada apa sih Zey? Kenapa teriak-teriak gitu?" ujar kakakku kesal karena Zeyden membangunkannya dengan cara tak biasa.


"Lo kan bisa samperin gue buat bangunin. Nggak perlu terik kan." ujat kakakku dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Sekarang panggilin dokter cepet. Dan satu hal gue nggak bisa samperin lo, karena Ade lo nggak mau gue tinggal." jelasnya sambil menunjukkan genggaman tangan kami.


"Dokter? Kenapa harus panggil dokter?" tanya kakakku yang masih belum sadar penuh.


"Gue nggak bisa periksa dia." ujarnya dengan mendorong badan Kak Bryan menuju pintu.


Kak Bryan akhirnya menuruti perintah adik iparnya itu. Tak butuh waktu lama mereka memasuki kamarku dan segera mendekat. Ya, Azuralah dokter langsung yang menanganiku atas perintah sahabatnya.


"Wow, sudah melek masih tak mau bersuara ya." goda Azura dan membuat semua mata menatapku.


"Kamu bangun sayang." ujar Zeyden dan Kak Bryan dengan senang.

__ADS_1


"Dokter Zeyden Thamrin, boleh permisi sebentar saya mau periksa pasien saya." ujar Azura dengan sedikit menggeser tubuh Zeyden.


"Kak Zey, jangan pergi." ujarku lirih.


"Baiklah, dia disini." ujar Azura sambil memeriksaku dengan cermat.


"Dokter, kenapa saya bisa disini?" tanyaku bingung.


"Kamu tadi mengalami kejadian yang cukup hebat." ujar dokter Azura sepengetahuannya.


"Nanti tanya suamimu saja ya cantik." ujarnya sambil merapikan stetoskop ke dalam saku jas putihnya.


"Gimana keadaannya, Ra?" tanya Zeyden penasaran.


***


Keesokan paginya Zeyden terdapat tidur bersebelahan denganku dalam satu bangsal. Zeyden memelukku sangat erat. Aku yang sudah bangun lebih dulu hanya menatap suamiku dengan penuh cinta. Aku tersenyum melihatnya saat tidur, dia masih terlihat sangat ganteng dalam tidurnya.


Aku mencium pipinya dan mengelusnya. Diapun bangun dan langsung mencium keningku.


"Sudah bangun sayang." ujarnya padaku dn aku mengangguk.

__ADS_1


"Sudah lamakah kamu bangunnya?" tanyanya padaku.


"Cukup memandang suamiku yang tertidur dengan sangat tampan." ujarku dengan senyuman termanisku.


"Sayang, kita liburan ya." ujarnya membuatku kaget.


"Aku masih di rumah sakit bagaimana bisa liburan?" tanyaku dengan kebingungan.


"Sayang setelah kamu lebih baik pastinya. Kamu kan nggak perlu khawatir, aku kan dokter pribadi kamu." ujarnya sambil mendekatkan wajahnya dengan wajahku.


"Kapan aku bisa keluar dari sini Pak dokter?" tanyaku sambil menggesekkan hidungku dengannya.


"Ih, nakal ya, godain aku." ujarnya sambil mencubit hidungku.


"Sakit Kak. Siapa juga yang godain kamu. Oh iya Kak, kenapa aku bisa disini." ujarku sambil menggalungkan tanganku ke lehernya.


"Kamu nggak ingatkah?" tanyanya sedikit menyelidik dan aku menggeleng.


"Bagus dia lupa. Semoga membawa kebahagiaan buatku. Semoga kamu juga bisa melupakan dia." batin Kak Zeyden.


"Nggak usah dipikirin dulu ya sayang. Biarkan dulu kamu seperti ini, nanti pelan-pelan kamu akan ingat." ujarnya sambil mencium keningku dan aku memeluknya erat.

__ADS_1


"Ya Allah, jangan biarkan perpisahan hadir dalam kehidupan kami." batinku.


__ADS_2