
Maafin Author ya kalo banyak typo dan kesalahan dalam penulisannya..
Betewe end de baswey..
Kesayangan aku semuanya.
Sudah siap-siap lanjut ceritanya nggak??
Yuks..
1..
2..
3..
Mulai..
***
Kini Gia resmi menjadi isteri dari Rohan. Air matanya tak kunjung surut setelah prosesi ijab Kabul dadakan itu. Dia selalu mengalihkan pembicaraan mengenai air matanya yang tak kunjung berhenti itu. Dia pula memilih diam saat keluarganya mengajaknya berbincang. Gia berubah menjadi gadis yang pendiam dan tak banyak bicara lagi.
Zayyan yang ingin berbicara langsung dengan adiknya langsung melakukan panggilan telepon. Ia amat kaget ketika harus dilangkahi oleh adik kesayangannya itu. Aryan dan Bryan yang tak menyangka nasib Zayyan akan sama seperti dirinya itu. Tak berapa lama Gia mengangkat telepon dengan mata sembabnya.
__ADS_1
“Hai sayangnya kakak. Apa kabar? Kok sedih gitu.” Ucap Zayyan memancing sang adik untuk mau berbagi dengannya.
“Kak, maafin ade. Ade terpaksa harus lebih dulu menikah. Maaf!” lirihnya dengan air mata yang terus menetes.
“Hei, sayangnya kakak. Nggak apa-apa kok, itu jauh lebih baik daripada kamu melakukan hal yang nggak-nggak kan!” ucap Zayyan malah buat Gia makin menangis.
“Sudah jangan menangis lagi. Apa kamu nggak suka sama Rohan? Apa dia pernah melakukan hal yang membuat kamu kecewa?” tanya Zayyan dengan nada menahan amarah.
“No. Dia sangat baik padaku. Kak! Hanya saja, aku belum siap dengan pernikahan ini. Bagaimana dengan kuliah dan masa depanku? Ini semua kan salah kalian bertiga yang mengatakan seenaknya.” Gerutu Gia dengan nada super kesal.
“Haha. Kakak mau bicara dengan adik ipar kakak dong. Boleh?” ucap Zayyan yang mendadak serius.
Gia melangkahkan kakinya menghampiri Rohan dan menyerahkan ponselnya. Wajah bingung menghiasi wajah tampan lelaki yang sudah sah menjadi suaminya. Segera dia menerima panggilan itu yang ia baru tahu jika orang penting tengah menelponnya.
"Maaf, bila mengecewakan anda. Tapi Gia sekarang sudah sah menjadi isteriku secara agama dan segera secara hukum. Jadi anda tidak berhak lagi akan dirinya." ucap Rohan merasa diatas angin, akan tetapi perkataan adik iparnya itu dibalas oleh tawa.
"Haha. Segitu yakinnya kamu bisa memiliki Gia. Ingat satu hal, aku akan selalu ada dihatinya sampai kapanpun dan tak tergantikan. Perasaan kami tak akan pernah bisa pudar walau dengan kehadiranmu." ucap Zayyan yang sudah membuat adik iparnya itu kesal menahan marah.
"Kamu tidak akan bisa bersama dia sampai kapanpun!" tegas Rohan yang sudah dibuat kesal itu dan seketika mematikan panggilan itu secara sepihak.
Panggilan telepon itu kembali ke ponsel Gia yang masih di tangan Rohan. Disana tertera Pangeranku, sontak membuat lelaki yang baru beberapa jam itu menjadi suami langsung murka. Dia menghampiri Gia dan membawanya keluar rumah. Wajah lelaki tampan itu sudah merah dan hanya di tatap oleh keluarga dengan tatapan melongo.
Sesampainya di luar, Rohan langsung menyerahkan ponsel Gia dengan menghentakkannya di telapak tangan wanita yanv di cintainya. Gia masih tak percaya dengan sikap suami barunya itu. Tak berapa lama panggilan masuk dari pangeranku membuat Rohan menggila. Namun, hal itu tak digubris oleh Gia. Dia malah langsung mengangkat panggilan itu.
__ADS_1
"Suami kamu parah ih. Diajak ngobrol malahh main matiin aja teleponnya. Nggak sopan deh!" adu Zayyan pada sang adik yang membulatkan matanya tak percaya.
"Ngomong apa aja tadi sama dia sampai kayak gitu?" tanya Gia dengan nada kesal karena kakaknya pasti sudah usil sama suaminya itu.
"Nggak ngomong apa-apa! Beneran deh." ucap Zayyan tanpa dosa.
"Tadi pangeranku ngomong apa sama kamu?" tanya Gia kepada Rohan yang masih dengan wajah merah menahan amarahnya.
"Aku suami kamu, kenapa kamu manggil lelaki lain pangerankum?" ucap Rohan dengan nada sedikit menaik dan hal itu membuat Gia mengerutkan keningnya.
"Nanti aku jelas ke kamu ya, Ro." ucap Gia dan mulai menjauh dari Rohan dan masih melanjutkan obrolan dengan Zayyan.
Rohan hanya menatap punggung sang isteri yang masih sibuk menelpon itu membuat geram dirinya. Rakha yang melihat kejadian itu segera menghampiri kakak ipar barunya. Rohan yang kaget dengan sentuhan di pundaknya, langsung menoleh.
Rakha mengajak sang kakak ipar menunggu kakaknya itu di kamar. Si bungsu menuntun ke arah kamar dengan obrolan ringan para lelaki. Sesampainya di depan kamar Gia, Rakha langsung meninggalkannya. Tangan Rohan meraih gagang pintu dan memutarnya, setelah terbuka ia langsung memasuki kamar itu.
Kamar yang berbeda dengan warna kamar wanita pada umumnya. Kamar itu berwarna Magenta, sangat indah. Dia langsung menyusuri setiap inci dari ruangan yang luas itu. Dia melihat foto-foto yang terpampang di kamar itu.
Pandangannya jatuh pada lukisan Gia dan seorang lelaki yang sangat tampan dengan mata kehijauan. Badan atletis dan di lukisan itu. Sosok lelaki yang tengah asyik menggendong perempuan dengan ala bridal style sambil mencium pipi. Dibawah lukisan itu tertulisan pangeran dan putri, membuat Rohan meremat jemarinya dan rahangnya sudah mengeras.
Rasa kesal itu di coba redam dengan duduk di pinggir ranjang. Karena merasa lelah ia merebahkan dirinya di kasur dan tak terasa mulai terbuai dalam mimpinya. Gia yang usai menelpon dengan kesayangannya itu segera masuk ke kamar. Karena suasana sudah mulai sepi. Dia terkejut saat membuka pintu ada lelaki yang sedang terlelap dalam kasurnya.
***
__ADS_1