
Dua hari sudah sejak Priyanka periksa kesehatannya ke rumah sakit xx. Ada sesuatu yang aneh terhadap diri wanita paruh baya masih dengan kecantikannya. Kesehatannya makin menurun drastis, hal itu membuat Zeyden juga Zayyan khawatir. Tanpa babibu lagi mereka membawa ke rumah sakit miliknya.Mereka semakin panik ketika sang wanita kesayangannya itu muntah makin parah.
Zeyden mengemudi bagaikan orang kesurupan, kencang melebihi angin malam yang berhembus. Hanya lima belas menit mereka sampai di tujuan. Secepat kilat para suster langsung membawa bankar ketika melihat mobil pemilik rumah sakit tiba. Ruang UGD langsung disiapkan dengan Zeyden dan Zayyan turun tangan langsung.
“Sus, tolong cek darah, obat ini di laboratorium, sekarang!” pinta Zayyan dengan wajah tegang membuat sang suster yang dimintai tolong ikutan tegang.
“Baik, Dok.” Sahutnya dengan gugup dan gemetaran saat menerima obat dari tangan Zayyan.
Semua langkah penanganan pertolongan pertama dilakukan para tim medis di rumah sakit itu. Hanya setengah jam berlalu, hasil dari laboratorium keluar. Zayyan terbelalak saat kertas laporan kesahatan sang mama di tangannya. Wajahnya langsung merah padam menahan amarah, ia memukul tembok untuk melampiaskan kemarahannya. Zeyden yang melihat sang putra seperti tak biasanya langsung menghampirinya dan mengambil kertas di tangan Zayyan.
“Sabar, Nak!” ucap Zeyden lembut sambil mengelus punggung sang anak.
“Gila, kok bisa kita sebodoh ini, Pa. Kesalahan kita sampai Mama kayak gini.” Ujar Zayyan dengan air mata yang mengalir.
Ya, Priyanka salah diagnosa. Kesalahan itu berakibat sangat fatal membuat wanita itu kini terbaring lemah, beruntung masa kritis telah ia lewati. Tim medis pun heran dengan kejadian ini, bagaimana bisa keluarga dokter bisa kena salah diagnosa.
***
Priyanka sudah sadar dari hibernasinya, semua orang diruangan itu tersenyum menatap kehadiran wanita yang
__ADS_1
sangat mereka cintai telah membuka matanya kembali. Zeyden yang selalu berada di sisinya dengan wajah lesunya mengecup kening sang pujaan hati. Ketiga anak kecil mulai menghampiri dan duduk di ranjang dibantu Zeyden.
Amara memeluk sang mama tanpa ingin menjauh sedikit pun. Ia tak ingin kejadian buruk kembali memisahkan dirinya dengan wanita yang sudah melahirkannya. Walau masih kecil, gadis itu terkadang sangat dewasa dalam bersikap.
“Ma, jangan kayak kemarin lagi ya! Kalo mama sakit bilang sama kami semua,” ujar sang menantu perempuan dengan memegang lengan sang suami.
“Aku akan tuntut rumah sakit itu!” tegas Rakha membuat semua menatap ke arah lelaki itu.
“Mama, baik-baik saja. Jangan tuntut mereka, semua hanya kesalahan yang tak disengaja. Berikan nasihat saja ya, sayang.” Lirih wanita itu dan merentangkan tangan meminta Rakha memeluknya.
Saat Rakha hendak masuk dalam pelukan sang mama, langkahnya terpaksa terhenti ketika Banyu dan Rangga sudah lebih dulu berada dalam pelukan sang nenek. Ruangan itu menjadi ramai dengan tawa karena wajah lelaki tampan tersebut terpaksa ditekuk. Zayyan yang makin usil melihat sang adik merajuk, melepas tangan sang isteri dan berlalu memeluk sang mama. Di susul Gara dan Gia yang mengikuti langkah sang kakak, membuat Rakha geram karena ia masih belum berhasil ikut serta.
Zeyden yang melihat sang anak dikerjai oleh kakak juga keponakannya langsung memeluk putranya. Seketika
“Kakak, lepasin papa!” teriaknya dengan lantang dan membuat Rakha semakin mengeratkan pelukannya.
“Lepasin, itu papa Ara!” ujar Amara yang sudah berada di bawah kedua lelaki yang masih berpelukan. Tak lupa gadis imut itu terus memukuli sang kakak.
“Nggak akan kakak lepas, orang papa yang meluk kakak kok!” sahut Rakha yang mengerjai sang adik.
__ADS_1
Mata Amara sudah berkaca-kaca, Zeyden hendak melepaskan pelukan dan menurunkan badannya. Tetapi gerakannya terhenti karena gelengan kepala sang putra. Tak lama tangisan gadis mungil itu pecah, membuat Zeyden memukul lengan Rakha pelan dan menggendong putri bungsunya. Seisi ruangan itu hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Rakha yang tak mau mengalah itu.
“Kamu gimana mau dapet cewek, De. Sama adenya aja gitu.” Celetuk Gia yang selalu geregetan melihat tingkah adik laki-lakinya itu.
“Emang ada hubungannya, Kak? Antara dapet cewek sama jahilin Ara?” kepolosan Rakha muncul kala sudah berhadapan dengan sang kakak perempuannya. Hal itu yang membuat semua orang tertawa mendengar ucapan-ucapan polosnya. Canda tawa kembali menguasai ruang rawat itu dengan riuh.
***
Beberapa hari setelah kepulangan Priyanka dari rumah sakit membuat kebahagiaan keluarga Zeyden makin bertambah. Namun, tanpa di duga kedua kakak kembar Priyanka marah karena tahu sang adik yang sakit tanpa mengabari mereka. Kakak Aryan dan Bryan benar-benar marah kepada Zeyden yang merasa tidak bisa menjaga adiknya dengan baik.
Semua yang ada di rumah Zeyden tak ada yang berani berkutik jika kedua lelaki itu sudah marah. Rasa sayang untuk sang adik memang tak bisa diukur dengan apapun. Priyanka yang melihat dua orang kesayangannya meluapkan rasa sayangnya hanya tersenyum. Terlebih saat anak-anak juga suaminya memasang wajah tegang.
"Sudah marahnya, Kak?" ujar Priyanka dengan senyuman manisnya yang mampu mengoyahkan iman siapapun.
"Kamu itu ya!" geregetan Aryan melihat tingkah adiknya yang tak pernah takut ketika ia marah.
"Sudah jangan marah-marah terus. Makin jelek tahu nggak!" ledek Priyanka yang merentangkan tangannya meminta di peluk kedua kakaknya.
Ketegangan mulai mencair, kala melihat wajah kedua lelaki itu mulai normal. Aryan dan Bryan memeluk sang adik dengan erat sambil mengacak-acak rambutnya. Semua wajah keluarga Zeyden perlahan normal. Zayyan perlahan menghampiri para Daddy-nya untuk meminta maaf. Tapi tak terduga Daddy-nya menatap dengan tajam, membuat Zayyan gugup. Seketika lengan kedua kakaknya dipukul oleh Priyanka.
__ADS_1
"Jangan menakuti anak-anakku, sudah marahnya. Ini bukan kesalahan mereka, kalian tahu ketika panik mana mungkin mereka ingat saat itu. Kalian ini aneh deh Kak!" tutur Priyanka membela keluarganya dengan senyuman manisnya.
"Maafkan kami ya, membuat kalian takut. Hanya takut melihat adikku yang cantik ini sakit, dan kalian tidak menghubungi kami." tutur Aryan dengan penuh kerendahan hati meminta maaf atas kekhilafannya, dan itu diangguki oleh sang adik.