
Suasana rumahku sepi, Zeyden sedang menemani Zayan di kamar sedangkan aku sedang berkutik di dapur. Aku mendengar suara bel dan segera membukakan pintu. Kak Bryan disana dengan wajah lesunya dan aku hanya tersenyum.
"Zeyden dirumah ya?" tanyanya dengan wajah lesu dan aku hanya menjawab anggukan disertai senyuman.
"Ya udah kakak ke kamar tamu dulu ya, numpang mandi. Daripada embos Zeyden ngamuk." ujar Kak Bryan dan masuk ke dalam menuju kamar tamu. Aku sempat memukul lengannya pelan.
***
"Siapa yang datang sayang?" tanya Zeyden keluar dari kamar Zayan di gendongannya.
"Daddynya Zayan." sahutku sambil melangkah kembali ke dapur.
"Kak Bryan?" tanyanya lagi dan aku mengangguk.
*Sayang masaknya udahan dulu deh, kamu pegang Zayan nih. Biar yang masak si Mbok aja." ujarnya sambil menyerahKan Zayan ke arahku setelah aku cuci tangan hingga bersih.
"Kamu mau ngapain?" tanyaku heran dan kemudian mencium pipi putraku yang chubby.
__ADS_1
"Cari tahu kisah cinta kakak iparku." ucapnya sambil meninggalkan aku.
Zeyden kalau penasaran sekarang jadi ngalahin ibu-ibu gosip. Aku menuju ruang keluarga dan menonton film kartun. Sedangkan Zeyden menuju kamar tamu. Zeyden duduk di ranjang kamar tamu dan terdengar suara gemericik air dari kamar mandi dimana Kak Bryan tengah mandi untuk bisa menggendong ponakan tersayangnya.
Beberapa menit kemudian keluarlah Bryan dengan handuk yang melilit dipinggangnya, serta rambutnya basah. Bryan keluar Kamar mandi tanpa sadar kalau di kasur adik iparnya menunggu dia.
"Astagfirullah, ngapain lo disitu kadal." ujarnya yang kaget melihat Zeyden tengah duduk memainkan ponselnya dan kemudian Bryan masuk lagi ke kamar mandi.
"Ada urusan sama lo bro." ucapnya dengan santai tanpa merasa bersalah
"Kan lo bisa nunggu gue diluar, cumi." ucapnya dengan kesal.
"Hm.. Ya udah ambilin baju gue dulu di lemari. Eh, tapi gue nginep sini ya." pintanya sambil mendengus kesal dan Zeyden melangkah ke lemari mengambilkan baju kemudian memberikannya ke kakak iparnya.
"Emang apa sih yang mau lo tanyain? Sepenting itukah sampe nggak bisa nunggu gue keluar kamar." ucap Kak Bryan sambil melangkah duduk di sofa kamar dan kemudian disusul Zeyden.
"Lo masih normal kan Bro?" ucapan Zeyden mendapat sambutan bantal sofa yang dilempat Kak Bryan dan tepat mengenai muka adik iparnya itu.
__ADS_1
"Wah, makin kurang ajar lo. Kalo ngomong yang sopan dong." ucap Kak Bryan kesal.
"Jelas gue normal. Gue pernah tunangan sebelum kejadian Priya itu." ujar Kak Bryan dengan nada mawih meninggi.
"Kalo gitu boleh dong gue denger cerita cinta kalian, termasuk kisah cinta Kak Aryan. Pasti taulah kisah dia lo." ujar Zeyden dengan santai dan senyum nakal.
"Lo nggak nanya aja gitu sama Priya? Secara kita kan nggak ada yang ditutup-tutupi." tanya Bryan ke adik iparnya.
"Udah, tapi dia nyuruh gue nanya sama lo berdua biar akurat katanya." sahut Zeyden datar.
"Hm.. Anak itu nyusahin gue aja deh. Kenapa lo nggak nanya Aryan aja?" ucap Bryan dengan wajah kesalnya.
"Kan yang dateng kesini lo duluan bukan dia." sahut Zeyden ala kadarnya.
"Ya udah gue ceritain. Tapi mau siapa dulu nih. Cerita gue atau Aryan?" ucapnya dengan wajah mulai normal.
"Siapa aja deh." sahut Zeyden dengan polos.
__ADS_1
Bryan menerawang mengingat kejadian satu persatu kepingan masa lalu. Masa dimana dia dan Aryan pernah merasakan cinta sesungguhnya dari pasangannya masing-masing.